Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 33 : ROTI BUATAN EUN SEUNG


__ADS_3

“tringgg…” suara pintu toko swetty bakery berbunyi dengan nyaring. Sepagi ini, ada pelanggan yang datang berkunjung. Eun Seung melihatnya, seorang wanita elegan cantik dengan sanggul kecil di rambutnya. Ia terlihat sangat modis dengan anting-anting putih besar yang menghias di telinganya. Eun Seung tak pernah melihat wanita yang berusia kira-kira empat puluhan itu datang ke tempatnya.


“selamat datang, ada yang bisa saya bantu…” sapa Eun Seung yang sudah berdiri di depan kasir memperhatikan wanita itu yang berjalan ke arahnya.


“aku mencium roti yang baru matang, apakah itu ada?” tanyanya kemudian, tersenyum kepada Eun Seung.


“ah itu, ada. Sebentar saya ambilkan…” tukas Eun Seung kembali ke belakang dapurnya, mengambil beberapa roti untuk ditunjukkan kepada wanita itu.


“mmmhh… harumnya, aku minta semuanya ya…” wanita itu menunjukkan semua yang ada di tangan Eun Seung. gadis itu hanya terkejut. Ada yang mau membeli semua roti yang baru ia buat itu. “kenapa? Kau tak menjualnya?” tanyanya lagi menyadarkan Eun Seung yang kebingungan.


“eh, saya menjualnya, Nyonya. Maafkan aku, sebab selama ini tidak ada yang pernah membeli sebanyak ini. saya akan membungkusnya…” jawab Eun Seung dengan cepat. Ia sungguh senang roti buatannya ada yang membelinya.


“dulu sekali, aku pernah membeli roti yang harumnya seperti ini. apa kau dulu mempunyai toko roti?” wanita itu menanyakan kepada Eun Seung yang masih sibuk membungkus beberapa roti ke dalam kardus. Eun Seung melihatnya, ia terlintas mengenang toko roti ayahnya yang sudah lama bangkrut itu.


“dulu, ayahku yang mempunyai toko roti…” Eun Seung tersenyum tipis menghentikan ucapannya.


“lalu?” wanita itu penasaran apa yang sedang terjadi kepada toko itu.


“ada rumor yang ingin menjatuhkan toko kami. Semenjak itu ayah tidak ingin membuka toko roti lagi dan menjualnya. Itu sudah lama sekali, Mungkin toko roti yang Nyonya maksud, toko roti yang lain. Bukan milik ayahku…” senyum Eun Seung memberikan kardus kepada wanita itu.


“mungkin seperti itu. Boleh, aku tahu siapa namamu?”


“namaku, Eun Seung, Nyonya…” tukas Eun Seung menunduk memberi hormat kepadanya. wanita itu tersenyum.


“nama yang bagus. jadi kau meneruskan keinginan ayahmu, ini…” ujarnya lagi memberikan kartu debit kepadanya. Eun Seung menerimanya dan mengecek pembayaran.

__ADS_1


“iya, aku ingin menjadi baker terkenal dan memperbaiki nama ayah dimata semua orang. Bahwa toko milik keluargaku bukan yang mereka pikirkan…” jawab Eun Seung memberitahu harapan yang sebenarnya kepada wanita itu. ia hanya tersenyum mendengarnya.“ terima kasih, Nyonya..” ucap Eun Seung memberikan kembali kartu debit wanita itu.


“lain kali, kau harus datang ke rumahku ya…” pinta wanita itu tersenyum. Eun Seung hanya bingung harus berkata apa pada wanita itu. “terima kasih, Eun Seung…” sambungnya lagi lalu pamit untuk pergi dari toko itu. Gadis itu masih terpaku memperhatikan wanita itu yang sudah mulai keluar dari toko.


**


“ternyata itu alasannya, kenapa dia berbuat seperti itu…” ucap Jin So mendengar pernyataan istrinya itu saat mereka sedang sarapan pagi.


“benar, aku merasa bersalah selama ini kita memaksa dirinya untuk membayar hutang. Suamiku, apa kita bisa membatalkan penjualan toko itu hingga ia terkumpul uangnya untuk membayar hutang…” Sun Mi memberi saran kepadanya. ia memang tahu suaminya itu berniat untuk menjual toko itu setelah mendapatkan uang dari Eun Seung. Jin So merenung sesaat, ia sedang memikirkan cara terbaik untuk Eun Seung. “…apa kau setuju jika menikahkan dia dengan Joon Young?” bisik Sun Mi kembali membuat Jin So memandang dirinya. “…ya, selama ini kita memang salah menilai dirinya. ketika aku melihat anak itu. kau tahu, aku mulai menyukainya…” ungkap Sun Mi saat bertemu dengan Eun Seung di tokonya.


“kau mulai ikut-ikutan dengan ibu ya !?” Jin So mengambil lembaran roti melihat Sun Mi yang sudah terhasut dengan anak itu.


“aku hanya menyukainya, bagaimana kalau kita mengundang Eun Seung untuk berkenalan dengan keluarga kita…” Sun Mi meringis memberikan selai kepada suaminya itu. Jin So mengambil lembaran roti dan memakannya. Ia takjub dengan roti itu, ia memperhatikan dan mencium kembali roti enak itu. “kau menyukainya, bukan?” tanya Sun Mi memandang Jin So yang hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.


