Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
23. Obrolan Gendis Dan ....


__ADS_3

"mas Nover!!!" jerit Gendis, ia terkejut melihat kakak sepupunya itu sudah ada di kamarnya.


"nggak ngomong-ngomong sih, kalau mau ke sini?" keluh Gendis, untungnya nggak sambil menimpuk Nover dengan tasnya.


"ngapain lampunya dimatiin, Gendis kan kaget," ucap Gendis, menyerocos lagi.


"maaf-maaf, gue nggak niat mau ngagetin lo," ucap Nover diselingi senyuman meledek, tapi juga nggak enak mau menunjukkan kalau dia emang berniat iseng ke sepupunya itu.


Nover langsung bangun dari kasurnya Gendis, lalu menarik tangan Gendis supaya duduk di kursi belajarnya. Sementara Nover, justru duduk di atas kasurnya Gendis.


"gimana tadi, ketemuannya sama Nininya Doni?" tanya Nover penasaran.


"lancar dong," ucap Gendis sumringah.


Gendis juga menjelaskan kalau Nininya Doni, ramah bukan main. Bikin Gendis merasa senang, sampai nggak mau pulang dan kepingin ketemu lagi.


"ikut seneng deh gue, kalau lo seneng," ucap Nover, namun wajahnya nggak memperlihatkan kalau dia senang.


"mas Nover kenapa?" tanya Gendis, penasaran karena raut wajahnya Nover yang malah cemberut.


Nover menghela nafasnya, lalu malah tiduran di kasurnya Gendis.


Melihat respon sepupunya yang malah mengalihkan, Gendis langsung menebak reaksinya Nover.


"mas lagi berantem sama Maya?" tanya Gendis, sambil membereskan isi tasnya.


"kok tau?" tanya Nover seraya melirik.


"ya apa lagi yang bikin mas Nover cuma diem aja? Kalau masalah yang lagi mas hadapin sekarang, pasti nggak jauh dari Maya."


"kalaupun ada masalah lain, kita juga baru ketemu lagi setelah 6 tahun, Gendis nggak tau masalah lainnya yang lagi mas alamin." cerocos Gendis menjelaskan lagi.


"iya, gue lagi berantem sama Maya." jawab Nover jujur, seraya menghela nafasnya.


"tau-tau dia diemin gue, dia kenapa ya?" tanya Nover, malah mengajukan pertanyaan ke Gendis.


Sudah bisa ditebak, alasan Maya ngambek sama Nover. Pastinya nggak jauh dari rasa irinya ke Doni, karena tau kalau Doni seserius itu sama Gendis, sampai mau ngenalin Gendis ke Nininya.


"oh iya, mas Nover ada rencana mau ke Belanda?" tanya Gendis menyelingi.


Nover malah menggeleng, dia benar-benar malas menjawabi setiap pertanyaan yang Gendis ajukan, sebelum mendapatkan alasan kenapa Maya mendiaminya.


"ini ada alasannya sama ngambeknya Maya mas, coba dijawab yang bener," ucap Gendis menegur kakak sepupunya ini.


Nover langsung antusias, dia bangun dari kasur Gendis.


"lo tau alesan ngambeknya Maya?" tanya Nover memastikan, dan terlihat antusias.

__ADS_1


Gendis menganggukkan kepalanya.


"makanya, mas jawab pertanyaan Gendis tadi," ucapnya memaksa.


"kan udah gue jawab tadi, nggak ada niatan ke Belanda, soalnya Ferrell mau liburan di Jakarta, ngajak Opa dan Oma juga," ucap Nover menjelaskan.


Gendis menyela, membahas soal Nover yang hanya mengelengkan kepala, menjawabi pertanyaannya tadi.


"iya maaf, abisnya gue bete banget. Tau-tau Maya ngediemin gue," ucap Nover, menjelaskan lagi alasannya nggak antusias menjawabi pertanyaan Gendis tadi.


Gendis nggak memperpanjang perdebatan tadi, dia juga sibuk mencari pakaian di lemarinya.


"yaudah, kapan ke sininya. Mas nggak berniat ngenalin Maya ke mereka?" tanya Gendis, sembari mengambil pakaian tidur.


"besok juga udah di rumah," jawab Nover.


"gimana gue mau ngenalin Oma dan Opa ke Maya, kalau dianya aja malah ngediemin gue." tambah Nover malah ngedumel.


"Maya itu iri sama kak Doni, mas. Dia juga kepingin dikenalin sama mbah kita, cuman kan udah nggak ada. Satu-satunya yang masih tersisakan cuma Oma dan Opanya mas Nover aja kan." jelas Gendis, memberitaukan.


"astaga, dia iri sama Doni?" komen Nover, akhirnya bisa tersenyum.


