Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 1 : KEMENANGAN YANG TIDAK KUNJUNG DATANG


__ADS_3

"drrttt...drrttt..." suara alarm berdering di ruangan kecil yang Eun Seung tempati. Ia sudah lama tinggal di perumahan tak jauh dari universitas. Sudah dua tahun, ia memutuskan untuk menyewa tempat kecil jauh dari keluarganya. Ia tak ingin membebani keluarganya kini. Usianya sudah cukup untuk tinggal sendiri dan tak terpaku dengan orang tuanya.


Eun Seung mencari ponselnya, ia terbangun dan mematikan alarm di ponselnya. Matanya masih tertutup, ia masih belum mengumpulkan jiwanya untuk sadar. Jam menunjukkan pukul 7 pagi di dinding tepat di hadapan Eun Seung terbangun. Mulai perlahan ingatannya kembali hadir. Kompetisi yang diadakan di universitasnya membuat ia kehilangan akal sehat. Ia berani untuk mengatakan hal itu di depan semua orang.


"akkhhhhh..."sesal Eun Seung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia tidak dapat berpikir setelah apa yang ia lakukan kemarin. Ia hanya malu dan malu. 'apa salahnya juara tiga, itu prestasi yang membanggakan bukannya...'pikirnya kemudian. Ia memegang kepalanya untuk berpikir jernih. '...tapi juara tiga untuk lima kali berturut-turut itu namanya...' Eun Seung menunduk lemas.


"aku malu..."ucapnya lirih. Ia meraih handphone yang ada di samping dirinya. Sebuah pesan tertulis di notifikasi layar. Kim Soo Ra. Ia membukanya.'...hei, Eun Seung. Kau tak apa-apa? Pialamu ada padaku. Datanglah kesini, kalau kau membutuhkannya...'. Eun Seung tak membalasnya, ia malah menutup layar handphone dan menyembunyikan di balik selimut. Ia bergegas untuk mencuci muka dan pergi ke kampusnya untuk mengikuti perkuliahan pada jam 9 nanti.


Eun Seung telah siap untuk berangkat ke kampus. Pakaian sederhana membuat ia terlihat nyaman saat dikenakannya. Rambut yang ikal, ia biarkan tergerai bergerak kesana sini mengikuti arah tubuhnya. Langkahnya yang gontai membuat Ia sangat malas hari ini.


"hai, Eun Seung..."sapa seorang laki-laki muda, tinggi, berpakaian rapi, duduk disamping Eun Seung yang sedang menunggu bus. Harum parfumnya menyerebak di sekitar dirinya. Eun Seung tahu ia siapa.


"Seo Woon, oppa...!!" Seru Eun Seung yang terkejut melihat kakak angkatan itu ada di sampingnya. Ia hanya tersenyum, seketika pikiran Eun Seung yang kesal menghilang dengan sekejap. Laki-laki itulah penawarnya. Laki-laki yang sudah menemaninya selama dua tahun ini, seorang kakak angkatan yang beda jurusan dengannya. Pertemuan yang singkat hanya berawal dari kompetisi baker yang diadakan di universitas. Salah satu panitia mereka adalah laki-laki tampan ini. Itu membuat Eun Seung dekat dan menaruh hati padanya.


"aku sedang ingin naik bus, ternyata bertemu denganmu disini. Ayolah, bus sudah berhenti..." Seo Woon beranjak dari duduknya, ia menyodorkan tangannya untuk Eun Seung supaya ikut dengannya. Eun Seung tersenyum menyambutnya. Mereka naik ke dalam bus, menempelkan alat tap tiket dan mencari tempat duduk kosong. Setelah keadaan semakin tenang, supir mulai berjalan dengan perlahan menuju halte berikutnya.


Tiba-tiba Seo Woon memberikan minuman kaleng kepadanya. Eun Seung masih terkejut, ia menerimanya dengan wajah masih ragu.


"terima kasih, oppa...!!" Senyum Eun Seung sumringah.


"sudah lima kali ya, aku memberikan ini kepadamu..." ucap Seo Woon masih ingat kompetisi yang lalu saat Eun Seung merasa kesal menduduki posisi tiga. Kala itu, Seo Woon yang juga menenangkan dirinya.


"benar, oppa masih mengingatnya...!!"


"tentu, aku ingin kau tidak mendengar apa kata mereka. Jadilah dirimu sendiri dan terus berjuang mendapat apa yang kau inginkan, Eun Seung..." sebuah pesan kembali dilontarkan oleh laki-laki itu. Ia berusaha membuat Eun Seung semangat kembali. Eun Seung hanya mengangguk. Menyetujuinya. Banyak saran darinya selama ini. Itu yang membuat Eun Seung terus semangat tanpa pantang menyerah. "...aku ingin memberimu ini.." Seo Woon memberikan sebuah lembaran kertas kepadanya. Eun Seung membacanya. Kompetisi ArtBakery 2018 kembali diadakan. Kali ini bukan dari Universitas melainkan dari toko roti yang terkenal di pusat kota. Hadiah utama dari kompetisi itu adalah bangunan toko yang sudah lama tak terpakai. Sponsor dari acara itu memutuskan untuk membeli sebuah bangunan sebagai hadiah pertama.


"wahh...!! Kompetisi ArtBakery diadakan lagi..." ujar Eun Seung yang tertarik dengan pengumuman itu.


