
Gendis memaksakan kondisinya, untuk masuk sekolah dan malahan nggak bisa belajar. Ade yang sekelas dengan Gendis, jadi direpotkan menjaga Gendis di ruang kesehatan, karena Gendis pingsan saat upacara tadi.
"lo pingsan apa molor?" sindir Ade setelah Gendis siuman.
"mati suri!" ledek Gendis balik.
"yeee! kalau ngomomg tuh dijaga, untung sakit beneran. Kalau nggak, udah benjol nih jidat lo!" Ade berucap, sambil menyuntrung dahi Gendis.
"jam berapa De?" tanya Gendis sambil mencoba bangun.
"jam 8.55 non," ucap Ade, menjawabi.
Ade memegangi Gendis yang mau turun dari matras, belum sadar sama jawaban Ade tadi.
"mau ngapain lo?" tanya Ade.
"ya masuk kelas lah, udah berapa jam nih gue ketinggalan pelajaran," ucap Gendis yang tiba-tiba perduli sama pelajaran, padahal biasanya malas mengikuti pelajaran.
"5 menit lagi ajalah, sekalian istirahat, emangnya lo mau belajar cuma 5 menit?" ucap Ade, mengingatkan.
Gendis manggut-manggut sambil tersenyum.
Kedua anak ini, benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Sampai akhirnya bel istirahat pun berbunyi, dan 8 menit kemudian, para rangernya Gendis yang lainnya, muncul satu persatu.
Diantara Didot, Bejo dan Widi, ada Adam juga yang ikut menengok Gendis.
"kan!" sindir Widi tanpa perlu panjang lebar menghabiskan tenaganya, untuk menegur Gendis, karena nggak mendengarkan nasihatnya yang kemarin.
"iyaa, iyaa, maaf," ucap Gendis, menyesali peringatan teman-temannya yang nggak dituruti.
Untungnya Maya nggak ikut datang menjenguknya, kalau sampai Maya datang. Gendis bisa pingsan lagi, karena pusing mendengar ocehan Maya, yang pastinya nggak ada habisnya. Sekalipun dengan maksud baik, untuk memperhatikan kondisi sahabatnya.
"makan yuk, gue laper nih," ucap Gendis mengalihkan, supaya teman-temannya ini nggak semakin menyalahkan, karena Gendis nggak menjaga kesehatannya.
"lo nggak bisa makan-makanan kantin Ndis, ini gue bawain bubur." Adam menyela, diantara teman-temannya Gendis.
Adam justru lebih perhatian dengan bukti nyata, ketimbang mengomeli Gendis yang sudah ketahuan susah dibilangin.
Bejo, Widi, Ade, dan Didot. Sampai heran sama Adam, yang tiba-tiba kayak doraemon, yang dengan gampangnya mengeluarkan bubur dari dalam kantong ajaibnya.
"lo beli bubur di mana Dam?" tanya Ade heran.
"di kantin, tadi pagi gue minta tolong ibu kantin bikinin bubur buat Gendis. Pas bel, langsung gue ambil," ucap Adam, menjelaskan.
Sementara Gendis sama sekali nggak mau melihat wajah sahabat-sahabatnya, waktu Adam diminta menjelaskan tentang perhatiannya itu.
"makasih ya Dam, lo emang baik, nggak kayak mereka yang katanya temen dari kecil. Tapi nggak ada yang peka satu pun, bawain kek, makanan kayak gini," ledek Gendis, bermaksud untuk mengalihkan.
Bejo langsung menepuk bahunya Adam.
"oke Dam, titip Gendis ya? Kayaknya, emang cuman lo yang dianggep karena udah ngasih bubur," ucap Bejo sewot, tapi hanya bercanda.
"timbang bubur doang, gue juga bisa Ndis beliin!" ucap Widi menambahkan.
Didot pun nggak mau kalah, dia langsung menepuk bahu Ade, supaya Ade berbicara.
"ooowh bubur nih?!" sindir Ade, dengan tatapan tajam.
"tau gitu, pas lo pingsan tadi. Gue diemin aja Ndis di lapangan, nggak usah gue gotong-gotong sampai ruang kesehatan!" lanjut Ade makin sewot lagi.
"akh elaaahhh, bukan gitu!!" ucap Gendis yang berusaha mengklarifikasi.
