
Senin siang di SMP 24, Gendis dan teman-temannya baru pulang sekolah, setelah class meeting.
Baru sampai di depan gerbang sekolah, langkah Gendis terhenti saat melihat lambaian tangan seseorang lelaki yang nggak lain adalah Doni.
Senyum Gendis merekah, menghampiri Doni yang sudah duduk di atas jok motornya.
"mau ada acara ya?" tanya Doni ke teman-teman Gendis.
"nggak kok, emang mau pulang bareng," ucap Bejo menjawabi.
"mau ngajak Gendis main ya?" tanya Ade menyelingi.
Doni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"oh iya, Didot. Nuhun, udah ngasih izin untuk ngundur waktu liburan kalian." Doni berucap dengan bahasa sunda, yang ditujukan ke Didot.
"sami-sami a, aturan mah ikutan aja atuh liburan sama kita-kita," ucap Didot menimpali dengan logat sundanya.
"nggak lah, nanti ganggu. Kalian nggak perlu undur waktu liburan kalian kok, jadi pakai jadwal yang sebelumnya aja." lanjut Doni, menjelaskan sembari merekahkan senyumannya.
"kok, nggak jadi kak?" tanya Gendis menyelingi.
"Nininya kak Doni, udah ada di rumah. Nini milih liburan di Jakarta, jadi kita nggak perlu ke Bandung." jelas Doni menjawabi pertanyaan Gendis.
"ooh, jadi Gendis mau diajak ke rumah lo nih kak?" tanya Widi menyela, dengan senyum yang menunjukkan kalau Widi lagi ngeledek Gendis.
"iya," ucap Doni, sembari menganggukkan kepalanya.
"titip Gendis kak, dia tadi ogah makan siang. Takutnya maagnya kumat." timpal Ade memberitaukan.
Gendis langsung menyenggol Ade, supaya Ade nggak menjelaskan alasan Gendis milih nggak makan siang.
Melihat ada yang Gendis sembunyiin, Doni langsung mengajukan pertanyaan ke Gendis.
"kok nggak makan siang?"
"nggak pa-pa kak, ayok kita temuin Nininya kak Doni," ucap Gendis sengaja mengalihkan.
Gendis sengaja nggak makan siang, tapi sudah sempat minum obat andalannya sebelum maagnya kumat. Gendis mau menyisihkan uang jajannya, supaya bisa membelikan buah tangan untuk diberikan ke Nininya Doni.
Tapi karena beliau sudah ada di Jakarta, Gendis kelimpungan mau membelikan apa untuk diberikan ke Nininya Doni, yang sudah jauh-jauh datang ke Jakarta.
Sebelum sampai di rumahnya Doni, Gendis minta berhenti di toko buah.
"kamu laper?" tanya Doni malah menghawatirkan keadaannya Gendis.
"nggak kak, Gendis mau beli buah buat dikasih ke Nininya kak Doni. Nininya kak Doni, suka buah apa?"
Pertanyaan Gendis, malah disenyumi Doni dan tangan Doni juga langsung mengusap kepalanya Gendis.
"nggak usah Ndis. Nini itu dateng cuma mau lihat kamu, Nini punya kebun buah sendiri di Bandung. Dari sana juga Nini bawa buah banyak banget." jelas Doni.
Gendis merasa nggak enak kalau nggak bawa apa-apa, apalagi dia terbiasa diajarkan Bunda dan Ayahnya, kalau main ke rumah orang lain, apalagi mengunjungi orang yang lebih tua, harus membawakan makanan. Menunjukkan kalau kita punya sopan santun, dan nggak bergantung pada sajian yang diberikan tuan rumah.
__ADS_1
Melihat raut wajah Gendis yang merengut, Doni malah keikut kasihan karena kemauannya Gendis nggak diturutin.
Doni mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat, melihat ada tempat yang bisa mereka kunjungi. Seenggaknya, untuk membuat Gendis puas, bisa menyenangkan Nininya Doni dengan membawakan roti untuk Nininya Doni.
Baru sampai di depan gerbang rumah Doni, Gendis sudah merasakan deg-degan. Baru pertama kalinya, Gendis dipertemukan dengan keluarganya Doni.
"kok tiba-tiba diem? Kak Doni kan nggak punya anjing peliharaan?"
"bukan itu kak, Gendis deg-degan mau ketemu sama Nininya kak Doni." jawab Gendis.
"kirain, kamu diem karena takut sama anjing."
Gendis menggeleng, sembari turun dari motor Doni.
"oh iya, Gendis penasaran. Kak Doni kenapa nggak pelihara anjing?" tanya Gendis random, untuk mengalihkan kegrogiannya.
"udah pernah, terus meninggal. Makanya nggak mau pelihara lagi," jawab Doni singkat.
Donipun izin memarkirkan motornya terlebih dulu, sementara Gendis dimintanya menunggu di depan pintu.
Ada dua orang perempuan mendatangi Gendis, sempat membuat Gendis bingung, karena keduanya seperti menginterogasi Gendis.
"kamu mau bertemu dengan siapa?" tanya wanita di hadapan Gendis.
Sementara yang satunya, langsung memeriksa tas sekolahnya Gendis, serta memeriksa tas belanjaan yang Gendis bawa.
"dia pacar saya," ucap Doni tiba-tiba menjawabi.
Kedua wanita itu menunduk, dan membatalkan niat mereka untuk memeriksa barang bawaannya Gendis.
"maaf ya, kak Doni lupa bilang. Kalau Nini ke sini, atau kita ke rumah Nini. Akan ada orang yang mengawal Nini, untuk keselamatannya Nini," ujar Doni menjelaskan.
