
akhirnya Rindu terpaksa mengikuti perkataan suaminya. setelah siap mereka pun berangkat ke kantor bersama. Rindu menunggu Adit di depan apartemen untuk mengeluarkan mobilnya yang ada di parkiran. Adit membukakan pintu mobil untuk istrinya dan mereka bergegas berangkat.
2 meter sebelum sampai di depan kantor Rindu memaksa suaminya untuk menurunkan dirinya di sana karena dia tidak ingin menjadi bahan gosip di kantor. setelah melalui perdebatan yang cukup lama akhirnya Adit mengalah karena pada dasarnya memang wanita akan selalu menang.
sesampai di kantor Rindu merasa aneh dengan tatapan semua karyawan terhadapnya, "kenapa orang-orang menatapku aneh?atau cuma perasaanku saja?" ucapnya dalam hati. dia melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke lift.
"Rindu" teriak Rizal yang juga baru datang saat itu. Rindu menghentikan langkahnya menunggu Rizal menghampirinya.
tanpa bicara Rizal menarik tangan Rindu menuju ruang coffe.
"kamu ada hubungan sama pak Adit? sumpah kamu jadi tranding topik di grup kantor tau" ucapnya membuat mata Rindu melotot. dia mengambil ponsel Rizal dan melihat foto yang entah dikirim oleh siapa. Foto dirinya yang keluar dari apartemen bersama Adit.
"dia plakor?"
"baru jadi assisten pribadi aja udah plus plus"
"wah jangan-jangan mereka kemaren perjalanan bisnis ke Bali udah ting-ting lagi hahaha"
"keliatannya aja cewek kalem"
"gue ga nyangka dia seperti itu"
"hah?? hati-hati ada plakor"
dan masih banyak lagi isi chat yang ada di grup itu. berhubung Rindu tidak masuk dalam grup karyawan jadi dia tidak mengetahui berita yang sudah menghebohkan satu kantor. Rindu duduk tertunduk dan meneteskan air matanya, Rizal merasa bersalah menghampiri Rindu dan menepuk bahunya.
"aku yakin kamu bukan orang seperti itu" ucapnya menenangkan Rindu
"Zal aku harus bagaimana??" katanya masih dalam tangisan. memang nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau Rindu harus mengumumkan bahwa dirinya adalah istri sah dari direktur mereka. Dirinya tidak mau mendapatkan cap sebagai seorang pelakor.
"sebenarnya apa hubungan kamu sama pak Adit? biar kesalahpahaman ini ga berlanjut Rin"
"aku istrinya" ucap Rindu. Rizal yang terkejut dengan perkataan Rindu mundur selangkah dari posisinya. "what ??? selama ini aku berhadapan langsung sama istri dari pemilik perusahaan ini" ucapnya dalam hati
"kamu ga perlu merasa canggung gitu Zal, sebenarnya aku tidak mau sampai orang-orang tau hubungan aku sama Adit, tapi kalau situasinya seperti ini kayanya....." Rindu menarik nafas dalam tidak melanjutkan omongannya. dia benar-benar merasa bingung saat ini, entah apa yang dia katakan pada Adit, dan kalau sampai Adit tau dia akan marah besar dan Rindu tidak mau ini terjadi.
"ma-maafkan aku selama ini ya Rin eh bu" ucap Rizal yang mulai merasa tidak enak bicara dengannya. melihat Rizal yang gelagapan membuat Rindu seketika tertawa dan melupakan rasa sedih nya.
"hahaha kenapa kamu seperti itu, panggil aku Rindu seperti biasa, ini salah satu alasan aku menyembunyikan statusku karena tidak ingin merasa di bedakan" Rizal tersenyum, rasa canggungnya seolah-olah menghilang.
__ADS_1
"jadi gimana rencana kamu selanjutnya?"
"entah, aku takut kalau Adit sampai mengetahui nya dia akan marah besar dan memecat semua orang yang menghujatku di grup"
dret dret ponsel Rindu berbunyi
"suami kamu?" tanya Rizal dan Rindu mengangguk
"Zal aku ke ruangan dulu ya, terimakasih untuk hari ini" ucapnya dan langsung berlari kecil
"kamu dimana? kenapa belum datang?"
