
selama dua hari ini Gilang benar-benar merawat Rindu dengan baik. kedua orang tua Gilang pun selalu menyempatkan untuk menjenguk Rindu.
"Lang.." panggil Rindu
"ya ada apa?"
"kamu tidak perlu terus-menerus berbohong tentang Adit" ternyata Rindu menyadari kalau selama ini dia di bohongi oleh sahabat-sahabat nya
"...dimana dia sekarang?dia masih hidup kan?" tanya Rindu yang mulai meneteskan air matanya. Gilang menyimpan buah yang di kupas nya dan menghampiri Rindu. dia mengelap air mata Rindu yang mengalir di pipi nya
"maafin aku Rin, aku bukan bermaksud membohongi mu dan aku memang akan menceritakan semuanya ketika kamu sudah benar-benar pulih"
"jadi dia masih hidup kan?" Gilang tersenyum mengangguk
"dimana dia sekarang" dengan berat Gilang menceritakan semuanya dan sempat membuat Rindu menangis sejadi-jadinya. Gilang membiarkan Wanita yang dia sukai meluapkan semuanya dengan Tangisan
"Lang aku mau menghubungi kakek Jordan, aku mau menanyakan kabar Adit" pinta Rindu tapi Gilang hanya diam karena dia dan sahabat Adit yang lainnya sudah mencoba untuk menghubungi Jordan ataupun Assisten nya tapi tidak tersambung. dan sampai sekarang semua pun tidak ada yang tau bagaimana keadaan Adit
"kamu kok diem aja, please Lang aku mau telpon kakek Jordan" Gilang pun terpaksa memberikan ponselnya yang sudah dia sambungkan dengan nomer Adit agar Rindu tau sendiri kebenaran nya.
Rindu mencoba beberapa kali menelpon nomor Adit dan Jordan yang di berikan Fatih pada Gilang tapi sama sekali tidak tersambung. Rindu menatap ponsel yang ada ditangannya dan meneteskan air matanya. Gilang yang melihatnya langsung memeluk Rindu, diapun masuk ke dalam dada bidang Gilang dan menangis sejadi-jadinya.
Arya, Fatih, Kania dan Lala yang baru saja masuk menyaksikan semuanya ikut bersedih. Kania dan Lala menghampiri Rindu dan ikut memeluknya.
"Rin lo sabar ya, lo harus yakin kalau Adit akan baik-baik saja" Rindu melepaskan pelukannya dan mengangguk.
"bro kata dokter Rindu sudah boleh keluar siang ini, tapi gue bingung dia harus tinggal dimana, ga mungkin kan dia langsung tinggal sendiri di dusun" bisik Fatih pada Gilang
"Lo tenang aja, memang rencana gue ajak dia pulang ke rumah gue karena nyokap sama bokap yang menyuruhku"
"serius?thanks ya bro" ucap Fatih sambil menepuk bahunya
"lo ga perlu berterimakasih, ini memang sudah rencana awal gue kok"
setelah turun surat keterangan bahwa Rindu benar-benar sehat para sahabatnya membantu dirinya membereskan semua barang-barang yang ada di rumah sakit.
__ADS_1
Gilang sudah menjelaskan rencananya untuk membawa Rindu pulang ke rumahnya karena kedua orang tua Gilang sangat ingin merawat Rindu, awalnya dia menolak karena dia tidak ingin lebih merepotkan keluarga Gilang karena selama ini keluarga Gilang sudah sangat membantunya, tapi setelah berbagai macam bujukan oleh Gilang dan para sahabat akhirnya Rindu menyetujuinya
sebelum pulang ke Rumah Gilang, Rindu mampir ke dusun tempat tinggal nya dulu untuk mengambil sisa-sisa barangnya, kelima sahabatnya melarang Rindu untuk bergerak dia pun pasrah duduk melihat sahabatnya membereskan semua barangnya. tidak banyak yang Rindu bawa karena memang dia menyewa dusun itu sudah lengkap dengan isinya, yang dia bawa hanya beberapa buku dan pakaiannya.
selesai membereskan dusun Rindu pergi menyerahkan kunci sekalian pamit pada pemiliknya. Rindu kembali melihat kamar yang di sewanya, berat sebenarnya dia harus keluar dari sana karena begitu banyak kenangannya bersama Adit disana. dia kembali meneteskan air matanya rasa sesak dalam dadanya membuat Rindu lemas untungnya Gilang yang ada di belakangnya dengan cepat menangkap tubuh Rindu.
