Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 27: CALON MENANTU


__ADS_3

“minumlah !!” Seung Ho memberikan es cappucino kepada Eun Seung ketika mereka mampir di s*buckx.


“maaf, aku ketiduran…” ungkap Eun Seung menunduk menyesal dengan perbuatannya. Seharusnya ia memang tidak boleh seperti itu, ia ingat betul Seung Ho tadi sedang berbicara dengannya namun keadaan sekitar yang membuatnya semakin mengantuk.


“sudahlah, persiapkan dirimu. Kita akan segera jalan…” Seung Ho berjalan terlebih dahulu menelusuri tepi jalan. Eun Seung menerimannya lalu mengangguk lemah mengikuti Seung Ho dari belakang.


Sekitar lima menit, mereka terus berjalan menelusuri lorong-lorong jalan. Rumah-rumah berhimpitan namun terlihat sangat nyaman dilihat. Rumah Seung Ho termasuk komplek perumahan sederhana. Eun Seung menebaknya karena ia tahu rumah-rumah disini sangatlah nyaman. Laki-laki itu terdiam di salah satu rumah berpagar tertutup warna coklat. Ia menghembuskan nafas panjang lalu memberanikan diri menyentuh bel di rumah tersebut. Eun Seung berjalan cepat menghampiri laki-laki itu. mereka sudah sampai di tujuan akhir.


“aku, Seung Ho !!” sebut laki-laki itu memberitahukan dirinya di sebuah kotak suara yang terhubung dalam rumah. Seketika itu juga, pintu pagar terbuka. Mereka pun masuk kedalam yang sudah di sambut oleh ibu Seung Ho, Hae Joo.


“Seung Ho !!” panggil Hae Joo yang benar-benar terharu, anak laki-lakinya itu kembali pulang setelah sekian lama. Hae Joo memeluknya dengan sangat erat.


“ada yang ingin aku katakan pada ayah dan ibu…” ucap Seung Ho melepas pelukan ibunya itu.


“baiklah, kau masuklah lebih dulu. Kita bicara di dalam bersama ayahmu..” ujar Hae Joo mempersilahkan Seung Ho untuk masuk ke dalam rumah. Seung Ho mengangguk, ia berjalan menuju pintu utama namun tiba-tiba seseorang membuka pintu menghampirinya.


“Kau, beraninya kau datang ke sini !!” teriak ayah Seung Ho, Jae Suk kepadanya. ia berkacak pinggang dan terus menunjuk-nunjuk wajah Seung Ho. Eun Seung dan Hae Joo melihatnya dengan rasa takut. Mereka takut jika Seung Ho akan diusir lagi.


“aku tak suka, ayah seperti itu…” ujar Seung Ho mengenggam telunjuk kanan ayahnya, dan menariknya ke belakang dirinya. Seung Ho memeluknya terlebih dahulu membuat semua orang terkejut melihat mereka. Anak itu sudah mulai berdamai dengan ayahnya. “…mari bicarakan semuanya di dalam…” ucapnya kemudian lalu melepas ayahnya itu mengajak untuk masuk ke dalam.


“permisi, nyonya…!!” panggil Eun Seung dengan pelan membuat wanita itu menolehnya.


“kamu? Ah iya, kamu temannya Seung Ho. pemilik toko roti. Kau bersama Seung Ho? Ada apa kesini?” Tanya Hae Joo memperhatikan Eun Seung dari atas sampai bawah.


“aku ingin memberikan ini kepada nyonya, maaf aku tidak bisa menerimanya…”tukas Eun Seung memberikan amplop yang berada di dalam tasnya kepada Hae Joo.


“kenapa? Aku memberikanmu sebagai imbalan kau sudah mengajak Seung Ho kembali pulang ke sini. Kau pasti kurang ya, makanya menolaknya !!”


