
Tahun 2018. Universitas. Kompetisi baker.
'semoga kali ini aku menang...!!' batin seorang gadis mengunci tangannya, memohon untuk menang. Ia terus memejamkan matanya berdoa meminta untuk permohonannya dikabulkan. Sudah puluhan kali ia mengikuti kompetisi baker yang diadakan di universitasnya. Tapi tidak ada satupun meraih juara pertama. Gadis berambut ikal berantakan dengan potongan sebahu diikat kuda ini terus memejamkan mata. Keringat bercucuran di wajahnya. Perjuangannya hingga sampai saat ini adalah kerja kerasnya yang telah lalu. Kompetisi baker yang diadakan setiap tahun ini adalah kesempatan dirinya untuk membuatnya semakin berkembang. Cita-cita dan harapannya hanya satu membuat toko kue yang terkenal di pusat kota.
"Lee Eun Seung... Lee Eun Seung...!!" Seruan beberapa temannya menyemangati gadis itu tepat berada di belakangnya. "kau pasti bisa...!!" Bisik Kim Soo Ra yang kini berada disampingnya. Eun Seung menolehnya, sahabat satu-satunya itu berdiri di sampingnya membawa spanduk dengan latar foto Eun Seung. Eun Seung mengangguk yakin kali ini ia pasti menang. Ia terus memperhatikan host acara yang akan membacakan nama pemenang kompetisi baker kali ini.
"Pemenang kompetisi baker tahun 2016 yang kini diadakan di universitas jatuh kepada...." Host itu diam sesaat. Banyak teriakan yang menggema memanggil namanya dan juga lawan-lawannya. "...KANG SEUNG HO, kami persilahkan untuk maju ke depan..." sebuah nama yang tidak diharapkan Eun Seung. Ia melihatnya, tatapan sengit dari gadis itu. Laki-laki itu tidak terkalahkan olehnya.
"kyaaaa... Kang Seung Hoo... Kang Seung Ho..." teriakan para gadis-gadis menggema menyoraki namanya. Seorang laki-laki yang terkenal tampan dan dingin ini memang banyak penggemarnya, seluruh gadis di universitas pun tahu siapa dirinya. Begitu juga dengan Eun Seung, ia diperkenalkan saat pertama kali mereka mengikuti kompetisi baker tahun 2016 di universitasnya. Sudah puluhan kali mereka mengikuti kompetisi itu, perjalanan mereka hingga saat ini memang sangatlah sulit, dari nol hingga sampai mendapat apa yang mereka inginkan. Eun Seung merasakan hal itu pencapaiannya belum maksimal jika belum di posisi pertama. Ia selalu dikalahkan oleh laki-laki itu. Selalu dan selalu mendapat juara pertama. Eun Seung benar-benar kesal, kompetisi kali ini ia gagal lagi. Suara sorak sorai pendukung Eun Seung tak terdengar lagi. Mereka juga terkejut dengan keputusan juri.
'kau, Seung Ho...!! Awas kau ya...!!' Eun Seung terus memperhatikan laki-laki itu yang sedang berjalan ke arah panggung utama. Mulutnya berkomat-kamit tak bersuara. Ia sedang melontarkan umpatan kasar kepada laki-laki itu. Tangannya yang tadi sedang mengunci, kini mengenggam erat untuk melepaskan amarahnya. Namun ia menahannya, setelah laki-laki bernama kang Seung Ho itu melihat dirinya dari jauh. Eun Seung membalikkan badannya. Ia tak suka. Laki-laki itu melihat dirinya seakan mengejek keberadaannya. Eun Seung benar-benar kesal, ia melihat kekalahan lawannya itu kembali. Lagi dan lagi.
"aku pergi dulu..."ucap Eun Seung dengan tegas. Namun tangan Soo Ra menahannya.
__ADS_1
"jangan pergi dulu, kau bisa jadi juara kedua !!" Cegah Soo Ra. Eun Seung terdiam.
"juara ketiga kali ini jatuh kepada Lee Eun Seung..." host memanggil namanya. Eun Seung melihatnya, tangan Soo Ra sudah melemah, ia meringis ketika Eun Seung menatapnya. Tatapannya kosong. Soo Ra mendorongnya untuk maju ke depan.
"tak apa-apa, kau bisa membalasnya lagi...!!" Ucapnya kemudian menyemangati sahabatnya itu. Dengan langkah lemas ia berjalan mendekati panggung utama.
