
Rindu tidak percaya apa yang di lihatnya tadi, semua serasa mimpi baginya. seseorang yang selama ini dia tunggu ada di hadapannya. kenapa Adit melakukan semua ini atau jangan-jangan Adit tidak mengingatku sama sekali? itulah yang ada di pikiran Rindu saat ini.
Air mata yang selama ini dia pendam untuk tidak keluar akhirnya sudah tidak bisa di tahan lagi. Rindu menangis mengeluarkan semuanya di toilet wanita. dia tidak peduli matanya yang akan memerah atau bengkak yang jelas dia tidak bisa menghentikan air matanya.
Rindu meraih ponselnya dan menelpon Kania karena dia adalah tempat Rindu menumpahkan semua isi hatinya.
"Kania" katanya dengan suara yang terisak
"Rindu lo kenapa?" jawabnya yang kaget mendengar suara berat Rindu
"Adit"
"ada apa dengan Adit?lo di mana sekarang? gue kesana"
"ga usah aku cuma mau bilang kalau Adit ada di dekat aku, dia juga bekerja di perusahaan ini"
"Apaaaa???lo serius? terus dia tegur lo?" Rindu terisak dia menangis semakin menjadi
"aku sama sekali belum bicara dengannya, tapi hati ku sakit kenapa Adit tidak mengabari aku selama ini"
"lo sabar ya, Adit pasti punya alasan kok untuk semua ini, apa perlu gue jemput lo kesana sekarang?"
"ga usah Kania aku hanya ingin bercerita dengan mu, aku balik kerja dulu ya"
"oke, pulang kerja gue jemput ya" Rindu pun mematikan ponselnya dan keluar dari toilet. sebelumnya dia menghapus air matanya dan memakai sedikit make up di wajahnya agar tidak terlihat seperti habis menangis.
seisi kantor sangat ramai membicarakan direktur baru perusahaan ini. Rindu berjalan di koridor kantor dan dia menyadari orang-orang sedang membicarakan direktur baru itu dan dia pun tidak peduli. dia terus melangkah kakinya pergi ke ruangan tempatnya bekerja
"Rin kamu dari mana? are you oke?" tanya Rizal yang merasa khawatir dengannya. Rindu hanya mengangguk dan langsung duduk di bangkunya melanjutkan kerjaannya.
"guyssss kita siap-siap gue denger direktur baru kita akan menyapa di setiap ruangan" teriak salah satu senior Rindu. semua orang sibuk merapihkan ruangan sebelum direktur baru itu datang. Rindu tidak tau siapa yang mereka maksud dan memang dia tidak berniat mau tau.
aba-aba dari senior yang menjaga di pintu kalau direktur sedang berjalan ke ruangan mereka. semua pun bersiap-siap berdiri menyambut kedatangannya.
__ADS_1
Rindu hanya menundukkan kepalanya dia tidak peduli siapa itu. sambil berdiri Rindu pelan-pelan mengerjakan tugas yang di berikan mengetik beberapa file yang memang harus selesai saat itu.
"selamat siang semua" sapa Soni yang baru memasuki ruangan Right Editor
"siang" jawab semuanya. Adit yang menyusul masuk keruangan itu langsung mencari keberadaan Rindu, di langsung menatap tajam ke arah Rindu yang sedang tertunduk.
"saya mau memperkenalkan direktur baru kita bapak Aditya Kendrick" Rindu yang mendengar nama itu sontak mengangkat wajahnya. kedua mata sepasang kekasih itu saling bertemu. Adit tersenyum dan memalingkan wajahnya sambil tersenyum juga pada yang lainnya.
"halo, kalian bisa panggil saya Adit, mohon kerjasama dan dukungannya" ucapnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya membuat semua yang berada di ruangan tepuk tangan.
setelah menyapa bagian Right Editor Adit pun keluar untuk menyapa bagian yang lainnya. setelah para rombongan direktur keluar ruangan para pegawai wanita langsung histeris.
