Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 11 : MASALAH BARU


__ADS_3

"Perhatian, wilayah ini akan digusur...!! Diharapkan untuk semua unit mempersiapkannya kurang dari tiga bulan" ucap salah seorang bapak-bapak berusia lima puluh tahunan berteriak di tengah jalan. Ia menggunakan toa supaya bisa terdengar sampai jauh. Sebuah pengumuman penting yang mengagetkan semua orang. Beberapa orang yang merasa tercengang, mulai keluar dari toko-toko mereka. Semua pemilik toko dan juga pelanggan merasa terganggu atas aksinya itu. Ia menciptakan keributan dan kegaduhan seluruh pemilik toko.


"apa sih??" Tanya myung dae yang kesal tak mendengar apa yang dibicarakan bapak itu melalui toanya.


"wilayah ini akan digusur..." jawab Woo Jae memberitahu.


"benar sekali, kau juga kau tolong kosongkan tempat ini sekarang juga !!" Perintah bapak tua itu.


"apa maksudnya semua ini, kami pemilik toko sudah menjadi pemilik sah, surat-surat kami lengkap. Kenapa wilayah ini bisa di gusur..." kali ini oppa jin hyun yang mewakili toko-toko lain untuk berbicara. Ia memang yang paling lama tinggal di wilayah ini. Sehingga ia tahu betul, apa yang harus dilakukan. Beberapa orang terdengar menyetujui ucapan jin hyun. Semua berseru membetulkan pernyataannya.


"hei, aku sudah punya surat penggusurannya. Dalam tiga bulan, tempat ini akan dijadikan mall, mengerti !! Jadi persiapkan kalian untuk pindah dari tempat ini..." ujar bapak tua itu.


"siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?" Tanya Seung Ho kepada bapak itu.


"kau bisa tanyakan kepada kepala wilayah. Ia yang bertanggung jawab atas penggusuran ini..." jawab bapak itu.


"katakan padanya, Besok kita akan demo menolak penggusuran ini..." suara Seung Ho terdengar tegas. Membuat semuanya mengangguk dan setuju melakukan hal itu.


"benar, besok aku bawa tank untuk mengusir kau dari wilayah ini. Mengerti !! Jadi siapkan dirimu untuk pergi dari sini..." tambah myung dae berusaha menakut-nakuti pria tua itu. seketika wajah raut wajah Pria tua itu berubah, ia baru sadar jika ia hanya seorang diri di sana. Tanpa seorangpun yang menjadi benteng dirinya. Ia mulai ciut ketika beberapa orang terus bersorak untuk wilayah ini.


"tunggu apa lagi, kau hanya sendiri dan kami banyak orang. Sudah seharusnya kau pergi dari sini, sebelum kami menangkapmu karena sudah mengundang keributan di wilayah ini" Woo Jae juga ikut bersuara.


"lihat saja !! aku akan ke sini lagi memenangkan semuanya...!!" Pria tua itu berceloteh. Ia mengancam semua pemilik toko untuk kembali datang ke wilayahnya. Ia pun pergi menjauhi wilayah itu.


"besok pukul 10 kita akan demo, aku akan menelpon kepala wilayah untuk bicara dengan kalian semua..." ucap oppa jin hyun memberi solusi. Ia memang memberikan gagasan yang baik.


"baiklah..." ucap Soo Ra dengan penuh semangat. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Membuat pernak pernik dukungan untuk wilayah ini. Kegiatan yang disukainya.


**


"Benarkah !! Ia melamarmu..." Soo Ra berteriak gembira mendengar kyung mi menceritakan kejadian kemarin saat ia bertemu dengan ibu Jin Wook.


"iya, enam bulan lagi. Aku tak menyangka ada laki-laki yang berani melamarku. Kau tahu aku sudah lama menantikan ini semua. Pekan depan, Jin Wook akan pergi ke jerman.." Kyung mi memberitahu. Wajahnya tersipu malu. Ia bahkan menjadi wanita yang benar-benar beruntung dan bahagia saat ini.


