
Pagi hari nan cerah, burung-burung ramai berkicau menyambut sinar mentari pagi.
Amelia yang setiap pagi bangun tidur selalu membantu Ibu nya menyiapkan makanan dan bahan-bahan yang akan dibawa ke kantin.
Setelah Ibu nya pergi lebih dulu, Amel membersihkan rumah, menyapu, mengepel dan mencuci piring-piring kotor. Lalu setelah semua selesai, Amel baru mandi, bersiap-siap pergi ke kantor Addison group.
Begitulah rutinitas Amel setiap harinya. Kecuali hari Minggu baru Amel bebas tugas. Dia bisa bangun lebih siang dan lebih santai sedikit.
Hari ini tampak Amel sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dia mengenakan kaos dan celana panjang jeans. Penampilan Amel selalu sederhana karena memang dia adalah gadis remaja yang sederhana dan berwajah manis.
Setelah mengunci pintu rumahnya yang kecil itu, Amel langsung berangkat dengan angkot ke kantor Addison.
Sesampainya di kantor Addison, Amel langsung menuju kantin kantor tempat Ibu nya berjualan. Amel meletakkan tas nya pada laci meja yang khusus dibuat Ibunya untuk menyimpan tas dan barang-barang berharga lainnya. Lalu Amel mulai membantu Ibu nya.
Sementara itu di ruangan Antonio, Dewi sang sekretaris sedang meminta tanda tangan Antonio.
"Pak..... apakah Bapak ingin memanggil Amelia hari ini? " tanya Dewi yang meminta kepastian dari bos nya.
"Iya, Wi! Nanti siang saja setelah lewat jam makan siang, setelah dia sudah gak gitu sibuk di kantin! " ucap Antonio sambil menyerahkan berkas file-file yang sudah di tanda tangani.
"Siap, Pak! " jawab Dewi sigap. Lalu dia kembali ke ruangan nya. Dewi langsung menelpon Yudha. Dia meminta tolong Yudha sebagai personalia untuk membawa Amelia ke ruangan Antonio sehabis lewat jam makan.
Jam makan siang tiba, kantin Addison group tampak ramai. Begitu juga dengan kantin Bu Wati yang ramai pengunjung nya.
Amel sibuk mengantarkan pesanan-pesanan yang sudah di order ke meja mereka masing-masing. Dengan memakai celemek di pinggangnya dan tangan kiri membawa nampan, Amel tampak cantik dan manis. Dia sudah terbiasa melayani orang-orang kantor yang bekerja di Addison group.
Jam sibuk Amel berangsur sedikit demi sedikit berkurang karena waktu jam makan sudah habis. Sekarang waktunya Amel sibuk membersihkan piring-piring, sendok-garpu dan gelas-gelas yang kotor.
Pada waktu Amel sedang melap piring-piring tersebut dan menyusunnya dengan rapi di rak piring, Mela datang menghampiri Amel.
"Mel, bisa ikut dengan saya sebentar? " tanya Mela perlahan agar tidak membuat kaget Bu Wati.
Pasalnya Mela tidak mau membuat Bu Wati kaget atau berpikiran macam-macam jika tahu bahwa bos Addison mau ketemu dengan Amel.
"Iya, Mbak Mela! Sebentar saya rapihkan piring dulu ya! " jawab Amel polos. Mela menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Neng Mela mau bawa Amel kemana ya? " tanya Bu Wati tiba-tiba. Ternyata beliau mendengar ucapan Mela walaupun sudah diucapkan secara perlahan.
"Oh.... hanya ke dalam kantor saja Bu! Dewi teman saya pengen ketemu sama Amel! " ucap Mela yang terpaksa berbohong pada Bu Wati.
"Baiklah Nak Mela! Maafkan jika anak saya ada salah ya! " ujar Bu Wati yang merasa takut Amel berbuat salah.
"Oh gak kok Bu! Ibu tenang aja ya! " ucap Mela yang berusaha menenangkan Bu Wati.
Setelah piring-piring rapih tersusun dan membuka celemeknya, Amelia pun pamit pada Ibu nya dan mengikuti Mela untuk masuk ke dalam kantor Addison.
Mela membawa Amelia ke ruangan personalia untuk bertemu atasan nya, Yudha.
