Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
19. Cinta Dan Harapan


__ADS_3

Lagi asik-asiknya mengobrol dengan teman-temannya Doni, Gendis kedatangan para power rangernya, termasuk Maya juga.


Didot yang baru datang, langsung menyerocos dengan bahasa sunda. "iih! Si Gendis, milarian kamana-mana, taunya aya didieu!"


Sengaja Didot memakai bahasa Sunda, supaya nggak ada yang mengerti perkataannya, tapi ternyata. Doni mengerti apa yang Didot sampaikan, dan dibalas sama Doni, dengan bahasa sunda, "iya, dia di sini dari tadi."


Didot langsung diam, setelah dibalasi Doni. Melihat Didot terdiam, Bejo langsung menyela.


"pinjem Gendis sebentar ya kak, kita mau ngobrol sama Gendis sebentar." izin Bejo ke Nover dan Doni.


Gendis pun ikut, sambil dibantu Bejo, yang tau kalau kakinya Gendis kesulitan melangkah. Namun sebelum mereka membawa Gendis, Bram pun menyela.


"kalian beneran temennya Gendis?" tanya Bram nggak yakin.


Bram bertanya bukan tanpa sebab, dia merasa trauma karena penyerangan murid SMP, yang hingga membuatnya harus berobat ke Singapur.


"beneran temennya Gendis, Bram." sela Maya membantu menjawabi, karena takut ada kesalah pahaman, apalagi sudah hafal dengan tabiatnya Widi.


Bejo mengulurkan tangannya pertama kali, bermaksud memperkenalkan dirinya, lalu disusul Ade, Widi dan juga Didot. Sebagai tanda, kalau mereka memang teman dekat Gendis, seperti halnya Maya.


Setelah kenalan, Gendis diajak mengobrol di depan warung siomay karena teman-temanya sudah memesan makanan di sana.


"Ndis, kak Doni kok bisa ngarti Didot ngomong pakai bahasa sunda?" cerocos Didot, dengan logatnya seperti biasa.


Gendis mengangkat bahunya, karena memang nggak tau kenapa Doni bisa mengerti ucapan yang Didot sampaikan dengan bahasa sunda.


Jawaban Gendis membuat Didot, Widi dan juga Ade, malah merasa kalau Gendis ngambek.


"Ndis, gue minta maaf ya. Ini gara-gara idenya Widi," ucap Ade malah mengkambing hitamkan Widi.


Didot juga menganggukkan kepalanya, meyakinkan kalau kejadian tadi memang karena idenya Widi.


Widi harus menerima hukumannya dari Gendis, karena Gendis langsung menyuntrung dahinya. Bukan hanya Widi, Didot dan juga Ade nggak luput dari serangan emosinya Gendis.


Sebenarnya, Gendis nggak menghiraukan kejadian tadi. Asal bukan Doni yang membantunya, seperti di dalm mimpi. Yang walaupun pada akhirnya, Gendis yang sempet takut ketemu sama Doni, akhirnya malah ketemuan juga sama Doni.


Gendis juga sengaja mengerjai ketiga temannya itu, dengan pura-pura marah supaya mereka jera, kalau apa yang mereka lakuin tadi bisa membahayakan Gendis dan juga Adam.


Setelah melihat Gendis bercanda-canda sama teman-temannya, Doni pun langsung mengajak teman-temannya untuk pulang. Ada maksud tertentu, yang mau Doni lakukan setelah memperhatikan Gendis.

__ADS_1


"sebentar Ver," ucap Doni, seraya menahan tangan sahabatnya ini.


"kamu tunggu mobil aja," ucap Nover ke Maya.


"gue, mau nganterin Gendis pulang. Boleh ya?" ucap Doni, yang ternyata mau meminta izin.


"memangnya, lo bisa dilarang Don?" balas Nover, menyindir permintaan sahabatnya ini.


Doni tersemyum canggung, mendengar jawaban yang Nover sampaikan. Apalagi dia pernah melawan sama Nover, dan nekat mau menemui Gendis.


"yaudah gue jalan sekarang ya, Maya udah nungguin. Titip Gendis ya Don," ucap Nover berpamitan, sekaligus menitipkan sepupunya.


Setelah mendapat izin dari Nover, Donipun meminta izin ke teman-temanya Gendis, untuk nganter Gendis pulang.


Sudah pasti Gendis diizinkan, melihat mereka memang setuju kalau Doni bisa membuat Gendis bahagia dan melupakan Adam.


Doni malah nggak mengantar Gendis pulang, dia cuma alasan supaya bisa menemui Gendis dan ngobrol sama Gendis.


