Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
35. Pengurus Kelas


__ADS_3

Gendis langsung masuk barisan laki-laki, karena memang Gendis belum kenalan dengan teman perempuan. Kejadian di kelas 1 dengan Sinta, membuat Gendis malas berkenalan dengan murid perempuan, dan di kelas 2 ini, ia lebih memilih bersama Didot dan juga Widi.


"seneng betul tuh muka," ledek Widi, mengomentari aura bahagia di wajah Gendis yang baru selesai berbicara di telfon dengan Doni.


"iya-lah habis telepon-teleponan, sama a Doni." timpal Didot, ikut meledek Gendis.


Gendis nggak menanggapi ucapan keduanya, karena memang benar Gendis sedang merasa senang, setelah mendengar suaranya Doni.


Doni memang mood booster-nya Gendis. Setelah kejadian, yang terjadi karena ulah teman sekelas Gendis bernama Deka tadi, Doni berhasil merubah kekesalannya Gendis menjadi senyuman.


"ehh, nanti jam istirahat, gue nggak ikut ke kantin ya?" Gendis sudah langsung meminta izin.


"naha teu sumping ke kantin?"


"nggak jauh Dot, pasti alesannya mau telfon-telfonan lagi sama kak Doni-nya itu." Widi malah menjawabi pertanyaannya Didot.


Gendispun tersenyum sumringah, merespon sindiran Widi.


"gue bawa makanan dari rumah, jadi mau telfon-telfonan, sambil makan di kelas." Gendis menjelaskan supaya Widi dan juga Didot, nggak khawatir karena ditakutkan Gendis memilih nggak makan siang, supaya bisa ngobrol sama Doni di telfon.


"yaudah, yang penting lo bawa makanan." Widi pun mengizinkan Gendis, diikuti Didot juga, yang menawarkan ke Gendis, "nitip lollipop teu?"


Gendis tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, dan memberikan uang ke Didot. Yang secara tidak langsung, Gendis sudah menjawabi tawarannya Didot.


Upacarapun dimulai, sudah tidak ada yang diperbolehkan untuk mengobrol, karena pemimpin upacara sudah berada di podium upacara.


Setelah 45 menit, upacara pun selesai. Semua barisan dari kelas 1 sampai kelas 3, mulai dibubarkan dan dengan tertib, memasuki kelas mereka masing-masing.


Gendis dan Didot, langsung menempati tempat duduknya, disusul Widi yang duduk sendiri di kursi belakang mereka.


Wali kelas, mulai memasuki kelas 2-4.


Karena hari pertama masuk sekolah, pelajaran pun nggak terlampau difokuskan hari ini. Bapak wali kelas pun, mengabsen 45 nama murid-muridnya, sekalian juga beliau mau tau nama panggilan mereka, untuk memudahkan saling menyapa dengan nama yang akrab.


Setelah itu, gantian bapak wali kelas yang memperkenalkan nama beliau dan mata pelajaran apa, yang akan beliau ajarkan pada murid kelas 2 ini.


"untuk yang ikut ekstra kulikuler, mungkin sudah ada yang mengenal bapak. Untuk yang belum, perkenalkan, saya Soleh. Bapak mengajar bahasa Inggris, khusus untuk kelas 2." jelas beliau, memperkenalkan diri.


"selanjutnya, kita akan membentuk pengurus kelas. Saat di kelas 1, siapa yang pernah menjabat sebagai pengurus kelas?" lanjut pak Soleh, mengajukan pertanyaan pada anak muridnya.


Widi, Didot, dan 10 murid-murid lainnya mengacungkan jari mereka.


Sementara pak Soleh, langsung meminta mereka untuk menyebutkan nama mereka.


Nama mereka pun langsung ditulis di papan tulis.

__ADS_1


"baru 12 orang, bapak butuh 8 anak lagi, untuk mengisi daftar pengurus di kelas kita. Ada yang mau menawarkan diri, untuk masuk ke daftar pengurus kelas?"


Widi mengacungkan tangannya, yang direspon oleh pak Soleh.


"ada yang mau kamu pilih Widi?"


"nggak sih pak, kalau saya yang pilih, nanti pada marah sama saya, belum tentu juga ada yang mau jadi pengurus kelas," ucap Widi menjawabi.


"saya mau kasih saran pak, gimana kalau yang masuk kandidat. Anak-anak yang berprestasi, terus sama yang belum pernah menjabat sebagai pengurus kelas waktu di kelas 1." lanjut Widi, menjelaskan niatnya mengacungkan tangan tadi.


Pak Soleh menyetujui ide Widi, lalu melihat daftar nama, murid yang berprestasi di kelas 1.


Deka langsung menoleh ke Widi, karena namanya sudah dipastikan tertulis di papan tulis.


Sementara Widi, langsung menyeringai ke arah Deka, karena tau Deka pasti nggak setuju sama ide-nya Widi.


Nggak disangka, Deka juga mengacungkan tangannya, setelah 19 nama tertulis di papan tulis.


"iya, Deka. Kamu juga mau memberi saran?" tanya pak Soleh.


"iya pak, saya mau ...." Deka menjeda ucapanya, seraya menengok ke barisan sebelah kirinya, dan mengarahkan telunjuknya ke arah yang sudah bisa dipastikan adalah, "Gendis jadi pengurus kelas juga."


Sontak, Gendis langsung menatap Deka dengan tatapan kesal. Sementara Deka, membalikkan seringaian Widi tadi, yang ia lemparkan ke Gendis.


Gendis nggak bisa berkutik, karena namanya sudah masuk ke daftar pengurus kelas.