"gilaaaa direktur baru cakep banget dan keliatannya masih sangat muda" kata salah satu dari mereka
"dia udah punya pasangan belum ya" ucap yang lainnya
"kalau belum juga dia ga akan lah melirik pegawai biasa kaya kita-kita" sahut yang lainnya lagi. suasana kala itu ramai memperbincangkan Adit.
Rindu duduk lemas dia hanya mendengarkan para wanita yang ada disana bergosip tentang Adit. ingin rasanya air mata nya jatuh tapi dia berusaha untuk menahannya.
"hey Rin ngelamun aja kerjaan kita banyak" ucap Rizal yang menyadarkan lamunannya
"eh iya" Rindu pun melanjutkan pekerjaannya
"Rindu ada telepon" teriak rekan kerjanya. Rindu pun berlari kecil mengangkat telpon yang tertuju padanya.
"ya halo ada yang bisa saya bantu"
"maaf Rindu anda di perintahkan ke ruangan direktur sekarang terimakasih" kata seorang wanita dan langsung menutup telponnya
Rindu mengambil ponsel yang ada di mejanya dan segera berjalan ke ruangan direktur seperti yang di perintahkan. ya Tuhan apa Adit ingin bertemu dengan ku? gumamnya. jantung Rindu sangat berdebar saat berjalan menuju ruangan Adit. ini adalah pertemuan yang sangat dinantikan selama ini olehnya.
"siang" sapa Rindu pada sekertaris yang berada di depan ruangan direktur
__ADS_1
"anda Rindu?"
"iya"
"silahkan masuk" katanya sambil membukakan pintu. Rindu pun masuk kedalam melangkahkan kakinya perlahan.
Dia melihat sekitar ruangan tapi tidak ada siapapun disana.
"permisi pak?" ucap Rindu tapi tetap tidak ada jawaban. Rindu membalikkan badannya berencana untuk keluar tapi betapa kagetnya dia melihat Adit yang sudah berada di belakangnya. Adit tersenyum dan langsung memeluk tubuh mungil Rindu. Adit menekan remote yang ada di tangannya agar semua jendela tertutup.
"apa kamu tidak merindukanku?" tanya Adit. Rindu tidak bisa menahan air matanya akhirnya menangis sejadi-jadinya, Adit hanya tersenyum menepuk bahu menenangkannya. selama 15 menit Adit membiarkan Rindu meluapkan rasa sedihnya.
Rindu mendorong tubuh Adit dan memukuli dada bidangnya, Adit memegang kedua tangan Rindu agar berhenti memukulnya, dia pun langsung mencium lembut bibir Rindu meluapkan rasa kangen yang selama ini dia pendam. Rindu hanya pasrah dan menerima setiap gerakan bibir Adit.
"aku sangat merindukanmu sayang" ucap Adit dengan pelan sambil menatap wajah Rindu. diapun merangkul tubuh Rindu menariknya untuk duduk.
"selama ini kamu kemana?" tanya Rindu, air matanya masih mengalir dengan sendirinya. Adit mengelap air mata yang jatuh di pipi Rindu dan mencium keningnya
"maafkan aku sayang ada alasan aku tidak menghubungimu, nanti aku pasti akan menjelaskan padamu, sekarang aku hanya ingin meluapkan rasa rinduku padamu" Adit kembali mengecup bibir manis Rindu entah sebesar apa rasa rindunya yang jelas keduanya sangat bahagia bisa bertemu kembali
"bagaimana bisa kamu jadi direktur disini" tanya Rindu
"ini kan salah satu perusahaan kakek, aku juga tidak menyangka kamu melamar di perusahaan ini"
"jadi aku keterima di sini karena kamu?" Adit tersenyum menggelengkan kepalanya
"ga sayang, itu semua karena kemampuanmu" katanya membuat Rindu tersenyum dan kembali memeluk tubuh Adit.
Adit langsung melepaskan pelukannya
"oia gimana ceritanya kamu bisa tinggal bersama Gilang?" Tanya Adit yang seketika wajahnya menjadi serius, Rindu hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaannya dan kembali memeluk tubuhnya.
TERIMAKASIH
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN DAN LIKE YA
follow ig Author yu \= @PenulisMicin ♥️😘😘😘😘