Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
17. Dukungan Para Sahabat


__ADS_3

Karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas, teman-teman power rangernya Gendis datang ke rumah, sesuai janji mereka, untuk belajar bareng di rumah Gendis.


Tapi karena kejadian tadi dengan Doni, membuat Gendis nggak fokus. Gendis masih terdiam, memikirkan ucapan Doni tadi. Padahal, Didot sudah memberikan soal pertanyaan Bahasa Indonesia, sampai membuat Didot kesal dan memukul kepala Gendis dengan kamus.


"nuju naon sih Ndis? Aiih … Didot, atos manggil-manggil!" sewot Didot dengan bahasa dan logat sundanya.


"lo ngomong apaan sih Dot?" tanya Gendis.


"Didot dari tadi nanya ke lo, lo udah ngeiyain buat tanya jawab, taunya lo diem aja," ucap Bejo menjawabi pertanyaan Gendis.


"ooh … yaudah apaan soalnya?" tanya Gendis lagi.


"kepala lo nggak sakit apa dipukul kamus? Biasanya langsung protes," ucap Ade menimpali.


Gendis sih nggak merasa sakit sama pukulannya Didot tadi, kamus yang mampir di kepalanya Gendis justru bisa membuat Gendis tersadar, kalau pikirannya tentang ucapan Doni siang tadi, ternyata beneran nyata. Bukan lagi mimpi di siang bolong, atau dia lagi nonton sinetron, lalu jadi kenyataan.


"lo lagi nggak fokus kenapa lagi sih Ndis?" tanya Widi menyelidik.


"nggak, nggak pa-pa kok, lanjutin lagi pertanyaannya," ucap Gendis mengalihkan.


"udah 5 kali Didot tanya Ndis, kalo harus tanya lagi, Didot capek!" keluhnya, emosi dan menyerah dengan ulah Gendis yang mengacuhkannya tadi.


"yah Didot, jangan pundung atuh? Ayoklah, gue kali ini nyimak kok." pinta Gendis merayu.


"percuma juga Didot nanya lagi, lo nya aja lagi nggak fokus cah ayu ...," ucap Bejo menimpali.


Bejo pun menyarankan Widi dan juga Ade, untuk istirahat dan meminta keduanya untuk membeli makanan. Supaya pikirannya Gendis keisi sama makanan, dan nggak nge-blank sama pikiran di luar pelajaran.


Tapi karena Didot udah kesel ke Gendis, Didot pun maksa ikut karena malas melihat Gendis.


"lo itu ditanya sama Didot cuma he’em-he’em doang Ndis, kirain mah didengerin."


"dia udah ngulang-ngulang pertanyaan, lo malah jawab iya doang, sama nganggukin kepala. Kalo punya masalah tuh ngomong Ndis," ucap Bejo lagi.


Biarpun Bejo masih berumur 13 tahun, Bejo paling mengerti kondisi yang sedang Gendis alami. Kedua orang tua Bejo yang bekerja sebagai Dosen, juga mendukung sifat Bejo yang perhatian ke teman-temannya. Maka dari itu, Bejo banyak belajar karakter orang, dan mudah memberi nasihat dan masukan.


"entar, lo ngomong-ngomong nggak sama mereka?" tanya Gendis mengalihkan.


"nggak usah gue kasih tau juga, mereka pasti tau dengan sendirinya Ndis. Kalo lo nggak cerita dari sekarang, mereka keburu dateng dan keburu tau masalah lo." timpal Bejo.


"ada hubungannya sama kedatengannya kak Doni ya?" tanya Bejo langsung menebak.


"kok lo tau kak Doni ke sini?" kaget Gendis.


Bejo menghela nafasnya, dia tau kalau Gendis lagi nge-blank.


"kan tadi kita ketemu sama dia di gang." jawab Bejo.


"oh iya-ya?" sambil garuk-garuk kepala dan tersenyum canggung, Gendis menimpali perkataan Bejo.


Gendis melirik Bejo yang makin penasaran, menunggu penjelasan dari Gendis.


"tadi kak Doni abis dari sini, terus dia nembak gue." jelas Gendis malu-malu


"pantes …." komen Bejo.


"terus lo belum nerima dia, makanya lo bingung kayak gini?" tanya Bejo menimpali lagi.