Amelia duduk di hadapan Yudha. Sementara Yudha berpikir dalam hatinya untuk bertanya apa terhadap Amelia ini.
Ponsel Yudha berbunyi. Setelah melihat siapa yang menelpon nya, Yudha langsung memencet tombol untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Wi.... " sapa Yudha ketika baru menjawab ponselnya.
"Yud, kamu udah manggil si Amel belum? Kok belum dibawa naik ke atas? Buruan panggil, mumpung Pak Antonio masih senggang nih! " cerocos Dewi di ponselnya Yudha.
"Iya, Wi! Ini Amel udah ada di ruangan saya! " jawab Yudha cepat.
"Dasar gelo! Kalau bukan sahabat istri gua, udah gua omelin tuh orang! " sungut Yudha dalam hatinya yang dongkol dengan sikap Dewi.
Yudha menatap gadis kecil yang ada di depan nya. Lalu tersenyum.
"Mel, kamu ada waktu sebentar kan? Pak Antonio ingin bertemu kamu! " ujar Yudha pada Amel.
Amel yang mendengar nama Antonio di sebut jadi merasa takut.
"Kalau boleh tahu, kenapa ya Pak Antonio mau ketemu saya, Pak? " tanya Amel dengan sedikit takut pada Yudha.
"Saya juga kurang tahu kenapa, Mel. Mungkin ingin bincang-bincang dengan kamu! " jawab Yudha. Lalu Yudha mengajak Amelia untuk naik lift ke lantai lima, dimana tempat susunan direksi berada.
Yudha membawa Amel ke ruangan Dewi, sekretaris. Lalu setelah mengantar Amel, Yudha langsung pamit untuk balik ke ruangan nya kembali.
__ADS_1
Dewi tersenyum pada gadis manis itu yang masih berdiri dengan canggung.
"Kamu gak usah takut ya, Mel! Pak Antonio baik kok! " ucap Dewi menenangkan Amel yang wajahnya sudah tampak pias.
Amel cuma bisa menganggukkan kepala saja. Dia merasa takut Pak Antonio marah dengan dirinya yang sudah lancang mengirimkan hadiah-hadiah kecil yang harga nya tidak seberapa.
Dewi mengantarkan Amel untuk masuk ke ruangan Antonio. Antonio mempersilahkan Amel untuk duduk di hadapan nya. Amel patuh dan duduk dengan canggung di hadapan Antonio. Dewi pamit untuk kembali ke ruangan nya.
Antonio menatap Amel yang ada di hadapan nya. Amel menundukkan kepalanya.
"Amel..... makasih ya sudah repot-repot mengirimi saya hadiah-hadiah! " ucap Antonio membuka pembicaraan dengan Amel.
Amel mengangkat wajahnya. Dia menatap Antonio yang ada di depan nya. Wajahnya yang pias terlihat bertanya-tanya.
"Bapak gak marah saya kirim barang-barang itu? " tanya Amel dengan takut-takut.
"Saya gak marah, Amel! Saya berterima kasih sama Amel! Walaupun saya tidak memakainya tapi bisa berguna untuk orang lain! " jawab Antonio tulus dengan bibir tersenyum.
"Kirain Bapak gak suka dan marah sama saya! " sahut Amel lagi.
"Bukan maksud saya untuk melarang Amel ya.... tapi alangkah baiknya Amel tabung uangnya! Gak usah beli barang-barang lagi! Kasihan kan Ibu Amel sudah bersusah payah cari uang buat Amel! " ujar Antonio memberikan penjelasan agar Amel tidak salah paham.
"Iya, Pak! Maafkan Amel ya udah lancang kirim-kirim gitu!" jawab Amel dengan kepala menunduk.
"Gapapa, Amel gak salah! Gak usah minta maaf! " tukas Antonio dengan tersenyum. Dia memandang gadis manis yang ada di depan nya.
"Amel gak ada maksud apa-apa, Pak! Amel hanya mengagumi Bapak karena Amel suka dengar cerita kalau ada yang makan di kantin. Jadi Amel kagum sama Bapak! " ucap Amel mengatakan yang sebenarnya kenapa dia mengirimi hadiah-hadiah tersebut.
Antonio hanya tersenyum mendengar omongan Amel yang polos.
*
*
*
__ADS_1
bersambung.....
_______________________________________