
Senin pagi di kelas Gendis ...
Baru saja Gendis menaruh tas di atas mejanya, tiba-tiba saja tangan Gendis ditarik agar keluar dari kelas.
"nggak usah narik-narik, ada apaan sih?" tanya Gendis sewot, karena melihat Adam yang menarik tangannya, tanpa memberikan penjelasan.
"gue tau alesan lo nolak gue!" ucap Adam tiba-tiba.
"kenapa dibahas lagi sih?" sewot Gendis, malas membahas.
Gendis membalikkan badanya, tapi Adam lagi-lagi menahan tangan Gendis yang ditariknya kasar.
"harus dibahaslah! Gue nggak bisa ngelupain lo Ndis!" ucap Adam dengan tegas, disertai wajahnya yang memerah.
Gendis mencoba ngelepasin tangan Adam, namun Adam menolaknya. Ia juga berusaha menahan Gendis, supaya Gendis nggak terlepas lagi dari genggamannya.
Terkadang, lelaki senang menyiksa perasaannya sendiri. Waktu deketin perempuan yang disukainya, dia diam dengan alasan malu, cuma berani curi pandang ke cewek yang ditaksirnya. Tapi setelah cewek itu deket sama cowok lain, mulailah si cowok mengusahakan, supaya cewek yang ditaksirnya nggak jatuh ke gengaman cowok lain.
"hari sabtu, gue lihat lo dianterin pulang sama cowok," ucap Adam menjelaskan.
"terus kenapa?" tanya Gendis.
Gendis selalu punya jawaban yang bikin dirinya terlihat polos, tapi kepolosannya itu sangat mendekati nggak peka dan nggak peka sama aja memunculkan kebegoannya Gendis, seperti apa yang selama ini Maya bilang.
Seharusnya perkataannya itu, nggak perlu Gendis pertanyakan lagi ke Adam, yang jelas-jelas menyatakan kalau, "gue cemburu Ndis!"
Ucapan spontan yang keluar dari mulut Adam, membuat Gendis tersenyum bahagia banget, sekalipun nggak Gendis perlihatkan secara langsung.
Gendis jadi orang yang spesial hari ini, dia sempat nangis-nangis, bahkan baru dua hari yang lalu, dia menyelesaikan tangisan terakhirnya untuk cowok di hadapannya ini. Eh, senin paginya, Gendis sudah dibuat tersenyum puas karena perkataan Adam.
"kenapa pada pegangan tangan gini?"
Suara tadi, mengalihkan interaksi Adam dan juga Gendis, yang datang dengan perasaan emosi dan seketika juga, membuat bayangan senyum bahagia Gendis memudar, saat dilihatnya Sinta yang datang.
Sinta langsung melepaskan tangan Adam dari tangan Gendis, dan Sinta juga menarik Adam untuk masuk ke kelas.
Namun kemudian …
"gue mau ngomong sama Gendis, Sin. Bisa minggir bentar nggak?"
Melihat reaksi Adam yang ketus, Sinta terlihat nggak menyangka karena Adam membentaknya di depan Gendis.
Melihat wajah Sinta yang merengut, Gendis pun nggak tega dan berinisiatif untuk menyelesaikan cinta segitiga ini, supaya Gendis nggak berada di dalam bayang-bayang Sinta ataupun Adam.
"gue sama Adam nggak ada apa-apa," ucap Gendis yang sebenarnya nggak perlu menjelaskannya, karena Sinta juga sudah tau.
"gue juga udah tau kok, niat baik lo berubah. gue juga udah nggak mempermasalahkan," ucap Gendis tanpa basa-basi.
"maksud lo?" tanya Sinta pura-pura nggak ngerti.
"maksud gue, soal lo yang tadinya mau nyomblangin Adam!" dengan tegas, tanpa basa-basi lagi, Gendis langsung menyerang Sinta dengan perkataan yang membuat Sinta mati kutu.
Sinta langsung menundukkan kepalanya, malu karena aksinya akhirnya terungkap.
"gue nyesel Sin, ngikutin cara lo!" timpal Adam, emosi.
