
sudah 5 bulan hubungan Rindu dan Adit berjalan. mereka semakin dekat, rasa yang dan cinta Rindu pun semakin banyak kalau Adit jangan di tanya cinta dan sayang dia mengalahkan cinta pada dirinya sendiri.
"sayang nonton ini yu"kata Adit yang sedang tidur santai menunjukan ponsel nya pada Rindu yang sedang mengerjakan tugas di meja dekat kasurnya.rindu meraih ponsel Adit dan hanya menggelengkan kepalanya kembali mengerjakan tugasnya.
"sayang kita akhir-akhir ini jarang kencan loh, kamu selalu sibuk kerja sekalinya libur kamu malah ngerjain tugas" Rindu membalikan badannya menghadap Adit yang sedang merajuk. "Adit sayang kita kan memang banyak tugas, kamu enak banyak waktu buat ngerjainnya aku kan harus nunggu waktu libur baru bisa ngerjain semua tugas dan lagi sebentar lagi kita bakal ujian" kesal Rindu tapi Adit tetap saja memasang wajah yang cemberut
"sayang kenapa sih kamu harus kerja, aku kan sudah berapa kali bilang ke kamu kalau aku sanggup buat biayain kehidupan kamu" Rindu menarik tubuh Adit sehingga dia menjadi duduk dan berhadapan dengannya, Rindu pun memeluk tubuh Adit "terimakasih sayang untuk perhatian kamu, tapi aku tidak bisa menerima kebaikan mu"
"kenapa? wanita lain sangat ingin jadi pacarku untuk mendapatkan apapun yang mereka mau" Rindu hanya tersenyum dia sudah biasa berdebat masalah ini sama Adit.
"karena aku bukan wanita lain yang ada di pikiran kamu dan hanya ingin uang kamu" ucap Rindu dia pun kembali mengerjakan tugasnya. Adit memeluk Rindu dari belakang meletakan dagunya di pundak Rindu.
"sayang keluar yu, kalau kamu ga mau nonton kemanapun " ucapnya dengan nada yang manja, Rindu tersenyum melihat kelakuan manja pacarnya "ya udah 15 menit lagi ya, setelah itu kita pergi" Adit mengangguk, dia terus memeluk tubuh pacarnya melihat Rindu mengerjakan tugas, sesuai yang di katakan Rindu setelah 15 menit dia pun menutup bukunya dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Adit.
"aku ganti baju dulu" ucap Rindu
Rindu pun siap dengan gaun warna peach selutut, rambut yang di gerai wajah Rindu terlihat sangat cantik walaupun dia tidak pernah memakai riasan sedikitpun di wajahnya.
"ayo, kok bengong?"tanya Rindu karena dari tadi Adit terus menatap dan terpana akan kecantikannya yang alami.
"iya sayang ayo" Rindu mengunci kamarnya Adit merangkul pinggang Rindu berjalan menuju lift.
tring.... (lift terbuka)
"Farel?" teriak Rindu dan menepiskan tangan Adit yang ada di pinggangnya, Adit pun kaget dengan reaksi pacarnya
"mau kemana? trus ini siapa?" Farel menunjuk Adit yang wajahnya terlihat masih kaget. Adit menatap tajam ke arah Rindu meminta penjelasan
"Farel kamu sama siapa? kenapa ga ngomong kalau mau kesini, ayo masuk" Rindu segera membuka pintu kamar untuk saudara tirinya itu. Adit dengan pasrah mengikuti langkah mereka
"oia Dit kenalin ini saudara tiri aku Farel" Adit mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Farel
__ADS_1
"kamu siapanya Rindu" pertanyaan yang membuat Rindu kaget
"aku pacarnya Rindu" jawabnya. suasana kala itu sangat tegang keduanya saling menatap tajam.
"Farel kenapa kamu ga ngomong kalau ke Jakarta, kan aku bisa menjemput mu di terminal" Rindu berusaha memecahkan suasana kala itu
"maafin aku yang datangnya mendadak tapi maaf aku hanya ingin bicara berdua dengan mu" Rindu langsung melirik pada Adit, Adit sadar keberadaan nya disitu belum di anggap oleh saudara tirinya diapun pamit pulang pada Farel
"sayang kabari aku nanti kalau ada apa-apa" kata Adit mecium kening Rindu. "kamu masuk kasian Farel nungguin" Rindu hanya mengangguk dan masuk kedalam.