"aku teringat padamu, saat melihat pengumuman itu di tempel di salah satu tiang di pusat kota. Aku harap kau bisa mengikutinya..." ucap Seo Woon masih memperhatikan Eun Seung yang memegang lembaran kertas pengumuman itu. Eun Seung hanya diam tak menjawab pertanyaannya yang ia tahu bahwa gadis itu mulai kembali semangat. Seo Woon tersenyum disampingnya. Eun Seung hanya memandang dengan wajah yang berseri-seri. Cukup jelas di wajahnya bahwa ia akan mengikuti kompetisi itu lagi.


**


"kau jelek sekali di foto ini..."tukas Soo Ra ketika melihat foto kompetisi kemenangan baker yang sudah tercetak di koran Universitas. Wajah Eun Seung yang marah terpampang jelas di sana.


"kau tak akan mengerti, semuanya menyerangku dengan sebutan itu. Bagaimana perasaanku Soo Ra..." Eun Seung menunduk lesu, ia sedih, merengek seperti anak kecil. "...akhhh aku sedih..." Eun Seung menutup wajah dengan kedua tangannya.


"tapi kau hebat, baru kali ini kau menentang mereka. Aku salut padamu..." Soo Ra membuka tangan Eun Seung yang tertutup wajahnya. Ia menyodorkan dua jempol miliknya supaya Eun Seung semangat. Eun Seung melihat Soo Ra yang seperti itu. Membuat dirinya sedikit tenang.


"kau seperti Seo Woon yang terus menceramahiku..." Eun Seung mendengus kesal. Ia menyeruput latte yang dipesannya.


"itu semangat, bukan menceramahi. Aku yakin Seo Woon sama sepertiku. Memberimu semangat untuk terus berjuang. Eun Seung. Fighting...!!" lagi-lagi Soo Ra mengepalkan tangan kanannya menunjukkan kepada Eun Seung.


"ya...iya.. Aku akan semangat..." ucap Eun Seung pelan, memperhatikan foto artikel yang ada di koran Universitas.


"tunggu dulu, kau masih berhubungan dengan Seo Woon?" Tanya Soo Ra memegang tangan Eun Seung untuk menjelaskan suatu hal kepadanya. Eun Seung menatapnya. Benar, Soo Ra ingin tahu apa yang terjadi. Kenapa Eun Seung bertemu dengannya lagi. Eun Seung gugup hanya diam menatap Soo Ra.


Seo Woon. Laki-laki yang membuat dirinya tak berdaya. Eun Seung telah lama menaruh hati kepadanya. Laki-laki ramah yang selalu membantu Eun Seung selama ini. Pertemuan awalnya terjadi saat ia mengikuti kompetisi baker. ia salah satu panitia disana. Eun Seung memang menyukainya tapi ketika ia mulai memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Seo Woon menjauh dan terlihat dekat dengan gadis lain. Entah apa yang membuat Seo Woon seperti itu. Sengaja ataukah hanya kebetulan. Lagi-lagi hati Eun Seung terpuruk olehnya. Selama seminggu ia tak masuk kuliah, tak mengikuti pelajaran dan tak terlihat di sekitar Soo Ra. Semua orang mencarinya, begitu pula dengan Seo Woon. Laki-laki itu tak mengerti apa kesalahan dirinya kepada Eun Seung. Hanya Soo Ra lah yang tahu, ia menjadi wadah kesedihan, kekesalan Eun Seung pada Seo Woon. Pada saat itu Eun Seung berjanji untuk tidak menemui Seo Woon dan juga menjauhi perasaan itu. Soo Ra yang menjadi saksi perjanjian Eun Seung. Tapi kini Eun Seung melanggar perjanjian itu.


"tidak... aku tidak berhubungan dengannya. Aku bertemu dengannya di halte bus. Dia ingin naik bus. Bukan aku yang mendekatinya..." jawab Eun Seung sangat gugup. Matanya tak ingin dilihat oleh sahabatnya itu, ia mengalihkan pandangannya ke minuman yang berada di depannya. Soo Ra terus menatap Eun Seung yang masih gugup. Perasaan kepada Seo Woon masih ada padanya.


"kau berjanji untuk tidak menemuinya setelah tahu Seo Woon sudah punya pacar, bukan !?" Tukas Soo Ra yang sedikit kecewa dengan Eun Seung. Sia-sia, ia memberi semangat kepada sahabatnya itu hingga bangkit seperti sekarang.


"iya, aku tahu. Dia hanya memberikanku ini..." Eun Seung memasukkan tangannya ke dalam tasnya. Mengambil sesuatu dan memberikan kepada Soo Ra. Ia tidak ingin salah paham kepadanya. Sebuah lembaran kertas tertera disana, Soo Ra mengambilnya.


"kompetisi ArtBakery ?!!" Soo Ra bingung dengan maksud pengumuman itu.


"iya, kompetisi yang di adakan di pusat kota. Hadiah utamanya adalah rumah toko. Kau tahu, aku ingin sekali punya toko kue..." Eun Seung menjelaskan.


"ini kesempatanmu. Kau bisa mengalahkan dua orang itu. Sembunyikan kertas ini, Eun Seung. Aku berharap mereka tidak melihat ini..." Soo Ra memberi peringatan. Eun Seung mengangguk, menyembunyikan kertasnya ke dalam tas.


