Cinta Si Culun Dan Si Bisu

Cinta Si Culun Dan Si Bisu
Bab 10. Menemui Papa William


__ADS_3

Seorang lelaki culun tapi nampak tampan dengan kaos pendek dan celana panjang jeans nya sedang mengendarai motor Kawasaki Ninja kesayangan nya.


Lelaki culun itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membelah ramainya hiruk pikuk lalu lintas di jalan. Tak lama berselang motor yang dikendarai lelaki culun tersebut memasuki sebuah mansion yang luas dengan bangunan megah bak istana di dalamnya.


Lelaki culun itu memarkir motornya di garasi yang tersedia di halaman mansion itu. Pak Arga, satpam yang bertugas menjaga bagian depan mansion terlihat menghampiri si culun.


"Pagi, Tuan Muda! " salam hormat Pak Arga pada lelaki culun yang baru selesai memarkir motor kesayangan nya.


"Pagi juga, Pak Arga! " sahut lelaki culun itu dengan ramah dan tersenyum.


Si culun berjalan memasuki rumah keluarga Addison yang megah dan mewah. Bangunan yang dibangun keluarga Addison terkesan putih bersih dengan nuansa putih yang mendukungnya.


Rumah yang besar, megah dan mewah ini tampak kosong. Tak ada satu orang pun di dalam rumah. Hanya terlihat Bik Inah dan asisten rumah tangga lainnya yang sibuk bekerja.


"Pagi, Tuan Muda. Mau minum kopi atau teh, Tuan Muda? Sudah sarapan belum, Tuan Muda? " sapa Bik Inah sekaligus bertanya pada lelaki culun yang dilihatnya baru datang.


"Pagi Bik Inah. Saya sudah sarapan. Teh manis hangat saja ya, Bik! " jawab lelaki culun itu singkat.


"Pada kemana semua ya, Bik? Rumah kok kosong? " tanya si culun kembali pada Bik Inah.


"Iya, Tuan Muda. Nyonya pergi arisan ke rumah teman nya. Tuan Besar ke kantor. Kalau Tuan Muda Romy kuliah." jawab Bik Inah komplit.


"Ohh oke.... makasih Bik! " ucap si culun pada Bik Inah yang sudah memberikan penjelasan komplit.


Lelaki culun itu menyesap teh manis hangat yang sudah disediakan Bik Inah di meja makan.


Si culun memandang setiap sudut rumah. Rumah besar ini jika semua penghuni nya tidak ada maka sunyi sepi hanya suara burung-burung yang ramai berkicau.


Setelah puas duduk beristirahat sambil minum teh, si culun berjalan ke halaman belakang rumah yang terdapat kebun bunga dan sebuah kandang burung ukuran besar yang di dalam nya ada beberapa ekor burung murai kesayangan Papa nya.


Selesai menengok burung-burung dan kebun bunga, lalu lelaki culun itu pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Si culun menukar baju yang dikenakannya dengan kemeja tangan pendek dan celana panjang hitam. Dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor Papa nya.

__ADS_1


Si culun mengeluarkan mobil Pajero sport nya dari garasi dan kembali menutup pintu garasi. Pak Arga dengan sigap membuka pintu pagar besi yang menjulang tinggi itu, hingga mobil yang dikendarai si culun keluar dan pergi, lalu kembali menutupnya.


Si culun melajukan mobilnya memecah keramaian lalu lintas di jalan. Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai si culun memasuki area parkir gedung yang berlantai lima.


Gedung yang menjulang tinggi ini terdiri dari lima lantai. Semuanya ini adalah milik Addison group yang sangat terkenal.


Perusahaan yang dibangun dan dirintis oleh William Addison ini bergerak utama di bidang kelapa sawit dan yang baru dirintis adalah bidang property. Perusahaan ini berkembang sangat pesat di bawah pimpinan yang bertangan dingin seorang William sebagai CEO director nya.


Lelaki culun itu memasuki kantor Papa nya. Sang satpam mengangguk hormat pada si culun. Demikian juga dengan bagian reception, mereka berdua mengangguk hormat sebab mereka semua sudah mengetahui siapa lelaki culun itu sebenarnya.