Sinta mendadak diam, karena dipojokkan dengan kesalahan yang telak merugikan perasaan dua orang ini.
"maafin gue, Dam, Ndis." Sinta akhirnya mengeluarkan ucapan, yang memang ditunggu-tunggu sama Gendis.
__ADS_1
"gue beneran kok, mau bikin kalian deket."
Adam langsung memotong penjelasan Sinta, "tapi tiba-tiba, lo suka sama gue kan Sin?"
Sinta mengangguk pelan.
"maafin gue, Adam. Iya, gue suka sama lo. Makanya gue batal nyomblangin kalian," ucap Sinta, sekarang suaranya malah kedengaran serak, menahan air matanya yang akan segera menetes.
"nggak perlu minta maaf lagi, udah terlambat! Gendis juga udah punya pacar," ucap Adam yang mulai putus asa.
Ucapan Adam nggak diralat Gendis, Gendis membiarkan ucapan Adam yang menuduhnya sudah memiliki pacar, supaya Adam nggak berharap lebih lagi ke dia, dan nggak ngejar-ngejar Gendis lagi. Namun, ucapan Adam justru membuat orang lain salah faham.
Ade yang tiba-tiba datang, jelas mendengar ucapan Adam.
"lo udah jadian Ndis sama Doni?"
Gendis nggak bisa mengklarifikasi tuduhannya Ade, takutnya pertanyaan itu, justru membuat Adam merasa masih ada kesempatan.
Gendis membiarkan Adam terlihat sedih, dan menundukkan kepalanya. Sinta langsung mengangkat kepalanya, karena kaget mendengar Gendis justru sudah punya pacar, dan merasa ada kesempatan bisa mendapatkan perasaannya Adam lagi.
...----------------...
Jam istirahat, Gendis dan teman-temannya sudah berada di kantin. Gendis langsung meninggalkan teman-temannya, untuk memesan siomay. Dan setelah kembali lagi, teman-temannya sudah terlihat sumringah sambil memperhatikan Gendis.
"kikir pisan Ndis, beli siomay cuma satu piring." sindir Didot.
"tau lo Ndis, baru jadian juga, pajak jadiannya dong …," ucap Widi menambahkan dengan antusias.
Tanpa perlu berkata-kata, Gendis hanya mengarahkan tatapan matanya ke Ade. Yang seakan mengumpat, dan siap menyerang Ade.
"bikin gosip yang nggak-nggak aja lo!" sewot Gendis dan menaruh siomay dan segelas Jasjus dengan pendaratan yang kasar, dibanting. Untungnya, piring dan Gelas yang dibawanya, terbuat dari melamin. Kalau dari beling, sudah dipastikan bakalan hancur berkeping-keping.
"kenapa sih ndis, akhir-akhir ini emosi lo meledak melulu," ucap Bejo, menegur sekaligus menenangkan Gendis juga.
"baru kedatengan bulan ya Ndis?" celetuk Didot dengan logat sunda nya.
"Tck! Ngeselin lo pada!" gerutu Gendis yang emosi ke Ade, dan malah merembet ke teman-temanya yang lain.
Ade nggak merasa bersalah sedikit pun, dia malah tertawa meledek Gendis.
"jangan sampe ya, ni Jasjus mendarat basah kuyup di muka lo ya De!" ancam Gendis, masih sewot.
"astaghfirullah, Gendis. Orang mah abis jadian seneng, lo malah emosi mulu." ucap Ade, mengomentari sambil menggelengkan kepalanya.
"SIAPA YANG JADIAN? ADE FAUZUL HILMAN!!!" tegas Gendis, semakin emosi.
"lo jangan ngarang bebas De!" tegur Gendis, masih bernada sewot.
"siapa yang ngarang bebas sih, tadi kan Adam juga bilang gitu kan?"
Gendis langsung menjelaskan kesalah pahaman yang Ade dengar tadi, supaya temen-temennya juga nggak semakin membuat Gendis kesal dengan ledekan mereka.
"ngerti nggak lo semua! Jangan bawel lagi!" gertak Gendis.