"benar, aku tak akan melawan mereka lagi. Berjuang Soo Ra..." Eun Seung kembali semangat. Ia berteriak dan merenggangkan kedua tangannya. Soo Ra ikut mengepalkan kedua tangannya. "...aku pergi dulu ya" sambung Eun Seung terbangun dari duduknya. Soo Ra mengiyakan, ia tahu bahwa sahabatnya itu akan mencari resep yang akan dibuatnya nanti.


"aku mendukungmu..." teriak Soo Ra ketika Eun Seung mulai membereskan barangnya.


"tidak, jangan ajak temanmu lagi ya. Kau membayar mereka untuk mendukungku kan...!!" Ungkap Eun Seung, ia tahu pendukung dirinya dibayar oleh Soo Ra supaya Eun Seung menang. Soo Ra hanya meringis, tak menjawab. Ia hanya bingung, Eun Seung bisa tahu akan hal itu. Gadis itu pun berlalu begitu saja disampingnya. Meninggalkan Soo Ra sendirian.


**


Kompetisi ArtBakery 2016 terlihat di layar laptop milik Eun Seung saat ia membukanya. Sebuah situs yang menampilkan halaman web untuk kompetisi ArtBakery tahun ini. Ia memang tertarik untuk mengikuti kompetisi ini lagi. Semangatnya kembali menyala saat ia tahu bahwa hadiah utama untuk kompetisi kali ini adalah sebuah rumah toko. Eun Seung memang sudah menginginkannya sejak lama. Harapan dan impiannya akan segera terwujud. Ia memperhatikan persyaratan yang terdapat di situs tersebut, membacanya baik-baik dan mengikuti pendaftaran. Kompetisi akan di adakan dua minggu lagi. Eun Seung mulai memikirkan apa yang harus ia persiapkan dalam kompetisi itu.


"apa yang harus aku siapkan?" Eun Seung mencari-cari resep dalam buku miliknya sendiri. Resep yang ia ciptakan selama ini tersalin rapi di sana. Ada 10 buku yang sudah ia kerjakan selama ini. Cita-citanya memang menjadi baker terkenal. Impiannya sejak kecil. Foto-foto idolanya terpampang di dinding kamarnya. Resep kue pertama kali yang berhasil juga dipajang disana.


Kompetisi ArtBakery bukan yang pertama baginya. Waktu ia berusia 15 tahun, pertama kali ia mengikuti itu. Terbayang kenangan Eun Seung saat mengikuti pertandingan 11 tahun lalu.


"aku harus bisa.. Aku harus bisa..." Eun Seung kecil terus menyemangati dirinya ketika ia mulai memperhatikan kue maccarons yang ada dalam oven. Setelah bunyi oven terdengar alarm, ia mengambilnya. Harum dan warna yang cantik menghiasi kue maccaron buatannya. Ia sedikit lega, kue yang diharapkannya  terlihat sangat cantik. Ia pun menghias tiga maccarons di piring dan memberikannya kepada juri.


"kuenya sangat enak, lembut ketika sudah di mulut, aku menyukainya.."Ujar juri wanita kepada Eun Seung kecil. Ia hanya tersenyum di samping ayah ibunya yang menemaninya.


"benar, terasa mint di dalam mulut.." Salah satu juri yang lain menambahkan. Eun Seung tersenyum lega mendengar semua juri menyukai kue maccarons buatannya.


"kau akan menang, Eun Seung !!" Seru ayah ikut senang mendengar ucapan mereka. Eun Seung mengangguk setuju, wajahnya senang sumringah diikuti ibunya yang juga mendukung gadis kecil itu. Mereka yakin bahwa Eun Seung kecil akan menang hari ini.


Beberapa juri tampak sedang berdiskusi menentukan hasil dalam kompetisi ArtBakery tahun 2003. Hasil yang akan membawa pemenang mendapatkan pengalaman dan hadiah utama yang sangat besar. Satu juta won untuk juara pertama kompetisi itu. Cukup besar untuk kategori anak-anak seusia Eun Seung. Memang kompetisi kali ini, di bagi menjadi dua kalangan. Kalangan dewasa dengan tingkat kesulitan yang tinggi, begitu juga kalangan remaja dengan tingkat yang menengah. Eun Seung mengalami kesulitan yang menengah. Kompetisi ini membuat ia semakin tertantang ketika panitia tidak menyiapkan bahan yang dibutuhkannya dan ia harus menemukan cara bagaimana kue macarons terlihat sempurna. Eun Seung bisa melakukan hal itu semua. Sebelumnya ia memang sudah banyak berlatih mempelajari cara pembuatan kue tersebut.


"Kompetisi ArtBakery tahun 2003 akan segera berakhir dengan mengumumkan pemenang utama kompetisi. Hadiah utama tingkat menengah kali ini adalah sejumlah uang satu juta won. Semuanya pasti penasaran, siapa pemenang yang mendapatkan hadiah satu juta won. Bersiap-siaplah kalian yang saya panggil namanyaa...." Host wanita terus berbicara mengenai kompetisi ArtBakery.


Semua peserta merasa gugup saat host wanita itu terdiam membuka lembaran amplop yang berisikan nama pemenang. Ayah memegang tangan Eun Seung erat. Keputusan baik dan buruk ada di amplop itu. Harapan dan impian jadi satu pikirannya kali ini. Keinginan Eun Seung memberikan kebahagiaan kepada keluarganya melalui cara ini.