Gendis nggak berani berkomentar, dia hanya mengganggukkan kepalanya dan melihat raut wajah Doni yang bertampang dingin, setelah menjelaskan siapa wanita yang memeriksa Gendis tadi.
Gendis pun teralihkan, saat melihat seorang wanita yang mendatanginya.
"Gendis ya?" ucap wanita itu.
Gendis menganggukkan kepalanya, tersenyum ke wanita yang langsung menyapanya.
"ini Nininya kak Doni," ucapnya memperkenalkan ke Gendis.
"perkenalkan, saya Annette. Biasa dipanggil sama cucu-cucu, Nini. Gendis juga bisa ikutan panggil Nini," ucap beliau memperkenalkan diri.
Gendis menarik alisnya, dia terkejut melihat wajah Nininya Doni yang nggak terlihat seperti wanita yang sudah berumur tua dan lebih pantas dipanggil dengan tante. Saking wajahnya yang masih terlihat muda, bisa dibilang, wajah Nininya Doni seumuran dengan Bunda nya Gendis.
"duduk di sini, Nini penasaran mau kenalan sama Gendis." Nininya Doni berucap, seraya menggandeng tangan Gendis.
"Nik, gimana kalau kita makan aja? Doni laper banget niih," ucapnya sengaja mengalihkan karena mengingat Gendis yang belum makan siang.
Sebelum Gendis diajak makan, Gendis memberikan Nininya Doni roti yang Gendis beli tadi.
Benar-benar Gendis merasa senang, karena barang bawaannya diterima dengan raut wajah yang senang bukan main.
__ADS_1
"terima kasih Gendis, Gendis tau saja kalau Nini suka sama roti," ucap beliau.
Di balik percakapan antara Gendis dan juga Nininya Doni, Doni pun terlihat bahagia. Ia juga berharap, setelah memperkenalkan Gendis ke Nininya, dia juga bisa mendapatkan respon baik dari kedua orang tuanya.
Usai dijamu makan, Gendis diajak mengobrol sampai diperlihatkan foto-foto Doni sejak kecil.
Nininya Doni juga senang berbicara dengan Gendis, karena beliau sudah lama tidak mengobrol dengan anak perempuan. Anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa, sibuk dengan rumah tangga dan juga kesibukan di pekerjaan mereka, membuat Nini merasa kesepian dan kurang hiburan dari anak-anak mereka, bahkan dari cucu-cucu beliau, yang rata-rata laki-laki.
Apalagi saat Bu Annette tau, kalau Gendis mengerti bahasa Sunda. Semakin membuat neneknya Doni ini, senang bertemu dengan pacar cucunya.
"nggak terasa ya, udah malam. Kamu aku anter pulang ya," ajak Doni, mengingatkan Gendis.
Bu Annette terlihat sedih, karena dipisahkan dengan Gendis. Begitu juga dengan Gendis, yang merasa belum puas berbicara dengan Nininya Doni yang super ramah.
"ya sudah, lain kali saja ya kita mengobrol lagi." Nini Annette pun mengikuti kemauan cucunya, seraya memanggil seorang wanita.
"antarakan tamu saya pulang," ucap Nini.
"nggak usah Nik, biar Doni yang anterin pulang aja." sela Doni, menolak permintaan Nininya.
"sudah malam Don, jangan diantar naik motor." Nini pun menasihati Doni dengan bahasa sunda.
"tapi nggak pa-pa Nik, lebih enak naik motor," ucap Gendis ikutan menolak.
Telinganya Gendis dan juga Doni, dijewer Nini Annette. Beliau tau, kalau keduanya sedang kasmaran dan mau terus berduaan.
"bilang saja, kalau kamu mau ikut mengantar Gendis kan, sok ikutan anter Gendis sanah," ucap Nini Annnette dengan logat sunda, sekaligus menyindir cucunya.
Doni malah tersenyum, mendengar sindirian dari Nininya.
Setelah bertemu dengan Nininya Doni, Gendis terlihat puas. Sampai-sampai diperjalanan menuju rumahnya, Gendis terus membahas kalau dia senang bertemu dengan Nininya Doni.
Doni ikutan turun dari mobilnya, mengantar Gendis sampai rumahnya.
"yang tadi, kak Doni minta maaf ya. Soal dua bodyguard yang jagain Nini," ucap Doni, akhirnya membahas rasa penasarannya Gendis.
"iya kak, nggak pa-pa. Tapi, kok bisa ada bodyguard? Emangnya Nininya kak Doni, harus dijaga dari siapa?"
"Ojiisan," ucap Doni singkat.
Gendis bingung, dia nggak kenal siapa Ojiisan yang Doni maksudkan.
"Ojiisan itu suaminya Nini," ucap Doni.
Gendis hanya menyimak, yang merarti kakeknya Doni itu bermasalah, sampai Nininya harus dikawal sama bodyguard.
"nanti, kita bahas lagi soal Ojiisan. Kamu masuk gih, langsung tidur aja ya, biar besok nggak ngantuk pas ke sekolah." jelas Doni, yang terlihat sengaja mengalihkan obrolan.
Gendis menganggukkan kepalanya, dan berpamitan masuk ke rumahnya setelah memperhatikan Doni yang berjalan menjauh dari pagar rumahnya.
Gendis langsung masuk ke kamarnya, lelah yang dia rasakan selama di sekolah, terus bisa ketemu sama Nininya Doni, seketika membuat Gendis melupakan rasa lelahnya yang pastinya tergantikan dengan perasaan senang.
Baru Gendis menyalahkan lampu kamarnya, tiba-tiba Gendis dibuat terkejut sama keberadaan seseorang yang sejak tadi sudah ada di kamarnya, dan sengaja mematikan lampu kamar Gendis.
__ADS_1
...----------------...