"gue laper! Dan jangan sampe daging lo semua gue jadiin siomay!" ancem Gendis, untuk menutup mulut temen-temennya yang bawel.
Widi, Bejo, Didot, sampai Ade, bersamaan menganggukkan kepala mereka. Melihat kemarahan yang Gendis tampakkan, akhirnya bisa membuat mereka berempat terdiam.
...----------------...
__ADS_1
Bel pulang sekolah berbunyi, baru sampai di lapangan. Gendis mendengar namanya, ada yang meneriaki. Mengira ada yang usil, Gendis malah nggak menghiraukannya. Dan memilih bercanda dengan para power rangernya.
Baru sampai di depan gerbang sekolah, langkah Gendis terhenti lagi, karena namanya lagi-lagi dipanggil, berbarengan dengan kemunculan Maya, yang langsung menghalangi jalannya.
"ada apaan sih May?" tanya Gendis.
"dari lapangan tadi, itu lo yang manggil ya?" lanjut Gendis.
Maya menjawabi dengan mengangguk, karena kesulitan bernafas.
"gue nunggu di sana ya?" ucap Widi, yang langsung bertampang ketus, setelah melihat kedatangan Maya.
Gendis mengangguk, diikuti teman-temannya yang juga berpamitan ke Gendis.
"i ... itu. Biar, biar lo nggak buru-buru pulang," ucap Maya, dengan nafas ngos-ngosan karena habis mengejar Gendis.
"ada apaan sih?" tanya Gendis nggak nyaman, karena mau buru-buru pergi.
"lo ada air minum nggak?" Maya berbalik menanyai Gendis.
"gue haus," ucap Maya lagi, dengan nada manja.
Belum apa-apa, Maya sudah bikin Gendis kesal untuk kedua kalinya.
"jadi, lo neriakin gue sambil lari-larian, cuman mau minta minum?" tegur Gendis, sembari memberikan botol minumnya yang masih tersisa air minum.
"nggak gituuu ...." jelas Maya, bernada manja.
Tanpa berpanjang-panjang dan bertele-tele, karena tau watak Gendis yang nggak suka basa-basi. Maya langsung menjelaskan, alasan yang membuatnya harus lari-larian mengejar Gendis tadi.
"anterin gue ke rumahnya Nover, Ndis."
"hah!"
"ogah ah! Capek May, lagian juga, jauh banget May." tolak Gendis.
"lo tega banget sih Ndis, biar gimanapun kan Nover kakak sepupu lo. Gue kan kakak ipar lo, masa lo nggak perduli sih?" Maya berusa merayu Gendis.
Gendis mendengkus, dibarengi wajahnya yang seakan meledek Maya.
"Nover emang sepupu gue, May. Tapi kalau lo, ya tetep aja temen guelah."
"sekalipun ipar, tetep aja ipar sepupu. Dan sorry nih, ogah banget kalau lo bakalan jadi ipar gue beneran," ucap Gendis lagi, bernada bercanda.
Maya langsung melancarkan serangan rayuan mautnya, yang dijaminnya bisa membuat Gendis luluh lantah sama kemauannya, seperti saat Maya merayu Gendis ke sekolah Nover waktu itu.
"entar, kalo gue nyasar, atau diculik gimana? Rumah Nover kan jauh Ndisss."
"kenapa lo nggak naik taksi aja sih May? Sampai sana, lo minta aja mas Nover yang bayar ongkos taksinya," ucap Gendis menyarankan.
"itu sih nyusahin Nover, Ndis." komen Maya.
Gendis mengernyitkan dahinya, Maya sama sekali nggak mau menyusahkan pacarnya, tapi dia mudah banget menyusahkan sahabatnya.
"Nover sakit Ndis, masa gue nyusahin orang sakit sih? Gue kan mau jenguk dia," ucap Maya lagi, yang kali ini menunjukkan kekhawatirannya.
Gendis batal memarahi Maya, karena mendengar informasi sepupunya yang sakit.
"sakit apaan?" pertanyaan Gendis mulai serius, dia juga terlihat khawatir setelah tau cerita dari Maya.
__ADS_1