“tidak, bukan itu nyonya…”tolak Eun Seung dengan cepat, ia menggeleng untuk menghilangkan pikiran jelek Hae Joo.”…Aku punya alasan tidak menerimanya. Sebagai teman Seung Ho, aku tidak menggunakan uang sebagai imbalan. Terima kasih telah menawarkan ini kepadaku…” Eun Seung menunduk memberi hormat lalu pergi meninggalkan Hae Joo sendirian. Ia pergi keluar rumah karena tujuan sebenarnya sudah terselesaikan. Eun Seung menoleh ke pagar yang sudah ia tutup tadi. Ia menghembuskan nafas panjang. Ia lupa, kalau Seung Ho masih berada di dalam menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


“aku lupa, aku meninggalkan Seung Ho didalam. Sekarang aku harus kemana?” Eun Seung celingak celinguk kekanan kekiri memutuskan untuk meninggalkan rumah itu, ia berjalan menelusuri jalan yang tak pernah ia kenal.


Sore pun semakin berjalan dengan cepat. Matahari mulai tidak menunjukkan penampakannya. Langit senja menyelimuti wilayah itu. burung-burung mulai berterbangan merasakan indahnya sore ini. Eun Seung sejak tadi hanya memperhatikan rumah berpagar coklat itu berharap Seung Ho akan keluar dari sana. Ia sudah merasa lelah berdiam diri tanpa arah menunggu laki-laki itu. perutnya yang keroncongan juga berbunyi terus menerus. Ia sangat kelaparan. Tubuhnya ia sandarkan di dinding rumah orang. Ia masih bersembunyi di samping gang memperhatikan sekitar.


“Seung Ho, cepatlah keluar…!!” ucap Eun Seung masih menahan laparnya. Suara perutnya terdengar sangat nyaring di telinga.


“ceklek…!!” seseorang membuka pintu berharap Seung Ho yang keluar dari sana. Eun Seung melihatnya, benar saja laki-laki itu keluar dengan wajah tak bersalahnya.


“bagaimana?” Tanya Eun Seung yang mulai mendekati Seung Ho. laki-laki itu melihatnya dengan tatapan bingung. “…kau sudah bicara pada mereka?” sambungnya lagi. ia ingin tahu apa yang terjadi di dalam setelah bertemu dengan keluarganya. Apa mereka berdamai satu sama lain. Apa ayahnya menyetujui keinginan Seung Ho menjadi baker terkenal. Eun Seung sungguh penasaran.


Laki-laki itu tersenyum melihat semangat Eun Seung yang seperti itu. “…aku akan mentraktirmu makan enak…” ucap Seung Ho menatap mata Eun Seung. gadis itu melihatnya. Sebuah senyuman terlihat diwajah laki-laki itu membuat dirinya kehilangan fokus beberapa saat. Seung Ho tak memperdulikannya, ia sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Eun Seung yang masih terdiam. Hatinya penuh kejutan, baru kali ini ia melihat laki-laki itu tersenyum.


“benar, semua baik-baik saja. Seung Ho sudah bisa tersenyum. Berarti semua berjalan lancar…” suara hati Eun Seung yang berkata demikian. Kesimpulan yang jelas bahwa permusuhan mereka sudah berakhir dengan damai. Eun Seung berlari mendekati laki-laki itu.


“aku mau makan daging sepuasnya…” ucap Eun Seung meminta kepadanya.


“tentu, aku tahu daging enak di sekitar sini…”


“siapa suruh kau ikut denganku…”


“asal kau tahu, aku juga punya keperluan sendiri”


Seung Ho terdiam mendengar ucapan Eun Seung seperti itu. ia tahu jika Eun Seung memberikan sebuah amplop kepada Hae Joo. Ia melihatnya tadi.


“terima kasih, kau tidak menerimanya…” tukas Seung Ho kemudian.


“eh !! kau melihatku…?” Eun Seung memperhatikan dirinya yang mengangguk. Seung Ho teringat apa yang ia ucapkan kepada ibunya.


“dan untuk Eun Seung, kau salah menilai dia seperti itu. dia tidak akan menerima imbalan sepersenpun untuk menarikku kembali ke rumah ini…” ucap Seung Ho saat berhadapan dengan orang tuanya di dalam rumah.

__ADS_1


“Seung Ho !!” panggil Eun Seung lagi menyadarkan dirinya yang sudah terbawa ingatan yang lalu. Seung Ho melihatnya.


“ayo, kita makan…” ajak Seung Ho ketika sudah sampai di sebuah restaurant sederhana. Eun Seung mengangguk mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam.