"kamu udah lama pacaran sama dia?"tanya Farel
"lumayan, btw apa yang mau kamu ceritain sama aku" Rindu langsung duduk di sebelah saudara tirinya. Farel membuka resleting tasnya mengeluarkan map coklat
"ini apa?"
"kamu buka aja sendiri" Farel tidak sanggup untuk mengatakannya
"ini maksudnya apa rel?" Rindu meneteskan air matanya, dia tidak menyangka bahwa ibu tirinya tega menjual rumah satu-satunya kenangan yang di tinggalkan kedua orang tuanya
"kalau aku tanda tangani ini kalian tinggal dimana?"
"ibu sudah membeli rumah di daerah bandung kota, baru DP sih tinggal nunggu pelunasan saat rumah ini laku terjual, dan sekarang rumah ini sudah ada yang mau membeli jadi butuh tanda tanganmu untuk bisa menjualnya, tapi kalau kamu keberatan jangan kamu tandatangani aku juga tidak akan memaksa mu, aku rela kehilangan pendidikan ku demi kamu"
Rindu masih meneteskan air mata di pipinya dia memeluk tubuh saudara tirinya itu "Rel kamu laki-laki dan kelak kamu akan menjadi kepala keluarga, aku ingin kamu tetap melanjutkan kuliahmu, rumah itu biarlah menjadi kenangan dalam hidupku, suatu saat nanti aku pasti akan memilikinya kembali" Rindu melepaskan pelukannya dia pun langsung menandatangani kertas yang ada di tangannya.
"Rindu apa kamu serius?" Rindu tersenyum mengangguk
"maafkan aku, kali ini aku tidak bisa membela dan membantumu maafkan aku" Farel tertunduk dia menangis menyesal
"Farel kamu satu-satunya saudara yang aku miliki, aku sudah menganggapmu kakak laki-laki ku makasih ya selama ini kamu selalu berusaha membela ku sampai kamu ikut-ikutan dibenci oleh ibu, seharusnya aku yang minta maaf padamu maafkan aku selama ini selalu menyusahkan mu"
__ADS_1
"ga Rindu kamu ga pernah salah ibu dan saudaraku lah yang terlalu serakah"
"nih, aku ikhlas walau aku tidak mendapat bagian apa-apa aku hanya ingin kamu selesaikan pendidikanmu"di surat itu memang tertulis bahwa Rindu menyetujui bahwa dia tidak akan mendapat sedikitpun dari hasil penjualan rumah yang memang rumah itu sebagai warisan untuk semuanya. Farel menatap Rindu dengan rasa bersalah
"makasih ya Rindu, aku selalu berdoa pada Tuhan agar kamu selalu bahagia dan menemukan orang yang bisa menjaga dan membuatmu bahagia" Farel kembali memeluk tubuh Rindu
"terimakasih Farel aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan saudara sebaik dirimu,oia apa kamu mau makan sesuatu ? mending kita sekarang keluar untuk mencari makanan" tanya Rindu melepaskan pelukan Farel
"Tidak Rindu aku harus segera pulang"
"kenapa secepat itu " Farel berdiri dari duduknya di ikuti Rindu
"ibu menyuruhku untuk segera pulang, maafkan aku"
"sudah berapa kali kamu meminta maaf, ya udah aku antar sampai terminal ya"
"jangan biar aku pergi sendiri kamu cukup antar aku sampai bawah saja" mereka pun turun kebawah
"Rindu sampaikan salam ku pada Adit, maafkan aku sudah membuat acara kalian batal"
"iya nanti aku akan sampaikan, kamu hati-hati di jalan ya kabari aku kalau sudah sampai dan sampaikan salam ku pada ibu dan kak Fany"
Rindu terbuat dari apa hatimu, mereka selalu menyakitimu tapi kamu tetap saja memperdulikan mereka kata Farel dalam hati
" iya Rin akan aku sampaikan, katakan padaku kalau Adit menyakitimu akan ku buat perhitungan padanya" Rindu dan Farel tertawa. Farel pun pamit pergi
Rindu merebahkan badannya di atas tempat tidur menatap foto keluarga saat dirinya masih berusia 9 tahun itu foto terakhirnya bersama ibunda nya tersayang
"bunda, ayah maafkan Rindu tidak bisa mempertahankan Rumah kita tapi rindu janji akan memilikinya kembali " kata Rindu entah sudah berapa butiran air mata yang jatuh di pipi nya.
TERIMAKASIH YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBACA NOVEL RINDU
__ADS_1
TERUS IKUTI KISAH NYA YAA 😘😘
DITUNGGU LIKE DAN KOMENNYA