"selamat, eonni. Aku senang mendengarnya..." Soo Ra bersorak memeluk kyung mi yang ada di sampingnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh eonninya itu. Eun Seung tersenyum melihatnya, ia masih sibuk dengan pensil dan penggaris. Ia membuat tulisan dari bahan karton. Kyung mi dan Soo Ra memang sudah lama saling mengenal. Sejak Soo Ra pindah ke wilayah ini, kyung mi yang selalu ada untuknya. Kyung mi juga yang mengenalkan pada semua pemilik toko. "...tenang, eonni. Katakan saja padaku. Aku siap membantumu mengurus segala pernikahan.." Lanjut Soo Ra.


"aku percayakan semua padamu, Soo Ra. Jin Wook tak bisa di andalkan. Pekan depan, ia akan pergi ke jerman untuk pekerjaan dan waktu akan terus berjalan. Aku tak ingin semuanya berantakan..." ungkap kyung mi, Soo Ra melepas dekapannya terus menyemangati eonninya itu.


"tak apa, eonni. Kita semua siap membantumu..." sambung Eun Seung memberi semangatnya kepada kyung mi.


"menurut kalian, siapa kepala wilayah yang baru ya?" Tanya Soo Ra yang memulai menggunting kertas karton untuk demo. Mereka memang sedang membuat prakarya untuk mendukung esok hari. Kyung mi dan Eun Seung menggeleng, mereka memang tak tahu selama ini siapa kepala wilayah yang pernah datang ke tempatnya. Waktu pengurusan penyerahan toko, mereka hanya di damping oleh sekretaris kepala wilayah.


"kata bibi nei, laki-laki itu masih muda. Ia pernah melihatnya di kantor wilayah.." Ucap Eun Seung memberitahu apa yang di dengarnya tadi saat pria tua itu datang ke wilayahnya.


"semoga saja besok kepala wilayah membatalkan penggusuran ini ya.. Pokoknya besok kita harus semangat..." Soo Ra menyebarkan energi positif kepada mereka semua.

__ADS_1


Semua pemilik toko berharap kepala wilayah mau mendengarkan mereka. Benar saja, mereka susah payah mendapatkan toko itu kini akan di ambil kembali. Apalagi dengan Eun Seung, sumber pendapatan yang baru saja dibuka kini akan dimusnahkan, ia benar-benar tidak mau itu terjadi. Darimana ia bisa mendapatkan uang untuk membayar hutang Joon Young jika penghasilannya dari sana. Ia masih bersikeras untuk melawan itu semua, ia masih kuat untuk mengumpulkan uang untuk membayar hutang. Ia tak ingin semuanya yang sudah ada, menghilang tanpa hasil. Sebenarnya, jika ia sudah lelah mungkin ia bisa menjual kembali toko kepada Joon Young dan sedikit dari keuntungannya, ia bisa menggunakan kembali untuk membuka toko ditempat lain. Tetapi niatnya itu, tidak bisa ia lakukan. Ia sudah berjanji pada Soo Ra untuk tidak pergi lagi meninggalkannya. Ia sahabat satu-satunya yang selalu menyemangatinya hingga saat ini.


"semangaaaat !!!" Teriak Eun Seung dan kyung mi mengikuti Soo Ra merenggangkan tangannya ke atas.


**


"Hai, Seung Ho. Aku menganggumu...!!" Seru Hyu Ri yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ia membuka sedikit celah untuk memastikan laki-laki itu. Seung Ho menolehnya, sedikit terkejut. "tidak, masuklah..." Seung Ho membereskan kegiatannya dan melihat Hyu Ri yang datang menghampiri.


"aku membawakan ini dari ibuku..." Hyu Ri memberikan sebuah kotak makanan kepada laki-laki itu. Seung Ho mengangguk, ia menerimanya.


"terima kasih..." ucapnya datar. Tanpa senyuman tanpa basa-basi. Lalu diam. Jam buka café memang masih satu jam lagi, Hyu Ri memperhatikan sekitar. Mencari seseorang.


"kemana Woo Jae?" Tanya gadis itu karena ia melihat tak ada seorangpun disana kecuali Seung Ho.


"sedang membeli bahan kue.." Jawab Seung Ho singkat. Ia tak tahu harus berkata apa pada gadis itu.