"...baiklah, untuk juara pertama jatuh kepada..." host terus membuat jantung Eun Seung tak bisa tenang. Jantungnya berdetak sangat cepat mendengar hasil keputusan para juri. Eun Seung mengunci tangan yang dipegang ayahnya, ia mulai memejamkan mata. Nama depan mulai terpanggil. "... eun, disini ada dua nama yang memang termasuk 5 besar..." host kembali membuat Eun Seung merasa gelisah. Nama depan mulai dipanggil oleh host wanita itu.

__ADS_1


"Eun Woo, kami persilahkan untuk maju ke depan untuk mengambil hadiah satu juta won. Selamaat..." teriak host wanita itu membuat Eun Seung tak bisa bernafas. Seketika ia merasa sesak, namanya tidak dipanggil oleh host itu. Nama yang seharusnya menang tapi bukan dirinya. Nama yang diharapkan keluarga Eun Seung untuk mendapatkan hadiah satu juta won. Eun Seung hanya diam, terpaku melihat laki-laki yang bernama Eun Woo itu merasa senang dengan keberhasilannya.


"sudah... tidak apa-apa " ayah memegang pundak Eun Seung menenangkannya. Ibu juga ikut membelai rambut Eun Seung yang panjang.


"kami persilahkan untuk Eun Woo, Jae Min, Hyung Do, Mimi dan Eun Seung untuk ke depan..." host wanita itu memberi tahu semua pemenang untuk maju ke depan.


"lihat, kau urutan ke lima dari 10 orang yang ikut kompetisi ini. Tandanya bahwa kau sudah berhasil mengalahkan semuanya, sayang..." suara ibu yang menambahkan. Ia menunduk di hadapan Eun Seung menyuruhnya untuk melihat peserta lainnya yang tidak lolos kompetisi. Eun Seung memperhatikan semuanya. Banyak yang menangis, ada pula yang langsung pergi meninggalkan acara. "...jadi, sekarang pergilah.. " ibu menyuruh Eun Seung untuk maju ke depan panggung.


"Eun Seung, ayah akan membelikan apapun yang kamu sukai. Sekarang naiklah ke panggung. Mereka sudah menunggumu..." ucap ayah kemudian menyuruh Eun Seung untuk ke sana. Eun Seung mengangguk pelan dan mulai berjalan mendekati panggung.


Eun Seung hanya diam, ia tak banyak tersenyum. Setelah menerima piala penghargaan, ia turun panggung dan pulang bersama orang tuanya. Ia duduk di kursi belakang mobil, menaruh semua hadiah di samping dirinya. Di perhatikan hadiah-hadiah itu. Harapan dan keinginan tak berjalan sesuai. Ia terlalu banyak berharap. Bayangan dirinya setelah menang itu yang selalu dalam benaknya. Banyak angan-angan yang mengakibatkan dirinya kecewa dengan keputusan juri. Sepanjang perjalanan, Eun Seung tak bicara apapun pada ayah dan ibunya itu. Ia merasa kehilangan feeling untuk berbicara apapun juga kepada mereka. Namun tiba-tiba, terjadi guncangan dari mobil mereka. Beberapa hadiah menyenggol dirinya menggoda untuk dibuka. Di lihatnya piala dan hadiah yang ada di sampingnya. Perlahan ia membuka hadiah-hadiah itu. Sebuah tas sekolah terlihat di dalam bungkus kado. Ada yang menonjol di sana, sebuah amplop berwarna pink. Ia mengambil dan membukanya. Tulisan yang sedikit rapi terlihat di sana.


'kau harus berjuang hingga juara, sebab aku akan kembali memberikanmu ini lagi. Sampai ketemu tahun depan...'


Eun Seung tersenyum melihat pesan itu. Sebuah harapan kembali datang kepadanya. Benar, tahun depan mereka akan mengadakan kompetisi ini lagi. Ia harus semangat menghadapi kompetisi itu lagi hingga hari itu tiba.


"ayah, ibu aku akan mengikuti kompetisi ini lagi tahun depan..." ungkap Eun Seung kembali semangat. Ayah, ibunya hanya tersenyum. Tersamar bayangan ayah ibunya berada di hadapan Eun Seung saat ini. Eun Seung ikut tersenyum, ia sudah kembali tersadar jika usianya sudah 28 tahun di tahun 2018.


Eun Seung memasukkan pesan itu ke dalam amplop. Ia memang menyimpannya, pesan berantai saat mengikuti kompetisi itu. Aneh memang, hanya kompetisi ArtBakery saja yang mendapatkan pesan itu. Dua kali ia mendapat juara, dua kali pula ia mendapatkan pesan itu. Entah siapa yang membuatnya. Tapi itu membuat Eun Seung terus semangat mengikuti kejuaraan baker dan tahun ini ia berharap untuk dapat juara pertama dan menemukan siapa yang terus memberinya semangat untuk berjuang kembali.


'Kau harus menjadi posisi pertama, aku akan menunggumu...'


**


"kau memberi pernyataan bahwa mereka yang salah...!?" Suara Hei Ji mengagetkan Seung Ho yang sedang meramu bahan – bahan kue di counter dapur miliknya. Ia hanya mengangguk, memberi jawaban pada temannya itu. "...si nomor tiga, sering membuatmu masalah..." sambungnya lagi.


