
“Eun Seung…!!” panggil Bibi Nei yang tiba-tiba membuka pintu toko swetty bakery dengan lebar. Eun Seung terkejut melihatnya, bibi Nei membawa bingkisan kepadanya. “…ada paket untukmu. Sepertinya, salah alamat ke tempat bibi. Semua keluarga bibi tak ada yang mengenal Cha Joon Young. kau mengenalnya?” tukas bibi Nei memberikan bingkisan itu kepada Eun Seung yang mengangguk pelan menerimanya. Ia malu, semua keluarga bibi Nei jadi tahu nama orang itu.
“maaf, sepertinya memang salah kirim. Terima kasih, bibi Nei…” Eun Seung meringis melihat nomor rumah yang salah pada kertasnya. Bibi Nei mengangguk lalu pergi keluar toko. Eun Seung membukanya, sebuah dress merah panjang tergelar ditangannya. Cha Joon Young memberikan dress itu kepadanya. “apa-apaan laki-laki itu…!!” sinis Eun Seung yang tak suka dengan pemberiannya. Sebuah catatan kecil terselip disana.
“pakailah, aku akan menunggumu pukul 3 di tempat biasa. Cha Joon Young…” Eun Seung membacanya, tak habis pikir dengannya kini. Ia disambut dengan cara seperti ini. Joon Young mengajaknya pergi. “..aku tak akan pergi…!! dress yang mencolok…” tukasnya menaruh semua bingkisan itu di meja kasir.
“Kau bisa datang ke acara mereka besok sabtu, pukul lima sore. Aku akan mengenalkanmu kepada pemilik ArtBakery…” Tiba-tiba Eun Seung teringat apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di mobil Joon Young. Eun Seung melirik kalender yang ada di dinding toko. “hari ini tepat acara itu, apa Joon Young benar-benar mengajaknya ke acara itu. aku harus pergi. aku ingin tahu siapa pemilik ArtBakery sebenarnya…” Eun Seung kembali mengambil catatan itu. “…tapi aku tak suka dressnya…” ia menunduk lemah memandang dress itu penuh dengan ketidaksukaannya.
**
“dan akhirnya aku memakainya…” Eun Seung berbicara pada hatinya, ia sungguh tak nyaman menggunakannya. kalau bukan karena Joon Young yang mengajaknya, ia tak akan memakainya. Ia berjalan mendekati mobil yang sudah terparkir tak jauh darinya.
Joon Young mengamati gadis itu yang berjalan semakin mendekat ke arah mobilnya. Sebuah hadiah pemberiannya pun dikenakan oleh Eun Seung. Joon Young merasa dress yang ia berikan tak cocok dengannya. Ia tak pandai memilih dress wanita. Joon Young mengambil jasnya dan keluar dari mobil. Ia mendekati Eun Seung yang tiba-tiba memberikan jas kepadanya. bau parfum dari kemeja Joon Young tercium di sekitar Eun Seung. Joon Young benar-benar berbeda penampilan. Seperti pangeran.
“eh !!” seru Eun Seung terkejut tingkah laki-laki itu. Joon Young memberikan jasnya untuk menutupi dress yang Eun Seung kenakan.
“aku salah memilihkan dress untukmu. Masih ada dua jam lagi, ayo. Kita ke salon. Aku akan merubah dirimu…” ucap Joon Young membalikkan badannya kembali menuju mobil. Ia tak bisa menahan lagi, jantungnya terus berdetak dengan cepat jika berhadapan dengan gadis itu. ia mulai mengatur pernafasannya, supaya tidak gugup. Satu kata kunci yang ada dipikirannya saat ini. “…tenanglah, Joon Young…!!!”
**
Joon young terus menunggu Eun Seung dengan gelisah. Ia terus memperhatikan jam tangan yang menunjukkan pukul setengah lima. Acara akan segera dimulai namun mereka tidak kunjung datang.
“maaf, sudah menunggu lama…” seorang wanita dari salon meminta maaf kepada Joon Young dengan menundukkan wajahnya. Joon Young yang sedang berdiri di dekat pintu tidak mempedulikannya karena pandangannya hanya tertuju kepada Eun Seung yang benar-benar sangat berbeda. ia terlihat sangat elegan dan cantik dengan mengenakan gaun pesta berwarna putih, sepatu hells hitam, tak lupa juga wajah dan rambutnya di rias begitu sangat cantik. Joon Young mengamati Eun Seung yang terus menunduk malu. Waktu seakan berhenti ketika gadis itu mulai muncul di hadapannya.