"iya, anehkan pacarnya mas Nover itu." sindir Gendis, sambil tersenyum.


Nover langsung geleng-geleng kepala, emang sesepele itu, masalah yang bikin Maya malah ngambeknya ke Nover.


"yaudah sana mas sampaiin aja ke Maya, sebelum orangnya tidur." sela Gendis, sambil meraih handuk yang tergantung di kursi belajarnya.


"mas Nover mau nginep di sini?" tanya Gendis.


"iya." dijawabi Nover, sambil menganggukkan kepalanya.


"bagus deh, soalnya ada yang mau Gendis tanyain ke mas Nover," ucap Gendis antusias.


"yaudah sana mandi, pasti lo mau nanya banyak soal Doni kan?" timpal Nover, seraya mendorong Gendis supaya beranjak dari kamarnya.


...----------------...


Setelah Mandi, Gendis banyak mengajukan pertanyaan ke Nover mengenai Doni.


"Nininya kak Doni, orang penting ya mas? Sampai ada bodyguard di rumahnya?" tanya Gendis.


"emangnya Doni ngomong apa?" tanya Nover.


Gendis menjelaskan kejadian tadi, waktu dia dicegat pengawal di rumahnya Doni.


"ya kalau Doni belum cerita, lo tunggu aja sampai dia cerita. Gue tau semua kejadian di keluarganya, tapi kan nggak etis kalau gue yang bongkar rahasianya." papar Nover.

__ADS_1


"atau jangan-jangan, lo mau nyerah sama Doni, kalau tau kejadian yang sebenernya?" ucap Nover, berbalik mengajukan pertanyaan.


"emangnya separah apa masalahnya kak Doni, sampai Gendis mau nyerah sama kak Doni. Gendis nggak kepikiran nyerah mas, cuma penasaran aja sama kisahnya kak Doni." jelas Gendis, menjawabi.


"gue jelasin sedikit aja ya, selebihnya lo tunggu penjelasan dari Doni." ujar Nover.


Gendis mengangguk, langsung antusias mendengarkan cerita yang akan Nover sampaikan.


"Doni sama sepupunya yang lain, pernah diculik sama Ojiisan waktu mereka kecil."


Gendis langsung kaget, tapi nggak langsung memotong penjelasan dari Nover. Gendis tetep memperhatikan, apa yang akan sepupunya ini sampaikan.


"Ojiisan merasa kesel karena nggak diperbolehkan ketemu sama cucu-cucunya, apalagi nggak diizinin ketemu sama Nininya Doni."


"terus, karena kejadian itu, budehnya Doni, langsung sewa bodyguard buat ngamanin keluarganya."


"budeh? Kok budeh sih mas? Kan kak Doni bukan orang jawa." sela Gendis.


Nover tersenyum, mendengar pertanyaan Gendis.


"maksud gue bilang budeh, ya biar lo ngerti. Kalau budeh itu, panggilan untuk anak paling tua." jelas Nover.


Gendis nggak melanjutkan perdebatan itu, dia memaksa Nover lagi untuk cerita mengenai Doni.


"oh iya, kok Nininya kak Doni, masih muda banget sih mas? Umurnya kelihatan seumuran Bunda, saking nggak kelihatan menua."


Nover tersenyum, dia juga merasakan kalau Nininya Doni nggak terlihat seperti Nenek-Nenek kebanyakan.


"apa karena mereka orang kaya ya? Sampai wajah juga nggak menua, karena perawatan." timpal Gendis.


"nggak, alasannya bukan itu. Lo nggak kepikiran nanya usianya?"


"nggak sopan mas, nanyain umur." imbuh Gendis menjawabi.


"Nini itu nikah muda, waktu masih umur belasan tahun. Makanya masih kelihatan muda. Tapi nggak seumuran sama tante Ayu juga, tetep umurnya masih tua Nininya Doni," ucap Nover menjelaskan rasa penasarannya Gendis.


"udah ya, selebihnya lo tagih aja ke Doni. Kalau dia udah janji mau cerita, dia bakalan jelasin kok." tambah Nover.


"oh iya, nanti kalau Doni jelasin, usahain lo pura-pura nggak tau kalau ada sebagian yang udah gue ceritain ke lo." imbuh Nover lagi.


"iya, ngerti mas."


"gue juga mau minta tolong dong," ucap Nover sambil tersenyum.


Gendis menyimak.


"tolong besok ajakin Maya, biar mau semobil sama gue," ucap Nover menjelaskan alasannya tadi.

__ADS_1


Gendis hanya mengkode gestur kedua ibu jarinya yang diangkat ke atas, menandakan setuju membantu Nover.


...----------------...


__ADS_2