
" Buang kaca itu!!" Perintah Thomas.
" Aku tidak akan membuangnya." Ucap Gloria.
" Pegang tangan istriku." Perintah Thomas
Dua orang bodyguard berjalan ke arah Gloria dan terpaksa Gloria menancapkan pecahan kaca tersebut ke arah lehernya hingga mengeluarkan darah segar.
" Majulah maka kaca ini akan aku tancapkan ke leherku." Ucap Gloria
Ke dua bodyguard itu pun langsung menghentikan langkahnya sedangkan Thomas menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" Gloria aku mohon jangan lakukan perbuatan bodoh buang kaca itu." Perintah Thomas mengulangi perkataannya.
" Aku memang bodoh jadi menikahlah dengan orang yang lebih pintar dariku." Ucap Gloria sambil menancapkan kembali membuat pecahan kaca itu masuk lebih ke dalam leher Gloria.
" Gloria aku mohon hentikan." Mohon Thomas
" Aku akan berhenti dan membuang pecahan kaca jika pistolnya berikan padaku tapi jika tidak aku akan masukkan pecahan kaca ini lebih dalam lagi." Ucap Gloria yang wajahnya sudah mulai pucat karena darahnya tidak berhenti keluar.
Thomas terpaksa memberikan pistol tersebut ke Gloria karena dirinya tidak ingin kehilangan istrinya sudah cukup dirinya kehilangan putri bungsunya. Gloria menerima pistol itu tapi tangan kanan yang ingin memegang pistol itu tiba-tiba tangannya lemas membuat pistol tersebut terjatuh bersamaan dengan Gloria dan tangannya yang memegang pecahan kaca.
grep
Thomas langsung memeluk Gloria agar tidak terjatuh kemudian menggendongnya ala bridal style bersamaan dengan kedatangan dokter Hendrik dan Markus bersama keluarganya.
" Ada apa ini?" Tanya mereka serempak.
" Hendrik tolong obati istriku dulu dan kamu Markus tolong urus semuanya." Perintah Thomas.
" Jangan sakiti mereka aku mohon." Ucap Gloria dengan suara lirih sambil menatap wajah Thomas yang mulai buram.
" Iya sayang, aku tidak akan menyakiti mereka." Ucap Thomas akhirnya karena tidak ingin istrinya bersedih lagi.
" Terima kasih sayang." Ucap Gloria lirih sambil memejamkan matanya.
" Gloria aku mohon sadarlah." Mohon Thomas sambil masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan perlahan tubuh istrinya di ranjang.
__ADS_1
" Bisa menunggu di luar." Pinta dokter Hendrik.
" Aku suaminya dan aku ingin melihat apa yang kamu lakukan." Ucap Thomas.
Dokter Hendrik hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mulai membuka tas yang berisi peralatan dokter. Dokter Hendrik memasang infus kemudian mulai membersihkan luka yang berada di leher terlebih terlebih dahulu barulah tangan Gloria.
Dokter Hendrik mulai mengobati dan memberikan perban pada luka leher dan telapak tangannya.
" Lukanya tidak begitu dalam dan sebentar lagi akan sadar." Ucap dokter Hendrik
" Syukurlah." Ucap Thomas
" Sebelumnya aku turut berduka, sebenarnya apa yang terjadi? Aku mendapatkan kabar dari pelayanmu kalau putrimu meninggal terjatuh dari lantai dua dan kini istrimu juga terluka." Ucap dokter Hendrik
" Aku juga tidak tahu kenapa bisa terjadi aku hanya tahu dari kepala pelayan kalau putriku meninggal jatuh dari tangga. Aku sangat marah dan ingin menembak ke tiga baby sister tapi istriku menghalanginya dan aku memintanya untuk menyingkir tapi istriku tidak mau hingga istriku nekat melukai lehernya dengan pecahan kaca." Ucap Thomas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Aku tahu perasaanmu tapi kamu juga harus mengerti kalau istri kita tidak bisa melihat orang lain terluka di depan matanya." Ucap dokter Hendrik
" Aku tahu karena itulah tadi aku juga berusaha menahan emosiku karena istriku tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan dan akhirnya aku mengalah untuk tidak menembak ke tiga baby sister itu." Ucap Thomas.
