
" Benar tuan, kami harus melakukan operasi kalau tidak istri dan anak tuan bisa meninggal." ucap seseorang di sebrang.
" Lakukan operasi sekarang, saya akan ke sana. Di mana rumah sakitnya?" tanya Markus
" Rumah Sakit Sumber Kasih." jawab seseorang di sebrang
" Rumah Sakit Sumber Kasih berada di kota mana?" tanya Markus
" Di kota xxxx." jawab seseorang di sebrang
" Baik saya akan ke sana. Berikan yang terbaik untuk istri saya." ucap Markus
Markus kemudian mengganti pakaiannya dan keluar dari kamarnya menuju garasi mobil. Baru saja menuju garasi kepala pelayan memanggil Markus.
" Tuan, maaf ini ada surat dari orang tua tuan sebelum orang tua meninggal dunia." ucap kepala pelayan memberikan sebuah surat.
" Baik. Terima kasih." ucap Markus menerima surat sambil masuk ke dalam mobil.
" Baik tuan." jawab kepala pelayan
Markus pun membuka surat tersebut dan membacanya. Markus hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian mengendarai mobil menuju ke Rumah Sakit Sumber Kasih.
xxxx
Singkat cerita Markus sudah sampai di Rumah Sakit Sumber Kasih. Markus berjalan menuju ke resepsionis.
" Maaf mau bertanya nyonya Delia di rawat di ruangan mana?" tanya Markus
" Nyonya Delia di rawat di ruangan icu." ucap resepsionis
" Apakah anaknya sudah lahir?" tanya Markus
" Sudah." ucap resepsionis
" Boleh saya melihatnya?" tanya Markus
" Maaf tuan siapanya ya?" tanya resepsionis
" Saya ayahnya." jawab Markus
" Maaf, silahkan datang ke bagian khusus bayi baru lahir." ucap resepsionis
" Baik. Terima kasih." jawab Markus
" Sama - sama tuan." ucap perawat itu
Markus hanyak menganggukkan kepalanya kemudian berjalan meninggalkan ruangan resepsionis menuju ke bagian khusus bayi baru lahir.
Markus mengetuk pintu dan salah seorang perawat membuka pintunya.
" Bisa saya bantu tuan?" tanya perawat itu
" Saya ingin melihat anak saya." ucap Markus
__ADS_1
" Nama istri anda tuan?" tanya perawat itu
" Nyonya Delia." ucap Markus
" Baik. Silahkan tuan melihatnya dari kaca yang berada di sebelah sana." ucap perawat kemudian menutup pintunya.
Markus berjalan beberapa langkah dan melihat bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya.
" Sangat mirip denganku apakah bayi ini anakku?" tanya Markus dalam hati sambil menatap laki - laki tampan yang sangat mirip dengannya.
Setelah puas menatapnya Markus berjalan menuju ke ruang icu untuk melihat istrinya.
Markus duduk di samping istrinya sambil menatap wajah istrinya yang wajahnya agak pucat. Markus menggenggam tangan istrinya.
" Maafkan aku yang dulu sering melukai hatimu. Aku selalu berusaha untuk mencintaimu tapi aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa." lirih Markus
" Kamu istri yang sempurna, menjalankan kewajibanmu sebagai istri menyiapkan pakaianku, menyiapkan air hangat, memasak dan ketika pulang dirimu selalu menyambutku dengan senyuman. Tapi kenapa aku tidak bisa mencintaimu? aku bingung pada diriku ini." ucap Markus
" Engggg ughhh." Delia melenguh sebentar kemudian membuka matanya perlahan
" Apakah aku bermimpi? Tuhan jika aku bermimpi tolong jangan bangunkan aku karena aku sangat bahagia bisa melihat suamiku yang berbulan - bulan selalu aku rindukan." ucap Delia
" Kamu tidak mimpi Delia, aku benar - benar datang." ucap Markus
" Benarkah? oh ya mas..." ucap Delia terhenti karena perutnya kini sudah rata.