Ade, Widi, Didot dan Bejo malah nggak menghiraukan perkataan Gendis. Sahabat-sahabatnya Gendis ini, malah meninggalkan Gendis dan bersiap balik kanan. Namun tiba-tiba, langkah mereka terhenti, karena fokus mereka teralihkan saat melihat Sinta, yang masuk ke ruang kesehatan, dan langsung meraih tangan Adam.
"katanya mau ke kantin, ditungguin di sana, taunya malah nyangkut di sini," ucap Sinta yang sama sekali nggak melihat Gendis.
"sebentar Sin." Adam langsung melepaskan tangan Sinta, karena mau menghampiri Gendis lagi.
"Bu Ingrid tadi ngasih tugas kelompok bahasa Inggris, terus kita disuruh translate. Gue sengaja ngajak lo sama Ade biar sekelompok, soalnya 1 kelompok ada 4 orang," ucap Adam, menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Gendis cuma menganggukkan kepalanya.
"cepet sembuh ya Ndis," ucap Adam lagi, dia pun ragu-ragu membalikkan badannya, karena masih menunggu balasan dari Gendis.
"iya makasih, gue udah sembuh kok. Nanti langsung aja ngerjain PR, biar nggak kelamaan," ucap Gendis, tanpa menatap Adam, dan sibuk nyemilin kerupuk, mengalihkan perasaannya yang nggak karuan di depan Adam.
"nanti kita omongin lagi deh Ndis, gue laper nih." Sinta langsung menarik tangan Adam, tanpa membiarkan Adam membalikkan wajahnya lagi.
"Adam naksir lo ya Ndis?" Bejo langsung menimpali, setelah memperhatikan kondisi tadi.
Insting bejo memang kuat, dia jauh lebih perhatian hingga hal serumit cinta-cintaan.
"gosip aja lo, Jo." kilah Gendis, masih mengalihkan dan malah memakan buburnya.
Melihat Gendis salah tingkah, Bejo malah menarik mangkuk bubur Gendis, supaya Gendis menjawabi pertanyaan Bejo tadi.
"nggak baik, suudzon sama orang Jo, lo nggak lihat tadi sinta?" Gendis menjawabi dengan tetap merahasiakan kenyataan, mengenai perasaannya Adam.
"emangnya mereka pacaran?" tanya Ade penasaran.
Gendis menjawab dengan mengangkat bahunya, sambil menarik kembali buburnya dari tangan Bejo.
Sahabat-sahabatnya Gendis, nggak memperpanjang lagi pembicaraan tentang Adam, mereka langsung ke kantin karena sudah lapar dan Gendis pun diajak sambil bawa-bawa mangkuk buburnya tadi.
...----------------...
Jam pelajaran selesai. Gendis, Ade, Sinta, dan juga Adam. Berkumpul di kelas mereka, merundingkan tempat terdekat untuk kerja kelompok.
Ade pun, langsung menawarkan ke rumahnya. Selain karena bisa mengajak cewek yang ditaksirnya main ke rumah. Dia juga punya alasan, supaya nggak terlalu jauh untuk Gendis, yang baru aja pingsan dan Ade nggak bisa pergi jauh-jauh, karena masih harus menjemput Ibunya.
Kerja kelompok kali ini selesai dengan lancar, karena Gendis memang sengaja mau langsung menyelesaikan PR-nya dalam waktu sehari, tanpa perlu ditunda-tunda, supaya Gendis nggak ketemu Adam dan Sinta terus-terusan.
Adam mengantar Sinta pulang ke rumahnya, sedangkan Gendis masih asik tiduran di sofanya Ade. Begitu Ade selesai mandi, Gendis pun pamit pulang, karena Ade mau menjemput Ibunya.
"Ayok Ndis." ajak Adam.
Gendis kaget banget, saat baru keluar dari rumah Ade, dan melihat Adam sudah siap dengan motornya.
"nggak usah Dam, makasih." Gendis langsung jalan, dan mengacuhkan tawaran Adam.
Perkataan Adam memang benar, namun saat ini, Gendis juga sedang bimbang. Ia bingung, mau memaksakan keinginannya yang mana. Menolak Adam karena sudah sakit hati, atau menerima tawaran Adam, karena kondisinya yang sedang sakit.
Adam juga tetap memaksa Gendis untuk naik ke motornya, sampai menarik paksa, tasnya Gendis. Yang pada akhirnya, Gendis pun terpaksa menumpang motornya Adam.