" Kita bersyukur mempunyai istri yang sangat sabar, tidak pernah marah dan tidak bisa melihat orang lain terluka, istri kita berbeda dengan wanita lain." Ucap dokter Hendrik
Perlahan Gloria membuka matanya membuat dokter Hendrik berdiri.
" Aku dan Markus akan mengurus semuanya dan nanti kalau dimakamkan aku akan kabari." Ucap dokter Hendrik
" Terima kasih, aku bersyukur mempunyai sahabat seperti kalian." Ucap Thomas
" Sesama sahabat saling membantu jangan di saat senang baru ingat." Ucap dokter Hendrik
" Ya benar, di saat senang dan susah itu arti sahabat." Ucap Thomas.
" Ya betul." Jawab dokter Hendrik sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
" Sayang, apakah masih sakit?" Tanya Thomas sambil membelai rambut Gloria.
" Masih agak perih." Jawab Gloria sambil berusaha untuk duduk.
__ADS_1
Thomas melihat istrinya sedang berusaha untuk duduk membantunya dengan lembut.
" Sayang... hiks... hiks...hiks..." Ucap Gloria sambil terisak dan memeluk Thomas.
" Ssttt sudah sayang jangan menangis." Ucap Thomas sambil membalas pelukan istrinya.
( " Kenapa aku merasa yang meninggal bukan putriku tapi kalau bukan di mana putriku? Atau hanya perasaanku saja." Ucap Gloria dalam hati ).
Setelah lima menit kemudian mereka melepaskan pelukannya dan saling menatap. Thomas menghapus air mata istrinya dengan lembut sambil tersenyum walau hatinya sangat hancur putrinya meninggal dunia tapi dirinya harus kuat karena tidak ingin istrinya terlarut dalam kesedihan.
" Aku mau turun untuk mengantar putri kita ke tempat istirahat yang terakhir. Apakah istriku ingin ikut atau istirahat?" Tanya Thomas sambil mengusap rambut istrinya.
" Aku ikut sayang." Jawab Gloria.
" Baik." Jawab Thomas singkat
Merekapun menuruni anak tangga dan melihat banyak pelayat datang. Setelah melakukan prosesi pemakaman mereka keluar dari mansion menuju ke tempat pemakaman. Isak tangis Gloria membuat Thomas hanya bisa memeluk istrinya hatinya sangat sakit melihat kesedihan istrinya.
Setelah satu jam lamanya akhirnya satu persatu para pelayat pulang ke rumah masing-masing hanya tinggal Thomas, Markus, dokter Hendrik, Gloria, dokter Melani dan Goretti. Dokter Melani dan Goretti menghibur Gloria yang sedang bersedih dan membujuknya pulang karena ke enam anaknya masih membutuhkan dirinya.
Gloria akhirnya mau di ajak pulang dan merekapun meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Dokter Melani dan Goretti meminta suaminya untuk menginap seminggu agar bisa menghibur Gloria yang sedang bersedih dan dokter Hendrik dan Markus setuju merekapun tinggal di mansion milik Thomas.
Gloria yang bersedih kehilangan putri bungsunya yang bernama Cantika akhirnya bisa menjalani hari-hari seperti biasa berkat ke dua sahabatnya untuk tidak terlarut dalam kesedihan. Walau ada rasa sedih tapi Gloria dan Thomas berusaha untuk tegar terlebih masih ada enam anak yang membutuhkan perhatian mereka.
Tamat
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sension 2 berjudul Mafia VS Psychophat
Menceritakan tentang Thomas dan Gloria yang akhirnya bisa bertemu kembali dan berkumpul dengan Cantika setelah bertahun-tahun mereka berpisah dan kisah perjalanan cinta Cantika.
Sension 3 berjudul Cinta Pertama Mafia Dengan Cantika
Menceritakan tentang ke dua putra dan satu putri Thomas dan Gloria yang bernama Aleandro, Maximus dan Quenby dalam menemukan cinta pertama mereka.
__ADS_1