“pagi, ibu. Ibu mau roti, biar aku ambilkan..” ujar Sun Mi menawarkan roti kepadanya. Hae Rim mengangguk, Sun Mi dengan hati-hati memberikan dua potong roti kepadanya.


“bau roti ini !!” seru Hae Rim yang mulai mengingat kenangan tentang roti ini. Jin So dan Sun Mi memperhatikan ibunya yang tahu darimana roti itu berasal. Hae Rim memakannya. Seketika kelembutan roti itu menjalar di lidahnya. Ia menyukai roti itu. “kau bertemu dengannya?” tanya Hae Rim yang begitu sangat senang memakannya.


“aku yang bertemu dengannya, bu…”jawab Sun Mi memberitahukannya.


“lalu? Apa dia mau menikah dengan Joon Young ?” sambungnya dengan cepat, ia ingin tahu apa yang dilakukan dengan Eun Seung.


“ibu, tenanglah !! buru-buru sekali…” potong Jin So, ia tahu ibunya itu sangat bersemangat dan senang mendapatkan roti yang sudah lama sekali ia tak memakannya. Hae Rim menunggu Sun Mi berbicara tentangnya.


“aku tak membicarakan hal itu, bu…” jawab Sun Mi singkat.

__ADS_1


“sayang sekali !! padahal aku menantikannya…” Hae Rim menggeleng kepalanya, memakan rotinya kembali.


“selamat pagi…” sapa Joon Young berjalan lemas mengambil roti yang ada di dekat ibunya. Semua orang memperhatikannya. Mereka ingin tahu apa tanggapan Joon Young yang tiba-tiba memakannya. Wajah laki-laki itu terkejut ketika roti sudah ada di mulutnya. Ia benar-benar menikmatinya. Baru kali ini, ia merasakan roti itu. sungguh enak. Ia memakannya lagi.


“itu roti Eun Seung…”ucap Sun Mi memberitahu kepada Joon Young.


“uhuuuk uhuukk…” Joon Young terbatuk mendengar kata Eun Seung di mulut ibunya itu. Seketika semua bayangan Eun Seung mendarat dalam pikirannya. Wajahnya memerah. Nenek Hae Rim tersenyum memperhatikan Joon Young yang seperti itu. Jin So hanya memandang neneknya bingung.


“minumlah dulu !! kau ini kenapa?” Sun Mi memberikan segelas air kepadanya. Joon Young mengambil dan meneguknya. Tak disangka, ibunya tahu akan gadis itu.


“kau kalah, Joon Young…” ucap Hae Rim meledek cucunya itu. “…akhirnya kau mengakui bahwa roti buatan Eun Seung lebih enak darimu…” lanjutnya lagi.


“sudahlah, bu. jangan diteruskan lagi…” Jin So mencegahnya. Ia tak ingin anaknya itu merasa terasingkan dalam keluarganya. Selama ini memang neneknya itu selalu memuja roti buatan Eun Seung dan tidak menganggap roti buatan cucunya itu. ia selalu kalah dengannya.


“ibu tahu Eun Seung ?” tanya Joon Young yang menghiraukan perkataan neneknya itu. Sun Mi mengangguk pelan, ia takut memberitahu bahwa ia hari ini memang ke toko roti miliknya.


“Ibumu pergi ke toko roti Eun Seung untuk membeli semua roti ini. mmmh.., sangat harum roti ini…” Hae Rim menjawabnya, sambil mencium semua roti yang ada di piring saji. Joon young menatap ibunya, berharap apa yang di dengarnya bukan kenyataan. Namun tak ada jawaban darinya, ibunya tampak menghindar dari pertanyaan anaknya itu.


“Ibu sampai kapan, ibu akan seperti ini pada Joon Young. dia juga bisa membuat kue lebih enak dari Eun Seung. Ibu tidak tahu jika Joon Young sekarang sudah menjadi juri baker di salah satu kompetisi…” ungkap Jin So berusaha menaikkan semangat Joon Young yang seperti itu. ia memang sudah tahu bahwa Joon Young sekarang bergabung dengan ArtBakery Foundation. Salah satu perusahaan Bakery yang terkenal di dunia.


“benarkah !! jika begitu, ajak Eun Seung ke rumah. Aku ingin menjadi juri roti buatan kalian. Joon Young, kau sanggup melakukannya?” Hae Rim memintanya. Ia memang terus-terusan menyudutkan dirinya. roti buatan Eun Seung memang lebih enak daripada buatan Joon Young. itu yang dipikirkan Hae Rim. Belum ada satupun roti enak seperti milik keluarga Eun Seung.


“baiklah, aku akan membuktikan kepada nenek kalau roti buatanku lebih enak dari Eun Seung…” suara Joon Young terdengar tegas dan berat. Ia benar-benar serius dengan ucapannya. Ia menatap neneknya itu dengan tajam, berusaha menyakinkan neneknya itu bahwa ia tak akan kembali kalah dengannya.


**

__ADS_1


__ADS_2