"mmmh... baiklah, aku pergi ya" Hyu Ri menggumam, laki-laki itu terus diam kepadanya. Ia merasa dirinya tak berarti di dekat laki-laki itu. Hyu Ri tersenyum tipis dan beralih pergi menuju luar café. Wajahnya berubah kesal, laki-laki itu tak tahu akan dirinya. Ia sudah berusaha untuk dekat tapi nyatanya selalu seperti ini. Singkat dan padat. Hyu Ri sudah lama tahu bahwa laki-laki itu sering memperhatikan dirinya. Tak ada kelanjutannya. Seringkali, ibunya juga melihat Seung Ho yang diam-diam memperhatikan Hyu Ri. Bibi nei dan Hyu Ri terus menebak bahwa laki-laki itu suka padanya.


"Hyu Ri..." panggil Seung Ho pelan, membuat Hyu Ri menoleh ke belakang. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dan memberikan sepotong kue kepada dirinya. "...cobalah, ini menu baru" pintanya kemudian.


"benarkah? Kau memberikan kue pertama yang kau buat untukku..." Hyu Ri sangat senang menerima kue buatan Seung Ho. Ia memakannya. Seung Ho mengangguk, ia terus memperhatikan Hyu Ri yang menikmati kue itu. Ia masih menunggu Hyu Ri mengatakan sesuatu.


"bagaimana?"


"enak, sangat enak. Aku senang kau memberiku kue pertama yang kau bikin. Ini akan kau jual di cafemu?"


"bagaimana kalau orange flavor cream? Aku suka cream jeruknya..." Hyu Ri menyampaikan idenya.


"baiklah, terdengar bagus.."


"kau tak makan, aku akan menyuapimu ya..." tukas Hyu Ri memberikan sepotong kue dalam sendoknya dan memulai mendekati mulut Seung Ho. Laki-laki itu menggeleng, menolaknya. Ia berusaha menghindar. "ayolah...!!" Hyu Ri sedikit memaksa, ia menarik tangan Seung Ho untuk lebih dekat dengannya.


'kau tak akan mengerti perasaan wanita...' ucapan Eun Seung lagi-lagi terdengar di telinga Seung Ho. Inikah perasaan wanita, ia terus bicara pada hatinya. Ia menatap mata Hyu Ri lekat, jantungnya tak dapat ia paksakan berdebar cepat melihatnya sangat dekat. Perubahan besar dari hidupnya. Ia mulai memberanikan diri untuk terbuka dengan gadis itu. Selama ini ia berpikir bahwa dirinya memang salah. Menutup hatinya dan tak berbuat apapun pada gadis yang disukainya. Itu akan membuat dirinya kehilangan segalanya. Ini waktunya untuk berubah. Benar-benar, Eun Seung membuat dirinya berubah. Gadis itu menyambut dirinya dengan sangat nyaman. Seung Ho membuka mulutnya dengan cepat ia melahapnya walaupun sedikit malu dengan gadis itu. Ia menyembunyikan wajah merahnya saat ia mengambil piring dari tangan Hyu Ri. Ia mulai tersenyum simpul melihat Hyu Ri yang mulai keluar dari cafenya. Gadis itu pamit kepada Seung Ho ketika telepon berdering masuk ke dalam handphone miliknya.


**


"Tolak pembangunan mall di wilayah ini...!! Usir para pengembang...!! Kami menolak penggusuran..." teriak Soo Ra semangat memberi dukungan.


"tolak... tolak..!!" Suara bibi nei memeriahkan demo itu. Mereka memang sudah berkumpul sejak tadi untuk menyambut kepala wilayah. Beberapa orang pemilik toko ikut berpartisipasi mengusir para pengembang yang akan menggusur tempat itu. Myung dae, Woo Jae, Seung Ho, Soo Ra, kyung mi, bibi nei, Eun Seung dan oppa jin hyun sudah membawa senjata mereka. Pernak pernik dukungan yang dibuat Soo Ra telah ampuh membuat demo itu semakin nyata.


"usir... usir... !!" Myung dae ikut-ikutan, ia memasang sebuah banner di antara sela-sela tiang lampu jalan yang berdiri kokoh.


"sini, biar aku bantu..." Woo Jae ikut memegang tangga membantu myung dae memasangnya.


