
Seharian Gendis menangis, karena harus berpisah dengan Doni. Membuat bu Ayu khawatir dengan keadaan putri sulungnya, apalagi Nover juga sampai datang ke rumahnya Gendis, untuk menenangkan sepupunya itu.
Bu Ayu juga banyak menasihati Gendis, berharap nasihat beliau bisa membuat Gendis luluh, dan mengihklaskan hubungan percintaannya dengan Doni dipisahkan oleh jarak.
"bunda tidak melarang kamu punya pacar Ndis, tapi kamu juga harus tau, kalau ada hal lain yang harus kamu prioritaskan."
"coba kamu lihat Ayah dan Bunda, yang harus pisah jarak. Coba juga kamu rasakan perasaan Ayah, yang pisah jauh dari kita. Ayah justru sendirian di sana, sementara kita di sini bertiga."
Gendis mulai menyadari perpisahan itu, seperti yang ia alami dengan Ayahnya.
"cinta itu memang rumit nak, kamu sekarang menangis karena pisah dari Doni. Sebelumnya, kamu tertawa-tawa waktu Doni masih ada di sini. Cinta itu, harus bisa menerima kondisi dan keputusan apapun yang pasangan kamu ambil."
"dia butuh impiannya, itu harapan yang sudah Doni tunggu-tunggukan? Kenapa kamu malah nggak mendukung? Ayok, kamu itu harus nerimo Ndis. "
Sekalipun Gendis diam, tapi Gendis tetap menyimak, apa yang disampaikan Bundanya.
Bukan hanya bu Ayu yang memberikan nasihat, supaya bisa membuat Gendis luluh. Nover dan Maya, juga berusaha membuat Gendis bisa menerima keputusan, dan berhenti menangisi kepergiannya Doni.
"coba gue mau tanya, Ndis. Apa yang bikin Om Bayu kuat bisa kerja jauh dari tante Ayu, lo dan juga Jingga?" tanya Nover untuk melihat responnya Gendis, apakah menyimak, atau hanya angin lalu.
"cinta." jawab Gendis singkat.
"nah, itu Ndis karena cinta. Selain itu juga, karena om Bayu juga punya tanggung jawab buat membahagiakan keluarganya. Impiannya Doni, juga untuk dirinya dan keluarganya di masa depan," ucap Nover, merespon jawabannya Gendis.
Maya juga ikut menyela, "coba lo bayangin jadi Bunda dan Ayah lo, yang harus pisah karena pekerjaan. Saling mendukung, kan? Lo juga jadi ikutan mendukung, kan? Walaupun harus jauh dari Ayah lo?"
"Ayah lo, juga tepatin janjinya kan? Dateng setiap libur kerja, telfon setiap malem." lanjut Maya, memberikan nasihat.
"lihat juga orang tua gue yang pisah negara, gue juga pisah dari bokap dan Ferrell," ucap Nover, memberikan perbandingan lainnya, supaya bisa meluluhkan Gendis yang sedang sedih.
"lo juga nggak usah khawatir kesulitan ketemu Doni. Gue dan yang lainnya, udah janji ke Doni. Kita akan ajak lo ke Italia, kalau nanti liburan sekolah."
"Doni juga udah sampaiin ke gue, dia nggak lepas tangan Ndis, dia juga bakalan ngehubungin lo lewat aplikasi skype." imbuh Nover lagi.
Gendis mulai menyikapinya, sebagai konsekuensi dari hubungan yang seharusnya nggak dilakukan anak umur 13 tahun.
Gendis memang masih anak umur 13 tahun, baru mau naik ke kelas 2 SMP, dan memang belum bisa bersikap dewasa.
Namun, dengan mengikhlaskan keberangatan Doni. Dan merelakan hubungan mereka yang dipisahkan oleh jarak, Gendis sudah terbilang cukup dewasa, untuk menerima masuknya masalah di dalam hubungan percintaannya.
__ADS_1
Seperti yang bu Ayu sampaikan tadi, kalau beliau nggak pernah melarang Gendis pacaran, asalkan Gendis bisa menerima setiap masalah yang hadir di dalam hubungan.
Makanya kenapa sebenarnya, hubungan percintaan nggak disarankan untuk anak SD dan SMP. Karena Percintaan yang diharapkan anak-anak, hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan; kalau seseorang yang punya pacar, berarti sudah laku. Atau kalau seseorang punya pacar, bisa merasa dicintai. Atau berharap bisa bahagia dengan sang kekasih, hingga hubungan mereka mencapai pernikahan.
Karena dibayangannya hanya ada kebahagiaan, makanya anak-anak juga belum bisa memaknai apa itu cinta. Yang hanya mengharapkan cinta yang bukan cinta main-main, tapi belum bisa melihat hal lainnya di balik kebahagiaan yang diharapkan pasangan yang jatuh cinta.
Contohnya kasusnya, ada di diri Gendis. Dia juga harus bisa menerima konsekuensi dari hubungan yang sudah ia mulai dengan Doni. Dalam kondisi bahagia, atau pun Gendis harus bisa menjalaninya, agar bisa mencapai cinta yang ia idam-idamkan.
...----------------...
Gendis berangkat ke Bandara, ditemani para power rangernya yang dipaksa Maya untuk menamani Gendis mengantar Doni ke Bandara.
Maya tau bagaimana caranya membuat Gendis tenang, sekalipun dia juga bisa menenangkan sahabatnya itu. Tapi, bantuan para power rangernya Gendis juga dibutuhkan.