“kau berlebihan, Joon Young…” ucap Eun Seung yang tak kuasa menahan malunya karena baru kali ini ia tampak berbeda.
“sudahlah, sepantasnya kau seperti itu. aku mengajakmu ke tempat pesta. Banyak yang sepertimu. Ayo, kita pergi…” ajak Joon Young berjalan lebih cepat meninggalkan salon itu. Eun Seung mengangguk mengikuti Joon Young dibelakangnya.
__ADS_1
Joon Young benar-benar tidak bisa fokus menyetir, pikirannya sungguh berantakan. Sesekali ia melirik kaca mobil sebelah kiri yang masih terlihat bayangan Eun Seung dalam kaca jendela. “…kau sangat cantik, Eun Seung…!!” suara hatinya berbicara seperti itu. ia tak bisa mengendalikan dirinya yang terus mengungkapkan hal yang sebenarnya.
“terima kasih…” suara Eun Seung terdengar pelan namun terdengar oleh Joon Young, laki-laki itu meliriknya. “…terima kasih, sudah mengajakku ke acaramu…” sambungnya lagi memandang lurus ke jalanan. Joon Young terdiam. Ia teringat apa yang ia lakukan kemarin saat di rumahnya. Kerinduan terbesar tercipta dipikiran Joon Young. seharian itu ia terus memikirkan Eun Seung, dan berharap selalu berada di dekatnya. Gadis itu benar-benar menyihir dirinya mengikuti semua permintaan darinya.
“aku hanya teringat bahwa kau ingin ikut, tidak ada salahnya jika aku memang mengajakmu…” jawab Joon Young berusaha menekankan ucapannya supaya tidak terlihat gugup.
Eun Seung hanya diam, tak melanjutkan pembicaraannya dengan Joon Young. sejak tadi, pikirannya hanya kepada pesan berantai yang dibuat oleh pemilik ArtBakery. Ia ingin tahu kebenarannya selama ini tentang pesan itu. Eun Seung sungguh beruntung bisa ikut dengannya.
“Eun Seung !!” panggil Joon Young terus melirik Eun Seung yang tiba-tiba terdiam. Gadis itu menolehnya, membuat Joon Young memalingkan wajahnya memperhatikan jalanan. Ia takut wajahnya terlihat memerah karena gadis itu. “kau di undang oleh nenekku datang ke rumahnya…” lanjutnya lagi membuat Eun Seung bingung dengan perkataannya.
“kenapa? Kau sudah bilang kalau aku tak sanggup membayar hutang ayahku?” Eun Seung memperhatikan Joon Young dengan cemas. Ia takut jika toko itu benar-benar akan diambil paksa oleh mereka.
“bukan, nenek hanya ingin kita berkompetisi membuat roti. Kau tahu, roti buatanmu selalu dibanggakan…” ucap Joon Young sambil memperhatikan jalanan melalui kaca yang ada di samping kanan dan kirinya. “… Jika kau melihat aku selalu juara di tempat lain, tetapi jika ada di rumah, Aku selalu urutan terakhir” sambungnya lagi, ia sudah terlihat tenang dan santai.
“hehehe…” suara tawa Eun Seung terdengar di telinga Joon Young, laki-laki itu melihatnya. Perkataan dirinya membuat gadis itu tertawa. Sebuah peningkatan dirinya berhasil membuat Eun Seung tertawa. “…aku sudah menduga, kau menang kompetisi karena wajah. Banyak orang yang mendukungmu dan memanggilmu dengan sebutan pangeran kedua…” ungkap Eun Seung teringat kenangan masa lalu saat mereka bertiga berkompetisi.
“sial !! kau meledekku…” seru Joon Young yang kesal dipanggil seperti itu. Eun Seung masih saja tertawa sampai tak terasa mereka pun tiba di tempat acara.
**
“dimana pemilik ArtBakery ya ?” batin Eun Seung mengamati beberapa orang yang ada di sekitarnya. Tak ada yang mencurigakan disana. Semua tampak ramai dan rapi satu sama lain.
“ada apa?” tanya Joon Young yang memperhatikan Eun Seung mengamati setiap orang. Eun Seung menggeleng kepala, kembali meneguk gelas juice yang dipegangnya. Joon Young mengikutinya, ia mengambil gelas dan meminumnya.
“kau tampak sibuk ya…” ucap Eun Seung yang kini memperhatikan Joon Young disampingnya. Laki-laki itu tertawa berusaha menyembunyikan rasa malunya.
