
"Kak Doni tinggal ke toilet dulu ya, kamu siapin uang aja dulu," ucap Doni dan sekali lagi dengan senyuman.
Rasanya Gendis mau berteriak, meskipun dirasa percuma dan nggak akan bisa membantunya. Setidaknya, luapan emosinya tersalurkan.
Gendis pun merogoh saku rok, seragam, sampai tasnya, untuk mencari sisa uang sejumlah yang tertera di bill itu.
Uang yang tersisa di saku seragam Gendis, jelas kurang. Kalau tau diminta menebus kesalahan dengan cara seperti ini, tadi Gendis lebih baik nggak bayaran sekolah, sampai nanti hari senin. Dan Gendis memikirkan lagi untuk mencari pinjaman, atau ikut narik angkot Abahnya Didot.
"ayok!" tiba-tiba saja Doni menarik tangan Gendis, di saat Gendis hilang harapan, mencari uang untuk membayar ongkos makanan mereka.
"kak, makanannya belum Gendis bayar," ucapnya mengingatkan.
Doni tidak mendengarkan perkataan Gendis, ia malah terus berjalan sembari menggandeng Gendis, keluar dari restoran.
"kita kemana lagi ya enaknya?" tanya Doni, sengaja mengalihkan pertanyaan Gendis.
Gendis menahan tangan Doni, lalu berdiri di hadapan Doni.
"Kak, makanan tadi belum Gendis bayar. Kita balik lagi ya, jangan kabur gini," ucap Gendis kembali mengingatkan.
Doni malah tersenyum, sambil mencubit pipinya Gendis.
"udah kak Doni bayar kok tadi, pas kak Doni ke toilet," ucap Doni tanpa rasa bersalah, membiarkan anak polos ini ketakutan setengah mati.
Doni pun meminta Gendis agar naik ke motornya, dan mengajak Gendis mengelilingi kota Jakarta di sore hari, dan Doni berhenti sejenak di spbu. Setelah itu, Doni mengajak Gendis lumayan jauh sampai ke kota tua, dengan keberanian seadanya tanpa sim pula.
Sementara Gendis, masih diam saja karena merasa dibohongi sampai ketakutan.
Setelah memarkirkan motornya, Doni mengedarkan pandangannya ke sekeliling kota tua.
"sebelum kita muter-muter lagi, kita ke situ sebentar ya?" tunjuk Doni, ke arah mini market.
Gendis nggak menjawab dengan suara, justru kakinya yang menjawab, menjelaskan kalau ia setuju mengikuti langkah Doni.
"kamu, suka ice cream rasa apa?" tanya Doni.
Gendis diam, sembari memperhatikan wajah Doni yang terlihat sumringah, saat mencari ice cream di lemari pendingin. Terlihat sekali perbedaan raut wajahnya Doni, saat di restoran Jepang tadi.
"rasa strawberry suka nggak?" tanya Doni kembali memastikan.
Gendis nggak mengeluarkan suaranya, Gendis hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"ada yang mau dibeli lagi?" tanya Doni menawarkan.
Gendis menggeleng, namun Doni tetap mengambilkan beberapa jajanan.
Selesai membayar, Gendis diajaknya duduk di depan mini market.
"ini buat mendinginkan tenggorokan, nanti setelah ice creamnya habis, kita jalan-jalan lagi ya." Doni berucap dengan raut wajah sumringah, sambil memberikan ice cream yang dibelinya tadi.
"kalau mau jajanan yang lainya, tinggal ambil aja ya?" ujar Doni, yang masih nggak digubris Gendis.
Keduanya diam sejenak, Doni sedang merasakan manisnya ice cream dan sensasi ngilu di giginya yang kedinginan. Sedangkan Gendis, hanya memandangi ice creamnya yang sudah mulai mencair.
"kok ice creamnya cuma dilihatin aja?"
Gendis tetap diam, sambil memperhatikan wajahnya Doni yang dipikirnya marah padanya, berbeda saat kejadian tadi, yang menurut Gendis adalah penipuan berencana.
"Kak Doni udah nggak marah lagi?" tanya Gendis sambil menatap Doni dengan tatapan sedih.
Doni menoleh ke Gendis, dia asik menggigit esnya, dan nggak lama Doni pun berbicara.
"kalau kamu nggak habisin es itu, kak Doni bakalan marah lagi." ancamnya.
"maafin kak Doni ya, udah bikin kamu panik karena harus bayarin bill tadi," ucap Doni tiba-tiba, sambil sesekali menengok ke arah Gendis yang masih kelihatan murung dan hanya menundukkan kepalanya.
"kak Doni sebenernya cuma iseng aja dari tadi." imbuh Doni lagi.
