
Tiga hari kemudian, setelah Doni kembali ke Jakarta, Gendis dan rombongannya, juga pulang ke Jakarta.
Masih tersisa liburan 2 hari, sebelum Gendis masuk sekolah, dan mau ia nikmati di rumah dan merasakan liburan dengan Doni pastinya.
Begitu Gendis tiba di Jakarta, Doni langsung mau mengajak Gendis keluar rumah untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, Jingga nggak bisa ditinggal. Ia merengek, pingin ikut. Tapi akhirnya, Doni yang mengalah dan pergi.
Setengah jam kemudian. Doni kembali lagi, dan membawakan cake ulang tahun untuk Gendis, seperti yang Doni janjikan saat di Garut.
"ue … ue uyang aun," ucap Jingga dengan lafal acak-acakan khas anak kecil, maklum karena Jingga juga baru berumur 3 tahun.
"make a wish dong," ucap Doni, tanpa memberikan Gendis waktu untuk melepaskan Jingga dari gendongannya.
Gendis berucap dalam hati, apa yang ia harapkan, hanya Tuhan yang boleh mendengarnya, supaya lancar apa yang ia harapkan.
"semoga sekolah Gendis lancar, Ayah, Bunda, Jingga sehat, kak Doni, Maya, mas Nover, Widi, Bejo, Ade dan Didot juga sehat selalu."
"bahagiakan juga kami dan teman-teman kami ya Tuhan, jangan pisahkan kami dari apapun juga."
"Amin .…"
"selesai?" tanya Doni memastikan.
Gendis mengangguk dan tersenyum, senyumnya memudar karena kaget melihat tingkah Jingga yang langsung tepuk tangan dengan senangnya, lalu langsung mencium pipi Gendis.
"ceyamat uyang aun Endis," ucap Jingga.
"maacih Jingga, terus kado buat Endis mana?" ledek Gendis, pada adiknya.
"Ingga nda unya uit, Endis unggu anti Ingga elja ya … ental Ingga eyiin kado yang anyak," ucap Jingga, hingga membuat dua remaja di hadapannya tertawa terbahak-bahak.
Jingga kekenyangan makan setengah kue tart yang dibelikan Doni, dan akhirnya membuat anak ini tertidur.
"maaf ya kak, kita malah nggak bisa jalan gara-gara Jingga rewel," ucap Gendis nggak enak hati.
"nggak pa-pa kok, yang penting Jingga juga udah ngehibur kita sampai dia sendiri yang kecapean," ucap Doni, dan mulai iseng mencolek butter cream ke pipi Gendis.
Mereka malah perang butter cream, tapi Gendis menyerah karena Doni nggak bisa dilawan.
Donipun tersenyum, melihat Gendis yang mudah menyerah. Diambilkannya tisue, untuk membersihkan butter cream di pipi Gendis.
"Gendis, boleh minta diceritain lagi nggak kak, soal keluarganya kak Doni?" tanyanya, menyela perasaan groginya karena Doni sedang membersihkan butter cream dari pipinya.
__ADS_1
Doni mengangguk, memberikan senyuman ke Gendis.
"sebelum kita cerita soal Ojiisan, kak Doni mau numpang ke kamar mandi dong, ada panggilan alam nih," ucapnya seraya tersenyum canggung.
Gendis bangun, sembari mengangkat Jingga supaya bisa ditaruh di kasurnya.
Setelah panggilan alam tadi, Doni mulai menceritakan lagi mengenai keluarganya.
"Ojiisan sebenernya nggak jahat, kak Doni udah pernah ketemu langsung sama beliau, tapi karena tampangnya yang serem, dan dipenuhi tatto. Belum lagi cerita dari anak-anaknya Nini, kalau Ojiisan itu jahat. Makanya tergambarlah bayangan, kalau Ojiisan itu orang yang jahat."
"kalau di Jepang, kakek kandung itu harusnya dipanggil Ojican. Tapi, karena semua orang dideketnya Ojiisan, manggil beliau dengan sebutan Ojiisan atau artinya kakek tua. Kak Doni, dan sepupu-sepupu kak Donipun jadinya manggil beliau dengan Ojiisan."
Gendis mengangguk-anggukkan kepalanya, serius mendengarkan penjelasan Doni tanpa memotong pembicaraan sedikitpun.
"tantenya kak Doni, mungkin trauma sama Ojiisan, karena anak ketiganya jadi anak penakut setelah diculik. Makanya, tantenya kak Doni jadi orang yang over protected ke anak-anaknya, dan keponakannya juga."
"supaya penculikan itu nggak keulang lagi, tantenya kak Doni sampai bikin perusahaan baru yang bergerak dibidang keamanan. Biar seluruh keluarga bisa terpantau, dan dijaga sama bodyguard."
