Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
40. Tidak Pernah Terpikirkan Sebelumnya


__ADS_3

Doni langsung tersenyum, saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Apalagi, kedua orang tuanya membawakan hadiah yang sudah Doni ceritakan ke Gendis tadi.


"belum terlambat masuk sekolah kan?" tanya bu Destri.


"masuk dulu, ada yang mau Mama dan Papa bicarakan." imbuh pak Yosua, seraya mengkode dengan gerak kepala beliau, yang meminta putranya untuk ikut ke dalam.


Doni mengikuti langkah kedua orang tuanya, obrolan apapun menurut Doni, sangat Doni nantikannya karena jarangnya interaksi dengan kedua orang tuanya, yang super sibuk dengan pekerjaan mereka.


"motor itu, sudah bisa kamu pakai." pak Yosua memberikan kunci motor ber 125 cc itu, ke putranya yang terlihat antusias.


"nanti, kalau lisensi kamu sudah keluar. Yang artinya, kamu sudah 17 tahun, sudah lebih tinggi dari sekarang. Papa akan menaikann cc motor yang kamu mau," ucap pak Yosua lagi.


Senyum Doni semakin sumringah, mendengar perkataan yang Papanya sampaikan.


"boleh yang 500 cc Pa?" Doni antusias mengajukan pertanyaan, dengan tatapan matanya yang berbinar-binar membahas mengenai hobinya itu.


Pak Yosua menganggukkan kepalanya, "800, 900, sampai 1000 cc pun. Akan Papa dan Mama turuti, asalkan ...," ucapan pak Yosua sengaja dijedanya, seraya melirik ke arah istrinya.


"asalkan, kamu putus dengan pacar kamu itu!" tegas bu Destri.


Senyum sumringah Doni, langsung memudar. Antusiasmenya membahas mengenai hobinya, malah dibuyarkan dengan permintaan kedua orang tuanya.


"Mama sampai merelakan kamu memilih hobi, dan cita-cita kamu itu Don. Mama rela, kamu tidak bisa melanjutkan perjuangan Papa dan Mama, untuk membesarkan perusahaan. Agar apa, agar kamu bisa lupa dengan pacar kamu. Fokus ke pendidikan, dan juga cita-cita kamu. Bukanya malah bertahan, dan tetap menjalin cinta-cintaan yang tidak berguna!" cerocos bu Destri, mulai menaikkan nada bicaranya.


Kedatangan kedua orang tua Doni, yang akhirnya menyampaikan kalau Doni diminta putus sama Gendis, membuat Doni seketika acuh dengan permintaan kedua orang tuanya.


Doni nggak pernah curiga sebelumnya, kalau niat kedua orang tuanya yang berubah, justru karena kepingin dirinya putus dari Gendis.


Mana mungkin Doni putus dengan Gendis, Gendis adalah wanita pertama yang membuatnya bisa merubah kebiasaannya bangun siang.


Selain itu juga, selama kedua orang tuanya sibuk. Gendis yang selalu menemani hari-harinya Doni, Gendis selalu ada dibayang-bayang impiannya Doni, yang bahkan mengharapkan jalinan kisah cintanya bisa sampai ke pelaminan, saat umur mereka nanti sudah bisa dibilang cukup untuk menikah.


Namun, angan-angan itu sepertinya akan sulit untuk Doni gapai. Saat, dipikirnya, kedua orang tuanya menerima hubungannya dengan Gendis, ternyata malah memaksa Doni untuk mengakhiri hubungannya dengan Gendis.


Doni memberanikan dirinya, menyampaikan isi hati, serta emosi yang selama ini tidak pernah ia luapkan.


"di saat Doni meminta perhatian Mama dan Papa, Doni hanya diminta untuk menunggu. Dari kecil Doni diminta untuk menunggu, tapi Papa dan Mama nggak pernah menepati janji itu."


"waktu Doni cerita soal hobi dan cita-cita Doni. Jujur, Mama dan Papa sudah buat Doni kecewa. Tapi, ada orang yang berhasil mengubah perasaan kecewa Doni, karena dilarang mengejar mimpi Doni. Dengan memberikan nasihatnya yang positif."

__ADS_1


"tadinya, Doni juga mau memberikan kabar baik ke Mama dan Papa. Kalau Doni, juga akan melanjutkan menghandle perusahaan. Tapi, denger permintaan Mama dan Papa yang meminta Doni untuk putus dari Gendis. Doni ... Doni minta maaf, nggak bisa mengabulkan permintaan Mama dan Papa untuk putus dari Gendis."


"Doni berangkat sekolah dulu Pa, Ma." alihnya, dengan air mata yang langsung menetes.


Di satu sisi, Doni nggak tega mengecewakan kedua orang tuanya. Karena menolak memutuskan hubungannya dengan Gendis, dan lebih memilih Gendis. Tapi di sisi lain, dia juga butuh kedua orang tuanya. Apalagi untuk saat ini, Doni belum berpenghasilan dan masih bergantung dengan kedua orang tuanya.


Doni melihat motor di hadapannya, serta kunci yang ada di tangannya. Doni malah nekat membawa motor tersebut, tanpa memikirkan bahaya menerobos jalan raya tanpa lisensi mengemudi.


Mendengar mesin motor dinyalahkan, membuat kedua orang tua Doni langsung ke luar dari rumah. Mau mengejar putra mereka, yang malah bertindak gegabah di saat marah.


"biarkan dia menenangkan dirinya," ucap Pak Yosua, yang secara tidak langsung memberikan Doni kesempatan untuk berpikir.


