Cinta Rindu

Cinta Rindu
Sensitif


__ADS_3

Rindu duduk di samping jendela menatap langit gelap yang dihiasi beberapa bintang. Kenapa hari ini tidak ada bulan? ucapnya.


Ayah, ibu, aku menemukan orang yang menyayangiku. Saat nanti tiba, aku akan memperkenalkan dia pada kalian, ucap Rindu sambil menutup jendela dan langsung menuju ke tempat tidur.


Hari ini Rindu mengambil shift pagi untuk bekerja. Setelah selesai membersihkan diri dia keluar mengunci pintu dan langsung masuk menuju lift.


Tring .... pintu lift terbuka, dia kaget melihat Adit yang sudah berdiri di dalamnya sambil tersenyum.


"Kok kamu kesini pagi-pagi sih?" tanya Rindu. Adit meraih tangan Rindu dan menggenggamnya, kala itu suasana masih sepi.


"Sengaja jemput kamu lah," jawabnya.


"Kamu kok tau jadwal aku sih?" Adit hanya menatap Rindu tersenyum.


Keluar dari lift Adit masih memegang tangan Rindu, tapi dia menariknya. Sampai di parkiran Adit pun memakaikan helm padanya.


"Dit, aku nanya kok ga dijawab?"


"Iya sayang, apa sih yang aku ga tau tentang kamu, ayo naik,"


"Dit, berhenti!" ucap Rindu.


"Kenapa berhenti di sini? 'kan kedai masih ada di depan?" Rindu turun membuka helmnya dan memberikan pada Adit.


"Di sana 'kan ada Rendi, Dit. Nanti kalau dia liat kita gimana?" Adit menundukkan wajahnya


"Kamu kenapa?" tanya Rindu yang melihat pacarnya lesu.


"Apa segitu ga maunya kamu ngakuin kalau aku tuh pacar kamu?" Rindu tersenyum memegang wajah Adit hingga berhadapan dengannya.


"Belum waktunya Adit sayang, ya udah aku mau masuk dulu ya, sampai ketemu nanti siang di kampus." Adit tersenyum mendengar Rindu memanggilnya dengan sebutan sayang, dia menjalankan motornya mengikuti langkah Rindu.


"Kok ngikutin sih? kalau ada yang liat gimana?" cemas Rindu sambil menengok kanan kiri.


"Pulangnya aku jemput ya, ga ada kata ga." Rindu mengangguk pasrah diapun langsung masuk ke kedai.


"Pagi, Rindu." sapa Rendi yang sudah berada di ruang loker karyawan.


"Tumben ga telat?" ucap Rindu sambil menyimpan tasnya kedalam loker.


"Kangen sama Lo pengen cepet-cepet ketemu, eh taunya aku kepagian,"


"Diih, gombal banget sih." Rendi memang senang sekali menggoda nya.


"Rin, tugas Multikulturalisme lo udah bikin belum?" tanya Rendi sambil mereka membersihkan dan menata meja pengunjung.


"Udah aku cari bahannya di google aja, kamu belum?"


"Ketiduran gue, mana dosennya killer lagi gue doain sekarang dia ga masuk." Rindu hanya menggelengkan kepalanya dan lanjut bekerja.

__ADS_1


Kedai sudah beres dan saat nya dibuka, Rindu tidak menyangka pengunjung pertama adalah pacarnya sendiri. Ni orang kenapa kesini sih emang dia ga ada kerjaan apa? gumamnya dalam hati.


Rendi menghampiri Adit yang sudah duduk di tempat biasa di dekat jendela.


"Selamat pagi kak, mau pesan apa?"


"Lebay banget deh lo,bpesen nasi goreng spesial ya sama teh manis anget,"


"Tumben banget pagi-pagi lo udah kesini, btw buntut lo kemana? biasanya ngikut aja,"


"Gue laperlah. Mereka masih di alam mimpi kebanyakan dugem," Rendi tertawa.


"Ya udah, tunggu ya."


Adit menopang dagunya di atas meja, matanya terus menatap Rindu yang sedang melayani tamu lainnya. Rindu sadar kalau Adit memperhatikannya terus.


"Biar sama aku saja," kata Rindu dan dia mengantarkan pesenan yang di pesan oleh Adit. Adit tersenyum.


"mba, cantik banget sih, udah punya pacar belum?" goda Adit.


Rindu meletakkan pesanannya, "Ngapain kesini?"bisik Rindu, Adit menunjukan pesanan yang ada di hadapannya.


"Mau sarapan, emang apa lagi?"


" 'Kan bisa di rumah." Adit tidak menggubrisnya hanya tersenyum dan menyantap makanan yang dia pesan. Rindu hanya menggelengkan kepala dan kembali bekerja.


"Hey, bareng yu!" Rendi merangkul bahu Rindu dan membuatnya kaget.


"Kamu ngagetin aja, bareng kemana?"