"berarti, kak Doni ke sini, ada yang ngawal kak Doni?" tanya Gendis menyela.
"nggak, kak Doni nggak pernah mau dikawal. Kak Doni bakalan marah, kalau ada bodyguard yang deketin kak Doni."
"nanti, kamu juga bisa takut lagi, kalau kak Doni dijaga sama bodyguard." timpal Doni lagi.
Gendis menggeleng, ia tersenyum karena di dalam hatinya sedang membayangkan ucapan yang akan disampaikannya ke Doni.
Doni mengangkat kedua alisnya, ikut tersenyum memperhatikan tingkah Gendis.
"Gendis nggak bakalan takut kak, soalnya Gendis punya power ranger," ucapnya, yang membuat Gendis senyum-senyum.
"power ranger?" Doni bertanya sambil diselingi tawa.
Gendis menjelaskan soal keempat teman dekatnya itu, Widi, Ade, Didot dan juga Bejo. Yang dari kecil sudah menemani Gendis bermain, dan selalu digarda terdepan untuk membela Gendis.
"sebenernya, panggilan mereka tuh, karena ulahnya Maya. Kalau anak-anak ngisengin Gendis, pasti mereka udah langsung bales nolongin Gendis. Makanya, Maya nyebut mereka power rangernya Gendis." jelasnya panjang lebar.
Doni tertawa mendengar cerita dari Gendis, apalagi kalau sampai Gendis ceritakan masing-masing julukan warna untuk para rangernya.
Mengingat pembahasan Gendis, mengenai para power rangernya. Gendis seketika mengingat pengagum rahasianya. Agak ragu, Gendis menjelaskan ke Doni, takut Doni bisa semarah Widi setelah nanti dijelaskan.
"oh iya kak, ada yang mau Gendis sampaiin ke kak Doni."
__ADS_1
"tapi, Gendis takut ngomongnya." sambung Gendis lagi.
Doni langsung iseng mencolek butter cream ke pipinya Gendis lagi, supaya Gendis mau cerita.
"kak Doni iiih, ngeselin. Kan lengket kak!" protes Gendis langsung pasang tampang kesal.
Padahal sebenarnya, Gendis sudah menyiapkan stategi untuk membalaskan dendamnya ke Doni.
Doni tersenyum, meledek Gendis yang dikiranya ngambek. Padahal, Gendis sudah menyiapkan butter cream di tangannya, supaya bisa di tempelakan di pipi Doni.
"eeh!" komen Doni, yang terkejut karena Gendis berhasil menaruh sisa butter cream dari pipinya tadi.
Gendis langsung lari ke kamar mandi, supaya Doni nggak bisa membalaskan ulah Gendis tadi.
Tapi saat Gendis kembali ke ruang tamu lagi, Doni langsung menangkap Gendis. Dan membuat Gendis menerima balasan dari Doni, yang lagi-lagi menempelkan butter cream ke pipi Gendis.
Gendispun mau membalaskannya ke Doni, "kak Doni curang, sini nggak." ancam Gendis, sambil terus kejar-kejaran muterin sofa ruang tamu.
"nggak mau, weee." ledek Doni, sambil menjulurkan lidahnya.
Gendis langsung berpikir cepat, supaya Doni bisa ketangkep, dan Gendis bisa membalaskan lagi ulah isengnya Doni.
Kebetulan, handphone Doni yang berada di atas meja berdering. Gendis langsung punya ide, untuk menjebak Doni.
"handphone kak Doni bunyi tuh, ada sms."
"iya, biarin aja. Kak Doni tau, pasti kamu mau ngerjain kak Doni kan?" jawab Doni, sudah bisa membaca taktiknya Gendis.
"beneran kak, ada sms nih," ucap Gendis, sambil memberi unjuk layar handphonenya Doni.
Doni hanya meliriknya, nggak antusias untuk langsung membacanya.
"yaudah, kak Doni minta tolong, bacain sms itu." pintanya.
"nggak mau, kakak baca sendiri aja," ucap Gendis, sambil memberikan handphone Doni, tapi juga susah menyiapkan strategi supaya bisa menarik tangan Doni, dan membalas keisengan Doni.
Doni bersikeras menolak, apalagi mengambil handphone di tangan Gendis dan langsung membuat alasan, "tangan kak Doni kotor Ndis, tolong deh, kamu bacain."
Gendis tadinya menolak untuk membacanya, dia hanya ingin membuka kotak pesan, dan membiarkan Doni yang membacanya. Namun, Gendis malah melihat isi pesan tersebut.
...----------------...
__ADS_1