"semoga berjalan lancar..." suara Eun Seung terdengar di telinga Seung Ho yang berada di dekatnya. Ia hanya diam tak mengomentari. Semua pemilik toko memang berharap akan baik-baik saja dan kepala wilayah dapat membatalkan keinginan mereka.

__ADS_1


"heiii, lihat ada seseorang yang akan datang. Dua mobil menuju kemari..." myung dae memberitahu menunjuk dengan telunjuknya ke arah mobil itu datang. Semua orang melihatnya. Benar saja, dua mobil mercedes bens datang ke wilayah itu. Kepala wilayah kota itu akhirnya tiba menerima panggilan dari oppa jin hyun.


"tolak... tolak, penggusuran ini tolak...!!" Seru Soo Ra mulai menyuarakan aksinya untuk dapat dilihat oleh kepala wilayah. Semuanya tersadar dan ikut mengambil papan dukungan untuk berdemo. Sorak sorai pemilik toko menyambut kedatangan kepala wilayah itu. Mobil pun berhenti dan beberapa orang berdasi telah nampak di antara mereka. Orang-orang berdasi yang sering dipandang negative oleh banyak orang. Politik dan kekuasaan menjadi tameng mereka untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Mereka tak tahu, mereka yang kerjakan mungkin menjatuhkan harapan seseorang. Dengan uang semuanya bisa berjalan lancar, menghancurkan harapan dan impian seseorang demi mencapai kesuksesan.


seorang laki-laki keluar dari mobil mereka yang telah berhenti. Laki-laki tinggi, berpakaian rapi berjalan menghampiri semua pemilik toko yang sedang berdemo. Dia kepala wilayah yang sedang dinantikannya itu. Beberapa orang mengikutinya dari belakang untuk menjaga dirinya. Eun Seung terkejut, laki-laki itu yang pernah dikenalnya dulu walau sedikit berbeda penampilannya. Seseorang yang pernah singgah di hatinya. Kini kembali lagi. Tiba-tiba Soo Ra melihat Eun Seung yang sedang terkejut. Dua-duanya memang terkejut, laki-laki itu datang kembali ke hadapan Eun Seung.


"Eun Seung !!" Panggil laki-laki itu yang kini menatap gadis itu ada dihadapannya. Semuanya yang sedang menyuarakan aksinya terhenti ketika laki-laki itu memanggil salah satu teman mereka. Semua pemilik toko memperhatikan Eun Seung yang tersenyum menyapa laki-laki itu.


"hai, op.. Op..pa Seo Woon..." suara Eun Seung terdengar gagap di antara mereka. Seo Woon masih tercengang, ia tak menduga bahwa ia akan bertemu dengan teman lamanya itu.


"kau kepala wilayah tempat ini?" Tanya Soo Ra kemudian mengagetkan Seo Woon. Semuanya juga melihat Soo Ra. Sebuah pertemuan yang tidak di duga sama sekali. Seo Woon memperhatikan semua pemilik toko, Soo Ra dan Seung Ho yang pernah ia kenal ada disana. Pertemuan ini kembali datang lagi di waktu yang benar. Acara reuni yang tidak dijanjikan. Semuanya kembali berkumpul setelah sekian lama.


"selamat datang pak Seo Woon..." sambut jin hyun memberikan tangannya untuk berjabatan. Seo Woon meraihnya, mengangguk dan tersenyum kepada mereka semua.


"terima kasih, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan teman lama disini..." ucap Seo Woon masih dengan senyumnya mempesona semua orang disana. Laki-laki itu terus menebar senyuman. Itulah ciri khas darinya, Eun Seung menyukainya karena itu.


"aku akan mengantar bapak ke tempat yang nyaman untuk berbincang-bincang " ajak jin hyun ke café milik Seung Ho. Perwakilan dari pemilik toko untuk berbicara tentang penggusuran di wilayah ini.


"oke, kami permisi dulu..." pamitnya kepada semua pemilik toko. Mereka mengangguk dan mendukung jin hyun untuk menawarkan yang terbaik bagi wilayah ini.


"jin hyun, lakukan yang terbaik...!!" Seru kyung mi meminta kepadanya.


"pak kepala wilayah, mohon untuk mendengar kami semua. Kami tak ingin ada penggusuran di tempat ini..." ungkap bibi nei juga meminta kepada Seo Woon.


