Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 17 : MAKAN MALAM


__ADS_3

Tiga hari pun berlalu. Semuanya tampak biasa saja, tidak ada perubahan yang berarti. Jang Ryu Nammasih saja tak mau berkenalan dengan teman-teman di wilayahnya. Toko alat musik juga mulai sepi dari peminat yang datang. Eun Seung menyadari hal itu. mungkin beberapa temannya juga sama seperti dirinya. tapi mereka belum mengambil keputusan untuk membantu Ryu Nam. Eun Seung memandang lemah toko musik yang berada tepat di pandangannya. tak ada orang disana hanya Ryu Namyang sedang memainkan piano disana. Samar-samar terdengar alunan nada dari suara yang ditimbulkan. Eun Seung melihat beberapa orang yang keluar dari la café bergegas masuk ke toko musik. Mungkin suara yang ditimbulkan membuatnya tertarik untuk melihat-lihat disana. Seketika suara piano terhenti, si penjaga toko mungkin sedang menyambut para tamu. Eun Seung hanya diam memperhatikan orang-orang yang mulai masuk ke dalam toko musik itu. Orang-orang yang berasal dari toko butik, toko buku, toko bunga serta minimarket mulai berdatangan ke sana. Eun Seung terheran-heran seketika mulai banyak orang dari tepi jalan lain memasuki toko musik itu. semuanya berkumpul di toko musik itu. toko musik itu telah menyihir semua orang untuk datang kesana. Ryu Nammulai kewalahan melayani tamu-tamu yang berkunjung. Tampak di wajahnya yang lelah disana. Eun Seung hanya bisa diam memperhatikan. Ada suatu hal yang membuat semua orang mulai datang ke toko musik itu.


“pip…” sebuah pesan masuk di handphone miliknya berbunyi. Eun Seung membukanya. Pesan dari Seo Woon terlihat disana.


‘datanglah ke tempat xxx jam 7 malam, aku akan menunggumu…’ Eun Seung membacanya. Seo Woon akan mengajaknya ke suatu tempat malam ini. sebuah restaurant tertera disana ketika Eun Seung menekan link tempat dari laki-laki itu. “…oppa mengajakku makan malam…!!” seru Eun Seung, ia sangat gembira mendapat pesan darinya. Ia tak sabar untuk segera menutup tokonya dan bersiap-siap untuk pergi kesana. Selama dikuliah ia memang tak pernah pergi bersama Seo Woon. Ia tak berani untuk mengatakan kepadanya. tetapi semenjak Eun Seung hilang dari peredaran. Semuanya berbanding terbalik. Seo Woon yang kini mendekatinya dengan caranya sendiri. Eun Seung menyadarinya bahwa cupid cinta mulai mendekati dirinya dengan Seo Woon. Mungkin ia berniat untuk menjodohkan dirinya. Eun Seung tersenyum gembira jika ia mengingat tentang Seo Woon. Pemuda tampan, tinggi nan kaya itu sudah berubah baik kepadanya. Eun Seung mulai menyukainya kembali.


**


Eun Seung tampak rapi dengan dress pink yang ia kenakan malam ini. ia lalu menggunakan highheels dan tas kecil untuk menaruh keperluannya.


“perfect !!” seru Eun Seung memutar badannya untuk menunjukkan dress yang ia gunakan berputar sempurna. Ia merapikan tatanan rambutnya, menempelkan bedak di pipinya, memakai lipstick pink di bibirnya dan terakhir menyemprotkan parfum di dressnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam, ia dengan cepat bergegas pergi keluar dari rumahnya. Ia berjalan menuju halte bus. Restaurant yang ditujukan Seo Woon memang tak begitu jauh, hanya beda wilayah. Butuh setengah jam dari tempatnya.


Eun Seung menghela nafas ketika ia sudah turun dari perhentian bus. Ia sangat gugup bertemu dengan Seo Woon. Banyak pikiran yang terus menggodanya. Apa laki-laki itu menyukai penampilannya saat ini, apa laki-laki itu akan mengatakan perasaan kepadanya, kenapa ia mengajak makan malam. Semuanya tertuju kepada Seo Woon. Eun Seung mulai mengontrol emosinya ketika ia sudah tiba di depan restaurant.


