
" Yang benar yang mana?" tanya ibunya dokter Melani
" Maaf tante sebenarnya aku suka dan sayang dengan Melani tapi Melani selalu menolakku." ucap dokter Hendrik sambil menatap wajah Melani yang menatap tajam ke arahnya.
" Sayang kenapa kamu menolaknya? uhuk uhuk" tanya ibu dokter Melani sambil terbatuk- batuk
" Karena aku... aku ingin fokus mengurus ibu." ucap dokter Melani sambil menangis
Dokter Hendrik yang melihat dokter Melani menangis langsung memeluknya dari arah samping dan tanpa sadar dokter Melani membalas pelukan dari arah samping dan kepalanya bersadar di dada dokter Hendrik.
" Sayang uhuk...uhuk...uhuk.. bolehkah ibu meminta sesuatu darimu..."ucap ibu dokter Melani
" Apa bu?" tanya dokter Melani
" Menikahlah dengannya karena Ibu percaya padanya. Oh ya namamu siapa?" tanya sang ibu
" Nama saya Hendrik bu." ucap dokter Hendrik
" Maukah kau uhuk....uhuk... menikah dengan putriku? mencintai putriku uhuk....uhuk... menjaga putriku dan uhuk....uhuk... menyayangi putriku uhuk....uhuk..." tanya sang ibu
" Saya berjanji untuk mencintai, menjaga dengan segenap jiwaku dan menyayangi putri ibu." ucap dokter Hendrik tegas.
" Melani, tolong ambilkan kotak berwarna merah di tas ibu." pinta ibu Melani.
Dokter Melani melepaskan pelukannya dan berjalan menuju lemari kecil yang berisi tas ibunya dan beberapa pakaian ibunya. Dokter Melani mengambil dan memberikan kotak berwarna merah ke ibunya.
" Ini bu kotaknya." ucap Dokter Melani
Ibunya menerima dan memberikan ke dokter Hendrik.
" Nak Hendrik ini uhuk....uhuk... adalah sepasang cincin peninggalan uhuk....uhuk... neneknya Melani. Maukah nak Hendrik uhuk....uhuk... memasang ke jari manis putriku uhuk....uhuk... sebagai tanda pertunangan uhuk....uhuk... kalian?" tanya ibunya Dokter Melani sambil memberikan kotak itu ke dokter Hendrik.
" Saya bersedia Bu." jawab dokter Hendrik tegas sambil menerima pemberian kotak merah itu.
Dokter Hendrik membuka kotak itu dan memasangnya di jari manis dokter Melani begitu pula dengan dokter Melani memasang di jari manis dokter Hendrik.
" Semoga kalian bahagia." ucap ibu dokter Melani sambil tersenyum kemudian memejamkan matanya.
Dokter Hendrik menatap wajah dokter Melani sambil tersenyum.
cup
Dokter Hendrik mengecup kening dokter Melani dengan lembut.
" I Love You." ucap dokter Hendrik tegas
" I Love You Too." balas dokter Melani tersemyum malu
Dokter Melani mendekati ibunya karena waktunya untuk makan sore. Dokter Melani mengambil mangkok dan hendak menyuapkan bubur ke mulut ibunya.
" Bu, bangun ya waktunya makan." pinta Dokter Melani lembut
hening
" Bu." panggil Dokter Melani lagi
hening
Dokter Melani meletakkan sendoknya ke mangkoknya dan menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
" Bu, bangun waktunya makan." pinta Dokter Melani
hening
Dokter Hendrik yang penasaran langsung mengecek kondisi ibunya Dokter Melani. Matanya membulat sempurna kemudian memeluk Dokter Melani.
" Mel, ibu sudah meninggal. Iklaskan ibu Mel." ucap dokter Hendrik dengan menahan rasa sesak
" Tidak.... itu tidak mungkin... mas Hendrik bohong kan?... ibu tidak mungkin meninggal.. " ucap Dokter Melani tidak percaya.
Dokter Melani melepaskan pelukan dokter Hendrik dan memeriksa ibunya. Matanya membulat sempurna dirinya tidak percaya kalau ibunya pergi meninggalkan dirinya sendiri.
" Ibu..... kenapa meninggalkan aku sendirian... aku sama siapa?...hiks... hiks..hiks.." tangis Dokter Melani pecah.
