
Mendengar nama Doni disebut, Gendis langsung antusias.
"kak Doni mau video call, mas?" tanya Gendis.
"iya, cepet selesaiin masalah lo. Dia khawatir karena hape lo nggak bisa di telfon," ucap Nover menjelaskan.
Gendis menganggukkan kepalanya, sekaligus menampakkan senyum sumringah, setelah mendengar jawaban dari Nover.
Tapi setelah melihat Deka, senyum Gendis langsung menghilang.
Keduanya malah sama-sama diam, apalagi Deka yang cuma ngeliatin Gendis.
Beberapa detik kemudian, Dekapun mulai bersuara.
"gue akan buat hari-hari lo nggak nyaman, selama di kelas. Dan jangan harap, gue minta maaf ke lo!" ancam Deka, merasa punya wewenang, padahal hanya ketua kelas.
Setelah ngomong, Deka langsung pergi. Persis seperti pagi tadi, waktu rebutan kursi. Udah buat mood Gendis acak-acakan, Deka langsung pergi gitu aja.
Gendis nggak mempermasalahkan, karena memang Gendis mau buru-buru ketemu Doni. Walaupun, hanya bertatap muka lewat laptop, seenggaknya Gendis bisa melihat wajah Doni.
Gendis langsung mendahului Deka yang jalan santai, tapi masih terlihat kalau dia emosi ke Gendis. Deka juga memperhatikan Gendis yang langsung menghampiri Nover dan juga Maya, lalu ketiganya melenggang meninggalkan SMP 24.
Nover sudah melambaiakan tangannya, sebagai isyarat memanggil Taksi yang lewat. Ketiganya bisa masuk, setelah taksi berhenti dan mempersilahkan mereka untuk mengisi kursi kosong.
Nover langsung menyerocos, karena dari tadi dia menahan kemarahannya, waktu berhadapan dengan Deka.
"cowok tadi, siapa sih?"
"ngapain juga, kamu cari gara-gara sama anak cowok, May?"
"dia cari gara-gara sama Gendis, Ver. Aku nggak bisa kalau cuma diem aja," ucap Maya, menjawabi pertanyaan Nover.
Sebelum Nover bertanya lagi. Gendis langsung menjelaskan, kenapa dia dan Deka bisa berantem, dan Maya juga jadi ikut campur.
Gendis menjelaskan awal mulanya Gendis ketemu sama Deka, sebelum libur kenaikan kelas. Setelah itu, secara berturut-turut dalam 1 hari. Deka udah buat mood Gendis acak-acakan, dari pagi tadi waktu rebutan kursi di kelas. Dan waktu siang tadi, jam istirahat sambil makan siang dan menelfon Doni.
__ADS_1
"ooh itu, yang bikin Doni khawatir." Nover menyampaikan ucapannya, dengan nada bicaranya yang sudah nggak marah seperti sebelumnya.
"tapi, mas Nover jangan sampaiin ke kak Doni ya? Kalau di sekolah, Gendis ada yang naksir."
"pilihan tepat, gue juga mau menyarankan lo untuk nggak kasih tau Doni. Takutnya, Doni diem-diem balik ke Jakarta, cuman untuk nunjukin kalau lo itu punyanya dia," ucap Nover.
Ucapan Nover terkesan berlebihan, tapi pada kenyataannya memang seperti itu. Doni sebenernya masih cemburu sama Adam, karena Adam cowok pertama yang Gendis taksir. Adam juga satu sekolah sama Gendis, makanya Doni akan terus bikin Gendis ngelupain Adam, dan terus-terusan ngejemput Gendis sepulang sekolah, untuk menunjukkan kalau Gendis memang punyanya.
Seposesif itu, Doni memperjuangkan Gendis untuk bisa mendapatkan Gendis. Tapi setelah Doni pindah ke luar negeri, Doni malah justru mengkhawatirkan Gendis, kalau-kalau Gendis malah berpaling lagi ke Adam. Apalagi kalau sampai Doni tau, Gendis ada yang naksir. Doni bakalan cemburu banget, tapi nggak bisa melakukan apa-apa karena jarak yang harus ditempuhnya, belum lagi perbedaan waktu yang menghalangi pertemuan dia dengan Gendis.
Ketiganya sudah sampai di depan rumah Nover, Gendis sengaja diminta Nover untuk menunggu di luar. Karena Nover mau mengamankan anjing-anjingnya, supaya nggak membahayakan Gendis.
Mata Gendis tertuju ke arah rumah Doni, yang memang ada di sebrang rumah sepupunya. Gendis masih membayangkan, pertama kalinya dia diajak ke rumah Doni, diundang ke acara ulang tahun Doni. Diperkenalkan dengan Nini Annette, yang begitu ramah. Walaupun baru dua kali Gendis diajak ke rumah Doni, moment itu masih membekas di pikiran Gendis.
Maya menarik tangan Gendis, karena Nover sudah memanggil mereka untuk masuk.
Sudah sangat lama, Gendis nggak menginjakkan kakinya lagi di rumah budehnya. Terasa asing, karena sudah banyak yang berubah, termasuk tata letak dan furniture yang ada di ruangan yang Gendis pijaki.
