Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 10 : HARI YANG MELELAHKAN !


__ADS_3

Eun Seung menelusuri tepi jalan yang gelap. Hanya lampu-lampu jalan yang menghiasi langkah Eun Seung. Ia terdiam di salah satu jembatan. Berkali-kali ia hembusan nafas panjang. Berharap semuanya hilang begitu saja. Hari ini banyak hadiah yang tak terduga dalam hidupnya. Hari yang panjang membuat dirinya sangat lelah. Ia terus membatin tentang hidupnya. Mungkin ini adalah titik terendah dari hidup Eun Seung. Di saat ia mulai melangkah dan memiliki segalanya, ujian kembali menimpa dirinya. Seperti roller coaster yang akan terus turun naik. Baik itu menyenangkan ataupun menyeramkan. Itulah kehidupan.


Beban Eun Seung kembali menetap di kehidupannya. Selama ini ia memang ragu terhadap ayahnya, Darimana ayah mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli sebuah toko dalam waktu singkat. Walaupun ayah mulai bekerja serabutan tapi tidak mungkin ia mendapatkan uang sebanyak itu selama empat tahun. Eun Seung tak pernah mendengar ayah bekerja di toko kue. Karena ayah tidak bisa membuat kue lagi, ia masih takut dengan ocehan masyarakat sekitar yang menghina kue buatan keluarga Eun Seung. Itu sebabnya ia meminta Eun Seung untuk meneruskan toko yang dulu sempat terkenal di lingkungan sekitar.


"kenapa ayah harus memaksakan ini semuanya?" Eun Seung berbicara pada angin. Ia tak mengerti dan terus memandang langit. Ia tak ingin air matanya tumpah ke tanah. Tetes demi tetes menjatuhi ke pipinya. Mungkin ia sudah banjir air mata. Ada perasaan sedih, kesal, menyesal, marah. Semuanya bercampur jadi satu. Keinginan ayah memang sama dengan keinginannya. Ia ingin sekali mempunyai toko kue terkenal dan menjadi baker yang dikenal semua orang. Impiannya dan cita-citanya. Dulu memang terwujud, toko kue milik ayah. Mungkin ayah ingin mengembalikan toko kue yang dulu sempat berjaya di tangan Eun Seung. Ayah berpikir cara seperti ini, bisa mengabulkan keinginan Eun Seung dengan cepat.


**


Joon Young tersudut melihat Eun Seung yang terlihat bertumpu pada telapak kaki, ia melipat kedua tangan di antara kaki. Gadis itu sedang menangis di tepi jalan. Keputusan ayahnya yang membuat dirinya seperti itu. Joon Young memahaminya. Baru kali ini, ia memandang sebuah keluarga yang penuh perjuangan keras mendapatkan sebuah impian dan cita-citanya. Ia memang bukan dari keluarga yang sederhana, ia hanya tahu semuanya dengan instant. Karena kehidupannya berbeda jauh dengan Eun Seung. Semua permintaan Joon Young selalu dituruti keluarganya. Joon Young lahir dari keluarga pengusaha. Ayahnya Cha Jin So mempunyai perusahaan yang cukup terkenal di Korea Selatan.


Laki-laki itu tak bisa berbuat banyak kepada Eun Seung. Ayah dan ibunya meminta Eun Seung untuk mengembalikan uang tiga ratus juta yang dipinjamnya. Ia juga tidak bisa mengikuti permintaan neneknya yang akan menjodohkan dirinya. Semuanya tidak menguntungkan bagi Eun Seung. Semuanya juga merugikan bagi Joon Young. Tak ada yang menyenangkan di dalam surat perjanjian.


Joon Young hanya memandang gadis itu dari dalam mobilnya. Terdiam dan hanya memperhatikan. Sebuah tatapan kekesalan yang dipancarkan Eun Seung benar-benar membuatnya terngiang dalam ingatannya. Ia terus memikirkan gadis itu, sikapnya membuat Joon Young menyesal telah melakukan hal itu kepadanya. Kehendaknya menyewa seseorang untuk menculik Eun Seung sangat tidak baik. Ini bisa membuat trauma kepadanya. Tetapi jika tidak seperti ini Eun Seung akan takut dan tidak percaya dengan dirinya jika ia yang langsung berbicara pada gadis itu. Sebenarnya bisa saja, ia tak memperdulikan semua yang ada. Membiarkan hidup Eun Seung baik-baik dan tak memintanya mengembalikan uang yang dipinjamnya. Ia juga bisa menentang neneknya untuk melakukan perjodohan. Ia masih punya hati nurani sebagai teman. Tetapi lagi-lagi uang tiga ratus itu sangatlah banyak. Ia tak ingin rugi memberikan uang secara cuma-cuma kepada Eun Seung. Entah apa sebutannya, temannya kah, si nomor tiga kah, Atau rivalnya kah. Joon Young tak menganggap hal itu semua. Ia hanya tahu Eun Seung saja, seseorang yang meminjam uang keluarganya.


