
“aku meminta maaf kepada kalian semua karena perbuatanku…” Ryu Nam menunduk memberi hormat kepada semua orang yang hadir di malam larut ini. Eun Seung yang mengajaknya untuk bertemu dengan teman-temannya itu. itu juga karena persetujuan dari semuanya membuat sambutan kepadanya.
“kami semua mengerti kau bersikap seperti itu, ryu nam. Eun Seung yang memberitahukan semuanya kepada kami…” jin hyun berkomentar.
“benar. Untung ada Eun Seung..” sambung Woo Jae ikut-ikutan berbicara. Eun Seung hanya tersenyum kepada semua orang yang melihatnya. beberapa memang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk acara barbeque. Tentu seperti Hyu Ri, bibi Nei, Myung Dae sedang asyik memotong daging. Eun Seung melihat Soo Ra yang hanya diam tanpa bicara apapun. Biasanya dirinyalah yang mulai ribet membuat acara penyambutan. Kali ini tidak, ia terlihat sangat malas melakukannya.
“maafkan aku, Soo Ra. aku sungguh berbuat salah kepadamu..” sesal Ryu Nam terlihat dari wajahnya. Memang kesalahan yang dilakukan Ryu Nam hanya terletak pada Soo Ra. ia telah mengusirnya padahal niat Soo Ra sangat baik. Eun Seung memperhatikan Soo Ra yang masih terlihat kesal. Sahabatnya itu menatap balik kepadanya. ia meminta pendapat Eun Seung untuk menerima permintaan maafnya atau tidak.
“sudahlah, Soo Ra. maafkan saja. dia juga sudah berani melakukan ini di depan kita semua…”ujar bibi nei yang dibarengi anggukan dari Hyu Ri, anaknya. Eun Seung juga mengangguk menyuruh sahabatnya untuk menerima permintaan maaf Ryu Nam. Soo Ra menghela nafas panjang, walaupun sedikit tak ikhlas menerimanya. Eun Seung tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. dari sudut yang berbeda darinya, Seung Ho ikut tersenyum simpul melihat kedua sahabat itu saling berbicara walau dengan matanya.
“baiklah…baiklah, aku menerima permintaan maafmu..”jawab Soo Ra dengan malas.
“terima kasih…” Ryu Nam menghargai jawaban Soo Ra yang seperti itu. walau terlihat sangat malas, mungkin ia bisa merubahnya.
“selamat datang, Jang Ryu Nam…” teriak Myung Dae memberi sambutan kepadanya. “…aku Myung Dae, kerja di minimarket shift malam…” ia mengenalkan dirinya sendiri. Ryu Nam tersenyum mengangguk. Satu persatu juga mengenalkan dirinya kepada Ryu Nam. Semua menerima Ryu Nam dengan sangat baik. Ia merasakan kehangatan kekeluargaan yang tercipta disana. Saling mendukung dan membantu satu sama lainnya. Ryu Nam banyak tertawa dan tersenyum melihat dan mendengar percakapan mereka semua. Perubahan besar terjadi padanya. Ryu Nam melihat Eun Seung. perkataan dirinya tadi pagi sangatlah benar. Ternyata teman-temannya hanya ingin membantu dirinya keluar dari keterpurukan.
__ADS_1
“kemana eonni? kau melihatnya?” Tanya Woo Jae pada Soo Ra yang mencari-cari Kyung Mi tak hadir di perkumpulan mereka.
“entahlah. Sepertinya sedang sibuk videocall sama Jin Wook..”
“oiya, Jin Wook sudah pindah ke Jerman ya..”
“benarkah !! beruntungnya noona…”
Eun Seung mendekati Ryu Nam yang tak jauh darinya. Duduk di sampingnya. Ada sesuatu yang ia ingin tanyakan kepadanya.
“iya, tapi setelah tiga bulan aku keluar dari sana…”
“mungkin itu sebabnya aku tak pernah melihat kau di kompetisi ArtBakery tahun ketiga…”
“kau pernah ikut kompetisi itu?” Ryu Nam terkejut mendengar pengalaman Eun Seung saat itu. gadis itu mengiyakan dengan ragu lalu kembali meminum soju yang ada di gelasnya.
__ADS_1
“apa kau tahu tentang pesan berantai?” Tanya Eun Seung yang kini menatap Ryu Nam. Ia ingin tahu banyak tentang pesan berantai itu. pesan berantai yang selalu datang ketika menang dalam kompetisi ArtBakery. Semuanya ia ingin tahu.
“pesan berantai !? tidak, aku baru mendengarnya darimu..” Ryu Nam bingung dengan pertanyaan Eun Seung yang seperti itu.
“hufft.. berarti aku salah orang. Selama ini aku mendapatkan pesan berantai dari kompetisi ArtBakery. Aku pikir kau tahu tentang ini semua…” Eun Seung menunduk lemah. Selama ini pikirannya salah mengenai laki-laki ini. ia pikir bahwa laki-laki ini tahu semua hal tentang kompetisi ArtBakery. Semua yang ia lakukan ternyata sia-sia. Ia berusaha mati-matian untuk dekat dengan laki-laki ini tetapi nihil. Tak ada petunjuk lagi dari pesan berantai itu. pertanyaan tentang resep terakhir itu datang kembali menganggu Eun Seung.
“tidak, aku tidak tahu…” Ryu Nam menggeleng memperhatikan Eun Seung yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“lalu siapa yang akan kau temui?” Tanya Eun Seung lagi. ia benar-benar malu karena sikapnya selalu ingin tahu. Ryu Nam mengingat-ingat kejadian yang telah lalu. “… Aku mendengarnya ketika kau menelpon saat itu…” sambung Eun Seung lagi memperjelas ucapannya.
“ah itu !! kau mendengarnya. Waktu itu aku berbicara pada orang tuaku untuk menemui adikku yang kecil. Dua hari lagi, aku akan mengunjunginya di desa…” ungkap Ryu Nam memberitahu semua hal yang diinginkan Eun Seung. gadis itu benar-benar sangat malu. Harapan untuk bertemu dengan Mr.X, si penulis pesan berantai dan resep terakhir berakhir sudah. Eun Seung hilang muka kepada Ryu Nam saat ini. Keinginantahuannya membuat dirinya semakin malu menunjukkan wajahnya.
“Ryu Nam, jangan temui aku lagi. aku malu bertemu denganmu…!!” seru Eun Seung terus menutup wajahnya dan berpindah menjauhi dirinya. Ryu Nam hanya tertawa melihat tingkah konyol Eun Seung yang seperti itu.
**
__ADS_1