Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
14. Bertemu Dengan Perasaan Takut


__ADS_3

Gendis keluar dari sekolah sendirian, dia nggak bareng para power rangernya, karena Ade, Widi, Bejo dan juga Didot, ikut rapat ketua kelas. Sementara Maya lagi didiemin sama Gendis, karena kejadian semalam.


Nggak sampai 5 menit Gendis berdiri di depan halte, seorang laki-laki dengan mengendarai sepeda motor, berhenti di hadapan Gendis.


Sudah dapat dipastikan, siapa pemilik motor yang langsung membuka helemnya, dan mengajak Gendis naik ke motornya.


"kamu sendirian aja Ndis, yang lain mana?" tanya Doni setelah memastikan, kalau Gendis sudah duduk di jok motornya.


"yang lain ikut rapat ketua kelas kak," jawab Gendis.


Obrolan mereka berakhir, Gendis hanya fokus ke jalanan. Dan baru tersadar, kalau Doni ternyata nggak berniat mengantarkannya pulang.


"kita mau ke mana ya kak?" tanya Gendis, yang sempat dibuat bingung oleh Doni, karena Doni melewati jalanan yang biasanya Gendis lewati kalau mau pulang.


"emangnya kamu nggak tau kalau Nover sakit?" ucap Doni, malah berbalik mengajukan pertanyaan.


"tau kok, semalem Gendis juga baru jengukin di rumah sakit." jelasnya.


"kok ke sini kak?" tanya Gendis, karena Doni merubah rute perjalannnya lagi, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Gendis mengira kalau Doni mengajaknya ke rumah sakit, yang semalam ia datangi bersama bunda, adiknya dan juga Maya. Tapi ternyata, Doni malah mengajak Gendis ke rumah Rezy, karena Rezy juga lagi sakit, dia juga mau memjenguk Nover, tapi minta bareng karena nggak diizinin keluar tanpa diantar supirnya.


Sampai di rumah Rezy, Gendis terlihat ketakutan.


"Gendis tunggu luar ya kak, kakak masuk aja ke dalem," ucapnya berwajah pucat seketika.


"yah kok nunggu di luar sih?" tanya Doni, seraya menoleh ke belakang.


"Rezy tuh mau ngajak makan siang dulu, sebelum ke rumah sakit jenguk Nover. Masa kamu kak Doni tinggal di sini, sementara kak Doni asik-asik makan di dalam," ucapnya menyerocosi Gendis.


"nggak pa-pa kok kak, nanti Gendis nyari warung di deket sini," ucapnya mengalihkan.


Wajah Gendis semakin terlihat pucat dan berkeringat, setelah Gendis melepaskan helm dari kepalanya.


"muka kamu tuh udah pucet Ndis, kak Doni nggak mau kalau maag kamu kumat lagi." Doni masih memaksa Gendis untuk masuk, tanpa tau ketakutan apa yang Gendis rasakan saat mereka tiba di komplek rumah Rezy.


"terus, ini kenapa tangan kamu?" tanya Doni yang baru sadar setelah Gendis turun dari motor.


"nggak pa-pa kak, tadi jatoh di sekolah," ucap Gendis menjelaskan, tapi terlihat nggak konsen.


Gendis melongok ke dalam, dari depan pagar rumah Rezy. Dia nggak fokus menjawab pertanyaan Doni, karena mendengar suara yang membuat perasaannya was-was.


"kamu kenapa Ndis?" tanya Doni, sampai mengikuti tingkah Gendis yang sedang melirik ke rumah Rezy.


"i ... iiituuu, kak Rezy, kak Rezy, punya, punya anjing peliharaan bebe ... be ... berapa ya kak?" tanya Gendis sampai terbata-bata, yang secara nggak langsung, Gendis menjelaskan ketakutannya.

__ADS_1


Sejak pertama masuk komplek rumah Rezy, Gendis sudah gemetar karena mendengar suara gonggongan anjing.


Doni tersenyum, meledek Gendis yang sedang ketakutan.


"oooh, jadi kamu takut anjing."


"tenang aja, anjing-nya Rezy nggak galak kok," ucap Doni, berusaha meyakinkan Gendis agar tidak takut.


"masa iya kak?" ucap Gendis tidak percaya.


"kamu mau ngetes?" ledek Doni.


Gendis menggelengkan kepalanya.


"denger suara gonggongannya aja, Gendis udah takut kak, jangan suruh Gendis ngetes deh," ujarnya, menolak tawaran Doni.


"seriusan, anjingnya Rezy tuh penurut." Doni kembali berusaha meyakinkan Gendis, supaya Gendis mau diajak masuk ke rumah Rezy.


"kalau anjingnya kak Rezy nggak gigit, terus diem aja di dalam kandang, Gendis mau deh ikut masuk," ucapnya memberikan penawaran, sampai membuat Doni tersenyum, karena ucapan Gendis yang menurutnya sangat polos.


