Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
41. Diambang Perpisahan


__ADS_3

Sepanjang track, Doni terus mengingat pembahasannya dengan Nover. Yang ternyata ditakutkan Nover, pada akhirnya terjadi juga.


Doni nggak pernah terbayangkan, kalau ternyata kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Gendis. Ia hanya bisa merenung, memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Gendis ke depannya.


Kalau saja dari awal, Doni sudah memastikan kepada kedua orang tuanya, apakah mereka menyetujui hubungannya dengan Gendis. Pastinya Doni akan lebih dulu meminta solusi dari Nini Annette, tanpa harus repot-repot dipisahkan dari Gendis, lalu pada akhirnya harus putus juga.


Kedua netra Doni terfokus pada sekumpulan orang di depannya, laju motornya tidak bisa ia percepat, karena mereka memblokade jalan.


"Nini udah dateng?" gumam Doni, saat menyadari kumpulan orang tadi memakai pakaian hitam, khas para bodyguard.


Namun sepersekian detik, Doni menyadari kalau mereka adalah suruhan Mamanya. Karena nggak mungkin Nininya datang dengan bodyguard laki-laki, serta bukan orang Indonesia.


Hobinya, justru bisa menyelamatkan Doni dari kejaran para bodyguard suruhan Mamanya. Doni berhasil kabur, dan langsung terpikirkan untuk kembali ke Indonesia.


Doni harus menyampaikan ke teman-temannya, untuk menjaga Gendis. Tapi, niat Doni dirubahnya segera, karena nggak mungkin Doni bisa kembali ke Indonesia, kalau dia nggak bawa paspor-nya.


Doni hanya memikirkan Gendis, sayangnya Gendis nggak ada hape, sementara di Jakarta sana, Gendis pasti lagi belajar dan nggak akan mungkin bisa menerima telfon dadakan, sekalipun Doni bisa mengabari lewat Widi.


Tapi Doni nggak pendek akal, Doni harus mencari tempat persembunyiannya, supaya bisa mengabari salah satu sahabatnya, yang pernah dimintainya tolong untuk menjaga Gendis selama ia di Italia.


"akh! Gila lo Don! Masalah urgent apa? Untungan gue bisa baca sms lo tadi, dan kabur ke toilet," ucap sahabat Doni ini, yang menjelaskan lewat telfon kalau dia sampai izin keluar kelas, untuk menerima telfon dari Doni.


"gue mau ngirim sesuatu ke lo," ucap Doni, langsung menyampaikan niatnya.


"apaan?"


"gue mau titip Diary ke nyokap lo, nyokap lo masih ada di Italia nggak?"


"lo kenapa sih Don? Ada masalah? Diary apa?" tanya antusias, temannya Doni ini.


Doni menceritakan semuanya ke sahabatnya ini, alasannya meminta bantuan ke sahabatnya ini. Yang awalanya dia harus ke kantor pos, tapi setelah dia dikejar suruhan Mamanya, Doni jadi kesulitan pergi ke sana.


Sudah dipastikan, cowok ini akan panik mendengar penjelasan dari Doni. Cowok ini pun, langsung mengiyakan untuk membantu Doni.

__ADS_1


"lo ada di mana sekarang? Atau kalau lo udah aman dari kejaran bodyguard, biar nggak mengundang perhatian juga. Mendingan lo samperin nyokap gue aja." cowok ini sampai bingung mau memberikan ide, karena fokusnya sekarang justru memikirkan keadaan Doni.


"yaudah, gue cari keberadaan nyokap lo. Di mana nyokap lo nginep?"


"biasanya nyokap bakalan nginep di Rome Cavalieri, A Waldorf Astoria Hotel. Titip ke front office aja, nanti gue sampaiin ke nyokap gue, kalau lo titip sesuatu buat gue."


Ada helaan nafas yang terdengar dari balik telfon, Doni menghela nafasnya kuat-kuat, untuk menenangkan pikirannya yang sedang dibuat kalut. Untungnya, ada sahabatnya ini yang bisa dia percaya. Dan bisa membantunya di saat dia terdesak.


"lo kenapa nggak minta bantuan Nover?" tanya cowok ini.


"nggak bisa, Nover bakalan marah sama gue. Karena dia juga kepingin gue antisipasi kejadian ini dari awal."


"sebisa mungkin, yang lain atau pun Nover, jangan sampai tau. Gue sendiri yang akan sampaiin masalah ini ke Nover." Doni meminta tolong sahabatnya, untuk merahasiakan kejadian ini.


Obrolan pun diakhiri, keduanya harus sama-sama memulai rencana yang sudah mereka bicarakan.


...----------------...


