Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
39. Mi Manchi ( I Miss You)


__ADS_3

Ancaman Deka benar-benar dibuktikannya, kalau dia bakalan membuat Gendis merasa nggak nyaman selama di sekolah, dan satu kelas dengannya. Tapi Gendis nggak memusingkan ulahnya Deka, meskipun ulahnya itu sangat mengganggu.


Gendis malah lebih fokus ke hal lain, ketimbang mikirin tingkahnya Deka yang bakalan seneng kalau ditanggapi.


1 bulan sudah, Gendis dan Doni berhasil melalui hari-harinya, setelah keduanya sama-sama harus terpisahkan. Karena Doni yang memilih impiannya, dan harus mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk sekolah di Italia.


Doni juga tetap menjaga janjinya ke Gendis, disaat Gendis nggak ada tugas, atau pun kesibukan sekolah. Doni langsung menelfon Gendis, menanyakan kabar Gendis, memperhatikan Gendis sama seperti saat masih berpijak di tanah yang sama dengan Gendis.


Perubahan benua dan waktu, sudah bukan penghalang lagi bagi mereka untuk terus menjalin hubungan, yang kini sudah memasuki bulan ke 3.


"kak Doni lagi apa?" tanya Gendis, sambil duduk di dekat lapangan dan melihat teman-temannya yang sedang main bola di waktu istirahat.


"baru habis sarapan, terus mau berangkat ke sekolah. Kamu udah makan siangkan, sebelum kak Doni telfon?"


"udah kak." dijawabi Gendis sambil tersenyum.


"jangan lupa juga loh, hari ini kita sama-sama ke kantor pos, buat kirim diary." Doni sengaja mengingatkan Gendis, karena dipastikan Gendis melupakannya.


Gendis langsung menepuk dahinya, dia beneran lupa kalau Doni nggak ingetin. Karena memang Doni sudah hafal, dengan kebiasannya Gendis. Apalagi, ditambah Deka yang selalu mengusili Gendis. Makin bikin Gendis kadang sampai lupa mau mengerjakan apa, setelah Deka bikin ulah ke dia.


"beneran lupa?" tanya Doni memastikan.


Gendis tiba-tiba membalikkan badannya, karena malas melihat Deka yang tiba-tiba nimbrung ikut main sepak bola. Sementara dia udah pewe banget duduk di tempatnya, dan malas beranjak dari tempat yang sudah ditempatinya.


"sempet lupa sih kak, tapi untungan buku diary-nya, selalu Gendis bawa di tas sekolah." jelas Gendis, melanjutkan fokusnya ke Doni.


Ternyata Gendis sudah mengantisipasi, kalau-kalau dia lupa sama ide tukeran diary setelah 1 bulan. Makanya, setiap kali dia selesai menulis diary, Gendis akan memasukkan buku diary itu ke dalam tas sekolahnya.


"ada kemajuan." sindir Doni, sambil terdengar tawanya dari balik telfon.


"mi manchi," ucap Gendis tiba-tiba, sengaja juga dia menggunakan bahasa Italia, supaya nggak didengar teman-teman sekolahnya yang berlalu-lalang, yang nantinya bakal bikin Gendis diledekin habis-habisan.


Doni tersenyum, tapi hanya diam aja nggak merespon perkataannya Gendis.


"kak?" tanya Gendis untuk memastikan, kalau Doni mendengarkan perkataannya.


"iya Ndis, tadi kamu ngomong apa?" Doni sengaja mengusili Gendis.


"masa kak Doni nggak tau artinya sih?" keluh Gendis, langsung cemberut mendengar jawaban Doni.


Doni sampai berdiri di depan pintu rumahnya, urung melangkah karena gemas dengan tingkahnya Gendis yang pastinya malu saat mengucapkannya.


"kak Doni bukannya nggak tau artinya, tapi nggak denger tadi kamu ngomong apa?" ucap Doni, disela dengan tersenyum usil.

__ADS_1


"Gendis tuh kangen sama kak Doni," ucapnya lagi, untuk menegaskan arti dari ucapan yang sebelumnya Gendis katakan.