"ini lagi di lift sayang, sebentar lagi aku sampai" ucap Rindu dan langsung mematikan ponselnya.
selama perjalanan menuju ruangan Adit orang-orang menatap sinis ke arahnya sambil berbisik. kini Rindu tidak merasa aneh lagi kenapa hari ini semua orang memperhatikan nya, dia tidak peduli dan memilih mempercepat langkah kakinya menuju ruangan Adit.
"pagi bu" sapa sekertaris Adit
"pagi" jawabnya sambil tersenyum dan segera masuk ke dalam ruangan. saat Rindu masuk Adit langsung menutup jendelanya memeluk sang istri dengan erat dan mencium kasar bibirnya.
"emm suayuangn kuamu kenuapa" ucapnya yang masih dalam ciuman Adit.
"ohh tadi..." Tuhan apa yang harus aku katakan pada Adit cemasnya dalam hati
"tadi apa? kok diem? kamu punya hubungan sama dia?"
"ga bukan gitu ta....." belum selesai Rindu menjelaskan Adit langsung berjalan ke mejanya dan menekan tombol telepon "panggilkan Rizal bagian Right Editor" titahnya dan menutup telponnya segera.
"sayang maksud kamu apa sih yank? please jangan kaya gini"
"kamu udah buat aku cemburu, dan aku butuh penjelasan"
"aku hanya minum kopi aja yank"
"terus kenapa dia memegang tanganmu? kalau kalian tidak ada hubungan tidak mungkin seperti itu" kini Adit benar-benar emosi, percuma Rindu menjelaskan pada Adit dia tidak akan percaya.
tok tok tok
"pak, Rizal sudah datang" kata sekertarisnya di balik pintu
__ADS_1
"masuk" Adit duduk di sofa di ikuti Rindu. Rindu hanya pasrah dengan keadaan, awalnya dia ingin menyembunyikan masalah ini tapi ujung-ujung nya terbongkar juga.
"pa-pagi pak" sapa Rizal. Rindu menatap Rizal merasa bersalah, dan dia sudah tau kenapa dirinya di panggil oleh Adit karena dirinya sudah berani-beraninya mendekati istrinya
"duduk" titah Adit
"...ada hubungan apa antara kamu dan Rindu?"
"kami hanya rekan kerja pak" Rizal menundukkan wajahnya karena takut
"kenapa kamu memegang tangannya dan masuk ke ruang coffe?" tanya Adit seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat
"Adit please jangan di besar-besarin" bisik Rindu memegang tangannya
"diem aku nanya Rizal" bentak Adit.
Rindu menggelengkan kepalanya saat Rizal hendak menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"kenapa diam?kamu ada hubungan sama dia?"
"ga pak, tadi saya hanya ingin membuatkannya kopi itu aja"
"cuma itu?"
"iya pak" Adit melirik ke arah Rindu dan dia mengangguk membenarkan perkataan Adit.
"kali ini kamu aku maafkan tapi sekali lagi saya melihat kalian berduaan saya tidak akan tinggal diam, ya sudah kembali sana bekerja" Rizal pun pamit dan melangkah keluar ruangan
"sayang kenapa sih sekarang kamu mulai ga percaya sama aku?" tanya Rindu yang mulai mengeluarkan emosinya
"kamu tau aku tidak suka lihat kamu dekat sama laki-laki apa lagi tadi sampai pegangan tangan" Rindu tersenyum, dia mengerti suaminya yang sangat posesif itu benar-benar cemburu, Rindu menarik wajah Adit dan langsung mencium lembut bibirnya, Adit yang mendapat serangan mendadak dari sang istri langsung menyambutnya.
"sayang ini kantor" ucapnya pelan
"aku tidak peduli" Dan Adit melanjutkan aksinya sampai mereka hanyut terbawa suasana.
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAAA.....
__ADS_1
😘♥️