Beruntungnya Doni, karena dia bukan teman power rangernya Gendis. Yang siap diamuknya, karena sudah mengerjai Gendis sejak tadi.
Gendis mulai mengangkat kepalanya, setelah menghela nafasnya yang terasa lega, karena Doni sudah memberikan penjelasan.
"dari awal, kak Doni mau ngajak kamu ke sini. Tapi sebelum itu, kak Doni mau ngajak kamu makan dulu, takutnya maag kamu kumat lagi. Eh, terus di sana tadi, kak Doni inget cerita Nover dan Maya, kalau kamu tuh ambekan banget. Jadi, kak Doni mau lihat juga, seberapa parahnya kadar ambekannya kamu itu," cerocos Doni panjang lebar, sembari tersenyum karena mengingat perkataan Maya dan Nover.
"terus juga, kak Doni nggak pernah marah soal kedatangan kak Doni yang mendadak itu. Kak Doni yang salah kok, karena dadakan ngabarinnya."
"nggak pa-pa kak, Gendis yang harusnya minta maaf, karena hape Gendis lowbet. Jadinya, kakak harus nungguin Gendis lama banget," katanya mulai bersuara.
"kak Doni juga mau minta maaf, karena waktu itu udah ngupingin obrolan kamu sama pacar kamu," ucap Doni, yang kali ini menundukkan kepalanya karena nggak enak hati.
Gendis menarik kedua alisnya, dan meninggikan suaranya karena kaget, "hah pacar?!"
"Adam bukan pacar Gendis kak!" ucap Gendis spontan, sampai menyebut nama Adam di depan Doni.
__ADS_1
"cowok yang kak Doni lihat, bukan pacar Gendis," ucapnya lagi, untuk meyakinkam Doni.
"terus?"
"dia temen sekelas Gendis," ucapnya, 100% bete lagi karena harus membahas, mengingat, bahkan mengulang kejadian yang berhubungan dengan Adam.
"bukannya kamu sama dia sama-sama udah mengutarakan perasaan masing-masing ya?" ucap Doni, yang katanya merasa mendengar obrolan keduanya. Tapi nyatanya, masih ada kesalahan.
Doni terlihat bersabar menunggu jawaban Gendis.
Pertanyaan Doni, malah membuka luka lama yang sudah dijahit Gendis pakai benang sulam, dan ditambal pakai benang sol.
Air mata Gendis menetes begitu saja, berbarengan dengan ice cream yang sejak tadi di genggam Gendis. Dan pada akhirnya, selain Maya dan para power ranggernya. Gendis pun bisa terbuka ke Doni, dan menceritakan semua masalah yang terjadi seminggu yang lalu, ke cowok lain yang baru dikenalnya.
Doni mendengar semua keluhan Gendis, yang membuat Gendis sedih selama ini. Dan teringat kejadian di gelanggang renang, yang membuat Gendis nggak konsen sampai berkali-kali membahayakan dirinya.
Sebenarnya masalah percintaan ABG memang sepele, ini karena Gendis baru pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Di saat baru saja duduk di bangku SMP.
Semula, cinta yang Gendis rasakan, memang terasa manis. Tapi ternyata, saat kehadiran Sinta, perasaan yang semula manis, tau-tau menjadi pahit dan menyakitkan baginya.
"maaf ya kak Doni, Gendis nangis di depan kakak." jelasnya merasa canggung.
"nggak pa-pa Ndis, kak Doni yang minta maaf, karena nggak tau kalau bahasan itu bisa bikin kamu sedih." balas Doni, seraya mengusap kepala Gendis.
"mau pulang sekarang?" tanya Doni memastikan, karena bingung harus melakukan apa lagi, disaat wanita menangis.
Gendis menganggukkan kepalanya, mengartikan kalau ia memang mau pulang karena sudah tidak nyaman.
Niatan Doni menikmati kota tua, akhirnya nggak terealisasikan karena kondisinya Gendis, yang nggak memungkinkan untuk diajak jalan-jalan.
Di perjalanan pulang, Doni berusaha mengajak Gendis berkomunikasi. Ia mengalihkan perasaan sedihnya Gendis, dengan banyak membahas mengenai dirinya yang memang dekat dengan Nover, dan keluarganya.
"kak Doni nggak nyangka loh, kalau kamu sepupuan sama Nover."
"Nover seneng banget waktu cerita, kalau ketemu kamu lagi." lanjut Doni, sebagai pengalihan kesedihannya Gendis.
Gendis merespon, mengajaknya membahas soal niat usilannya di restoran Jepang tadi.
Di sini, Doni sudah bisa melihat senyum Gendis kembali. Diapun lega, karena berhasil membuat Gendis ceria lagi.
...----------------...
__ADS_1