"iya, kak Doni juga kangen banget sama kamu Ndis," ucap Doni, akhirnya membalasi perasaan rindu yang juga ia rasakan.


Gendis banyak berubah, setelah Doni nggak ada di dekatnya. Gendis justru mulai berani mengungkapkan perasaan hatinya secara terang-terangan ke Doni, dan udah nggak takut-takut, ataupun malu menyampaikan perasaanya ke Doni, tapi tetap malu kalau teman-temannya dengar.


"kak Doni jadi penasaran, pengen lihat muka kamu yang tiba-tiba memerah karena ngomong kangen ke kakak."


Tebakan Doni memang benar, kalau wajahnya Gendis kelihatan malu banget, sampai pipinya merona.


Untuk mengalihkan ucapannya tadi yang bikin Gendis malah jadi diam, Doni pun mengalihkan pembahasan lain.


"O-iya, nanti kak Doni mau dibeliin motor baru loh. Terus mau kak Doni bawa ke sirkuit buat ngetes mesinnya." Doni menceritakan hobinya ke Gendis dengan sangat antusias, di luar niatnya tadi untuk mengalihkan perasaannya Gendis yang habis menyatakan perasaan rindunya.


"Gendis ikut seneng dengernya kak. Tapi, kak Doni juga harus hati-hati ngendarain motornya ya, biar pun kakak cuma latihan di arena balap. Kakak juga harus inget, kalau kak Doni kan belum 17 tahun." Gendis ikut antusias, tapi juga tetap mengingatkan dan memberikan perhatian ke Doni, kalai dia juga khawatir sama hobi dan cita-citanya Doni itu.


"iya Ndis, pasti itu. Kak Doni nggak akan sembarangan pakai motor itu, sebelum umur 17 tahun dan dapat lisensi mengemudi. Tapi ngebayanginnya tuh, udah bikin seneng banget. Nggak kebayang, kalau kak Doni bisa diizinin meraih cita-cita kakak." dijawabi Doni dengan senyum sumringah.


Saking seriusnya ngobrol sama Gendis, Doni yang udah bersiap mau berangkat ke sekolah. Malah kelupaan membawa tas sekolahnya, padahal tadi Doni habis mengingatkan Gendis.


Belum sempat Doni menceritakan hal lucu itu, Gendis udah keburu diserang bola yang tiba-tiba melayang mengenai kepalanya Gendis. Sebelumnya, bola itu juga sempat tek-tok ke tembok dan melambung tinggi mengenai bagian belakang kepalanya Gendis.


"aduh!!!" Gendis langsung berteriak, membuat Doni bereaksi, tapi nggak dijawab Gendis, karena Gendis mulai mencari orang yang perlu bertanggung jawab sama kesalahannya.


"lo mau nyalahin gue, karena kepala lo kena bola?" ucap cowok ini, malah terlihat nantangin Gendis, dengan menghampiri Gendis sambil berkacak pinggang.


Gendis nggak mau memperpanjang obrolannya ke cowok yang nggak lain Deka. Karena Deka juga terlihat nggak merasa bersalah, dan malah ngajak Gendis berantem seperti biasanya.


"kak, maaf ya." Gendis melanjutkan obrolan di telfon, dan meninggalkan cowok pembuat masalah tadi.


"kamu berantem lagi sama Deka?" tanya Doni, sampai hafal kalau cowok tadi adalah Deka dan selalu mencari masalah sama Gendis.


"iya, nggak bisa banget tuh, kalau nggak ganggu ketenangan Gendis." cerocosnya.


Deka langsung menghadang, membuat Gendis menyentakkan tubuhnya ke belakang. Untung refleknya Gendis cepet, dan nggak sampai buat dia malah menabrak Deka.


"ekh! Gue belom selesai ngomong, malah nyelonong aja lagi lo!" tegur Deka.


"lo mau ngomong, apa mau ngomel-ngomel?" Gendis berbalik menegur Deka.