Kali ini, nggak hanya perutnya Gendis aja yang sakit. Secara tiba-tiba, seluruh organ tubuhnya ikut bereaksi. Jantungnya, yang berpacu kencang, tangannya yang langsung tremor karena grogi. Dan walaupun angin cukup kencang berhembus, Gendis tetap merasakan panas bukan main.
"Thanks," ucap Gendis, tanpa mengarahkan pandangannya ke Adam, saat mereka sampai di depan gang rumahnya Gendis.
Adam menahan tangan Gendis, dia sekalian turun dari motornya, untuk membantu membawakan tasnya Gendis.
"gue anter sampai rumah lo, gue nggak mau lo pingsan lagi," katanya, menawarkan.
‘justru gue bakal pingsan, kalau lo tetep ada di deket gue!’ monolog Gendis, dalam hatinya.
Gendis benar-benar nggak tahan, sementara tangannya Adam masih terus memegangi tangannya.
Adam tetap memaksa menarik tas ranselnya Gendis, dari bahunya yang di gendongnya asal, dan mengambil kamus yang dari tadi di pegang Gendis.
Adam mengantar Gendis, hanya setengah jalan dari gang depan tadi dan Gendis menahan Adam supaya nggak lanjut jalan.
"sampai sini aja," ucap Gendis yang langsung memberhentikan langkahnya Adam.
"nanggung banget Ndis, sebentar lagi juga nyampe rumah lo," ucap Adam, masih memaksa dan mereka berdua berdiri di depan rumah Maya yang memang tinggal belok ke gang berikutnya.
"yaelah Dam, gue masih bisa jalan ke rumah. Kalau pun pusing lagi dan mau pingsan, gue masih bisa nahan dan pingsan di rumah!" Gendis mulai ketus, agar Adam segera menyingkir.
Gendis juga langsung mengambil tas dan kamusnya dari tangan Adam, dan pergi setelah berterima kasih ke Adam.
"tunggu Ndis!" ucap Adam.
Gendis berhenti, namun tanpa memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"kayaknya lo ngehindarin gue Ndis?" Adam bertanya, seraya berjalan menghampiri Gendis.
"cuma perasaan lo aja Dam," ucap Gendis, tanpa sedikit pun menoleh dan malahan Gendis jalan aja.
Sekali lagi, Adam menahan Gendis dan kali ini, ia berhenti tepat di hadapan Gendis. Adam penasaran mau melihat wajah Gendis dari dekat.
"lo kenapa ngehindarin gue terus sih Ndis?" Adam mengajukan pertanyaan lagi, karena pertanyaannya yang sebelumnya, dirasa kurang memuaskan.
Gendis menarik nafasnya, makin kesal karena Adam memaksanya lagi untuk menjawab pertanyaan yang sudah dijawabnya.
"lo nggak ngantuk apa Dam?" tegur Gendis sebagai pengalihan.
"pulang gih!" ucap Gendis lagi, bernada mengusir.
"lo kenapa ngehindarin gue sih Ndis?" sekali lagi, Adam kembali menanyakan pertanyaan yang sama, yang menurutnya belum dijawab Gendis dengan jujur.
"siapa yang ngehindarin lo sih Dam?" nada bicara Gendis naik satu oktaf, Gendis mulai emosi.
"lo Ndis! Emang di sini ada orang lain selain lo?" sergah Adam, ikut emosi karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.
"kan, tadi gue udah jawab, gue nggak ngehindarin lo Adam. Emangnya omongan gue kurang jelas ya?!" bentak Gendis, membalas Adam dengan emosi.
"karena sinta kan?" tukas Adam.
Gendis langsung menatap Adam dengan sinis, emosinya kali ini sudah tidak bisa terbendung lagi. Sampai ada keingininan, untuk mendorong pertahanannya Adam. Namun, Gendis masih nggak tega, membuat Adam nantinya malah terjatuh karena emosinya.
"minggir lo Dam, gue capek nih!" sergah Gendis, seraya mendorong bahu Adam supaya menggeser dari hadapannya. Namun, Adam malah berbalik lagi menahan Gendis, dan berdiri di hadapan Gendis.