Si culun berjalan ke arah lift perusahaan dan memasuki lift pada saat pintu lift terbuka. Di tekan nya angka lima, tempat dimana ruangan direktur berada.


Begitu sampai di lantai lima, pintu lift pun otomatis terbuka. Lelaki culun itu melangkahkan kakinya keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan direktur.


Ruangan di lantai lima ini sebenarnya ada empat tapi yang terisi hanya tiga ruangan yaitu ruangan utama untuk direktur, ruangan wakil direktur dan ruangan sekretaris.


Sementara ruangan yang kosong tersebut sudah dipersiapkan direktur untuk anaknya belajar menjadi calon penerus.


"Ceklek.... "


Lelaki culun itu membuka pintu dan masuk ke ruangan direktur, tak lupa dia menutup pintunya kembali.


"Siang, Pa! " sapa lelaki culun itu hormat pada Papa nya.


"Siang juga, Ke! Tumben kamu datang ke kantor Papa! " sahut Papa William dengan senyum di bibirnya menyambut kedatangan putra pertama nya.


"Iya, Pa! Jadi Keke gak boleh ke kantor Papa nih? " ledek Keke menanggapi omongan Papa nya. Papa William tertawa mendengar ledekan anaknya.


"Bagaimana mungkin Papa melarang kamu datang ke kantor?! Justru Papa pengen kamu cepat-cepat bergabung di sini! " ucap Papa William sehabis menyelesaikan tawanya.


Keke tersenyum menanggapi omongan Papa nya. Dia duduk di sofa yang ada dalam ruangan Papa nya. Papa William juga bergabung duduk di sana. Tapi sebelumnya Papa William sempat menghubungi sekretaris nya untuk membawakan minuman ke ruangan nya.


"Bagaimana kesehatan nenek, Ke? " tanya Papa William teringat pada mama nya.

__ADS_1


"Baik, Pa. Nafsu makan nya bagus, hanya biasa kaki yang sudah agak lemah. Secara keseluruhan bagus, Pa! " jawab Keke menerangkan keadaan kesehatan neneknya.


Tampak Papa William menganggukkan kepalanya.


"Kamu, ada apa datang kesini, Ke? " tanya Papa William kembali yang mengingat tumben-tumben nya Keke datang ke kantor. Biasanya kalau tidak dipaksa tidak akan datang.


"Apa tawaran Papa masih berlaku? " Keke malah balik bertanya ke Papa nya.


Papa William berpikir sejenak tentang maksud omongan Keke. Akhirnya tersungging senyuman lebar di bibirnya.


"Oh tentu saja masih berlaku dong!" jawab Papa William senang.


"Kamu sudah siap, Ke? Kapan mau mulai nya? " tanya Papa William lagi dengan mimik wajah yang bahagia.


Bagaimana tidak senang dan bahagia, anak pertama nya yang ditunggu-tunggu untuk belajar menjadi penerus Addison group akhirnya menyatakan siap untuk belajar dan masuk kantor.


"Siap, Pa! Tapi Keke tidak bisa masuk tiap hari, Pa! Kalau boleh, Keke masuk hari Selasa-Kamis-Sabtu aja, Pa! Sebab Keke masih terikat kerja di tempat lain yang masuknya seminggu tiga kali aja. Gimana, apa Papa tidak keberatan Keke masuk seminggu tiga kali? " terang Keke panjang lebar pada Papa nya.


"Papa sih tidak masalah, Ke! Ini kan kamu tahap belajar dulu selama tiga bulan, nanti kalau sudah lewat masa belajar atau training nya kamu harus masuk tiap hari. Setuju gak, Ke? " Papa William menjelaskan dan meminta persetujuan Keke.


"Oke, Pa! Keke setuju! " sahut Keke antusias.


"Semoga kamu cepat belajar ya, nak! Jadi Papa bisa santai nantinya! " doa tulus Papa William yang terucap di depan putra pertama nya yang pintar ini.


Keke menganggukkan kepala nya dan tersenyum di bibirnya.


*


*


bersambung.....


_______________________________________

__ADS_1


__ADS_2