Gendis juga tertuju ke lemari di hadapannya, dulu di situ terpajang guci dan pernak-pernik, milik budehnya yang akhirnya pecah satu dan mengenainya saat insiden penyerangan Blacky.
Ingatan Gendis tentang memori masa kecilnya itu, dibuyarkan Nover yang langsung megajaknya masuk ke kamarnya.
Sambil menunggu Nover menyambungkan perangkat, supaya Gendis bisa ngobrol sama Doni lewat laptop. Maya pun, mengajak Gendis berbicara.
"kalau besok dia masih nyari gara-gara sama lo, Ndis. Aduin aja ke BK!" ucap Maya, membahas lagi obrolan mengenai Deka.
Gendis membalikkan badannya, supaya bisa menoleh ke Maya, sambil memeluk kursi.
"kita lihat aja besok, gue mendingan ngehindar ke kelas lo. Daripada mood gue diacak-acak sama tu anak," ucap Gendis mengalihkan.
"tapi di kelas gue ada Adam, Ndis." Maya mengingatkan.
"di lapangan aja deh, kalau gitu." Gendis mengalihkan obrolan, karena pembahasan mengenai Adam.
"di lapangan, ngapain?"
__ADS_1
Gendis langsung menoleh ke Nover, sementara Nover langsung mengkode Gendis untuk melihat ke layar laptopnya.
Senyum Gendis merekah, setelah tau kalau suara tadi, adalah suaranya Doni.
"ngobrol deh kalian berdua, gue nggak akan ganggu." sela Nover, sambil mengajak Maya ke balkon kamarnya.
Gendis bangun sebentar, untuk mengambil bantal supaya bisa dipakainya untuk memeluk dan mengalihkan perasaannya yang kepingin banget meluk Doni, tapi terhalang layar laptop.
"kak Doni nggak jadi tidur ya?" tanya Gendis memulai obrolan.
"nggak bisa Ndis, sebelum lihat wajah kamu," ucap Doni, terlihat nyaman menyampaikannya sambil ikutan memeluk bantal.
Dua insan yang lagi jatuh cinta, emang bikin gemes sendiri ngelihatnya. Apalagi, ada jarak yang memisahkan mereka. Justru karena itu, membuat hubungan mereka makin lucu dan romantis.
Keduanya tetap berusaha untuk menjalin komunikasi, di tengah kendala yang membuat mereka terbatas untuk saling tatap muka.
Obrolan mereka nggak jauh dari menanyakan kabar, nggak jauh dari membahas mengenai keseharian di tempat mereka masing-masing.
Yang dilihat orang yang nggak sedang jatuh cinta, interaksi keduanya, pasti dibilang membuang-buang waktu. Tapi untuk mereka, hal itu begitu romantis dan membekas bagi mereka yang terpisahkan oleh benua dan juga dibatasi zona waktu.
"mulai besok, kan kak Doni udah mulai sekolah. Kita telfon-telfonannya, kalau kak Doni udah pulang sekolah aja ya." Gendis melanjutkan pembahasan yang sempat terpotong karena ulah Deka di jam istirahat tadi.
"tapi sesekali, kak Doni boleh telfon kamu kan, kalau di jam istirahat?"
Gendis jelas nggak menolak, dia juga kepingin denger suaranya Doni sekalipun hanya bisa sebentar. Karena jam 12, jamnya istirahat di Jakarta, sementar di Italia sudah jam 7 pagi, dan waktunya Doni mulai sekolah.
"masalah yang tadi, nggak mau kamu bahas Ndis?" Doni mengingatkan Gendis soal kejadian di kelasnya tadi.
Gendis mulai merubah moodnya, terlihat malas membahas Deka. Tapi Gendis memang harus membahasnya dengan Doni, sekalipun nantinya Doni bakalan khawartir karena Gendis habis berantem sama anak laki-laki.
Awalnya Doni terdengar senang, waktu Gendis menceritakan kalau dia masuk dalam struktur organisasi kelas. Tapi yang kemudian membuat Doni kesal, karena perlakuan Deka yang semena-mena ke Gendis.
Bukan karena Gendis pacaranya, makanya Doni menunjukkan aksinya membela Gendis. Tapi karena memang perlakuan Deka yang nggak sopan, meminta seseorang tanpa pakai tolong, atau seenggaknya lihat situasi, kalau lawan yang dimintainya pertolongan, lagi dalam kondisi seperti apa.
Obrolan Doni dan Gendis sudah nggak memanas lagi, karena mereka juga sama-sama sudah mengalihkan obrolan mengenai Deka. Gendis juga berusaha mengalihkan obrolan, dengan hal lain karena malas membahas ulah Deka yang nggak akan ada habisnya.
__ADS_1
Sudah 2 jam, keduanya asik mengobrol dan saling tatap muka lewat media sosial. Doni harus menyudahi obrolan, karena Gendis juga harus pulang ke rumahnya, belum lagi Doni juga harus tidur karena perasaannya juga sudah dibuat lega setelah mengobrol dengan Gendis.
...----------------...