“selamat datang, untuk berapa orang?” sambut para host yang berjaga di depan restaurant. Eun Seung memberikan scanan kepada host itu untuk menerima pesanan bangku yang sudah di pesan oleh Seo Woon. Setelah semua selesai, Eun Seung diajak ke dalam restaurant. Suasana hangat tercipta disana. Suara alunan musik jazz menambah ketenangan menikmati makanan yang dihidangkan. “silahkan…!!” ucap host itu mempersilahkan Eun Seung untuk duduk. Ia tersenyum ketika Seo Woon sudah ada disana. Laki-laki itu membalas senyuman Eun Seung memperhatikan gadis itu dengan baik. Ia benar-benar takjub melihat Eun Seung berbeda jauh dengan kesehariannya. Kali ini, ia memang berdandan untuk datang makan malam ini.


“hai !!” sapa Eun Seung malu-malu.


“duduklah…” Seo Woon memberi perintah kepadanya untuk duduk di hadapannya. Eun Seung mengangguk, duduk di hadapannya. “…maaf, aku tidak menjemputmu lebih dulu. Soalnya aku harus bertemu klien disini sejak tadi sore…” Seo Woon meminta maaf kepadanya, ia menaruh handphonenya dan memandang Eun Seung yang ada di hadapannya. “…aku mengajakmu karena makanan disini sangatlah enak, aku akan memesankan untukmu…” Seo Woon mengambil menu yang ada di dekatnya, ia mulai melihat-lihat makanan.


“aku mengerti oppa sangatlah sibuk, tidak apa-apa…” Eun Seung menjawabnya. ia sangat mengerti bahwa Seo Woon sudah menjadi kepala wilayah. Ia juga mempunyai wewenang dan kekuasaan di tempatnya kini. Eun Seung tahu akan hal itu. Seo Woon yang saat ini bukanlah Seo Woon yang kuliah. Tetapi Seo Woon yang sudah memikirkan tanggung jawab akan pekerjaannya. Eun Seung tersenyum, ia juga memperhatikan buku menu di tangannya. “…aku mengikutimu saja” ucap Eun Seung menutup buku menu yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“baiklah, aku akan memesan steak untukmu…” Seo Woon memberi isyarat kepada pelayan untuk datang. Setelah ia memesan Seo Woon kembali memandangi Eun Seung yang ada di hadapannya.


“ada apa?” Tanya Eun Seung yang mulai gugup, wajahnya selalu dilihat oleh Seo Woon.


“aku hanya ingin berbicara santai kepadamu. Sudah lama kita tidak seperti ini. oh iya, bagaimana dengan Ryu Nam. Aku tak mendengar kabarnya lagi sejak tiga hari yang lalu..” Seo Woon mulai mengawali pertanyaan. Ia ingin tahu perkembangan di wilayahnya. Eun Seung sedikit terkejut mendengar nama Ryu Nam dipanggil olehnya. Ia baru sadar baru hari ini ada perubahan besar di toko musik itu.


“hari ini toko musiknya sangat padat pengunjung. Entah itu dari toko butik, toko buku, minimarket atau dari tepi jalan semua pengunjung yang berasal dari sana pasti mampir ke toko alat musik. Aku sampai heran toko musiknya sudah menyihir pengunjung lain untuk datang ke tempatnya. Aku melihat Ryu Nam kewalahan menerima mereka semua…” ungkap Eun Seung bercerita pengalamannya hari ini. Seo Woon tertawa melihat Eun Seung penuh semangat memberitahukan hal itu kepadanya. lagi-lagi membuat Eun Seung merasa salah tingkah. Laki-laki itu pintar membuat Eun Seung seperti itu. diam-diam melihat Eun Seung lalu tertawa karena aksinya. Entah apa yang merasuki laki-laki itu.


“maaf.. maaf. Aku tertawa karena kau sangat bersemangat cerita tentang Ryu Nam” sesal Seo Woon menenangkan dirinya untuk tidak tertawa lagi melihat Eun Seung.


“kau meledekku lagi, oppa..” gerutu Eun Seung, mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang telah datang di sampingnya.


“tidak. Aku hanya suka melihatmu semangat seperti itu. kau masih sama seperti dulu selalu bersemangat jika ada kompetisi baker” ucap Seo Woon memperhatikan beberapa makanan yang telah dipesan datang berturut di mejanya. Eun Seung menatap Seo Woon. Benar, apa yang dikatakannya. Eun Seung selalu semangat ketika ada kompetisi baker diadakan. Ia selalu memberitahukan Seo Woon jika ada kompetisi dan wajah Eun Seung masih sama seperti dahulu. Seo Woon tahu masa-masa itu. ia selalu mendukung wanita itu sampai sekarang. “Makanlah…!!” Seo Woon mempersilahkan Eun Seung untuk makan lebih dulu. Ia ingin tahu pendapatnya tentang makanan yang dipesannya itu.


