Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 18 : SIFAT ASLI


__ADS_3

“huffth lelahnya…!!” keluh Eun Seung berbicara sendiri, ia sedang berjalan menuju toko miliknya. Sejak pagi tadi ia sudah pergi ke pasar untuk membeli keperluan roti dan kue. Ia terus berjalan membawa barang belanja di kedua tangannya. Ia memang melakukan hal itu sendiri. Eun Seung tak ingin membebani dirinya terhadap orang lain. Walaupun teman-temannya itu akan membantunya. Tempat Eun Seung membeli bahan kue tidaklah jauh dari tempatnya. Butuh lima belas menit jika di tempuh dengan jalan kaki. Eun Seung memanfaatkan itu untuk berolahraga. Jalan kaki merupakan olahraga yang pas untuk selalu bergerak.


“hai, mpus…!!” suara seseorang terdengar samar-samar. Eun Seung melirik kanan dan kiri memperjelas pendengarannya. Suara itu dari balik perpohonan. “…aku akan sering datang kesini memberikanmu makanan…” ujarnya lagi. Eun Seung mencarinya suara yang ia kenal ada disana. Benar saja. suara seorang laki-laki sedang memberikan makanan kucing dari balik pohon. Jang Ryu Nam sedang berlutut ditanah. Eun Seung memandang aneh dirinya.


“astaga !!” Ryu Nam terkejut melihat Eun Seung yang tiba-tiba muncul dari sampingnya. “…kau mengejutkanku !!” serunya, ia terbangun dan membersihkan kotoran yang menempel di bajunya.


“ternyata kau sangat baik ya !!” ungkap Eun Seung tersenyum melihat Ryu Nam yang lain seperti biasanya. Ia sangat peduli dengan memberikan makanan kucing liar. Eun Seung jarang melihat laki-laki seperti ini di sekitarnya. Ia tak memperdulikan Eun Seung, ia malah bergerak menuju tempat duduk yang tak jauh darinya. Eun Seung sadar laki-laki itu ingin berbicara sesuatu karena biasanya Ryu Nam akan mengusir dirinya. Eun Seung mengikutinya duduk di samping laki-laki itu.

__ADS_1


“maaf” ucapnya pelan membuat Eun Seung melihatnya. kalimat yang selama ini dinantikan oleh Soo Ra. kata maaf ada di ucapan dan perasaannya kini. Eun Seung terkejut. Ada sesuatu yang membuat dirinya terbuka hatinya. “…aku tahu, semua yang kalian lakukan demi kebaikanku. Kalian membantuku mengundang pelanggan untuk datang ke toko musikku. Aku berterima kasih untuk itu…” Ryu Nam mengungkapkan seluruh perasaannya. Ia tampak bersalah akan perbuatannya kepada teman-teman Eun Seung. banyak teman-teman yang membantunya tetapi ia mengabaikan mereka. Ryu Nam sudah terbuka hatinya.


“sejak awal aku sudah tahu sikapmu bukan seperti itu karena waktu aku datang mempertanyakan foto besar itu kau mendengarku. Makanya aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan olehmu…” tukas Eun Seung memberitahu kepadanya.


“hufft…” Ryu Nam menghembuskan nafas panjang. Ada yang menganggu pikirannya. Eun Seung melihatnya. “…di foto besar itu adalah adikku. Ia menang kompetisi ArtBakery tahun kedua, ia mendapat beasiswa dari perusahaan besar untuk kuliah di luar negeri. Aku juga diterima sebagai panitia penyelenggara ArtBakery. Namun dua bulan kemudian beasiswa adikku di cabut dan digantikan dengan anak dari perusahaan itu. semua harapan hancur. Aku dan adikku merasa di permainkan oleh mereka. aku keluar dari penyelenggara dan adikku pergi ke desa untuk buka toko roti disana…” cerita Ryu Nam tanpa jeda. Eun Seung hanya mendengarkan laki-laki itu. “…salahkah aku ? jika aku tak percaya dengan orang lain lagi…” Ryu Nam memandang langit. Ia menerawang jauh dalam pikirannya. Eun Seung melihat dirinya yang kesepian. Ia bisa merasakan kehampaan sosok laki-laki ini. ia sudah kehilangan harapan untuk percaya kepada orang lain lagi.


Ryu Nam yang kini melihat Eun Seung memberi semangat kepadanya. ada benarnya dari perkataan gadis itu mengenai masalahnya. Saran darinya membuat mata Ryu Nam terbuka lebar. Impian dan harapan kembali muncul seperti secercah mentari. Eun Seung bangun dari tempat duduknya. Ia bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


“aku percaya padamu, aku yakin kau bisa melewati ini semua…” ucap Eun Seung mengangkat kedua barang belanjanya. “..aku harus pergi, sebentar lagi tokoku akan buka…” pamit Eun Seung. Ryu Nam mengangguk melihat gadis itu pergi darinya.


“Eun Seung !!” panggil Ryu Nam kembali membuat Eun Seung menolehnya. “…terima kasih..!!” teriak Ryu Nam kembali. Gadis itu hanya tersenyum dan beralih kembali berjalan cepat menuju toko kue miliknya.


“kue nya !! dia mendengar ucapanku kan !! terima kasih untuk kuenya…” ucap Ryu Nam hanya pelan berbicara pada kucing yang asyik mengelus kakinya itu.


**

__ADS_1


__ADS_2