
Doni tiba di Italia dengan selamat, Pkl 07:14 malam, zona waktu Italia.
Mematahkan kecurigaan sahabatnya Doni, yang secara pribadi diajaknya berbicara sebelum keberangkatannya Doni.
Doni juga membuktikan, kalau dirinya langsung mengabari Gendis setelah tiba di Italia.
"kak Doni ganggu kamu?" tanyanya, saat di sebrang telfon, Gendis malah terdiam.
Lalu kemudian, Gendis pun bersuara.
"ini kak Doni?" tanya Gendis dengan suara parau, sehabis bangun tidur, namun terdengar antusias.
Doni tersenyum, sembari melihat alat komunikasi yang digunakannya. Dan melihat jam di handphone-nya, yang menunjukkan jam 2 dini hari di Jakarta.
Doni baru sadar, kalau dia menelfon menggunakan telfon rumah. Jelas aja Gendis nggak akan ngeh, karena nomor yang Doni pergunakan untuk menelfonnya, nggak tersimpan di phone booknya. Belum lagi, perbedaan waktu yang cukup jauh, membuat Gendis masih ngelindur.
"Gendis nggak keganggu kok, kak. Gendis malah seneng banget kalau kak Doni udah sampai dan langsung ngabarin Gendis." ujarnya, menjelaskan dengan sangat antusias.
"kak Doni sempet bingung, kok kamu diem aja. Eh' ternyata, pas kamu ngomong tadi, kak Doni baru sadar kalau pakai telfon rumah. Terus lihat jam, kalau kita udah beda zona waktu."
Keduanya tersenyum bersama, sama-sama puas bisa mendengar suara yang mulai hari ini akan terus dirindukan.
"yaudah, kamu tidur lagi aja. Besok pagi, kita telfon-telfonan lagi kalau kamu udah sampai di sekolah," ucap Doni mengalihkan, karena tau Gendis masih harus tidur.
"tapi Gendis masih mau denger suara kak Doni." wajar suara Gendis terdengar manja, karena masih belum puas untuk mengakhiri obrolan di telfon.
Doni tersenyum, mendengar responnya Gendis. Perasaan hatinya yang sempat merasa bersalah, juga sudah dibuat lega. Karena mendengar jawaban panjang dari Gendis, yang sejak membaca informasi kepergiannya Doni, Gendis hanya bisa menangis. Kini, Gendis sudah mulai antusias seperti biasanya.
"iya, kak Doni juga sama Ndis. Masih mau denger suara kamu, tapikan ini masih jam 2. Kamu nanti di sekolah malah ngantuk, kalau kita ngobrol sekarang."
Gendis menuruti perkataan Doni, dia juga harus mengerti kondisinya Doni. Yang dipastikan juga kelelahan, pasca penerbangan selama kurang lebih 14 jam.
"yaudah, kak Doni istirahat juga ya, nanti kalau Gendis udah sampai di sekolah, Gendis kabarin kak Doni."
__ADS_1
Doni mengiyakan, sekaligus juga memberitaukan ke Gendis. Caranya mengabari Doni, karena nomor handphone Doni sekarang, sudah berubah ke nomor seluler Italia.
...----------------...
Gendis kembali bersemangat lagi, melupakan kesedihannya yang ditinggal Doni, untuk sekolah di Italia. Ia bangun cukup pagi, menyiapkan semua keperluannya di hari pertama masuk sekolah, setelah liburan selama 2 minggu.
Pagi-pagi, Gendis sudah membuatkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarganya. Meskipun hanya roti dengan selai strawberry, dan teh hangat. Tapi setidaknya, Gendis juga sudah banyak perubahan.
Gendis sengaja menyibukkan dirinya, sampai menyiapkan bekalnya untuk membuatnya lupa akan keberadaan Doni.
Sejak semalam, Gendis sudah bertekat untuk menyisihkan uang jajannya, supaya bisa menyusul Doni ke Italia, kalau libur sekolah nanti. Gendis nggak mau lenggang kangkung, tanpa mengeluarkan biaya. Meskipun Nover dan teman-temannya, bahkan Doni akan menanggung biaya keberangkatan Gendis ke tempat di mana Doni berada.
Pagi ini, di hari pertama masuk sekolah lagi. Gendis berangkat bersama para power rangers-nya, yang ingin membuat Gendis melupakan kesedihannya karena Doni sudah pindah tempat tinggal.
Tapi ternyata, Gendis sudah bisa kembali ceria, dan terlihat menerima keadaan yang terjadi pada hubungannya dengan Doni.