"tidak bisa Pa! Kamu mau, kita dimarahi Mama? Doni sangat dekat dengan Mama, dia akan telfon Mama. Apalagi, Mama sangat suka dengan anak perempuan yang dipacari anak kita." bu Destri, tidak bisa tenang menyampaikan ke suaminya.


Filling bu Destri memang benar, kalau Doni saat ini sedang mengabari Nini Annette.


Doni tidak pernah menutupi perasaannya di depan Nininya itu, sampai Doni menangis, mengadu ke Nini Annette.


"berhenti dulu Doni, jangan membawa motor dalam keadaan sedang emosi," ucap Nini Annette, menasihati.


Doni memberhentikan motornya, mengikuti nasihat Nininya.


"Doni nggak mau putus dari Gendis, Ni." suara Doni masih berat karena menangis.


Bu Annette hanya bisa menghela nafasnya, tidak bisa berkomentar lagi. Saat mendengar cucunya, yang sedih bukan untuk yang pertama kalinya.


"Nini ke Italia sekarang juga! Kamu tidak perlu khawatir."


Mendengar Nininya menyampaikan itu ke Doni, Doni langsung lega. Tapi dia tetap nggak bisa berangkat sekolah, Doni memilih pergi ke sirkuit, untuk menenangkan pikirannya. Ditambah lagi, Doni nggak bisa mengabari Gendis karena handphone Gendis rusak.


Tapi, Donipun mengirimkan sms balasan untuk Gendis, yang dikirim lewat handphone-nya Widi.


08:00 ["iya kak Doni gk marah Ndis. Mending jaga jarak dari Deka, seperti biasanya aja. Dan nggak perlu diladenin juga."]


08:01 ["tadi emang panik bgt, karena gk bisa nelfon kamu lagi. Tapi setelah inget ada temen2 kmu, kak Doni udah bisa lega lagi. Nanti, ada yang mau kak Doni omongin. Kalau udah baca sms ini, tolong telfon kak Doni ya Ndis. I Love you."]


...----------------...


Bu Annette yang kesal pada putri bungsunya, langsung menelfon bu Destri, dan menyerocosi bu Destri banyak hal.

__ADS_1


Beliau kesal pada putri bungsunya itu, yang seenaknya mengatur anak. Tapi pada saat anaknya membutuhkan kasih sayangnya, bu Destri selalu saja mengatakan kalau ia sibuk dengan pekerjaan.


Padahal, bu Annette juga tidak hanya memiliki 1 anak saja, yang juga seorang business woman. Namun masih bisa mengurus anak-anaknya, dan memberikan perhatian lebih pada saat diberi tanggung jawab saat anak mereka lahir.


"contoh kakakmu, Destri! Dia juga bisa mengurus kita pada saat Ayah kalian tidak membiayai hidup kita. Dia hamil anak keduanya, sambil bekerja, sambil mengurus anaknya."


"kamu! Apa kamu mengurus Doni dengan benar? Doni itu kesepian Destri, Doni butuh sosok orang yang bisa mencintainya. Apa salahnya, dia jatuh cinta pada Gendis. Gendis anak yang baik, tidak menjerumuskan Doni ...," ucapan bu Annette terpotong.


"Ma, tapi anak itu akan membahayakan Doni. Tadi saja, Doni berani membentak orang tuanya."


"tidak heran, kalau anak itu akan membangkang. Kamu sebagai orang tua, juga sering mengecewakannya." sindir bu Annette.


Bu Annette menjeda sejenak, beliau cukup kesal sampai kehabisan kesabaran. Setelah merasa tenang, bu Annette kembali melanjutkan nasihatnya.


"apa yang kamu pikirkan Destri? Kamu takut, kalau Doni hanya dimanfaatkan karena kekayaannya?"


"iya!" tegas bu Destri dengan jujur, karena ternyata memang itu ketakutan beliau, makanya meminta putranya untuk mengakhiri hubungannya dengan Gendis.


"Destri!" amuk bu Annette, sampai terdengar tangannya yang menggebrak meja.


"kamu lupa? Dulu kita juga orang susah? Kita pernah tidak bisa makan, karena Ayah kalian menelantarkan kita di Jepang!" lanjut bu Annette, menegaskan perkataan beliau, agar putrinya mengingat masa lalunya.


"sudah merasa di atas, kamu menyombongkan diri? Takut harta kekayaan kamu direbut orang?" tambah bu Annette.


"kamu tega berfikiran buruk seperti itu Destri? Gendis masih anak-anak, mana mengerti hal seperti itu!" tegas bu Annette, kembali menasihati putrinya.


"justru masih dini Ma. Aku tidak mau ke depannya anak itu mengambil kebahagiaan Doni," ucap bu Destri, menimpali perkataan Mamanya.


"sadar Destri! Kamu dan Yosua, yang sudah mengambil kebahagiaan Doni. Bukan hanya sekali, tapi sudah kesekian kalinya kamu membuat Doni terluka!" bentak bu Annette, disela nasihat beliau.


"Mama akan ke Italia sekarang juga! Hentikan kecemburuan kamu terhadap Gendis, dan jangan berpikiran untuk memisahkan anak itu dari cucu Mama!" ancam bu Annette saking kesalnya, beliau langsung mematikan sambungan telfon ke putrinya.


Mendengar kalau bu Annette mau menyusul ke Italia, bu Destri langsung panik.


"Popy!" panggil bu Destri, pada sekretarisnya yang selama ini menjaga Doni.


"iya bu."


"suruh orang untuk mencari Doni sekarang juga! Kita pakai alasan itu, untuk membuat Doni memutuskan hubungannya dengan Gendis. Lakukan sekarang juga sebelum Mama tiba!" tegas bu Destri, memerintahkan sekretarisnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2