"emangnya, lo pikir, gue nggak bingung dan penasaran sama sikap lo yang tiba-tiba ngehindarin gue? Lo pikir, gue nggak khawatir lihat lo sakit gini?" Adam memborong semua kekhawatirannya, dan unek-unek di dalam hati dan fikirannya, yang semuanya terisi dengan perasaannya ke Gendis.
Gendis menarik nafasnya dalam-dalam, mulai menata emosinya agar tidak meluap.
"sekarang gini deh, Dam. Memangnya kita sedeket apa sih?"
Adam diam, setelah Gendis membalikkan pertanyaan.
"lagian nih ya, ngapain gue ngehindarin lo cuma karena Sinta. Kalaupun lo berdua pacaran, bukan urusan gue juga kan?" ucap Gendis yang akhirnya berhasil berjalan selangkah di depan Adam, tapi Adam langsung menarik tangan Gendis, dan Gendis jadi membalikkan badannya dan mereka berhadap-hadapan lagi. Kali ini, Gendis berdiri membelakangi gang rumahnya.
"pacaran?" tanya Adam memastikan, kalau yang didengarnya tadi salah.
"tadi lo bilang, gue sama Sinta pacaran?" ucap Adam, sampai bertanya untuk kedua kalinya.
"selama ini, gue deket sama Sinta buat curhat dan itu juga sengaja buat ...." ucapannya Adam langsung dipotong Gendis, "buat bikin gue cemburu kan, biar lo tau kayak apa perasaan gue ke lo?"
"gue bukan mau bikin lo cemburu Ndis, niat gue supaya tau perasaan lo. Gue juga nggak mau ditolak untuk pertama kalinya," ucap Adam, yang akhirnya menjelaskan dengan jujur, mengenai perasaanya ke Gendis.
"kalau cara lo kayak gitu, udah pasti lo ditolak cewek Dam!" tegur Gendis.
"emangnya, selama ini lo nggak ngerasain perasaanya Sinta?"
"Dia tuh suka sama lo, makanya dia ngelakuin ini buat deket juga sama lo!" lanjut Gendis, menimpali.
Adam menggelengkan kepalanya, karena nggak tau perasaannya Sinta ke dia, yang lebih dari sekedar teman curhat dan membantu mendekatkannya ke Gendis.
"Sinta nggak mungkin suka sama gue, dia sendiri yang bilang ke gue, kalau lo suka sama gue, dan dia sengaja mau bikin lo cemburu, setelah deket sama gue," ucap Adam menjelaskan strateginya Sinta.
Gendis menyeringai, ia juga kesal karena Sinta sudah menipunya. Dan sekarang, Adam juga ternyata ditipu Sinta.
"Sinta suka sama lo, Dam. Dia bilang, kalau lo sama dia udah jadian. Itu yang jadi alesan gue ngehindar dari lo!" ucap Gendis yang akhirnya mau jujur.
Gendis menghindari Adam lagi, setelah pengakuannya itu. Adam juga langsung memegang tangan Gendis, supaya Gendis nggak kabur.
"gue suka sama lo, Ndis." Adam mengakui perasaannya.
"gue juga Dam ...." Gendis berucap, sambil menundukan kepalanya.
Adam tersenyum dengan lebarnya, saat perasaannya dibalas Gendis. Tapi kemudian, senyum itu memudar saat Gendis melepaskan tangan Adam dari lengannya.
"tapi! Itu dulu Dam, sebelum Sinta mengambil alih. Dia itu, lebih suka sama lo, Dam. Jangan sia-siain perasaan dan usahanya Sinta, untuk dapetin lo." ucap Gendis dengan suaranya yang ikut sedih, takut Adam sakit hati, walaupun memang kenyataanya, Adam sakit hati karena hatinya dipatahkan sama penolakannya Gendis.
Adam meneteskan air matanya, dia menyesali cara yang diambilnya dan malah mengikuti saran yang dibuat Sinta. Yang justru membuat mereka nggak bisa bersatu, karena perasaan yang sama dari orang ketiga.
__ADS_1
"pulang gih, gue ngantuk! Butuh istirahat juga," ucap Gendis, tanpa berani menatap Adam yang akhirnya berlari, sekaligus membawa kesedihanya, pergi ningalin Gendis yang akhirnya ikut nangis sambil jalan ke arah rumahnya.
Kepala Gendis tiba-tiba dapat usapan halus, bahunya Gendis langsung di pegang dan membuat Gendis mengangkat kepalanya.