
Bubaran sekolah, Doni langsung tancap gas dan sudah sampai lebih dulu di depan gang rumah Gendis. Dia menunggu Gendis supaya bisa meminta maaf karena kejadian di rumah Rezy kemarin.
"eh ... kak Doni," ucap Gendis, yang langsung ngeh kedatangan Doni, setelah turun dari angkot Abahnya Didot.
Melihat Doni datang, teman-teman power rangernya Gendis, mulai senyam-senyum meledek interaksi Doni dengan Gendis.
"kamu baru pulang sekolah Ndis?" tanya Doni basa-basi, sekedar ingin tau respon Gendis.
"iya kak, kakak dari tadi di sini?" jawab Gendis.
Doni menganggukkan kepalanya, membuat Doni bisa berlega hati, karena mendapat respon baik dari wajah Gendis, yang nggak menampakkan kemarahan.
"mau ada acara ya? Pulangnya barengan?" tanya Doni lagi, berusaha membaur.
"nggak kok," jawab serentak Widi, Bejo, Didot, Ade sampai Gendis.
"tumben kompak," ledek Doni, mengingatkan pertemuan pertama mereka.
Widi, Ade, Bejo dan Didot hanya senyam-senyum, secara nggak langsung, menjelaskan kalau mereka senang melihat interaksi Gendis dengan Doni.
"kita lagi nggak ada acara apa-apa kok kak, emang rumah kita berlima deketan," tutur Gendis menjelaskan.
"acaranya masih nanti malem kok." timpal Ade.
"ada acara apa?" tanya Doni menyelingi, supaya ada obrolan.
"mau belajar kak, sebentar lagi kan mau ujian kenaikan kelas." sambung Gendis menjawabi pertanyaan Doni, sebelum teman-temannya mulai usil ikut menimpali.
Doni menganggukkan kepalanya, ia malah bingung menimpali obrolan selanjutnya. Yang akhirnya, Doni membahas alasan kedatangannya.
"soal kemarin, kak Doni mau minta maaf," ucapnya, menjelaskan perasaan bersalahnya.
"kita ngobrol di rumah Gendis aja yuk kak, nggak enak ngobrol di jalanan," ucap Gendis mengalihkan, karena tatapan teman-temannya yang mulai penasaran.
Doni mengikuti Gendis sambil menuntun motornya, sementara teman-teman Gendis langsung berpamitan dengan Doni, sengaja memberikan kenyamanan agar mereka berdua bisa mengobrol.
Belum sampai rumahnya Gendis, tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti di depan mereka. Gendis sudah tau betul, siapa pengendara motor yang langsung menghampiri mereka berdua.
"cowok lo, nggak lo kenalin ke gue Ndis?" ucap si pengendara yang adalah Adam.
Doni juga nggak meralat ucapannya Adam dan ngeh-in, siapa laki-laki yang meminta Doni memperkenalkan dirinya.
Doni langsung mengulurkan tangannya lebih dulu, "Doni," ucapnya dan Adam juga membalas jabat tangan Doni, dan memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Adam cuma mau kenalan aja sama Doni, setelah rasa penasarannya sudah terbalaskan, dia pun langsung pergi.
Kemunculan Adam berasa kayak nonton telenovela yang lagi seru-serunya, terus tiba-tiba iklan muncul. Kedatangan Adam juga berasa nggak penting, karena cuma mau basa-basi kenalan ke Doni, untuk membuktikan ke Gendis kalau hubungan mereka sudah membaik.
Tiba di rumah Gendis, Doni ditinggal Gendis ke dapur karena Gendis mau membuatkan minuman untuk tamunya itu.
Sirup dingin ditaruh Gendis di atas meja tamu, beserta camilan yang sudah sejak awal ada di atas meja, dan sekalian Gendis tawarkan ke Doni.
Doni hanya menggangguk, dan langsung memulai obrolan yang sempat dipotong Gendis karena ada teman-temannya tadi.
"tadi di sekolah, Nover jelasin ke kak Doni, kalau kamu sama Ferrell trauma sama Blacky." paparnya dengan nada canggung.
"selain sama anjing, kamu takut sama apa lagi?" lanjut Doni, mengajukan pertanyaan.
"mmmh ... sama Bunda, apalagi kalau nggak dikasih uang jajan." ledek Gendis, membuat Doni akhirnya tersenyum karena Doni terlihat kaku.
"nggak ada kok kak, cuma sama anjing aja," ucap Gendis, menjelaskan lagi.
"Oiya … telfon kak Doni, kenapa nggak diangkat, terus kak Doni juga sms, kenapa kamu nggak bales?" tanya Doni penasaran.
Gendis menjelaskan alasannya nggak menjawab telfon, ataupun sms dari Doni. Karena ketiduran sampai pagi, dan setelah terbangun dari tidurnya, Gendis nggak sempet membalas sms Doni. Karena lupa bawa handphone yang masih diisi daya, padahal Gendis memang mau mengabari Doni.
Doni tersenyum lega sambil meminum sirupnya, karena akhirnya ia tau, kalau ternyata Gendis memang nggak marah sama dia.
"belum kak, Bunda lembur kalau mau mendekati tanggal 20 dan biasanya pulang jam 9, soalnya masih banyak kerjaan." jelas Gendis.
