
Malam sudah mulai menunjukkan ke angka delapan. Tak ada tanda-tanda kehidupan di La Café sejak insiden tadi pagi. Café itu terpaksa ditutup oleh Woo Jae. Ia memang datang tadi pagi tapi ia tak berani untuk berhadapan dengan Seung Ho yang seperti itu. Ia tak ingin menanyakan hal lebih padanya. Ia takut akan membuat bosnya itu marah besar kepadanya. Lampu café masih sangat gelap disana menunjukkan bahwa pemiliknya memang tidak ada di sana.
“ceklekk…!!” Suara pintu café terdengar di buka oleh seseorang menyadarkan Seung Ho yang tertidur di tumpuan lututnya.
“hei, kau tak apa-apa !?” Suara Eun Seung yang sudah hadir di hadapannya. Ia bertumpu pada kedua kakinya memperhatikan Seung Ho. Laki-laki itu terkejut, Eun Seung sungguh menyentuh tangannya untuk membangunkannya. Seung Ho menatapnya lekat-lekat. Wajahnya terlihat samar-samar karena bayangan lampu di luar café. Ia sungguh terlihat cantik dengan wajahnya yang putih sedikit menerangi pandangan. Suasana café yang hanya dibayangi lampu jalan dan lampu luar café yang masuk melalui celah-celah jendela membuat Seung Ho dan Eun Seung masih bertumpu pada kedua kakinya di bawah counter penyajian.
“sedang apa kau?” Kesal Seung Ho menarik tangannya dan mulai menghindar darinya. Ia menjauhi Eun Seung duduk menyandar di dinding counter penyajian. Ia tak ingin di ganggu.
“aku hanya ingin menemanimu…” jawab Eun Seung mencari posisi nyaman untuk duduk di sebelah Seung Ho. Ia memang memutuskan berbicara padanya.
__ADS_1
“aku tak butuh dirimu…”sambung laki-laki itu dengan cepat dan singkat. Wajahnya benar-benar kusut, ia menyembunyikan kepalanya di kedua tangannya.
“ternyata bersembunyi disini benar-benar tak terlihat ya…” ucap Eun Seung memperhatikan sekitar yang ada hanya beberapa peralatan memasak dan membuat kue. Seung Ho hanya diam, tak menyahutnya. “…kau tahu, sebenarnya aku sangat membencimu..” Suara Eun Seung terdengar pelan. Ia sedang mencurahkan segala isi di hatinya. Seung Ho melirik ke arahnya memperhatikan Eun Seung yang sedang memainkan jari-jari kakinya. “..kau selalu saja menang dalam kompetisi itu dan membuatku terpuruk berkali-kali olehmu. Apa kau sadar? Kau merebut semua keinginan yang aku mau, aku ingin menjadi baker terkenal tetapi dirimulah yang selalu dikenal orang-orang kampus. Aku ingin mempunyai toko kue sendiri tetapi kau kembali merebutnya memenangkan kompetisi ArtBakery. Apa salahku selalu kalah olehmu?” Tanya Eun Seung yang kini menoleh ke laki-laki itu. Sebuah pandangan yang membuatnya meneteskan air mata kepadanya, Seung Ho benar-benar terkejut. Selama ini wanita itu memendam seluruh perasaan sedihnya sendirian. Ia tak menyangka membuat Eun Seung seperti itu. “…aku juga ingin mempunyai cita-cita sepertimu…!! Aku yang berusaha keras untuk berlatih tetapi tak juga menang darimu. Aku menyerah selama empat tahun ini untuk pergi dari kalian semua. Selama itu aku merenungkan semuanya yang telah terjadi. Ternyata jalannya memang harus seperti itu. Aku mulai berubah dan tak mementingkan ambisiku lagi untuk mendapatkan keinginanku…” wanita itu lalu tersenyum. Ia mengelap tetesan air matanya yang jatuh ke pipinya. Ia terbangun dari duduknya, dan berdiri di depan meja counter penyajian.
“aku tersadar, tak mudah mendapatkan semua ini. Kau juga mempunyai masalah sendiri untuk membuktikan kepada semuanya kau sudah berhasil. Kau berusaha keras untuk meraih cita-citamu untuk bisa dilihat orang tuamu..” Eun Seung tersenyum memainkan sepatunya mengetukkan ke lantai. “tuk..tuk…” suara sepatunya membuat Seung Ho melihat ke arahnya yang sudah berdiri tegak menyandar di meja counter. “…Ini memang jalanmu. Dan aku bangga melihat itu semua. Aku mengerti apa yang kau berbuat kepadaku. Bahwa kau yang mengubahku untuk selalu terus berusaha. Kau yang membuatku selalu berlatih untuk mengalahkanmu. Te…” potong Eun Seung ketika Seung Ho tiba-tiba terbangun dan memeluk dirinya. “te…rima kasih…” ucapnya terbata bahkan suaranya tak keluar dari mulutnya. Ia sudah terlanjur syok laki-laki itu berani memeluknya.