“hahaha… aku hanya ingin membantu ayahku saja, ikut ArtBakery foundation. Sebenarnya mereka takut, jika anaknya selalu pengangguran dirumah hahaha…”
__ADS_1
“memang berbeda orang-orang kaya ya…” Eun Seung menunduk lemah.
“ayahku ingin aku bergerak di bidang ini, karena prestasiku tidak terpakai jika aku dirumah saja, mungkin itu pikir mereka…” Joon Young memberi pernyataan jelasnya kepada Eun Seung. ia takut menjadi salah paham terhadapnya.
“halo, selamat datang Mr. Cha Joon Young…” sambut seorang laki-laki yang menghampiri mereka berdua. Eun Seung hanya diam memperhatikan mereka yang bersalaman. “…kau bawa kekasihmu !!” seru laki-laki itu melirik Eun Seung yang ada disampingnya. Gadis itu menolak dengan gerakan. Begitupula dengan Joon Young, ia baru tersadar bahwa acara ini kebanyakan yang hadir adalah suami istri ataupun kolega mereka. Joon Young hanya diam tersenyum padanya.
“tuan Choi Gil, terima kasih telah mengundangku…” ucap Joon Young kemudian.
“itu tak masalah, apalagi kau sudah bergabung di ArtBakery foundation. Sudah seharusnya kau sebagai anggota baru ikut acara ini” tukas Choi Gil merendahkan suaranya. Joon Young mengangguk, menyetujui perkataannya. “…aku sudah bilang kepada pemilik ArtBakery bahwa kau akan menjadi juri tahun depan…” Choi Gil memberikan kabar yang baik pada Joon Young. Eun Seung yang ada disampingnya memperhatikan Joon Young yang mendapat tawaran bagus dari mereka.
“lalu ?!”
“dia menyetujuinya, tenang saja, kau bisa andalkan aku untuk mendapatkan segalanya…” ucap Choi Gil yang terlihat sombong. Eun Seung meliriknya. Ia tahu Choi Gil bukan orang yang sembarangan. Ia mempunyai pengaruh terhadap ArtBakery, mungkin dia terpilih untuk penyelenggaraan donasi.
“aku percayakan kepadamu, tuan Choi Gil…” ujar Joon Young yang sangat senang mendengarnya. ia bisa membanggakan dirinya di depan Eun Seung bahkan juga neneknya.
Namun tiba-tiba, seorang laki-laki datang mendekat ke arah mereka. laki-laki yang sangat rapi dengan kartu identitas di saku kemejanya.
“permisi, apa anda tuan Choi Gil…” tukas laki-laki itu dengan sopan mengarah kepada Choi Gil menjawab dengan anggukan dan bingung. Joon Young dan Eun Seung hanya memperhatikannya. “…mohon maaf, tuan Kim, Pemilik ArtBakery belum bisa bertemu dengan kalian..” ujarnya lagi.
“yahhh, sayang sekali. padahal aku ingin mengenalkan pada seseorang…” sesal Choi Gil memandang sedih ke arah Joon Young.
“beliau mendadak harus pergi ke suatu tempat, aku akan mengatur jadwal pertemuan kalian…” ucapnya menunduk memberi hormat untuk segera pergi dari hadapannya. namun di tahan oleh Eun Seung, menarik tangannya.
“kau siapa?” tanya Eun Seung tiba-tiba membuat Joon Young dan Choi Gil terkejut dengan aksinya. Ia tersenyum.
“aku, Jung Hae In. manager viour bakery…” Hae In tersenyum di hadapan Eun Seung. gadis itu melepasnya, mengalihkan pandangannya ke setiap orang dan sudut ruangan. Orang bernama Hae In itu kembali memberi hormat dan pergi.
__ADS_1
Eun Seung tahu ada yang salah dengannya. Pemilik ArtBakery yang bermarga Kim itu sedang menghindar darinya. Semua terasa mendadak dan pergi begitu saja. ia yakin bahwa pemilik ArtBakery sudah mengamati dirinya dari jauh dan tahu jika Eun Seung berada di tempat itu. Petunjuk yang ia dapat kali ini, bahwa pemilik ArtBakery mengenal wajah Eun Seung dengan sangat baik. Kompetisi ArtBakery sudah lewat cukup lama, seharusnya pemilik ArtBakery tidak mengetahui dirinya. Joon Young memperhatikan Eun Seung yang cemas mengamati setiap orang.
“maaf, Joon Young. aku tidak bisa mengenalkan kau dengannya…” ucap Choi Gil sungguh menyesal. Joon Young hanya tersenyum namun pandangannya masih tertuju pada Eun Seung yang seperti itu.