"kalau Ayah, kerja di luar kota dan pulangnya nggak nentu, bisa seminggu atau sampai sebulan baru pulang," ucap Gendis lagi.
"oiya, Jingga ke mana? Waktu pertama kak Doni ke sini, kak Doni ditemenin main sama dia." Doni berucap, seraya mengedarkan kedua netranya, mencari keberadaan adiknya Gendis.
"nggak kebalik kak?" ledek Gendis, membalasi perkataan Doni tadi.
Doni tersenyum lalu berkata, "iya sih, kak Doni yang nemenin dia main."
Gendis membalas senyuman Doni, sekaligus menjelaskan di mana Jingga.
"kalau jam segini, Jingga diajak main sama bibi yang ngurusin dia, sekalian disuapin sambil jalan-jalan. Soalnya makannya susah, kalau nggak diajak jalan-jalan."
Sudah nggak ada pertanyaan apa-apa lagi dari Doni, mereka berdua juga jadi canggung dan seketika hening.
Namun kemudian, Gendis mengingat pertemuan dengan Adam tadi. Yang langsung menjelaskan ucapannya Adam ke Doni, soal Doni pacarnya.
"yang tadi maaf ya kak, kejadiannya berawal di sekolah. Adam tiba-tiba dateng langsung bahas soal kak Doni, yang nganterin aku pulang setelah dari Kota Tua. Makanya pas ketemuan sama kakak tadi, Adam ngiranya kak Doni pacarnya Gendis. Ditambah lagi, Ade langsung manas-manasin, dan Gendis nggak bisa jelasin karena ada Adam," ucap Gendis panjang lebar.
__ADS_1
"Ade tuh yang mana ya?" tanya Doni.
Gendis teralihkan sama pertanyaan Doni.
Saking nggak mau diledekin sama ulah temen-temennya, Gendis jadi lupa ngenalin mereka ke Doni. Makanya Doni mempertanyakan ke Gendis, yang akhirnya baru menjelaskan satu persatu para power rangernya.
Doni manggut-manggut, setelah Gendis menjelaskan keempat teman dekatnya itu.
"soal Adam tadi ...." perkataan Doni, langsung disela sama Gendis.
"kak Doni marah ya? Maaf ya kak."
"nggak kok, kak Doni malah pingin nanya ke kamu. Kamu mau nggak, kalau kita jadian beneran?"
Pertanyaan Doni langsung membuat Gendis diam.
"tadinya, kak Doni cuma nganggep kamu adik, karena kak Doni juga anak satu-satunya dan nggak punya saudara."
"kamu tuh lucu banget Ndis, pas pertama kali kak Doni lihat kamu." jelas Doni, sambil membayangkan kejadian di gelanggang renang, yang membuatnya sampai senyum-senyum.
Sementara Gendis hanya menyimak, disertai wajahnya yang masih syok karena Doni ternyata menyukainya.
"terus semakin ke sini, kak Doni nggak bisa cuma nganggep kamu sebagai adik aja. Kalau dijadiin adik doang, kak Doni kepikiran pas nanti ada yang nembak kamu, pastinya kak Doni nggak bisa berbuat apa-apa. Apalagi bisa deket sama kamu lagi, karena pasti nggak enak sama cowok kamu nanti." jelasnya panjang lebar.
Gendis masih diam nggak bisa membalas ucapannya Doni, baru kali ini ada cowok yang berbeda kalangan yang langsung menyatakan perasaannya ke Gendis. Gendis serasa ada di dalam sinetron yang membuatnya nggak yakin ini nyata, sampai berpikiran juga kalau sekarang ini, Gendis lagi mimpi di siang hari bolong.
Handphone Doni berdering, membuat respon keduanya terbagi.
Setelah menerima telfon, Doni langsung melanjutkan obrolannya. Dan menyadarkan lamunan Gendis, kalau apa yang Doni ucapkan ke Gendis tadi benar-benar nyata.
"kak Doni nggak maksa kamu kok, tapi kak Doni berharap kamu mau nerima," ucap Doni seraya tersenyum, mencoba menerima apapun keputusan Gendis, tapi dia juga masih mengusakan perasaannya diterima Gendis.
"Kak Doni juga nggak bisa maksa, karena di dalam hati kamu masih tersimpan perasaan kamu ke cowok tadi, tapi kalau nanti dia udah nggak ada di situ, tempatin buat kak Doni ya?" ucapnya yang langsung memesan tempat di hati Gendis.
Doni lalu meminum habis, sirup yang Gendis buatkan tadi.
"maaf ya, kak Doni harus buru-buru pulang, karena orang tuanya kak Doni udah di rumah. Mama-Papa kak Doni jarang banget pulang karena sibuk kerja, makanya kak Doni nggak mau menyia-nyiakan kepulangan mereka," ucap Doni menjelaskan panjang lebar, alasannya terlihat buru-buru mau pulang. Yang secara nggak langsung, Doni juga menjelaskan, telfon yang menganggu obrolan mereka tadi.
"lain kali, kita ngobrol panjang lagi ya?" ucap Doni sambil memegang kepalanya Gendis, agar menyadarkan Gendis yang masih terdiam sejak tadi.
Gendis juga sampai nggak mengantar Doni, karena kepikiran dengan ucapan yang Doni sampaikan, dan masih belum bisa dipercayainya, belum menyangka juga kalau Doni menyukainya.
...----------------...
__ADS_1