Doni juga nggak naik motornya dan diantar supirnya yang justru langsung pergi dan ninggalin mereka di sirkuit sentul, karena memang Doni kepingin menonton kejuaraan motorsport yang sudah ditunggu-tunggu sama Doni. Dan kebetulannya Doni ketemu sama Gendis, jadinya dia sekalian mengajak Gendis mengobrol, dibalik niatnya menonton kejuaraan motorsport.


Doni membantu memapah Gendis untuk duduk, Gendis masih menerka-nerka tempat yang sebenarnya sudah jelas, kalau ini adalah sirkuit arena balap. Dia masih mencurigai Doni, yang pernah iseng seperti di restoran Jepang waktu itu, dan juga keisengan laiinnya waktu di rumah Rezy.


Doni hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.


"kali ini beneran kok, kak Doni mau minta temenin kamu nonton kejuaraan motorsport," ucapnya.


"kak Doni suka sama motorsport?" tanya Gendis.


Doni mengangguk.


Acaranya belum dimulai, masih persiapan. Dan Doni masih punya waktu banyak untuk mengobrol dengan Gendis.


"kak Doni juga suka sama kamu," ucap Doni.


Ucapan itu bikin Gendis melirik malu-malu.


"kamu butuh berapa lama lagi buat jawab perasaan kakak?"


"emangnya kakak ngasih waktu sampai kapan?" tanya Gendis malah ngebalikin.

__ADS_1


"sampai kamu bisa jawab, mau dijawab sekarang juga nggak pa-pa," ucap Doni berharap.


Keduanya duduk menghadap sirkuit, mereka sama-sama nggak berani saling pandang, tapi juga Doni mulai grogi melihat wajahnya Gendis.


Sementara Gendis, memang dari awal sudah grogi bertemu dengan Doni, apalagi Gendis sempat menjaga jarak dari Doni.


"apa kamu masih belum percaya? Atau masih kepingin tau lebih banyak lagi soal kak Doni?"


Gendis asal menganggukkan kepalanya, Donipun tersenyum dan tanpa canggung mengusap kepala Gendis. Mengusap kepala Gendis, jadi kebiasaan baru buat Doni terapkan ke wanita yang ditaksirnya.


Donipun memperkenalkan dirinya, untuk membuat Gendis yakin. Padahal, bukan hanya itu saja yang membuat Gendis ragu-ragu menerima Doni.


"kak Doni, punya nama panjang Doni Inumaki aciel. Ada hubungannya juga sama kesukaan kakak sama makanan Jepang, karena mamanya kak Doni ada keturunan Jepang, sementara papanya kak Doni, asli warga Jakarta." jelasnya.


"kak Doni anak satu-satunya, kak Doni juga sahabatan sama Nover dari kecil. Terus Mama dan Papa nya kak Doni pebisnis, mereka jarang pulang dan nggak bisa ditargetin kapan kepulangannya."


"kak Doni, juga deket sama Ninik. Ninik itu, panggilan untuk nenek dalam bahasa sunda. Kamu pasti taukan, karena temen kamu Didot, juga orang sunda." jelas Doni lagi.


Gendis menganggukkan kepalanya, akhirnya baru mengerti kalau Doni bisa menjawabi perkataan Didot tadi.


Doni lalu melanjutkan lagi ucapannya, "kalau Niniknya kak Doni sakit, kak Doni pasti dateng, karena Ninik juga perhatian banget sama keadaannya kak Doni. Ninik pengganti kedua orang tua kakak, kalau mereka nggak bisa hadir di acara sekolah."


"kak Doni pernah pacaran sebelumnya?" tanya Gendis menyelingi pertanyaan, terlihat mulai antusias kepingin tau tentang Doni.


Doni menggeleng.


"kalau pacaran nggak pernah, kalau suka sama temen pernah." balas Doni menjawabi pertanyaan Gendis.


"terus ditolak?" tanya Gendis.


Doni menganggukkan kepalanya lalu menjawabi Gendis, "iya, dia udah naksir sama temennya kak Doni, makanya kak Doni ditolak."


"sebenernya Gendis masih bingung nyari alasan, kenapa kakak suka sama Gendis, padahal kakak udah jelasin ke Gendis waktu itu, tapi Gendis masih nggak percaya," ucap nya menjelaskan.


Gendis langsung menundukkan kepalanya.


"apa yang bikin kamu nggak percaya sama kak Doni, Ndis?"


"apa masih ada cowok itu?" tanya Doni lagi.

__ADS_1


Gendis menggeleng lalu berucap, "bukan itu kak, maafin Gendis ya kak."


__ADS_2