Sahabat-sahabatnya Doni, juga ikut mengantar keberangkatannya Doni yang tiba-tiba itu.
Meskipun teman-temannya juga sudah menerima keputusan yang Doni ambil, tapi tetap saja ada perasaan sedih yang tergambar di wajah mereka, kalau mereka juga belum bisa menerima kepergian Doni.
Sementara Doni, sesekali dia menenangkan Gendis dan juga teman-temannya. Berat memang, meninggalkan teman-teman yang dikenalnya sejak kecil, dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama dengan teman-temannya.
Doni juga berusaha menahan rasa sedih, yang coba Doni simpan. Supaya teman-temannya apalagi Gendis, bisa menerima keputusan yang ia ambil.
"maaf ya, kak Doni ambil keputusan ini."
Gendis menganggukkan kepalanya, tanpa malu langsung memeluk Doni. Gendis sudah tidak punya banyak waktu, untuk merasakan malu diledek teman-temannya. Gendis hanya ingin melepasnya rindunya, sebelum Doni benar-benar terbang ke Italia untuk menuntut ilmu dan juga mengejar cita-citanya.
Doni juga memeluk Gendis dengan eratnya, kapan lagi dia bisa memeluk Gendis dengan eratnya.
"ada yang mau kak Doni kasih ke kamu." sela Doni, sembari melepaskan pelukan mereka, supaya ia bisa memberikan buku diary untuk Gendis.
"yang ini untuk kamu, yang ini untuk kak Doni. Setiap 1 bulan sekali, kita akan tukeran Diary, supaya bisa berbagi keseharian, selain kita ngobrol lewat telfon." jelas Doni, memberikan alasannya memberikan diary ke Gendis.
"nanti, kamu kirimin alamat kamu. Kak Doni juga akan kirimin alamat kakak kalau udah sampai di Italia." sambung Doni.
Gendis mengangguk, mendengarkan penjelasan Doni.
Gendis juga nggak banyak bicara, karena menahan air matanya yang ditakutkan tumpah di depan Doni dan teman-temannya yang juga ikut mengantar kepergiannya Doni.
Gendis juga memberikan hadiah ke Doni, sebelum Doni pergi.
__ADS_1
Gendis sengaja memberikan frame foto, supaya foto polaroit yang mereka buat di Garut, bisa punya rumah dan bisa menemani Doni seakan Gendis berada di sisinya Doni.
Sebelum berangkat, Doni menemui para power rangenya Gendis.
"maaf ngerepotin, gue mau titip Gendis. Titip dia selama di sekolah dan di rumah ya," ucap Doni, dengan perasaan berat.
Doni tau, kalau keputusannya membuat teman-temannya Gendis kecewa. Tapi dia juga nggak mungkin melepaskan kesempatan, yang selama ini ia harapkan.
"tenang, Gendis bakalan kita jagain." Bejo langsung menjawabi, karena tau kalau teman-temannya yang lain masih kesal ke Doni, yang tiba-tiba mau sekolah di Italia.
Setelah menitipkan Gendis ke teman-temannya, Doni juga mendatangi salah satu sahabatnya untuk berbicara secara pribadi.
"gue juga mau berterima kasih ke lo. Karena kejadian waktu itu di gelanggang renang, gue bisa jadian sama Gendis."
"titip Gendis juga ya," ucap Doni lagi.
Sahabat Doni ini, mengernyitkan dahinya. Kebingungannya, bukan karena nggak mengerti kejadian yang membuat Doni bisa bertemu dengan Gendis lewat dirinya, tapi karena Doni malah menitipkan Gendis ke dia.
"dari semuanya yang ada di sini selain Nover, gue percaya lo bisa ngejagain Gendis selama gue nggak ada."
"maksud lo?"
Doni malah tersenyum, senyumnya yang secara ambigu itu, membuat sahabat Doni ini makin curiga.
"jangan asal ngomong Don, lo ke Italia bukan berniat untuk ninggalin Gendis selamanyakan?"
"kalau lo sampai bikin Gendis sedih, gue bakalan bikin lo nyesel, karena udah bikin Gendis sedih!" ucapnya lagi.
Tanpa sadar, perkataan sahabatnya Doni ini, justru bikin Doni menampakkan senyuman aneh yang hanya dipahami Doni.
Doni justru bisa tenang meninggalkan Gendis, setelah berbicara dengan sahabatnya itu.
Ada rahasia yang hanya Doni yang tau, makanya Doni memberanikan diri menitipkan Gendis ke sahabatnya itu.
Donipun berangkat ke Italia, meninggalkan banyak kenangan selama bertemu dengan Gendis. Dan menjalin hubungan persahabatan dengan teman-temannya, di Star School.
Di balik sikapnya Gendis yang cuek ke cowok, saat pertama bertemu dengan Doni. Ternyata membuktikan, kalau kita nggak bisa melihat seseorang dari sampulnya saja. Lewat kegigihannya Doni, dia justru bisa melihat perhatiannya Gendis yang nggak perlu diragukan lagi.
Lewat persahabatnnya juga, Doni akan memulai mencari teman baru di negara orang. Yang biasanya hanya didatanginya, kalau berlibur. Kini Italia, akan menjadi rumah keduanya selama mengejar impiannya menjadi pembalap motoGP.
__ADS_1
...----------------...