**


"Eun Seung, kau pulang ke rumah nak?" Tanya ibu yang melihat Eun Seung duduk di teras rumah keluarganya. Eun Seung mengelap air matanya, dan tersenyum kepada ibunya. Ia tak ingin beban anaknya dilihat oleh ibunya. Ini akan semakin bahaya jika ibunya sampai tahu maksud kedatangan dirinya. Ia memutuskan untuk tak memberitahu bahwa toko yang dibeli ayahnya itu adalah hasil hutang. Ibunya duduk disampingnya, melihat wajah Eun Seung yang nampak pucat. "...kau sakit, nak !! Badanmu panas. Ayo, kita masuk ke dalam. Ibu akan buatkan bubur untukmu..." ibu memegang seluruh badan Eun Seung. Gadis itu menggeleng kepala dan memeluk ibunya. Tak ingin dilepaskan. Ibunya tahu, jika Eun Seung seperti itu pasti ada masalah yang datang dihidupnya.


"ini pasti tentang laki-laki itu, bukan? Cha Joon Young..." ibu berbicara dengan sangat tenang, ia mengelus kepala Eun Seung dengan lembut. Eun Seung melepas dekapan ibunya, ia terkejut. Ibunya bisa tahu tentang laki-laki itu.


"ibu kenal dia?" Tanya Eun Seung pelan. Ia menatap ibunya. Mendengarkan setiap ia berbicara.


"laki-laki itu datang kepada ibu, ia anak yang sopan. Ia meminta izin kepada ibu untuk mencarimu di pusat kota..." jawab ibu dengan senyuman. "...apa yang dilakukan ayahmu pasti memiliki tujuan yang baik, nak !! Jangan membenci ayahmu ya...!!" Ibunya itu tahu tentang semua hal yang dilakukan ayahnya. Mungkin Joon Young memberitahunya.

__ADS_1


"tapi caranya salah, meminjam uang tiga ratus untuk membelikanku sebuah toko. Ayah menjualku untuk mendapatkan kemauanku. Aku bisa berjuang sendiri untuk mencapai keinginanku. Bukan seperti ini..." kesal Eun Seung, ia menghindar dari pelukan ibunya itu.


"ibu akan bilang kepada ayahmu jika ia pulang ya. Sekarang istirahatlah dulu..." ibu meraih tangan Eun Seung mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Eun Seung mengikutinya dengan langkah gusar.


**


"Kau masih memikirkan perkataan Eun Seung ?!" Tanya Woo Jae ketika ia memperhatikan Seung Ho yang suka termenung sendirian. Akhir-akhir ini ia sering sekali seperti itu. Ada ucapan yang membuat Seung Ho selalu memikirkannya. Woo Jae tahu hal itu semenjak drama cinderella beraksi di cafenya. Kata-kata Eun Seung yang membuat ia sakit hati.


'kau tak akan mengerti perasaan wanita !!'


Seung Ho terus menggeleng kepalanya setelah melamun. Ia selalu kepikiran soal itu. Selama ini, apa ia salah menilai seorang wanita? Apa sikapnya salah? Sampai-sampai ia di cap seperti itu kepada Seung Ho.


"Seung Ho ? Hei, aku bicara padamu..." panggil Woo Jae yang kini sudah menyadarkan Seung Ho yang sudah terbayang jauh ke dunianya sendiri. Pemikiran yang dimiliki Seung Ho membuat ia gelisah.


"Apa kau tahu Eun Seung pergi kemana? Aku tidak melihatnya sejak tiga hari ini, toko kuenya selalu tutup..." tanya Woo Jae melihat toko kue yang ada diseberangnya. Tiga hari semenjak acara yang di adakan di café milik Seung Ho. Acara cinderella man. Eun Seung hilang entah kemana.


"tidak, aku tidak tahu..." Seung Ho menjawabnya. Ia bahkan tak tahu jika Eun Seung menghilang. Selama tiga hari ini ia sudah ketinggalan berita tentang wanita itu. Pikirannya hanya tertuju tentang dirinya yang merasa tak berguna. Bukan karena kemampuannya tetapi hanya karena wanita.


"ckleek..." suara pintu utama café terbuka lebar saat seseorang telah masuk ke dalamnya. "selamat datang di la café..." Sapa Woo Jae ketika dilihatnya seorang wanita yang dikenalnya berdiri di hadapannya. Ia sangat cantik, hari ini ia berdandan dan memakai pakaian formal. Entah kenapa, tak biasanya ia seperti ini.