Seung Ho hanya diam, ia mengingat kejadian dalam kompetisi kemarin.


"aku juga tidak mau mendapat gelar seperti ini...!!!" Teriak Eun Seung dan berlalu begitu saja di antara mereka.


"heiii, Eun Seung jika kau pergi dari sini. Kau akan di diskualifikasi..."salah seorang panitia berteriak padanya. Eun Seung tak memperdulikannya, ia tetap berjalan meninggalkan semua orang menuju keluar gedung.


"aduuh, Eun Seung kau menambah masalah saja..." Joon Young menutup wajahnya. Seung Ho hanya memperhatikan itu.


"tunggu dulu, sebelum kalian mengambil keputusan itu lebih baik tanyakan dulu kepada salah satu panitiamu..." ungkap Seung Ho memberikan pernyataan secara tegas, semua panitia memperhatikan Seung Ho. Ia terkejut bahwa Seung Ho bisa berbicara seperti itu. Acara yang tadinya lancar, berakhir dengan sikap yang tidak menyenangkan. Semua pemenang keluar panggung tanpa diminta oleh host acara. Acara kompetisi pun berakhir begitu saja. Semua orang diminta bubar oleh salah satu panitia, semuanya pergi begitu saja dengan rasa mengecewakan.


Seung Ho kembali tersadar tersenyum sendiri, ia merasa tidak ada yang salah dengan keputusannya saat itu. Acara kompetisi yang di adakan setiap tahun di Universitasnya mungkin akan menjadi tahun terakhir bagi mereka. Nama baik panitia pun akan menurun dan tidak ada sponsor lagi yang mendukung acara tersebut.


"kau diskors karena membela si nomor tiga, bukan!?" Heiji mendekati Seung Ho yang berada di counter. Ia mencicipi kue kering buatan Seung Ho.


"aku tidak peduli, kau tahu. Kemungkinan kompetisi ini tidak akan ada lagi di universitas..."


"kenapa ? Kau tidak akan mengikutinya lagi?"


"iya, mungkin kejadian ini bisa membuat mereka kehilangan penghasilan dan aku harus fokus dengan ujian akhir..."


"dasar, aku tidak menganggapnya seperti itu.." Jawab Seung Ho memberikan minuman kepada temannya itu. Mereka duduk bersama di kursi counter.


"jadi, kau tidak memilih di antara mereka. Banyak yang menyatakan perasaannya kepadamu, tapi tidak ada satupun yang kau lihat !!" Heiji mengambil minuman kaleng itu dan membukanya.


"aku sedang tidak ingin dengan mereka..." Seung Ho meneguk minumannya. Terbayang gadis yang dulu ia sukai, seorang gadis yang membuatnya menyukai kue. Itu yang membuat dirinya, selalu berusaha dan berharap bertemu dengan gadis itu lagi.


"kau kan hanya mencintai roti saja, tidak ada yang lain..." ledek Heiji, Ia menepuk pundak laki-laki itu. Seung Ho melihatnya, ia hanya tersenyum, tanpa jawab. Sahabatnya itu berpindah tempat ke sofa. Menjatuhkan dirinya dan tidur di sana. Seung Ho kembali tersenyum, benar selama ini ia hanya berlatih membuat roti dan roti yang selalu menemaninya setiap hari. Ia jatuh cinta dengan roti. Mungkin itu yang menyebabkan dirinya rindu dengan gadis tanpa nama itu. Dengan roti, ia merasa dekat dengannya. Seung Ho lagi-lagi tersenyum, ucapan Heiji terus terngiang-ngiang pikirannya membuat dirinya merasa senang.


**


Eun Seung terus mengaduk – aduk adonan kue buatannya, ia sedang latihan di rumahnya. Kompetisi akan di adakan tiga hari lagi, itu sebabnya Eun Seung terus berlatih dan mengambil cuti di perkuliahannya.


"kau latihan lagi ?" Suara Soo Ra tiba-tiba terdengar di depan pintu utama, ia datang ke rumah Eun Seung saat ini.


"beginilah, aku sedang berjuang untuk mendapatkan rumah toko itu..." ungkap Eun Seung yang kini sudah berada di depan pintu utama mempersilahkan Soo Ra untuk masuk. Soo Ra hanya tersenyum, Eun Seung memang pekerja keras. Ia tak kenal lelah berjuang. Terlihat dari celemek miliknya yang sangat berlepotan tepung, wajah yang kusut, dan rambut yang berantakan. Ia tak memperdulikan penampilannya. "...kau sudah membawa apa yang aku minta?" Tambah Eun Seung lagi membantu Soo Ra membawakan barang-barang.


"iya, sudah ada di sini..."tunjuk Soo Ra dan memberikannya kepada Eun Seung. Hari ini Soo Ra ingin menginap di rumah Eun Seung, kue-kue kering buatan Eun Seung sangat banyak. Ia tahu kalau temannya itu sedang latihan, banyak sekali makanan yang tersedia. "... uuh, Kau sudah berapa lama tidak mandi, tubuhmu bau keringat...!" Soo Ra merasa mencium bau yang tidak sedap pada tubuh Eun Seung ketika gadis itu mengambil barang-barangnya.