“kau suka ?” suara Seo Woon menyadarkan Eun Seung yang mengambil kembali potongan steak yang ada di piringnya.


“iya, aku menikmatinya” jawab Eun Seung. Seo Woon tersenyum, ia juga mulai dengan memakan steak itu.


“kau tahu, kang Seung Ho yang melakukan itu…” ucap Seo Woon membuat Eun Seung menatap dirinya. ia tak mengerti maksud perkataan Seo Woon. “…dia meminta bantuanku untuk menyebarkan brosur toko musik di setiap jalan. Mungkin ia memperhatikan toko musik Ryu Nam tak ada yang datang. Sehingga ia memutuskan untuk melakukan itu…” ungkap Seo Woon. Eun Seung terdiam, ia memang merasakan ada yang berbeda di hari ini. ia tak menyangka bahwa Seung Ho akan melakukan itu kepadanya. diam-diam membantu Ryu Nam tanpa seorangpun yang tahu. hanya melalui pelanggan yang datang ke cafenya dan membujuk untuk datang ke toko musik Ryu Nam. “…Seung Ho memang peduli dengan tetangganya…” sambung Seo Woon.


‘apa jangan-jangan pelanggan yang berasal dari toko butik, toko buku, dan minimarket itu juga karena bujukan pemilik toko…’ pikir Eun Seung. ia melihat Seo Woon menjawab dengan anggukan menyetujui pendapat Seo Woon tentang Seung Ho.

__ADS_1


“jika Ryu Nam tahu hal ini, mungkin ia bisa menerima kita semua…!!” balas Eun Seung. Seo Woon memandang lemah, Ia tak banyak berharap apa yang dikatakan Eun Seung.


“aku tak tahu. sikap Ryu Nam saat ini, ia tak percaya pada orang baru. mungkin karena ada suatu peristiwa yang menimpa dirinya…” tukas Seo Woon yang hanya mengenal sedikit tentangnya.


“peristiwa??” Eun Seung terkejut. Ada sesuatu yang membuat Ryu Nam seperti itu.


“saat pertama kali bertemu dengannya waktu wawancara penyerahan lahan toko. ia bercerita bahwa ia tak percaya pada orang lain lagi. itu karena ada beberapa orang yang membuat adiknya gagal mendapat beasiswa…”


“siapa?”


“entahlah, perusahaan yang membawa adiknya diganti dengan anak yang mempunyai pengaruh disana. Kau pasti tahu, kekuasaan dan politik yang memainkan ini semua…”


“Ryu Nam merasa tak adil dengan mereka?”


“iya…” Seo Woon mengangguk. Ia tampak tahu apa yang sedang terjadi dengan Ryu Nam. jika masalah tentang politik dan kekuasaan, ia sudah berpengalaman menghadapi itu semua. Eun Seung tampak berpikir keras. Selama ini ia memang tahu bahwa Ryu Nam melakukan itu bukan karena sikapnya tetapi lingkungan yang mempengaruhinya. Ia merasa tidak adil mendapatkan semua itu. adiknya menjadi korban dari tingkah-tingkah mereka yang berdasi.


“Eun Seung !!” panggil Seo Woon membuat Eun Seung tersadar dalam pikirannya yang jauh. Gadis itu menatapnya. “kau berdandan ?!” Tanya Seo Woon lagi. Eun Seung memalingkan pandangan ke piringnya. wajah Eun Seung kembali memerah. Ia malu, penampilannya dilihat oleh Seo Woon.


“kau mau menertawakanku !?” suara Eun Seung melemah, ia tak berani melihat Seo Woon dihadapannya.


“tidak, aku suka penampilanmu seperti ini…” Seo Woon tersenyum. Eun Seung melihatnya, kali ini wajah Seo Woon benar-benar serius. Tak ada tawa yang selalu menyindir dirinya.

__ADS_1


‘bolehkah, aku berkata bahwa aku mulai menyukaimu kembali…’ suara hati Eun Seung terdengar di pikirannya.


“ayo, kita pulang. Aku akan mengantarmu…” tukas Seo Woon mengajak Eun Seung untuk bersiap-siap keluar restaurant. Makanan yang dihidangkan pun sudah habis di atas meja. Setelah membayar ia bergegas memamerkan mobil miliknya. Pergi mengantar Eun Seung pulang. Hanya berdua tanpa penjaga yang mengawal Seo Woon


__ADS_2