"Ya ke kampus lah, kemana lagi?" mereka berjalan keluar kedai. Rindu tidak sadar Adit yang sudah berada di situ menatap tajam ke arahnya


"Aku mau mampir dulu ke toko buku, kamu duluan aja," ucap Rindu. Rendi pun melepas rangkulannya.


"Yakin ga mau bareng atau dianter ke toko buku?" katanya lagi yang sudah berada di atas motor kesayangannya, Rindu hanya mengangguk tersenyum Rendi pun pamit dan Rindu melambaikan tangannya.


Tidid ... tidid, suara klakson mobil menghentikan langkah Rindu. Dia tersenyum dan menghampiri mobil kekasihnya itu.


"Hai." sapa Rindu Adit membukakan pintu dari dalam dan hanya menatap lurus ke depan, Rindu mengkerut kan dahinya merasa aneh dengan sikap dingin Adit.


"Tadi pagi maaf ya, sampai ga liat kamu pergi." Adit masih diam, Rindu merasa tidak enak dengan Adit dia masih berfikir kalau Adit marah karena tadi pagi.


"Kamu marah? maafin aku tadi pengunjung sangat ramai jadi tidak bisa menyapamu lagi." tiba-tiba Adit membanting setirnya ke pinggir membuat Rindu merasa kaget.


"Kamu kenapa sih?" teriak Rindu.


"Baru kemaren janji ga akan deket sama cowok, eh tadi udah rangkul-rangkulan aja, enak banget ya!!" Rindu baru mengerti kenapa pacarnya bersikap seperti ini.


"Hahahahahaha ... Adit sayang, masa kamu cemburu sama Rendi sih? dia 'kan temen kita dan dia udah aku anggap seperti sahabat aku sendiri." jelasnya.

__ADS_1


"Tapi, tetep aja aku ga suka! aku aja belum pernah rangkul kamu depan umum." Rindu kembali tertawa.


"Kamu lucu juga kalau cemburu, imuuut deh." kata Rindu sambil mencubit pipi kanan Adit.


"Aaw ... sakit tau, kamu ya orang lagi serius malah di ketawain," kesal Adit.


"Habisnya kamu lucu. Eh Dit, ke toko buku dulu bentar, aku mau ambil pesenan bukuku." Adit pun memarkirkan mobilnya di depan toko buku sederhana yang sudah menjadi langganan Rindu.


"Kamu duluan aja, nanti aku tinggal jalan, makasih yah." Rindu pamit Adit melihat punggung Rindu semakin kesal padanya. Ga peka banget sih jadi cewek, gumamnya. Dia pun turun dari mobil mengikuti Rindu.


Adit berlari kecil dan dengan sengaja memegang tangan Rindu, "Adit kok turun? kalau ada yang liat gimana?" Rindu berusaha menarik tangannya tapi Adit menggenggam nya sangat erat, dia terus berjalan membuat Rindu pasrah mengikutinya masuk ke dalam dengan mengandeng tangan.


"Adit lepasin donk!!" dia hanya menatap sinis membuat Rindu terdiam pasrah. Hari ini dia kenapa begitu sensitif gumamnya dalam hati.


"Siang pak Bagus, buku pesanan aku udah ada belum?" tanya Rindu pada penjaga sekaligus pemilik toko buku.


"Siang, kebetulan Rindu bukunya belum datang masih dalam perjalanan, wah sekarang kayanya kamu udah punya kekasih ya? biasanya kesini selalu sendiri." sindir pak Bagus melihat tangan Rindu yang masih dipegang oleh Adit.


"Ya pak kenalin pacar Rindu, Adit." ucapnya mengulurkan tangan pak Bagus pun mengulurkan tangannya.


"Ganteng juga pacar kamu." Rindu hanya diam dengan wajah memerah, karena malu sedangkan Adit tersenyum dengan bangga


"Ya udah pak kalau bukunya sudah ada kabari aku ya." kemudian Rindu membalikkan badannya berjalan.


"Jangan cepet-cepet donk jalannya." ucap Adit, tapi tidak membuat Rindu menghentikan langkahnya.


"Aku ke kampus jalan kaki aja." kata Rindu berhenti di depan parkiran mobil Adit.


"Kenapa harus jalan bareng aja, sayang?"


"Kamu hari ini kenapa sih, 'kan kemaren udah janji kita bakal ngerahasiain dulu hubungan kita, tapi nyatanya kamu malah gandeng tangan aku di depan umum, terus tadi kamu malah bilang kita pacaran sama pak Bagus." kesal Rindu.


"Bukannya kamu dulu yang ngelanggar janji ga deket sama cowok lain? eh ini malah pake acara rangkul-rangkulan lagi." kata Adit yang tidak mau kalah. Rindu menarik tangannya kemudian langsung pergi meninggalkan Adit tanpa sepatah kata.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


WAIT FOR LIKES AND COMMENTS


😘😘

__ADS_1


__ADS_2