__ADS_1


Gendis menganggukkan kepalanya.


"jawabannya mah gampang Ndis, kalo suka ya terima, kalo lo cuma nganggep kakak. Ya ditolak aja Ndis, nggak mungkin kan, adik pacaran sama kakaknya," ucap Bejo memberikan nasihat.


Gendis menganggukkan kepalanya.


"jadi lo nggangep dia kakak, atau pengen dia juga jadi pacar lo buat ngegantiin Adam?" cecar Bejo panjang lebar.


"gue nggak ada perasaan apa-apa ke kak Doni, Jo." balas Gendis, menimpali ucapan Bejo.


"kalo nggak ada perasaan apa-apa, kenapa dipikirin Gendis?" sela Bejo, mempertegas perkataannya.


"gue mikir karena kak Doni anak orang kaya, aneh aja, kok bisa dia suka sama gue?" jawab Gendis menimpali pertanyaan Bejo.


"emangnya, lo mau kak Doni anak dari keluarga kayak apa, supaya nggak aneh nenurut lo?"


Gendis nggak pernah menyela obrolan kalau lawannya Bejo, karena setiap nasihat yang Bejo ucapin, selalu bikin Gendis nyimak, lalu direnungi.


"Ndis, lo itu sebenernya suka sama kak Doni, tapi kebanyakan mikirnya. Jangan ngebangun penghalang buat diri lo sendiri Ndis."


"dulu, pas lo suka sama Adam, juga karena kebanyakan mikir Ndis. Terus habis itu malah gagalkan? Berubah Ndis, jangan sampai nyesel kedua kalinya," ucap Bejo lagi, menasehati Gendis. Berharap, kalau setiap perkataannya bisa masuk ke relung hatinya Gendis.


...----------------...


Nasihat yang Bejo sampaikan, masih kurang memuaskan bagi Gendis. Gendis malah menghiraukan Doni, sampai menjauhi Doni dan menolak panggilan telfon sampai sms dari Doni, karena mau merenungi ucapan Doni yang masih belum dipercaya sama Gendis.


Bukan karena Doni suka bercanda, tapi karena sosok Doni yang dilihat Gendis sempurna. Gendis merasa nggak pantas disukai sama Doni yang dari keluarga kaya raya, belum lagi gambaran wajah Doni yang gantengnya keterlaluan, mirip tokoh Kaede Rukawa di manga Slam Dunk.




Dan makanya, Gendis masih menimbang-nimbang dan memikirkan perkataan Doni yang masih diragukannya. Sampai 1 minggu, Gendis dibuat stres mikirin perkataan Doni.


...----------------...


Gendis datang pagi-pagi banget, berniat mau belajar sebelum ujian dimulai.


Baru menaruh tas dan belum sempat Gendis buka buku, Maya pun datang.


Gendis sudah tau niat kedatangan Maya, karena Gendis masih ngediemin Maya karena kejadian ngejenguk Nover seminggu yang lalu.


"gue mau minta maaf Ndis, waktu Nover masuk rumah sakit, gue ngerepotin lo dan nyokap lo," ucap Maya.


Gendis hanya merespon dengan anggukan kepalanya, sambil ngeluarin buku dari tasnya. Kali ini, Gendis nggak di kelasnya karena ujian dan kebetulan seruangan sama Maya.


"entar juga kalo lo punya pacar, lo bakalan ngerasain kayak gue Ndis. Dia sakit sedikit, rasanya lo panik mikirin pacar lo."


"lo juga bakalan jadi orang yang nggak wajar pas lo jatuh cinta, lo pasti mikir gue aneh, berlebihan pas Nover kena diare. Soalnya kalangan kita yang kena diare rasanya lucu banget, tapi kalo Nover kan beda. Lo juga taukan dia anak orang kaya, pasti panik pas ngalamin sakit ecek-ecek kayak kita, apalagi nyokapnya yang perhatian ngerawat dia. Makanya Ndis, gue sepanik itu mikirin kondisinya Nover pas dia sakit." cerocos Maya menjelaskan rasa bersalahnya.


"maafin gue ya Ndis, maukan? Ya Ndis … maafin gue. Gue juga nggak tau kalau Nover nggak cerita, soal lo takut sama Blacky." timpal Maya lagi.


"mas Nover, cerita semua soal kejadian Blacky?" tanya Gendis.