Sementara Maya, di hari pertamanya masuk sekolah lagi. Maya diantar Ayahnya, yang sekalian mau berangkat pulang kampung, untuk menjenguk Ibu beliau, yang nggak lain mbahnya Maya, yang sakit lagi karena memang sudah tua.
Wajah Gendis semakin terlihat sumringah di hari pertamanya masuk sekolah lagi, dan masuk ke kelas baru.
Alasannya dibuat bahagia, karena daftar nama murid di kelasnya yang baru, nggak tertera nama Sinta.
Gendis bisa berlega hati, karena tidak bertemu lagi dengan Sinta, setelah kejadian di kelas 1. Adam juga sudah berdamai dengan Gendis, dan sekarang berada di kelas lain, dan satu kelas dengan Ade, Maya dan juga Bejo.
Sementara di kelas 2 ini, Gendis sekelas dengan kedua sahabatnya, Widi dan juga Didot.
Gendis ditinggal Ade dan Bejo, yang langsung kembali ke kelasnya, untuk mencari kursi. Sementara Didot dan juga Widi, pergi ke kantin untuk membeli sarapan.
Gendis pun, langsung mencari tempat duduk yang paling disukainya. Berada di dekat kaca, menempel ke tembok, dan berada di barisan pintu masuk, kursi nomor 2 dari belakang.
Bukan tanpa alasan, Gendis memilih bangku itu. Karena pemandangan yang langsung ke lapangan, dan bisa Gendis nikmati dikala bosan dengan pelajaran. Barisan itu, juga paling pewe menurut Gendis. Nggak terlalu dekat dengan guru, tapi masih tetap bisa mendengarkan guru mengajar.
Tas di tangan Gendis sudah dilemparnya ke atas meja, Gendis buru-buru karena mau keluar kelas, supaya leluasa menelfon Doni. Namun tiba-tiba, bahu Gendis kena tabrak, dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
"aduuhhh!!!" rintih Gendis, dipastikan dengan nada meninggi.
"sorry, gue duluan yang mau duduk di sini." anak laki-laki ini, langsung menempati kursi di dekat tembok.
"apa!!" Gendis kembali berteriak, dia nggak terima kalau kandangnya ditempati orang lain.
"GUE, U-DAH DU-DUK DU-LUAN DI SI-NI!" ucap anak laki-laki ini, menegaskan ke Gendis dengan lantangnya.
"siapa yang nyuruh lo duduk di situ? Jelas-jelas, tas gue udah mendarat duluan!" sewot Gendis, nggak terima dengan penjelasan anak lelaki ini.
"ya, siapa cepat dia dapatlah!" ucap cowok ini, menimpali Gendis lagi.
Gendis langsung mendekat, kakinya mengarah ke kursi, menendang kaki kursi, menggertak supaya murid lelaki yang merebut kursinya Gendis, bergidik ngeri karena kemarahannya dan mengalah pindah.
"lo ngerti definisi, perkataan yang lo ucapin tadi nggak?" seowt Gendis mengajukan pertanyaan.
"tas gue, udah ada di situ duluan. Jadi yang tercepat, ya gue!" lanjut Gendis, membantu menjelaskan.
"di mana-mana, yang mau duduk itu pan*at. Bukan tas, tas lo juga adanya di meja kan, bukannya ada di kursi!"
Gendis kembali ditantang, padahal mood Gendis sedang bagus-bagusnya di hari ini. Ia malah dibuat emosi, yang tadinya Gendis sudah antusias mau menelfon Doni.
Tangan Gendis melayang ke kepala murid lelaki di hadapan Gendis, kebiasaan Widi benar-benar menular ke Gendis, yang malah nggak kenal takut, langsung menyerang teman di kelas barunya ini.
Para penghuni kelas yang rata-rata murid perempuan, langsung memperhatikan interaksi Gendis dengan anak lelaki di hadapannya Gendis.
Membayangkan, bagaimana jadinya kalau Gendis menerima balasan dari keberaniannya tadi.
Tatapan mata anak lelaki di hadapan Gendis, langsung menusuk. Tangannya mengepal tanpa bersuara, wajahnya sudah memerah karena marah.
Beruntung, kemarahannya berhasil dihentikan para power rangers-nya Gendis. Yang memanggil nama "Gendis!" serta Widi, yang langsung menyebutkan nama anak lelaki itu yang bernama ....
...----------------...
__ADS_1