"lo juga main asal lewat di depan gue aja! Nanti ketabrak marah, nggak terima dan maksa gue buat minta maaf!" cerocos Gendis, sampai menghiraukan Doni, yang dipastikan mendengar perkataannya Gendis ke Deka.


Doni hanya bisa menghela nafasnya, karena sudah hafal kalau tiba-tiba telfon mereka berhenti dan mendengar Gendis marah-marah.

__ADS_1


Gendis nggak menghiraukan Deka lagi. Setelah meluapkan kekesalannya, dia pun meninggalkan Deka, dan memilih mengalah nggak mau memperpanjang obrolan dengan Deka. Karena kalau diladenin, Deka akan semakin menguras tenaga dan kesabarannya Gendis.


Deka nggak tinggal diam, padahal dia yang salah sama kejadian tadi. Tapi dia malah ngejar Gendis lagi, buat ngebahas masalah yang menurutnya belum diselesaikan.


Deka menarik tangan Gendis, supaya Gendis nggak bisa menghindar.


Tingkat kemarahan Gendis kali ini, sudah nggak terbendung lagi. Deka pas banget menarik tangan Gendis, yang baru memindahkan posisi ponselnya ke tangan kiri, dan handphone Gendis pun terjatuh karna ulah Deka.


BRAAAK!!!


Gendis menarik nafasnya, seakan uap panas pindah ke wajahnya yang seketika memerah, berubah sadis sambil menatap tajam ke arah matanya Deka.


"bukannya minta maaf, lo malah ngerusakin hape gue! Mau lo apa DEKA!!!" bentak Gendis, kesal sampai ke ubun-ubun.


Gendis nggak memperdulikan Deka yang mukanya langsung berubah merasa bersalah, setelah nggak sengaja ngejatohin hapenya Gendis.


Sementara Gendis, langsung memunguti handphone Nokia seri 3310 yang terpisah dari batre, casing dan sampai sim card-nya pun terlepas.


Karena Didot udah lihat ulahnya Deka, Didot langsung menahan Deka buat ngedeketin Gendis.


"mundur!" tegur Didot, sambil mendorong bahunya Deka.


"Deka deui, Deka deui! Balik sana, ke tempat duduk lo. Kesabaran orang, juga ada batasnya Deka!" Didot yang paling emosi, karena Deka selalu bikin ulah ke Gendis.


Didot sengaja marah duluan, supaya emosinya Gendis nggak meledak karena ulahnya Deka yang bukan cuma sekali ini aja. Apalagi, dalam kondisi Gendis lagi ngobrol sama Doni di telfon.


"nih, pake hape gue." Widi langsung meminjamkan handphone-nya ke Gendis, karena lihat Gendis yang sedih bercampur marah, karena nggak bisa mengabari Doni setelah handphone-nya jatuh.


"kabarin Doni dulu sana, nanti dia panik karena denger lo berantem sama Deka, udah gitu hape lo mati dan nggak bisa dipakai," ucap Widi, mencoba dengan santai menenangkan Gendis.


"pulsa lo nanti abis Wid, buat sms internasional."


"paling juga gope habisnya, udah tuh pake aja dulu hape gue. Kalau udah masuk kelas, malah susah nanti buat ngabarin Doni," ucap Widi, malah kelihatan khawatir banget ke Gendis.


Memang dikala susah, sahabatlah yang nomor satu menjadi penolong. Untungan Gendis juga hafal nomor handphone-nya Doni, dan langsung mengabari Doni soal kejadian tadi.


12:35 ["kak Doni, Gendis minta maaf ya. Telfonnya keganggu lagi. Hape Gendis rusah parah, dan gk bisa nyalah lagi. Ini Gendis kabarin lewat hapenya Widi."]


Doni nggak langsung balas, baca pun belum. Karena dia juga masih berusaha menelfon Gendis.


Sambil menelfon Gendis, Donipun sudah bersiap mau berangkat ke sekolah, begitu dia membuka pintu rumahnya. Kedua orang tuanya tiba di Italia, sekalian membawakan Doni hadiah yang Doni ceritain ke Gendis tadi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2