"hari ini aku akan mandi, setelah aku membuat ini semua..." ujar Eun Seung meninggalkan Soo Ra, ia berlari menuju dapur miliknya dan mengambil tepung dari dalam kantong. Soo Ra hanya menggeleng, ia berjalan menuju ruang tengah. Dimana satu tempat dengan tempat tidur. Semuanya berantakan, Soo Ra tahu jika sahabatnya itu tidak akan memperdulikan ruangannya kalau sudah mendekati kompetisi. Soo Ra yang perlahan membereskan semuanya.


"Eun Seung, apa kau tahu rumah kang Seung Ho atau cha Joon Young?" Suara Soo Ra sedikit berteriak supaya Eun Seung mendengar dari ruangan sebelah.


"tidak. Kenapa dengannya?" Balas Eun Seung dari ruangan samping.


"kau tahu, di sepanjang perjalanan daerah sini terpasang pengumuman kompetisi itu.." Soo Ra sedikit gelisah, jika lawan sahabatnya itu ikut kompetisi lagi, Eun Seung bakal kalah.


"hah !! Benar juga. Besok, aku harus memastikannya.." Ujar Eun Seung kemudian. Soo Ra hanya melihatnya penuh dengan kebingungan. Apa maksud perkataan Eun Seung?.


**


"Seung Ho, kau lihat. Si nomor tiga sedang melihatmu dari jauh..." ucap hei ji memberitahukan keanehan yang terjadi padanya. Ia memang sangat peka dengan hal seperti ini, sudah 3 tahun berteman dengan Seung Ho. Ia bisa tahu siapa saja yang diam-diam memperhatikan temannya itu. Seung Ho menoleh ke belakang, lagi-lagi Eun Seung menutupi dirinya dengan buku. "ada apa dengan anak itu...?" Sambung hei ji yang terus berbisik kepadanya. Begitupula dengan Seung Ho, ia juga bingung. Kenapa wanita itu terus menerus memperhatikan ke arah dirinya.


"sudahlah, aku harus ke perpustakaan.." Ucap Seung Ho membereskan barang-barangnya, bergegas untuk pergi.


"heii, aku belum selesai makan ramyun..." ujar hei ji yang terkejut, melihat Seung Ho terbangun dari tempat duduknya


"menyusulah, nanti..." balas Seung Ho yang dibarengi tepukan pundak hei ji, ia pergi begitu saja. Hei ji hanya melihatnya, ia dengan buru-buru menghabiskan makanan tepat dihadapannya.


"haiii..." sapa seorang gadis yang tiba-tiba duduk di hadapan hei ji. Seorang gadis yang sedari tadi diperbincangkannya, kini duduk menegur hei ji yang sendirian.


"kau, si nomor tiga...!!" Hei ji terkejut, ia sedikit tersedak makanan yang sudah ada di mulutnya. Eun Seung mendengus kesal mendengar namanya di panggil seperti itu. Hei ji tak melihat perubahan wajah Eun Seung, ia hanya focus mengambil minuman yang disamping lalu meneguknya.


"hei, aku ingin tanya padamu...?" Suara Eun Seung kemudian memperhatikan heiji yang sudah tampak tenang. Heiji melihatnya. "...apa kau tahu, acara kang Seung Ho akhir minggu ini.." Bisik Eun Seung pelan sedikit mencondongkan badannya di antara meja, mendekati makanan heiji.

__ADS_1


"kenapa kau menanyakannya !?" Heiji curiga, seorang gadis yang tak pernah dekat dengannya, bahkan tak pernah mengobrol dengannya kini menanyakan kehidupan Seung Ho. Eun Seung membetulkan badannya ke posisi semula, ia merenggangkan punggungnya.


"aku... aku ingin menawarkan kang Seung Ho kerja di tempat pamanku..." ucap Eun Seung gugup.


"setauku Seung Ho sudah bekerja paruh waktu setiap akhir minggu..." jawab hei ji menyeruput mienya yang masih panas.


"benarkah !! Kalau begitu aku tidak jadi menawarkannya. Aku pergi dulu, terima kasih informasinya..." suara Eun Seung mulai meninggi, ia sungguh senang mendengar kabar itu. Sebuah kesempatan bahwa ia akan menang dalam kompetisi itu. Eun Seung berlalu begitu saja, meninggalkan hei ji yang masih makan mie ramyunnya.


**


"Hufft... lelahnya..." ucap Eun Seung menyandarkan dirinya ke sofa café dekat dengan universitasnya. Soo Ra yang sedang sibuk mengetik tulisan di laptopnya terganggu akan kedatangan Eun Seung yang tiba-tiba. Ia melihat beberapa poster pengumuman dibawa oleh Eun Seung dan menaruhnya di atas meja.


"buat apa, poster sebanyak itu !!" Seru Soo Ra yang menghentikan kegiatannya, masih memperhatikan Eun Seung.


"aku mengambilnya di tiang listrik supaya orang-orang tak ikut acara itu..." jawab Eun Seung masih kelihatan lelah dari wajahnya.


"kau mengambil semuanya ?! Satu wilayah ini !!!" Soo Ra terkejut akan tingkah temannya itu. Ia menutup laptopnya dan melihat Eun Seung mengangguk manis lalu menyeruput minuman yang dipesannya.


"aku berharap besok, aku yang akan menang...!!" Eun Seung merasa senang, ia terus membayangkan hari esok, ketika namanya dipanggil menjuarai kompetisi. Sudah lama ia tak mengikuti kompetisi itu.