"Rin kamu ga apa-apa?" ucap Gilang, keempat sahabatnya yang awalnya berjalan berada di depan Rindu langsung menghampiri Rindu yang duduk les di pangkuan Gilang
"Lang Rindu kenapa?" tanya Lala mewakili pertanyaan semuanya
"gue juga ga tau mending kita angkat dia ke dalam mobil" ucap Gilang. dia dan Fatih pun membantu Rindu berjalan dan masuk ke dalam mobil.
"kalian ga akan ikut ke rumah gue?"tanya Gilang pada keempat nya.
"kayanya ga Lang, Rindu butuh istirahat, gue titip dia ya oia dan ini" Fatih memberikan Kartu yang semula dititipkan Jordan padanya
"ini apa?" Gilang tidak mengerti dengan maksud Fatih, dia pun menjelaskan semuanya
"maaf Tih gue ga bisa, lo aja yang simpen kartu ini, gue dan keluarga gue sanggup kok membiayai Rindu"
"ga apa-apa bro gue ngerti" kata Gilang memotong pembicaraan Fatih sambil menepuk bahunya
"...kalau gitu gue pamit ya" Gilang pun berjalan menuju mobil dan segera pulang ke rumahnya.
Rindu terus diam dia menatap kosong keluar jendela di sisi kirinya. Gilang terus memperhatikan Rindu, dia merasa sedih melihat wanita yang dia cintai seperti ini. Gilang mengusap rambut Rindu "Rin lo ga apa-apa?" Rindu hanya menjawabnya dengan anggukan
***
kedua orang tua Gilang sudah mempersiapkan kamar khusus untuk Rindu, dan keduanya pun bersiap menanti kedatangan Rindu.
"Bun mau ada siapa sih kok kalian dari tadi melihat ke arah pintu terus" tanya Riska adik perempuan Gilang yang masih duduk di kelas 2 SMP
"kamu inget Rindu ga? sahabat abang Gilang waktu kecil" Riska mengelengkan kepalanya karena memang pada saat itu dia masih sangat kecil
"emangnya kenapa Bun?"
__ADS_1
"mulai hari ini dia akan tinggal disini bersama kita" Husna ibunda dari Gilang menceritakan semua kejadian yang menimpa Rindu dan membuat Riska yang mendengarnya ikut meneteskan air matanya
"kamu harus memperlakukan dia dengan baik, anggap dia sebagai kakak perempuan mu ya"
"siap bunda, Riska senang sekarang bisa mempunyai seorang kakak perempuan" katanya sambil mengelap bekas air mata yang ada di pipi nya.
mobil Peugeot hitam memasuki pekarangan rumah dan Gilang memakirkan mobilnya. asisten rumah Gilang membantu menurunkan barang-barang milik Rindu. Gilang memapah Rindu keluar dari mobil dan menuntunnya berjalan masuk kedalam Rumah.
kedua orang tua dan adik Gilang sudah menunggu Rindu di depan pintu
"Bunda Husna" tegur Rindu dan langsung memeluk tubuhnya. sejak dulu memang Rindu sangat dekat dengan Husna
"bagaimana keadaanmu sayang?"
"baik Bun, Ayah Budi" Rindu mencium punggung tangan Budi, dia mengkerutkan dahinya tidak mengenali gadis cantik di sebelah Husna
"dia Riska kamu ingat adik kecil Gilang?"
"Riska? kamu sudah sangat besar dan cantik" ucap Rindu. terakhir Rindu bertemu dengannya saat dia berusia 6 tahun, Riska tersenyum dan mencium tangan Rindu dan Rindu pun memeluknya
Husna dan Riska mengantarkan Rindu ke kamarnya. Rindu yang melihat kamar yang akan di tempatinya cukup luas di banding kamarnya yang dahulu.
"Bunda apa ini kamarku?"
" iya sayang kamar ini sekarang menjadi milikmu" jawabnya sambil membelai rambut Rindu. Rindu terharu dia langsung memeluk tubuh orang yang sudah dianggap nya ibu setelah ibundanya
"makasih Bunda"
"iya sayang sekarang kamu istirahat yaa" Rindu mengangguk, Husna dan Riska pun meninggalkan Rindu untuk istirahat.
Rindu duduk di pinggir kasur sambil memandang cincin yang ada di jarinya.
"Dit aku akan selalu menunggumu" katanya dan kembali meneteskan air matanya
PARA READERS YANG BAIK HATI MINTA VOTE NYA DUKUNG TERUS NOVEL RINDU TERIMAKASIH KETCUP BASAH DARI AUTHOR 😘 😘😘
__ADS_1