Bruk
Dokter Hendrik yang melihat Dokter Melani badannya hendak terjatuh langsung di tahan oleh Dokter Hendrik. Dokter Hendrik melihat kalau Dokter Melani pingsan langsung menekan tombol yang dekat dengan ranjang pasien.
Dokter Hendrik menggendong dokter Melani dan berjalan ke luar ruangan perawatan bertepatan kedatangan seorang dokter dan dua orang perawat.
" Ibunya dokter Melani sudah meninggal tolong diurus dan jenasahnya di bawa ke rumah duka." perintah Dokter Hendrik
" Dokter Melani pingsan siapkan ruang perawatan." pinta Dokter Hendrik
" Baik." jawab dokter itu.
Dokter Hendrik mengikuti perawat itu dan membaringkannya di ranjang. Dokter Hendrik menatap sendu melihat orang yang dicintainya sedih.
" Aku tidak tahu kenapa bisa secepat ini aku mencintaimu." ucap Dokter Hendrik hampir tidak percaya.
xxxx
Seorang pria tampan datang ke rumah dokter Melani untuk mengucapkan ungkapan duka cita.
Pria tampan itu mendekati Dokter Hendrik dan dokter Melani.
" Kami sekeluarga mengucapkan turut berduka cita dan maaf istriku tidak bisa datang." ucap pria tampan itu
deg
Dokter Hendrik terkejut karena suara itu sangat familiar. Dokter Hendrik langsung mengangkat kepalanya dan menatap pria itu.
" Thomas." panggil dokter Hendrik terkejut karena sahabatnya mengenal dokter Melani
" Hendrik? kenapa ada di sini?" tanya Thomas bingung
" Melani adalah tunanganku." jawab dokter Hendrik
Thomas bingung dan terkejut dengan jawaban dokter Hendrik karena nama di kartu undangan bukannya namanya Dewi.
" Bukannya *nama istrimu Dewi." tanya Thomas dengan menggunakan kode mata
" Ceritanya panjang, yang pasti aku tidak jadi menikah dengan Dewi." ucap dokter Hendrik membalas tatapan kode sahabatnya
" Ok, kamu punya hutang penjelasan denganku." jawab Thomas menjawab dengan tatapan mata
" Ya, tenang saja" jawab dokter Hendrik dengan membalas tatapan sahabatnya
" Apa kamu menyukai dokter Melani?" tanya Thomas masih menggunakan tatapan matanya
__ADS_1
" Tentu saja, aku sangat mencintai dan menyayanginya." jawab dokter Hendrik tegas dengan menatap mata sahabatnya
" Katanya kamu suka dengan gadis itu, apa kamu sudah menyerah?" ledek Thomas menggunakan kode matanya
" Aku baru sadar perasaanku pada gadis itu seperti adik dengan kakak sedangkan dengan Melani jantungku selalu berdebar - debar seperti saat ini." jawab Thomas masih menggunakan kode matanya
" Berarti kamu memang mencintai dokter Melani karena diriku juga sama." ucal Thomas tersenyum jahil
Dokter Hendrik melototkan matanya ke arah Thomas
" Santai saja bro, maksudku jantungku dulu sering berdebar jika berdekatan dengan kekasihku yang sekarang sudah menjadi istriku." jawab Thomas dengan menggunakan matanya.
" Tuan Thomas dan mas Hen kenapa saling menatap? apa tuan Thomas dan mas Hen bicara melalui telepati?" tanya dokter Melani
" Tahu dari mana kami menggunakan telepati?" tanya dokter Hendri
" Hanya tebak saja karena Tuan Thomas dan mas Hen seperti mengatakan sesuatu lewat tatapan mata." ucap dokter Melani
" Mungkin hanya perasaanmu. Oh iya jenasah ibu mau dimakamkan kita berangkat sekarang." ucap dokter Hendrik
Merekapun pergi mengantarkan peristirahatan ibunya dokter Melani.
xxxxx
Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :
Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.
Cinta Satu malam Bersama Mafia
Cinta Satu Malam Bersama Mafia sension 2
Cinta Pertama Psychopath
Cinta Pertama Mafia
Dan
Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
xxxxxx
__ADS_1