"noona, kau cantik sekali !!" Seru Woo Jae yang melihat kyung mi yang berbeda jauh dari biasanya. Seung Ho hanya mengangguk dan memperhatikan kyung mi yang juga sedang menilai dirinya.


"tentulah, aku yang mendandaninya..." sambung Soo Ra yang tiba-tiba datang dari belakang kyung mi. Soo Ra tak sendiri, wanita yang dicari-cari juga akhirnya ikut disamping Soo Ra. Eun Seung telah kembali. Woo Jae dan Seung Ho melihatnya. Seorang gadis yang membuat Seung Ho terus kepikiran tentangnya. Bukan hal yang baik, tapi hal menyakitkan. Baru kali ini, ia begitu kesalnya dengan Eun Seung. Ia tak juga meminta maaf karena mengucapkan kata menyakitkan seperti itu. Apa ini rasanya disakiti seseorang. Ia baru sadar bahwa selama hidupnya ia tak pernah mengerti perasaan orang lain ataukah perasaan wanita.

__ADS_1


"ceklekk..." suara pintu café dibuka oleh seseorang yang akan masuk ke dalam. Semuanya melihatnya ketika seorang laki-laki dan seorang wanita tua tersenyum lebar kepada mereka semua. Sesuatu yang tak terduga mengagetkan semua orang yang disana. Salah satunya kyung mi yang benar-benar terkejut, laki-laki itu membawa seseorang datang bersama dirinya.


"halo, semuanya. Perkenalkan. Ini ibuku Choi Shin Ran..." Jin Wook memperkenalkan ibunya di hadapan semua orang.


**


"Eun Seung, kau kemana saja tiga hari ini. Kami semua mencarimu..." ujar Soo Ra menanyakan keadaannya yang tiba-tiba hilang begitu saja. Eun Seung tampak diam. Semua ingatannya kembali ke tempat saat ia diculik dan bertemu dengan laki-laki itu. Cha Joon Young. Haruskah ia mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan Joon Young. Laki-laki yang dulu menjadi rival keduanya kini akan jadi jodohnya?. Jodoh. Eun Seung terus mengingat ucapan ibunya.


"ibu tak masalah jika kau menikah dengan dia, Eun Seung. Ini demi kebaikanmu juga. Karena kau sangat dibanggakan oleh keluarga mereka. Ibu juga bangga terhadapmu..." ucapan ibu terngiang saat ia bersiap-siap untuk pergi ke pusat kota. Selama tiga hari, Eun Seung memang pulang ke tempat orang tuanya.


"aku tidak akan menikah dengannya, bu. Tenang saja, aku akan mencari uang untuk menebus hutang ayah..." jawab Eun Seung dengan semangatnya. Walaupun ia tak tahu dapat darimana uang sebanyak itu. Toko kue miliknya saja, baru saja dibuka. Keuangannya belum bisa menutupi pendapatan. Apalagi untuk membayar hutang. Eun Seung tersenyum pada ibunya. Ia tak ingin ibunya khawatir tentang dirinya. Eun Seung sudah berjanji untuk bekerja keras dan tidak mengambil keputusan orang tuanya untuk menikah dengan Joon Young. Penawaran Joon Young sama seperti dirinya, ia tak ingin dijodohkan.


"Eun Seung...!?" Soo Ra terus menatap dirinya, ia mengalihkan pandangan Eun Seung yang sedang melamun. Gadis itu tersenyum tipis melihat Soo Ra. "... kau kenapa?" Tanyanya lagi, ia tahu Eun Seung ada masalah.


"ah iya, kemarin kau bersembunyi dimana? Aku mencarimu kemana-mana tapi tak menemukan kalian.." Kali ini Eun Seung yang bertanya, ia mengalihkan pembicaraan.


"aku mengikuti eonni sampai di rumahnya. Kau tahu, dia sangat menyesal melakukan itu kepada Jin Wook. Ia tak menyangka jika laki-laki itu benar-benar serius kepadanya. Selama ini ia menyamarkan identitasnya karena takut kepada para penipu" jawab Soo Ra dengan suara pelan. Ia tak ingin suaranya terdengar kepada mereka yang sedang berbicara serius tentang kehidupan mereka selanjutnya.


"aku mengerti sih eonni seperti itu...!!" Seru Eun Seung yang juga memperhatikan kyung mi, Jin Wook dan ibunya yang duduk di ujung dekat jendela kaca.


"aku tak menduga, bahwa Jin Wook membawa ibunya untuk bertemu dengan eonni. Sebuah perjodohan aplikasi yang akhirnya membuahkan hasil. Hari ini penentuan baginya. Aku tak sabar mendengar cerita ini dari eonni..." ungkap Soo Ra dengan girangnya memperhatikan mereka. Eun Seung hanya mengangguk juga melihat mereka.


**

__ADS_1


__ADS_2