Seo Woon dan jin hyun berjalan bersama masuk ke dalam la café milik Seung Ho. Beberapa orang dari mereka berjaga di luar, ia tak ingin kepala wilayahnya itu diganggu oleh yang lainnya.


"Eun Seung, oppa Seo Woon ternyata kepala wilayah !!" Seru Soo Ra yang kini sudah di hadapannya. Eun Seung mengangguk. Ia masih bingung dengan penampilan Seo Woon yang semakin tampan. Berbeda jauh dengan Seo Woon yang dulu masih kuliah. Kini Seo Woon yang dikenalnya sudah menjadi laki-laki yang dipandang hormat oleh semua orang. Ia sudah menjadi kepala wilayah di tempat Eun Seung dan teman-temannya tinggal.


"aku lega, kepala wilayah pasti akan mendengarkan kita. Sebab kalian teman lamanya, bukan ?!" Tukas bibi nei yang masih berkumpul di pinggir jalan.


benar, teman lama yang dulu menjadi salah satu sahabat terbaik Eun Seung. Sudah lama juga Eun Seung melupakan laki-laki ini walaupun terkadang ia merindukannya.


"Eun Seung !! Kau bisa menyakinkan dia, bukan !!" Pinta kyung mi lagi. Eun Seung mengangguk ragu walaupun ia memang temannya tetapi tak sembarangan dirinya bisa bertemu dengan laki-laki itu tanpa di awasi oleh para penjaga.


"aku percayakan semuanya padamu, Eun Seung, Soo Ra dan kau Seung Ho.." Tukas myung dae menunjukkan dua jempol kepada mereka semua yang disebutkan namanya.


Soo Ra terus melihat Eun Seung yang masih diam. Perlahan semua pemilik toko pulang ke tempat asalnya. Seung Ho tak bicara banyak padanya, ia hanya melihat Eun Seung yang masih diam.


"semuanya meminta bantuanmu, Eun Seung !!" Suara Soo Ra menyadarkan Eun Seung saat ini.


"entahlah, semuanya masih sama atau tidak. Soo Ra. Aku tidak menjaminnya. Ia sudah berubah menjadi seseorang yang dihormati..." jawab Eun Seung yang masih bimbang dengan kenyataan. Seo Woon yang dulu menjadi sahabatnya atau seorang yang sudah mempunyai dasi. Sepertinya tidak akan sama.


"aku tidak akan melarangmu menyukai dirinya lagi, Eun Seung. Dia sudah berbeda. Kali ini aku akan mendukungmu..." ucap Soo Ra yang membuat Eun Seung menatapnya dengan lekat. Permintaan sahabatnya itu mengejutkan dirinya. Dulu memang ia melarangnya karena Seo Woon melukai hati sahabatnya itu. Kini itu berbanding terbalik, dengan kenyataan saat ini. Seo Woon sudah menjadi laki-laki yang dikagumi banyak orang, sudah terkenal dan mapan. Itu yang menjadi salah satu factor Soo Ra menerima Seo Woon menjadi kekasih Eun Seung. Apalagi, Seo Woon telah mempunyai kekuasaan di wilayah ini. Dirinya bisa dimanfaatkan untuk mengusir para pengembang yang akan menggusur tempat ini.


Seung Ho yang masih disana tak sengaja mendengar perbincangan Eun Seung dan Soo Ra. Selama ini ia memang curiga bahwa laki-laki itu adalah pacar Eun Seung. Pertemuan di kompetisi, di kampus. Setiap bertemu dengan Eun Seung pasti ada laki-laki itu. Ia tahu akan hal itu, Seung Ho tak ingin mencampuri urusan mereka. Ia lebih baik menghindar dan beralih menuju café miliknya.

__ADS_1


Eun Seung tak tahu apa yang terjadi dalam hatinya. Seo Woon kembali datang, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Apakah ini bisa berlanjut ataukah tidak. Perasaannya tak sama lagi. Hati yang dulu sudah ia hilangkan. Apa boleh datang kembali menjalin rasa satu sama lain. Eun Seung tak tahu, ia masih saja menatap Soo Ra. Bingung menjawabnya.


__ADS_2