"aku punya kabar bagus untukmu. Cha Joon Young, akhir minggu ini akan pergi keluar kota. Pesaingmu akhirnya bisa terlewatkan..." ungkap Soo Ra memberitahu sebuah rahasia kepadanya. Eun Seung terkejut melihatnya.


"kau bicara padanya?"


"iya, aku pura-pura mengajaknya kencan. Tapi ia menolakku, katanya ia akan pergi keluar kota bertemu dengan neneknya. Kau tahu, cha Joon Young sungguh polos, ia sungguh tertipu dengan ucapanku..." cerita Soo Ra saat ia tadi bertemu dengannya di perpustakaan universitas. Eun Seung menggeleng kepala mendengar Soo Ra menunjukkan bakatnya. Ia baru tahu kalau sahabatnya itu pintar bersandiwara, mungkin ia terbawa karakter tokoh yang akan dibuatnya. Selama ini, Eun Seung melihat Soo Ra hanya gadis kutu buku dengan laptop dan buku di tangannya. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya itu bisa di andalkan.


"sudah terlihat dari wajahnya, ia memang seperti itu..." Eun Seung membalasnya. Ia tahu laki-laki nomor dua itu memang terlihat polos, ceria, punya banyak teman tapi tak pernah sekalipun ia melihat wanita di sampingnya. Hanya itu yang ia tahu tentang laki-laki itu. "...hah !! Aku baru ingat...!!" Eun Seung mendadak ingat sesuatu.


"apa? Ada apa?"


"kang Seung Ho tidak akan ikut kompetisi itu. Aku bertanya pada heiji bahwa ia akan bekerja paruh waktu setiap minggu. Ini tandanya bahwa besok aku akan menang hahaha..." jawab Eun Seung dengan tawa. Ia sangat senang. Bebannya sudah hilang, ia bisa fokus mengejar apa yang diimpikannya.


"yeaay... semangat Eun Seung. Aku harus mempersiapkan semuanya untuk mendukungmu..." Soo Ra yakin sahabatnya itu akan menang. Eun Seung mengangguk penuh percaya diri.


**


Langkah Eun Seung semakin cepat ketika ia berjalan menuju lorong kampus universitasnya. Jam pelajaran sudah selesai dari tadi, hanya saja ia ingin menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Ia harus cepat-cepat pulang untuk mempersiapkan seluruhnya untuk kompetisi besok.


"iya, aku harus mengembalikan buku dulu di perpustakaan. Pulanglah dulu..." Eun Seung menutup telepon dari Soo Ra, Biasanya memang mereka sering pulang bareng, karena itulah sahabatnya menelponnya. Belum sampai di pintu perpustakaan, ia melihat seorang laki-laki berdiri di sana. Memandang Eun Seung dari kejauhan. Menunggunya hingga sampai di hadapannya.


"Kang Seung Ho...!!" Panggil Eun Seung pelan, ia terkejut bahwa laki-laki itu sedang menunggu dirinya.


"aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk bekerja. Maafkan aku...!!" Ucap Seung Ho tanpa basa-basi, ia mengatakan apa yang ingin disampaikan kepada Eun Seung. Tawaran untuk bekerja di tempat pamannya. Mungkin heiji sudah memberitahu kepadanya.


Eun Seung tersenyum, melihat Seung Ho yang terus terang kepadanya. Ia benar-benar tidak tega dengan Seung Ho yang seperti itu. Tawarannya di terima baik-baik olehnya dan membuat ia bertemu dengan Eun Seung saat ini.


"ahh.. Tidak apa-apa. Lain kali saja...!!" Seru Eun Seung menjawabnya dengan santai. Seung Ho hanya diam. Tak tersenyum. Ia hanya menunduk dan pergi begitu saja meninggalkan Eun Seung. Ia pamit pergi. Eun Seung sungguh tidak bisa menahan tawanya. Ia menutup wajahnya, tertawa apa yang dilakukannya. Mungkin ini salah, tapi tidak untuk kompetisi. Rencana Eun Seung itu hanyalah kebohongan belaka. Ia tidak mempunyai seorang paman yang bekerja di toko kue. Ia hanya ingin memastikan bahwa lawannya itu tidak ikut kompetisi.


"syukurlah, kalau kau sudah mempunyai pekerjaan..." ucap Eun Seung pelan memperhatikan tubuh Seung Ho yang tinggi terus berjalan menuju lorong, ia sudah menjauhi dirinya.


**


Kompetisi ArtBakery 2016 akan segera dimulai. Hari penantian untuk Eun Seung selama ini. Hanya dengan kompetisi inilah, Eun Seung terus berjuang mendapatkan impiannya. Cita-citanya menjadi baker terkenal. Angin musim semi berhembus di antara mereka. Udara yang sejuk membuat Eun Seung semangat pagi ini. Ia memilih mengenakan pakaian nyaman untuk dipakainya. Semua kebutuhan dirinya sudah ia bawa dalam tasnya. Soo Ra juga ikut membantu, ia membuat kebutuhannya sendiri untuk mendukung Eun Seung. Semua pernak-pernik Eun Seung, ia bawa dalam tasnya.


"akhirnya sampai...!!" Eun Seung bersorak ketika ia turun dari bus dan berhenti di halte wilayah tempat yang diadakan kompetisi.