**


“Seung Ho, kau ini penerus keluarga Kang, seharusnya kau mengikuti kemauan kami. Siapa lagi yang akan menjadi pengacara jika bukan dirimu…” ucapan Jae Suk terus membekas di pikiran Seung Ho. mereka masih menginginkan Seung Ho menjadi pengacara. Pertemuan mereka memang membahas hal itu.


“baiklah, Seung Ho. jika kau tak ingin menjadi pengacara. Carikan aku menantu seorang pengacara. Itu akan membuat generasi kita tidak akan terputus. Mengerti !! aku percayakan kepadamu jika kau masih menganggap kami sebagai orang tuamu..” ungkap Jae Suk meminta satu permintaan kepada anaknya itu.


Seung Ho menghembuskan nafas panjang. Bebannya semakin bertambah ketika ayahnya kembali meminta hal yang tidak diingininya itu. Menjadi pengacara atau mencari menantu seorang pengacara. Kedua hal yang mustahil yang diberikan oleh ayahnya itu. dan lebih yang mengerikan lagi bahwa Seung Ho menyetujui tawarannya.


“baiklah, aku akan menuruti semua kemauan kalian…” itu ucapan terakhir yang ia katakan kepada orang tuanya. Seung Ho masih mengingat itu semua.


“ceklek…!!” suara pintu café di buka oleh seseorang. Seung Ho melihatnya. samar-samar seorang wanita membawa kue ulang tahun beserta lilin yang menyala. Lampu café memang belum dinyalakan sejak sore tadi, ia masih terlalu sibuk mengurusi keperluan dapur.


“surprise…!!” teriak Soo Ra yang tiba-tiba hadir di belakang wanita itu. seketika lampu dinyalakan oleh Woo Jae. Seung Ho melihatnya semua teman-temannya hadir untuk merayakan ulang tahun Seung Ho yang sudah lewat dua hari itu.


Seung Ho benar-benar terkejut, teman-temannya niat untuk membuat perayaan baginya.


“Seung Ho, selamat ulang tahun…!!” seru Hyu Ri ketika sudah berada di hadapannya membawa kue ulang tahun.


“terima kasih..” Seung Ho mendekati kue itu, ia menutup mata untuk berdoa lalu meniupnya. Semua bersorak sorai untuk memintanya memotong kue itu. “…baiklah, akan aku potong…” balas Seung Ho mengambil pisau kue lalu memotongnya. “…terima kasih, teman-teman. Maaf sudah membuat kalian repot. Aku akan memakannya…” Ia memakan sendiri kue itu untuk menghargai semuanya yang sudah hadir. Seung Ho memperhatikan sekitar, semuanya tampak hadir disana. Satu potongan kue menyadarkan dirinya terhadap Eun Seung, ia tahu kue itu dibuat olehnya. Karena satu-satunya toko kue hanyalah Swetty bakery milik Eun Seung. Seung Ho pun melirik gadis itu yang sedang bertepuk tangan menyanyikan lagu bersama lainnya. Ia tersenyum, kue itu benar-benar enak di mulutnya. Pantas banyak sekali yang memuji toko itu.


“Seung Ho, selamat ulang tahun…!! Maaf kami baru bisa bertemumu sekarang…” ucap Jin Hyun yang menjabat tangan Seung Ho memberi selamat.


“tidak apa-apa. terima kasih, hyung !!”


“Selamat ulang tahun, bos. Maaf aku tidak bisa membantumu kemarin. Semoga masalahmu sudah selesai ya…” ujar Woo Jae memberi tangannya untuk bersalaman. Harapan semua orang bahwa Seung Ho menyelesaikan masalahnya dan semua kembali biasa-biasa saja. Semua bergiliran mengucapkan selamat kepada Seung Ho. begitu juga dengan Eun Seung yang terakhir mengucapkan selamat kepadanya.

__ADS_1


“sudah dua kali, aku mengatakan ini padamu. Selamat ulang tahun, Seung Ho…”


Seung Ho tersenyum menyambut jabatan tangan dari Eun Seung. kini dirinya tidak di anggap sebagai rival lagi.


__ADS_2