Yang namanya hewan karnivora si pemakan daging, pastinya bisa menggigit. Meskipun anjing masuk dalam golongan omnivora juga, tapinya anjing juga memiliki gigi bertaring, yang diciptakan buat apa lagi, kalau bukan buat menggigit daging yang seratnya banyak.


Doni meyakinkan Gendis, seraya merekahkan senyumannya. Senyumannya yang manis itu, berusaha meyakinkan Gendis, agar mau naik lagi ke motor Doni, dan masuk bersamaan untuk membuktikan, kalau anjing peliharaannya Rezy nggak menakutkan seperti bayangan Gendis.


Wuuk


Wuuk!


Tiba-tiba, suara gongongan anjing terdengar cukup kencang di telinga Gendis. Gendis langsung syok, tubuhnya sampai gemetar dan jantungnya berdetak dengan kencang. Hingga membuat kaki Gendis sampai lemas, dan berjongkok, karena anjing itu langsung menyerang kaki Gendis.


"Ndis, ini kak Doni," ucapnya, diselingi dengan kekehan.


Gendis sama sekali nggak bergeming, dia merasa nyawanya lepas saat kakinya digigit. Dan sekarang, Gendis sedang mengumpulkan kembali nyawanya yang lepas itu, saat tau Doni yang malah mengusilinya.


Gendis mengangkat kepalanya perlahan, mencari pelaku yang mengusilinya.


"Kak Doni jahat banget sih, Gendis kan tadi udah bilang, kalau takut sama anjing. Masih diisengin juga!" sewot Gendis dengan tampang pucatnya, sampai kelihatan berkeringat.


Doni malah tersenyum sambil berucap,"maaf ya, abis kamu tuh lucu kalau diisengin." Doni pun langsung mengajak Gendis bangun, seraya menggandeng Gendis, lalu melewati pintu rumah Rezy.


Kaki Gendis yang masih terasa lemas, dan gemetar pun masih susah untuk melangkah. Dan begitu masuk, anjing yang sesungguhnya keluar, menggonggong dengan keras, lalu menjulurkan lidahnya seperti menyambut kedatangan majikannya.



Seketika Gendis langsung memeluk bahu Doni, diselingi dengan teriakan yang cukup kencang berdengung di telinga Doni.

__ADS_1


"KAK DONI!!!"


"Ndis, jangan nangis." Doni berucap, karena merasakan seragamnya basah, karena air mata Gendis merembes ke bahunya.


Gendis nggak menggubris ucapan Doni, Doni pun terus menenangkan Gendis, supaya nggak nangis.


"nggak pa-pa kok Ndis, Bruno itu deket banget sama kak Doni, makanya dia seneng banget kak Doni dateng."


Gendis menggeleng, dia tetap menangis sesunggukan sembari berbicara ke Doni tanpa memalingkan wajahnya.


"kita pulang aja yuk kak." pintanya, dengan suara bergetar.


Belum sempat Doni menenangkan Gendis, Nover pun muncul karena mendengar ada suara jetitan.


"ada apaan nih?" tanya Nover.


Melihat Bruno sedang menggoyang-goyangkan ekornya, sudah bisa Nover pastikan penyebab Gendis menjerit.


Sementara Doni, justru nggak bisa menjawab pertanyaan Nover, dia hanya tersenyum memaksa, karena merasa bersalah.


Mendengar suara sepupunya, Gendis langsung melepaskan pelukannya dari Doni. Dan berganti menarik tangan Nover, memaksa sepupunya ini untuk mengantarnya pulang.


"kita masuk dulu Ndis, nunggu pak Erman dateng. Soalnya mobilnya lagi dipake ngejemput nyokap, entar gue anter lo pulang," ucap Nover menjelaskan.


"maunya sekarang mas!" paksa Gendis, sambil menangis sesenggukan.


Melihat sepupunya menangis karena panik, Nover langsung merangkul Gendis.


"Bruno, masuk!" perintah Doni, dan Bruno pun menurut.


"lo kenapa ngajak Gendis ke sini, dia tuh takut sama anjing," ucap Nover terlihat kesal.


"sorry Ver, gue juga niatnya mau ngajak Gendis ke rumah lo, tapi Rezy juga mau ngejengukin lo, dia ngajak gue bareng," ucap Doni menjelaskan.


"eh, lo nya malah di sini," ucap Doni lagi.


"Rezy nggak bisa bangun tuh, dia kena tipus. Makanya gue yang ke sini, tadinya dia juga maksa pengen ke rumah gue." jelas Nover.


"terus, perut lo udah enakan?" Doni membalas, mengalihkan bertanya kondisi kesehatan sahabatnya ini.


"udah kok, lagian juga pas Rezy nelfon gue, gue udah di jalan dan sekalian mampir ke sini," jawab Nover.


Setelah obrolan panjang kedua bersahabat ini, Nover akhirnya mengantar Gendis pulang naik taksi. Gendis nggak sabaran minta pulang karena ketakutan, Nover juga takut kalau Gendis pingsan karena sudah pucat sampai keringat dingin dan gemeteran.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2