"heii, Eun Seung. Itu bukannya Seo Woon oppa..." tukas Soo Ra menunjuk dengan matanya memberi pengarahan kepada Eun Seung untuk melihat ke sisi lain. Eun Seung melihatnya. Memang benar, seorang laki-laki tampan berjalan menghampiri mereka berdua.


"oppa..." ucap Eun Seung pelan, ia masih terkejut laki-laki itu mau datang untuk mendukungnya.


"hai..." sapa Seo Woon memberi lambaian tangan kepada mereka semua.


"kau sedang apa disini...?" Tanya Eun Seung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"aku datang untuk mendukungmu. Aku tahu, kau akan ikut kompetisi ini lagi..." jawab Seo Woon dengan santai. Memang benar keputusan Seo Woon untuk memberitahu kompetisi ini memanglah benar. Eun Seung kembali semangat dan ia bisa mendapatkan apa yang diimpikannya.


Eun Seung tersenyum, ia mempunyai dua orang pendukung sekarang. Walaupun ia tidak meminta kepada Seo Woon, tapi laki-laki itu mengerti bahwa Eun Seung saat ini butuh seorang pendukung. Soo Ra melihatnya. Wajah Eun Seung kembali ceria, ada seseorang yang memberikan sahabatnya itu sebuah kesempatan untuk berkompetisi kembali. Ia bingung. Haruskah berterima kasih kepadanya ataupun sebal karena sikapnya yang seperti ini. Diam-diam mendukung Eun Seung dan diam-diam melukai Eun Seung. Soo Ra memiliki alasan lain untuk sebal kepadanya. Ia tahu banyak bahwa laki-laki ini pernah mengecewakan sahabatnya itu.


"baiklah. Aku akan semangat karena kalian sudah datang mendukungku..." teriak Eun Seung menyakinkan semuanya bahwa ia bisa melakukan yang terbaik. Soo Ra mengepalkan tangannya, ikut memberikan semangat. Eun Seung tersenyum, ia berjalan lebih dahulu, memimpin mereka menuju tempat acara.


"kau mau mendukungnya? Baiklah.. Ini, kau pegang salah satunya..." Soo Ra memberikan pernak pernik foto Eun Seung kepada Seo Woon.


"kau tidak suka aku ada disini, bukan !?" Ucap Seo Woon, ia tahu bahwa sedari tadi Soo Ra hanya memberi tatapan sebal kepada laki-laki itu. Ia menyadarinya.


"sudahlah, gunakan ini sebagai pendukung Eun Seung..." jawab Soo Ra mengalihkan pembicaraannya. Laki-laki itu menerima semua pernak pernik buatan Soo Ra.


"Eun Seung, tunggu dulu...!!" Panggil Soo Ra berlari menghampiri Eun Seung yang sudah mulai menjauhi dirinya.


**


Spanduk kompetisi ArtBakery tahun 2016 terpasang di antara pintu masuk, mengawali kedatangan para peserta kompetisi. Banyak bazaar sponsor yang mendukung acara tersebut. Kompetisi yang kembali di adakan di tahun ini. Sudah sebelas tahun, Eun Seung tidak pernah kesini. Dulu bersama orang tuanya, kini hanya bersama sahabatnya saja. Eun Seung memperhatikan sekitarnya, kenangan yang dulu kembali tercipta. Bayangan ketika ia hanya menduduki juara 10 besar. Bayangan ketika ia memulai pertama kali mengikuti kompetisi, bayangan saat membuat kue, semua menjadi satu padu dalam ingatan Eun Seung. Tak banyak yang berubah, hanya staff dan panitia yang berubah, seiring jaman ataupun pegawai baru. Eun Seung tak mengenalnya.


Ia melangkahkan kakinya menuju tempat pendaftaran ulang yang ada di sudut, tempat ia berdiri saat ini. Dengan langkah berapi-api, ia mendekati tempat itu. Terlihat seorang laki-laki tua sudah menunggu tempat itu. Namun tiba-tiba tempat itu tertutup oleh seorang laki-laki tinggi berdiri di depan mereka. Seorang peserta yang akan mendaftarkan dirinya untuk kompetisi. Eun Seung pun berlari, mendekati mereka. Tetapi sebuah pandangan kini menganggunya, ia menghentikan langkahnya. Eun Seung kenal postur badan seperti itu. Ia tahu, walaupun tersamar tetapi pikirannya menyatakan bahwa ia kenal laki-laki ini. Pikiran dan harapannya tak menyatu. Ia berharap bahwa laki-laki itu bukan yang dipikirkannya. Tetapi tetap saja pandangannya tak bisa berbohong. Itulah kenyataan yang seperti itu.


Eun Seung masih mematung melihat laki-laki itu. Seketika itu juga, laki-laki itu membalikkan badannya. Terkejut melihat Eun Seung begitujuga sebaliknya. Apa yang dipikirkan Eun Seung menjadi kenyataan. Pandangan dirinya tak salah melihat laki-laki itu. Seseorang yang menjadi lawannya kembali berkompetisi bersamanya. Laki-laki yang ia benci, ada di depannya kini. Seperti sambaran petir yang membuat jantung Eun Seung berdetak dengan cepat. Ia menelan ludah, tak sanggup berkata-kata. Keinginannya hanya satu. Eun Seung tak ingin dia ada di sini.


"Eun Seung...!!" Ucap laki-laki itu pelan memanggil namanya.


**

__ADS_1


__ADS_2