" Mas anak kita? hiks... hikss.. hiks.." tangis Delia pecah
" Ssstttt anak kita sudah lahir." ucap Markus
" Benarkah? dimana anak kita?" tanya Delia tersenyum bahagia
" Tentu saja anak itu anak kita. Apakah mas meragukan aku?" tanya Delia dengan agak kesal
" Bukan begitu masalahnya aku hanya menyemprotmu 5 kali dalam semalam tapi kenapa langsung jadi?" tanya Markus curiga.
" Mas bisa tes dna. Kalau mas tidak percaya padaku dan tidak mengakui anak kita silahkan mas pergi dari kehidupan kami. Anggap saja kami sudah tiada." ucap Delia dengan nada masih kesal
" Kalau itu anakku, akan aku ambil dia darimu." ucap Markus
" Silahkan tapi sebelum itu mas membunuhku lebih dulu baru mas bisa mengambilnya." ucap Delia tanpa rasa takut.
" Baiklah kalau itu maumu." ucap Markus enteng.
Kedua tangan Markus diarahkan ke leher Delia membuat wajah Delia memerah karena kekurangan oksigen.
" Jaga anak kita baik - baik. I Love You Honey." ucap Delia tersenyum kemudian memejamkan mata tanpa berusaha memberontak
" DELIA!!!" teriak Markus
Markus yang sedang tertidur sambil duduk di ranjang dimana istrinya sedang berbaring, terbangun dari tidurnya dan mengusap wajahnya secara kasar.
" Untung cuman mimpi tapi kenapa seperti nyata." guman Markus sambil menatap wajah istrinya.
__ADS_1
" Engggg ughhh." Delia melenguh sebentar kemudian membuka matanya perlahan
" Apakah aku bermimpi? Tuhan jika aku bermimpi tolong jangan bangunkan aku karena aku sangat bahagia bisa melihat suamiku yang berbulan - bulan selalu aku rindukan." ucap Delia sendu
" Kamu tidak mimpi Delia, aku benar - benar datang." ucap Markus
" Benarkah? oh ya mas..." ucap Delia terhenti karena perutnya kini sudah rata.
" Mas anak kita? hiks... hikss.. hiks.." tangis Delia pecah sambil memegang perutnya.
" Ssstttt anak kita sudah lahir." ucap Markus berusaha menenangkan istrinya.
" Benarkah? dimana anak kita?" tanya Delia tersenyum bahagia.
(" Kenapa kata - katanya sama seperti mimpiku? tanya Markus dalam hati dengan perasaan bingung).
" Mas Markus." panggil Delia
hening
" Mas Markus." panggil Delia ulang sambil memegang tangan Markus
" Oh.. maaf. Ada apa Delia?" tanya Markus
" Mas Markus sedang melamun apa?" tanya Delia
" Oh... itu... sudahlah lupakan... ada apa Delia? kamu haus?" tanya Markus mencoba mengalihkan perhatian
Delia hanya menganggukan kepalanya. Markus mengambil gelas dan Delia meminum dengan menggunakan sedotan. Setengah gelas air minum di sedot oleh Delia setelah itu Delia berhenti meminum. Markus mengembalikan gelasnya kembali.
" Mas, dimana anak kita?" tanya Delia ulang
" Ada di ruang bagian khusus bayi baru lahir." ucap Markus
" Oh ya di mana kedua orang tuaku? katanya mereka ingin melihat cucunya." ucap Delia sambil kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang tuanya.
" Delia kamu sabar ya orangtuamu meninggal." ucap Thomas
" Tidak!!!" teriak Delia histeris
Markus memeluk Delia agar mengurangi rasa sakitnya. Delia pun membalas pelukan Markus sambil menangis.
" Aku tahu pasti hatimu sedih dan merasa kehilangan sama seperti diriku sedih karena kedua orangtuaku juga tadi siang meninggal karena kecelakaan." ucap Markus sendu
" Hiks... hiks... tidak ada lagi yang melindungiku. Mas Markus hiks... hiks... hiks... bolehkah aku minta satu hal darimu?hiks... hiks... hiks.." pinta Delia
" Apa itu Del?" tanya Markus
" Bunuhlah aku h!iks... hiks.. agar aku bisa bertemu dengan orang tuaku." ucap Delia terisak
Markus melepaskan pelukannya dan mendorong sedikit tubuh Delia kemudian menatap wajah Delia.
" Apa maksudmu Delia?" tanya Markus terkejut
__ADS_1