Excel Deka Mahendra


Widi Hardianto


Didit Suryadit


Tiga nama itu, saling susul menyusul, dan terakhir berhenti di Didit Suryadit, alias Didot, dengan perolehan point 14. Didot, akan menjadi Sekretaris.


"pak, saya boleh pindah ke Bendahara nggak? Sekretaris, biar anak cewek aja pak, kalau jadi Bendahara, saya bisa turun tangan, kalau ada anak-anak laki yang nggak mau bayar uang kas," ucap Didot, menyampikan niatanya merubah tugasnya.


Pak Soleh menyetujui idenya Didot, beliau langsung menaruh nama Didot di daftar. Dan tinggal menunggu ketua kelas dan juga wakilnya terpilih.


Perolehan suara, seri 15-15. Tersisa 1 suara lagi, yang sengaja ditahan pak Soleh.


Widi dan juga Deka, diminta maju ke depan kelas. Setelah itu pak Soleh meminta keduanya, untuk memperhatikan satu persatu teman sekelasnya, yang sudah memilih mereka menjadi kandidat terkuat.


"sisa 1 suara lagi. Yang akan menjadi ketua kelas nanti, akan bapak beri kesempatan untuk memilih kandidat yang akan menjadi sekretarisnya," ucap pak Soleh, menjelaskan maksud beliau pada kedua kandidat ini, untuk memilih dari antara teman sekelasnya yang akan menjadi sekretaris kelas.


"Gendis," ucap Deka dan juga Widi bersamaan.

__ADS_1


Gendis langsung menghela nafasnya, ia kesal ke Deka, karena sudah dua kali, Deka menyebut nama Gendis. Ditambah lagi, Gendis kesal ke Widi yang juga malah memilihnya menjadi sekretaris kelas.


Widi punya alasan memilih Gendis menjadi sekretaris, karena Widi mau mengalihkan Gendis dari kesedihannya, memikirkan Doni yang pisah jauh dari sahabatnya itu. Widi nggak mau, kalau Gendis terus-terusan bersedih memikirkan Doni. Makanya, Gendis harus diberi kesibukan di sekolah.


Sementara Deka, ide-nya memilih Gendis, karena didasari dari rasa kesalnya dan dendam ke Gendis karena rebutan kursi tadi pagi.


Gendis nggak bisa berkutik, apalagi protes, yang nantinya malah percuma. Karena siapapun yang akan menjadi ketua kelas, namanya sudah pasti akan masuk dalam daftar kepengurusan kelas.


Gendis pun diminta maju ke depan kelas, karena pak Soleh mau mengumumkan siapa yang akan menjadi ketua kelasnya.


"selamat, Excel Deka Mahendra. Kamu akan menjadi ketua kelas, di kelas 2-4."


Senyum Deka merekah ke arah pak Soleh, seraya membalas jabat tangan pak Soleh, disusul jabat tangan Widi.


"selamat Deka, akhirnya gue bisa bales dendam juga." ledek Widi, karena mengingat kejadian di kelas 1, waktu Deka memilihnya menjadi ketua kelas.


Deka tersenyum karena mengingat ulahnya, yang kini berimbas ke dia di kelas 2.


Deka langsung berbalik ke Gendis, senyumnya merekah hanya sebentar, lalu berganti dengan senyum menyeringai.


Deka mengulurkan tangannya ke arah Gendis, dikiranya Gendis akan memberikannya selamat.


Alih-alih memberi selamat ke ketua kelas, Gendis malah meminta izin ke pak soleh, untuk mengambil spidol dari tangan pak Soleh.


"saya mau langsung ngerjain tugas saya sebagai sekretasi pak, ketua kelas, wakil, sekretaris dan bendahara, sudah ada. Sisanya, bapak yang milih, saya yang tulis di papan," ucap Gendis, sebagai pengalihan karena nggak mau berjabat tangan dengan Deka.


Deka hanya bisa menahan kekesalannya, karena Gendis nggak mau diajak berjabat tangan.


Deka dan Widi pun, diminta kembali ke kursi mereka masing-masing. Baru aja Widi duduk, Didot langsung menegur Widi, yang pastinya punya ide memilih Gendis sebagai pengurus kelas.


Widi menjelaskan ke Didot, seperti apa yang sudah ia bayangkan tadi. Alasannya memilih Gendis sebagai sekretaris, dan sengaja membuat Gendis sibuk di sekolah.


Nama-nama pengurus pun, sudah dipajang di papan tulis. Gendis diminta kembali ke kursinya. Sementara pak Soleh, mau menginformasikan lagi tugas ketua kelas.


"setelah istirahat nanti, Deka, kamu ke ruang guru ya, untuk mencatat daftar mata pelajaran di kelas 2 ini."


"iya pak." Deka menjawabi ucapan pak Soleh, dengan diikuti anggukan kepalanya.


Pak Soleh dipastikan mengajar di jam pertama, di hari senin ini. Makanya beliau menghabiskan waktu, untuk berkenalan dengan anak muridnya.


Pak Soleh juga memberikan kiat-kiat, untuk membuat anak muridnya betah dan juga nyaman mempelajari bahasa Inggris.


Banyak permainan, yang akan beliau ajarkan disela kurikulum yang akan beliau ajarkan dipertemuan selanjutnya. Beliau tau, tidak semua murid mampu memahami ilmu yang baru mereka pelajari, apalagi di kelas di mana beliau mengajar, banyak murid yang nilainya masih kurang dari rata-rata.


Beliau punya target, untuk membuat anak muridnya tidak perlu mengejar prestasi, tapi hanya perlu mengejar ketinggalan yang sebelumnya tidak mereka mengerti, saat di kelas 1 atau saat nanti beliau mulai mengajar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2