Maya mengangguk, lalu menagih jawaban dari Gendis.


"karena lo maksa, iya deh. Gue maafin," ucap Gendis, meledek sambil tersenyum.

__ADS_1


Maya langsung memeluk Gendis, karena senang sahabatnya balik lagi dan maafin dia.


Sebenarnya juga, Gendis mau nyamperin Maya duluan karena mau curhat masalah Doni. Taunya, malah Maya yang lebih dulu menyadari kesalahannya dan ngedatengin Gendis.


"jadi gimana dong May, gue butuh jalan keluar," ucap Gendis, saat mereka istirahat sambil duduk di dekat lapangan dan sebelumnya, Gendis sudah menceritakan soal Doni.


"emangnya lo kesasar?" ledek Maya, sambil mengunyah bakwan.


Gendis yang kesal, langsung menyuntrung dahi Maya.


"gue serius May, jangan ngajak bercanda!" keluhnya.


"lo juga gitu kalo gue lagi curhat, malah ngajakin bercanda." protes Maya.


"owh, bales dendam ceritanya, okee!" protes Gendis balik.


"tuh kan, udah ngambek lagi aja. Lo tuh egois Ndis!" ucap Maya, ikutan sewot.


Mereka malah berdebat, tapi Gendis nggak melanjutkan perdebatannya, karena kali ini dia butuh banget solusi dari Maya.


"jawabannya cuma iya atau nggak Ndis," ucap Maya.


"kalau itu, gue tau Maya!" Gendis gemas, sampai mencubit pipi tembemnya Maya.


Maya langsung menepisnya, karena cubitan Gendis membuat pipinya dipenuhi minyak dari gorengan.


"maksud gue tuh, cara nolak yang nggak bikin kak Doni nggak sakit hati tuh gimana?" tanya Gendis.


"gue juga cuma mau adik-kakakan aja sama kak Doni." sambung Gendis.


"di mana-mana ya Ndis, namanya orang ditolak, ya pasti sakit hati Ndis. Boong kalo nggak ada yang sakit hati, kecuali itu cowok cuman maen-maen nembaknya." balas Maya menasihati.


"kalau emang lo nggak ada perasaan apa-apa, termasuk lo berpikiran nganggep Doni kakak lo, lo tinggal jauhin dia aja Ndis."


"kalau nggak suka, ya nggak suka aja. Nggak usah ngerasa lo adalah adiknya dia, hubungan bukan sedarah kalau sekedar adik-kakakan itu boong." sambung Maya.


"terus?" tanya Gendis minta diperjelas.


"jauhin Doni sementara, hape juga kalo perlu matiin aja, biar dia nggak bisa nanya kabar lo," jawab Maya melanjutkan memberikan nasihat.


"udah gue lakuin May, udah seminggu yang lalu gue ngediemin kak Doni. Tapi emang nggak sampai matiin hape. Kalau hape gue matiin, nanti gimana kalau nyokap gue nelfon nanyain gue?" ujar Gendis, membalasi idenya Maya.


"ada hape gue kan, kayak biasanya aja Ndis, kalau ada sms dari nyokap lo, gue sampein ke lo. Tinggal bilang alesan klise, hape lo rusak lagi. Gampangkan?" ucap Maya memberikan saran.


Gendis mengangguk, menyetujui saran dari sahabatnya ini.


Sebenarnya, Maya punya maksud dengan ide nya itu. Maya juga mau membahagiakan sahabat satu-satunya ini, dengan kerja sama, sama Nover.


Sebenernya Maya juga sudah tau dari Nover, kalau Doni sudah menyatakan perasaannya ke Gendis. Doni sendiri, yang minta izin ke Nover untuk ngedeketin Gendis.


Nover juga ngasih saran yang sama kayak sarannya Maya ke Gendis, karena dua-duanya orang yang paling deket sama mereka.


Nover atau pun Maya, nggak mau dua-duanya sakit hati. Karena ini pertama kalinya buat Doni menyatakan perasaanya, setelah pernah ditolak. Begitu juga dengan Gendis, yang baru aja mengalami patah hati.


Nover kepingin, kalau Doni bisa jadian sama Gendis, sekalipun perasaannya Gendis masih belum ada untuk Doni, karena masih banyak keraguan di dalam pikirannya Gendis.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2