
"Hyu Ri, tolong lepaskan aku !!” Pinta Seung Ho yang terus lengannya di pegang olehnya. Ia malu sudah berada di depan cafenya. Hyu Ri mengangguk, ia tahu. Laki-laki itu cukup menggemaskan memintanya seperti itu.
“ceklek…!!” Suara pintu café dibuka oleh Seung Ho, terlihat Woo Jae yang menatap dirinya.
“bos, ada seseorang yang mencarimu…” ucap Woo Jae menunjuk seseorang yang sedang duduk diam di dekat jendela, menikmati cappuccino di atas mejanya. Seung Ho melihatnya. Seorang laki-laki menoleh dan melambaikan tangan kepadanya. Samar-samar ia tahu laki-laki ini.
“kau, Cha Joon Young…!?” ucap Seung Ho mengamati laki-laki itu. Ia sungguh terkejut, Joon Young rival nya saat kuliah kini ada di hadapannya. Ia menghampirinya.
“Ni Hao Ma !!” Sapa Joon Young menunjukkan telapak tangan kepadanya. “…aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, ternyata menemukan café milikmu. Suatu kebetulan sekali…” ungkap Joon Young memberitahukan alasan dirinya ada disini. Seung Ho hanya diam memperhatikannya. “…aku tak menyangka, selama ini kalian terus bersama ya. Si nomor Tiga dan sahabatnya itu…” Joon Young terus mengoceh panjang lebar. Seung Ho memang tidak mengenal lebih dekat dengannya. Laki-laki ini bisa membuat orang terus berbicara kepadanya. Hyu Ri melihat Seung Ho yang masih tampak diam.
“kau tahu namanya…” ketus Seung Ho, ia beralih mengenakan celemeknya. Bersiap untuk kembali kerja.
“iya. Eun Seung…” jawab Joon Young malas. Sebenarnya ia tahu namanya, Joon Young hanya memancing Seung Ho untuk menyebutkan namanya. “kau tak berubah, Seung Ho…!! Kalian masih saling benci. Aku dengar kalau Eun Seung selalu kalah olehmu…” sindir Joon Young yang terus mengoceh di depan Seung Ho.
“kau mau apa kesini?” Seung Ho mulai gerah dengan sikap Joon Young yang seperti itu. Tatapannya tajam melihat Joon Young yang berada di hadapannya.
“aku hanya mengingatkanmu saja, jika si nomor dua masih ada di sini” jawab Joon Young memperhatikan luar café. ”Aku melihat toko swetty bakery tutup, kau tahu kemana dia pergi?”
“tidak.” Ucap Seung Ho singkat terus memperhatikan dirinya.
“kau mau tahu, apa yang akan aku lakukan disini. Itu pasti akan mengejutkanmu…” Joon Young tersenyum meremehkan Seung Ho yang ada di hadapannya. Seung Ho melihatnya. Ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Sesuatu akan terjadi.
**
Eun seung melihat kalender yang ada di atas mejanya. Sudah tiga bulan berlalu sejak peresmian toko swetty bakery. ia menaruh kalender dan memperhatikan buku tabungan yang ada di atas mejanya. Saldo terakhir miliknya hanya berkisar empat puluh lima juta. Berbanding terbalik dengan target yang diberikan oleh Joon Young. Tiga ratus juta belum terkumpul semua.
__ADS_1
“apa yang harus aku lakukan?” suara Eun Seung terdengar melemah. Ia kembali memikirkan perkataan ibunya yang tak masalah jika ia menikah dengan Joon Young. “itu tak akan mungkin, bu..” Eun Seung terus menggeleng kepala, memperhatikan foto keluarga yang berada di dinding kamarnya.
“drttt…” handphonenya berbunyi. Sebuah nomor tidak terkenal tertera disana. Ia mengangkatnya.
“halo?!” sapa Eun Seung mengawali pembicaraan.
“hai, Eun Seung. apa kabar?” suara yang terdengar asing olehnya. “… aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa batas waktu toko milikku itu bulan ini ya…” ucapnya memberitahu.
“Joon Young?” tanya Eun Seung yang sedikit ragu dengan pendengarannya.