Sepulang sekolah, Gendis langsung meminta Maya mengantarnya ke kantor pos, supaya bisa mengirimkan diary yang ditulisnya.


"lo berdua tuh romantis banget deh Ndis," ucap Maya, sambil berjalan setelah mengantar Gendis.


"lo iri lagi sama gue?" ledek Gendis.


"iya, lah. Penghalang terberatnya nggak ada," ucap Maya.


Gendis langsung menyuntrung Maya.


"siapa bilang nggak ada penghalangnya? Lo nggak lihat, kalau gue kesulitan ketemuan sama kak Doni. Dia di Italia, gue di Jakarta. Lah, lo. Sama mas Nover, sama-sama di Jakarta." cicit Gendis, langsung menjelaskan yang nggak perlu Maya iri-kan.


"nggak perlu telfon-telfonan mikirin ganggu jam tidur, jam sibuk. Belum lagi, kalau diganggu modelan Deka. Mau gue tambahin lagi nggak? Biar lo nggak iri sama gue," ucap Gendis lagi.


Maya menggeleng sambil senyum memaksa, karena memang penghalang di antara Maya dengan Nover, hanyalah perihal agama. Sementara kalau Maya tau aslinya, Maya jauh lebih bersyukur karena kedua orang tuanya Nover, bahkan orang tuanya sendiri masih membebaskan hubungan mereka. Berbeda dengan Gendis, yang kalau Maya tau masalahnya, sekarang justru hubungannya Gendis dengan Doni sedang diambang perpisahan.

__ADS_1


Maya mulai mengalihkan, mengenai kejadian handphone-nya Gendis yang rusak parah karena ulahnya Deka.


"itu orang, kayaknya emang harus dikasih pelajaran deh Ndis!" sergah Maya.


"akh! Males. Lo sih enak, nggak sekelas sama dia. Jadi dia nggak akan balas dendam ke lo. Masalahnya imbasnya ke gue, May. Sementara gue, males banget ngeladenin permintaannya itu. Mentang-mentang dia ketua kelas, terus seenaknya dia nyuruh-nyuruh gue."


"perasaan, waktu Ade jadi ketua kelas waktu kelas 1. Dia nggak semena-mena deh," ucap Gendis, dan mengakhiri cerocosannya.


"jangan-jangan Ndis, Deka naksir sama lo!" timpal Maya, sambil tertawa meledek Gendis.


"ada juga kalau orang naksir tuh baik-baik, bukannya suka ngajak ribut!" keluh Gendis.


"coba deh, lo inget-inget lagi. Katanya kan, lo ada pengangum rahasia. Terus, sampai sekarang orang itu nggak muncul-muncul. Tapi justru dari awal, Deka yang muncul." cerocos Maya, sedang menyelidik.


Gendis diam, bukan karena memikirkan masalah Deka. Tapi Gendis teringat soal pengangum rahasianya itu, yang sampai sekarang memang nggak muncul lagi.


"kok lo bisa kepikiran begitu May?" tanya Gendis, mulai antusias karena sahabatnya ini malah bisa memikirkan kemungkinan yang ia sampaikan tadi.


Maya langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"gue lagi suka baca Ndis, buku ini ngejelasin 1000 cara cowok mendekati cewek yang ditaksirnya." ada aura bahagia saat Maya menyampaikannya.


"sejak kapan? Lo suka baca buku?" ledek Gendis.


"lagi juga, buat apa lo cari tau kisi-kisinya. Kan lo udah tau, kalau mas Nover suka, sayang, malah kalian udah jadian." imbuh Gendis lagi.


"oh, lo belum dikasih tugas buat beli buku ya? Ini gue beli, gara-gara gue disuruh nyumbang buku untuk perpustakaan. Terus, gue kepincut sama buku ini, terus ada lagi 1 buku di rumah. Buku yang menjelaskan, kalau pacar kita selingkuh, dan udah nggak sayang sama kita." Maya menyerocos, menjelaskan ke Gendis.


"astaga May, iya gue baru inget kalau gue disuruh ngumpulin tugas itu besok."


Maya menggelengkan kepalanya, sudah hafal sama daya ingatnya Gendis yang minim banget dan sering lupaan.


Maya pun, menawarkan mengantar Gendis ke toko buku. Untuk mencari buku yang sudah ditugaskan, untuk dibelinya.

__ADS_1


Untungnya ada Maya yang membantu Gendis mengingat tugasnya, kalau nggak, Gendis bakal kena omel gurunya. Belum lagi tugas itu, tugas kelompok dan Gendis udah menawarkan diri untuk membelinya, karena malas harus jalan sama Deka, dan kebetulan juga Gendis mau ke kantor pos.


...----------------...


__ADS_2