"...kami persilahkan untuknya dan juara kedua, Cha Joon Young untuk maju ke depan..." host kembali memanggil nama untuk juara kedua. Eun Seung hanya menunduk sambil berjalan, Kedua laki-laki ini memang tak terkalahkan olehnya. Seorang laki-laki periang yang satu ini, sungguh aneh. Ia tak pernah belajar untuk membuat kue tetapi ketika sudah berada di counter, feelingnya sangat kuat. Keseriusannya saat membuat kue menjadi nilai poin bagi dirinya.
"hei, Eun Seung. Kau boleh bertukar posisi denganku..." bisik Joon Young ketika berjalan disamping Eun Seung. Gadis itu melihatnya, langkah laki-laki itu berjalan terlebih dahulu darinya. Eun Seung melihat wajah Joon Young yang sedang tertawa memperhatikan dirinya. Joon Young meremehkan dirinya.
"Soo Ra, aku bosan melihat Eun Seung terus mendapat juara ketiga. Lebih baik dia tak ikut kompetisi ini lagi.."Ucap salah satu teman yang menjadi pendukung Eun Seung.
"aku juga tak ingin melihat si nomor tiga lagi..."
__ADS_1
"iya, aku juga. Tadinya aku percaya padamu. Tapi ini menyita waktuku saja. Aku tak akan ikut denganmu lagi..."sambung salah satu temannya itu. Mereka menyodorkan pernak-pernik Eun Seung kepadanya. Lalu pergi meninggalkan Soo Ra sendirian. Gadis itu menunduk lemah, menerima dengan pasrah. Tapi ia tak boleh begini. Sahabatnya butuh dirinya saat ini. Memang sudah berpuluh kali Eun Seung mengikuti kompetisi ini. Tetapi gelar juara ketiga baru diraihnya lima kali secara berturut. Baru lima kali. Tetapi orang-orang selalu memanggilnya 'Si Nomor Tiga'.
"turunkan si nomor tiga...turunkan si nomor tiga..."teriak salah satu pendukung Kang Seung Ho. Seketika gadis-gadis yang lain berseru menyorakkan si nomor tiga untuk turun panggung. Mereka tak ingin seorang gadis berdiri dekat dengan idola yang mereka sukai. Kedua laki-laki itu memang popular dikalangan gadis-gadis. Eun Seung tahu, faktor kemenangan mereka bukan dengan makanan yang dibuatnya tetapi menjurus kepada tampang. Wajah yang rupawan menjadi daya pikat untuk menggaet orang-orang datang ke acara tersebut. Itulah strategi marketing mereka supaya acara tersebut ramai dan meriah.
Soo Ra memperhatikan sekitar. Ia tak bisa berbuat banyak, spanduk dan pernak pernik Eun Seung ada ditangannya kini. Ia hanya diam menyemangati Eun Seung yang masih tampak kesal dengan panggilan mereka.
Eun Seung melihat sahabatnya itu memberi semangat seorang diri. Ia sudah lama berteman dengannya. Saat awal masuk universitas, kegiatan Eun Seung hanya perpustakaan mencari resep kue untuk membuatnya. Ia ingin sekali menjadi seorang baker terkenal. Begitu pula dengan Soo Ra, ia ingin menjadi penulis. Setiap hari ia selalu mencari ketenangan untuk menciptakan karya terbaru miliknya. Buku-buku ditangannya menjadi jawaban bahwa ia juga berjuang mendapatkan impiannya. Tak dapat dipungkiri, di wajahnya tersirat sebuah kacamata yang mempercantik dirinya.
"kau tak bosan terus menerus mendapat gelar itu...!!" Salah satu panitia berbicara itu kepada Eun Seung. Ia melihatnya, kali ini ia tidak dapat menahan amarahnya.
"aku juga tidak mau mendapat gelar seperti ini...!!!" Teriak Eun Seung membuat semua orang memperhatikannya kini. Mereka terkejut dengan sikap Eun Seung yang berteriak tiba-tiba. Eun Seung mengigit bibirnya, wajahnya masih kesal. Ia masih diam hingga sebuah flash kamera mengarah kepadanya.
"JEPRET..." sebuah flash membuat dirinya memejamkan mata. Berharap ini hanyalah mimpi dan tak ada lagi yang memanggilnya...
__ADS_1
"SI NOMOR TIGA..."
**