“aku senang, kau mengenalku. Jika kau tidak sibuk, temui aku di café taman langit. Aku akan menunggumu malam ini..” tukas Joon young mengajaknya ke suatu tempat. Ia tahu Eun Seung ingin sekali berbincang kepadanya.
“baiklah, aku akan datang..” jawab Eun Seung singkat. Ia mematikan hubungan teleponnya. “aku harus mengatakannya…”
**
“aku hanya mempunyai ini…” ujar Eun Seung memberikan buku tabungan kepadanya.
“aku tidak memaksamu melakukan hal ini..” Joon Young tersenyum tidak menanggapi buku tabungan milik Eun Seung.
“lalu?” tanyanya heran.
“aku hanya ingin menawarkan dua pilihan kepadamu, menikah denganku atau membayar hutang ayahmu kepadaku. Bagaimana?”
“dua-duanya tidak menguntungkan bagiku..” Eun Seung menyandarkan kepalanya menunduk di bawah meja. Joon Young lagi-lagi tersenyum melihat tingkah gadis itu.
__ADS_1
“memang benar, entah ini salah siapa. aku hanya meneruskan surat perjanjian ayahmu dengan nenekku. Itu saja. sederhana, bukan?!”
“menurutmu, ini salah ayahku?” Eun Seung menatap Joon Young yang menyudutkan dirinya.
“lalu salah siapa? Tidak mungkin, nenekku yang meminta pertolongan ayahmu untuk menikahkan kita…” Joon Young menyeruput minuman yang ada di atas mejanya. Eun Seung melihatnya.
“benar juga…” gumam Eun Seung mulai terbuka pemikiran tentang ayahnya.
“ayahmu lebih mementingkan keinginan dirimu daripada keinginan dirinya. dia berusaha untuk membuat kau tersenyum meraih cita-cita menjadi baker terkenal…”tukas Joon Young memberitahu alasan yang sebenarnya kepadanya. Eun Seung terpaku mendengar Joon Young berkata seperti itu. “…itu yang dikatakan oleh nenekku..” sambungnya lagi.
“jadi sekarang kau menyalahkanku?”
“benar sekali, jika bukan karena dirimu. aku tak akan terseret dengan masalahmu…”
“hughh…!!” kesal Eun Seung mendengus memperhatikan Joon Young.
“aku hanya ingin menyampaikan bahwa batas waktumu hingga akhir bulan ini. aku harap kau mempersiapkannya…” ucap Joon Young beranjak untuk pergi namun tangannya tiba-tiba di tahan oleh Eun Seung. Joon Young menatapnya.
“menikahlah denganku !!” seru Eun Seung memohon kepadanya. sebuah tatapan meminta kepadanya. Joon Young benar-benar tersentak mendengar pengakuan darinya. Beberapa orang juga memperhatikan mereka berdua. Wajahnya yang manis masih menatap Joon Young yang masih menahannya untuk pergi. seketika perasaan laki-laki itu mendadak sesak, ia memalingkan wajahnya. Tak ingin wajahnya yang memerah terlihat oleh gadis itu.
“lepaskan aku, Eun Seung…!!” ucapnya kemudian meminta untuk Eun Seung melepasnya. Ia sangat malu dilihat banyak orang seperti itu. “…bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang…” lanjutnya lagi membuat Eun Seung melepasnya. Ia berjalan menuju toilet untuk membasuh mukanya.
“bodoh !! kenapa kau yang melakukan hal ini. seharusnya aku yang memintamu menikah denganku. Kau tak sadar, banyak orang yang mempertanyakan hal itu…” batin Joon Young sesal dengan perbuatan Eun Seung seperti itu.
Joon Young berdiri di depan cermin memperhatikan dirinya. perasaaannya sungguh tak bisa ia kendalikan. Sejak tadi, jantungnya berdetak sangat cepat membayangkan wajah Eun Seung yang memohon kepadanya. “menikah dengan Eun Seung !! itu tidak akan mungkin…” Joon Young terus menerus menggeleng kepalanya. Ia tidak ingin mulai membayangkan Eun Seung menikah dengannya
__ADS_1