“maafkan aku…!!” Bisiknya pelan terdengar di telinga Eun Seung. Suatu kejadian yang langka, laki-laki itu meminta maaf.
“Ma.. Maaf, aku tak bermaksud…” ucap Seung Ho yang secara cepat melepas pelukannya. Ia menunduk malu. Begitu juga Eun Seung yang juga melompat ke belakang menghindar darinya. Ia tak berani memandang Seung Ho yang ada dihadapannya. Eun Seung mengalihkan pandangannya ke arah pintu café.
__ADS_1
“aku harus pergi…” tukas Eun Seung berjalan ke pintu café, pikirannya sudah kacau balau. Ia tak bisa berbicara santai lagi dengannya. Semua kata-kata terasa menghilang begitu saja. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. “…hei, Seung Ho. Temuilah kedua orang tuamu, aku yakin mereka akan mendengarkanmu. Ingat, hanya kau anak satu-satunya bagi mereka…” Eun Seung menolehnya lalu tersenyum. “…selamat ulang tahun..!!” Ucapnya kemudian membuat Seung Ho benar-benar terkejut menatap Eun Seung yang masih tersenyum kepadanya. Gadis itu mulai salah tingkah karena terus dipandang olehnya. Ia mulai tersadar dalam ingatannya. Eun Seung terus berteriak menyembunyikan suaranya dalam bantal. Ia tak menyangka bisa mengatakan semua hal kepadanya. Sepertinya dirinya sudah mulai gila, apa yang ia bicarakan pada Seung Ho itu memang suatu curahan hatinya selama ini. Wajah gadis itu memanas terus mengingat laki-laki itu.
“tapi apa Seung Ho akan mendengarkanku…!!” pikir Eun Seung yang ragu dengan usahanya kali ini. ia memandangi sebuah amplop yang berisikan uang di atas mejanya. Hae Joo, ibunya Seung Ho yang memberikan itu kepadanya setelah pertemuan mereka. Eun Seung memang niat untuk membantunya, tetapi untuk hadiah semacam itu Eun Seung tak tahu harus menerimanya atau tidak. Sebenarnya, Itu cukup menambah uang untuk membayar hutang Joon Young. “besok, aku harus mengembalikannya…!!” ujarnya mengambil amplop coklat itu lalu memasukkannya di tasnya. Ia tak ingin niat untuk membantu di beri imbalan seperti itu. “…aku yakin, suatu hari nanti. Kau akan kembali kepadaku dengan cara yang lain…” Eun Seung berbicara pada uang itu. aneh memang. Tetapi ini cara yang tepat untuk menghargai seorang teman.
**
“Ingat, hanya kau anak satu-satunya bagi mereka…” suara Eun Seung terus terdengar di pikiran Seung Ho. laki-laki itu tertawa. Ia menutupi wajahnya dengan bantal. “…bodoh !! bisa-bisanya dia membuatku terus kepikiran…” Seung Ho mulai memejamkan matanya namun tidak bisa, pikirannya terus berputar-putar tentang kejadian hari ini. orang tuanya yang datang ke cafenya, perasaan Eun Seung yang sesungguhnya kepadanya, banyak kejadian yang membuat pikirannya terbuka.
“kau tak akan mengerti perasaan wanita !!”
__ADS_1
Seung Ho membuka matanya, ucapan itu ia dengar juga dari Eun Seung. Dua kali ia memberitahukan hal yang menyudutkan dirinya. Entah ia harus marah atau menerimanya. Semuanya mungkin benar. Gadis itu pandai membuka pikirannya. Seung Ho mulai intropeksi diri, bahwa dirinya selama ini salah mengenai kedua orang tuanya. “…apa kau mengerti perasaan ibumu, Seung Ho ??” Laki-laki itu tersenyum, pikirannya sudah berbicara itu kepada dirinya sendiri. Sungguh menyakitkan. “…Pulanglah nak, kami rindu padamu…” ucapan ibunya terngiang di ingatan Seung Ho, sebuah genggaman dari tangan seorang ibu menahan dirinya untuk tidak pergi. Seung Ho menekankan perasaannya, membuat dirinya merasakan sesak dalam hatinya. Tak membutuhkan waktu lama, tetesan air mata jatuh mengenai pipinya. Sudah cukup lama, ia tidak pernah memikirkan kedua orang tuanya dan kali ini ia rindu dengan mereka. “Temuilah kedua orang tuamu, aku yakin mereka akan mendengarkanmu…” Seung Ho mengelap air matanya. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, berharap besok akan baik-baik saja