Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 23 : WANITA TUA


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, La café masih saja ramai di sana. Perbuatan dirinya membuat pendapatan La café semakin meningkat. Walaupun seperti itu ia bangga karena dirinyalah yang membuat wilayah ini semakin ramai. Seo Woon juga memuji dirinya. Tak ada sedikitpun ia iri dengan Seung Ho lagi. Mungkin karena rivalnya itu membuka café yang berbeda jauh dengan toko roti milik Eun Seung. Itu penyebabnya ia tak lagi merasakan kekesalan pada Seung Ho. Empat tahun menghilang dari mereka membuat Eun Seung berubah sikap. Ia menjadi lebih sabar dan tidak kesal lagi melihat kesuksesan Seung Ho. Semua berhak sukses dengan impiannya masing-masing. Eun Seung tak boleh melarangnya. Sama seperti dirinya yang mulai melangkah lebih maju membuka toko roti dan kue untuk menjadi baker terkenal.


“tringgg…”bel toko roti Eun Seung dibuka oleh seorang wanita agak tua tetapi sangat cantik. Penampilannya sungguh elegan memancarkan kehormatan. Ia tersenyum melihat Eun Seung. “selamat di swetty bakery…” sapa Eun Seung kepadanya. Ia memperhatikan menu yang di telah dibuat Eun Seung. Hari ini menu yang dibuat Eun Seung adalah kue tart caramel dengan buah strawberry di atasnya.


“aku ingin itu dan cappuccino frappe…” ucapnya lalu memberikan kartu kredit kepada Eun Seung.


“baik, semua dua ribu lima ratus…” Eun Seung mengambil kartu kredit lalu menggeseknya. “..Aku akan mengantar kepada anda jika sudah siap…”tukas Eun Seung memberikan kartu kredit itu kepadanya. Wanita tua itu mengangguk mengambil kartu kredit dan mengucapkan terima kasih kepada Eun Seung.


Eun Seung memperhatikan wanita itu yang duduk dekat dengan jendela. Ia terus memandang ke luar jendela. Sepertinya ia sedang mengamati sesuatu. Eun Seung mengantar makanan itu dengan hati-hati. “…maaf, makanannya sudah siap…” ucap Eun Seung menaruh piring kue dan cappuccino frappe di mejanya.


“café itu sungguh ramai ya…!!” Ucap wanita itu menunjuk café milik Seung Ho.


“hah !! Iii…iya !!” Jawab Eun Seung terbata-bata. Wanita itu mengawali pembicaraan kepadanya. “…sudah tiga hari ini, La Café menjadi terkenal…” tukas Eun Seung masih berdiri memegang nampan bawaannya, berbicara kepada wanita itu.

__ADS_1


“iya, aku juga melihatnya di Utube. Aku terkejut ternyata antusias yang datang ke sana banyak sekali. Aku senang melihatnya…” ungkap wanita itu memotong beberapa kue untuk di makannya.


“kapan-kapan datanglah kesana, nyonya…!!” Eun Seung menyuruhnya untuk datang ke la café. Sebuah permintaan untuk menambah pelanggan Seung Ho. Entah apa yang dipikirkan Eun Seung. Ia hanya tahu ada sesuatu yang membuat wanita itu terus memuji café itu.


“aku tidak bisa…” ucap wanita itu pelan. Ia menghembuskan nafas panjang. Wajahnya terlihat sedih. Ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Eun Seung melihatnya, ia tak berani untuk berbicara lagi padanya. “…aku terlalu takut menghadapi kenyataan…” sambungnya kemudian. Eun Seung hanya terdiam tak tahu harus berkata apa. Sepertinya wanita ini memang sedang memiliki masalah dalam hidupnya. Bebannya tak mampu membuat ia terus-terusan berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Ia butuh dukungan untuk bisa mendengar keluhan hatinya.


“apa aku bisa membantumu?” Tanya Eun Seung hati-hati membuat wanita itu melihatnya. Ia tersenyum dan mengelap tetesan air di sudut matanya. Ia menangis.


“entahlah. Aku sudah lama tidak bertemu dengan anakku. Ia pergi karena ayahnya tidak menyetujui keputusan dirinya untuk mengejar cita-cita yang ia inginkan. Keegoisan seseorang membuat seorang ibu jauh dari anaknya. Mungkin ia tak bisa memaafkan kami yang seperti ini…” keluh wanita itu menceritakan tentang anaknya.


“tidak. Aku tak sanggup. Saat ini, aku hanya bersyukur dan sangat senang bahwa dirinya sudah sukses seperti sekarang. Sebuah hadiah ulang tahun darinya…”


“cobalah dulu bertemu dengannya, nyonya. Aku yakin ia akan memaafkan nyonya dan mengerti apa yang ia lakukan itu salah…” Eun Seung memberi pendapatnya. Wanita itu melihatnya. Sebuah tatapan semangat darinya masuk ke dalam hati wanita itu. “…percayalah, nyonya. Seorang anak pasti merasa rindu dengan orang tuanya. Aku yakin anak nyonya juga seperti itu. Ia pasti terus memikirkan dan memahami kedua orang tuanya…” Eun Seung terus memberi masukan kepadanya. Semangat yang ia tularkan mungkin saja bisa membuka hatinya untuk berdamai dengan anaknya itu.

__ADS_1


“aku tak berani…” jawabnya lemah. Ia memang menyerah dengan keadaan. Ia takut jika anaknya itu kembali menolaknya lagi.


“aku akan menemani nyonya. Mungkin hadiah ulang tahunnya adalah nyonya yang tiba-tiba datang menemuinya. Ia pasti mengharapkannya…” ujar Eun Seung terus menyakinkan dirinya bahwa ia tidak bersalah. Wanita itu berubah menjadi pendiam. Ia sedang memikirkan sesuatu. “…mau sampai kapan, jika hari ini tidak mulai melakukan perubahan…” sindir Eun Seung kepadanya. Wanita itu mengangguk menerima pendapat Eun Seung. Ia telah yakin bahwa ucapan Eun Seung banyak benarnya. “lakukan saja terlebih dahulu, keputusan yang akan datang kita pikirkan nanti…” Eun Seung menyebarkan semangat kepadanya. Wanita itu lalu berdiri.


“temani aku kesana !!” Pintanya dengan lembut.


Eun Seung tersenyum, ia bersiap-siap untuk pergi ke la café bersama wanita tua itu. Wanita yang sama seperti ibunya. Lembut dan bersahaja. Entah siapa anaknya. Eun Seung tak berani menanyakan kepada dirinya. Niatnya hanya satu, ia ingin mempersatukan ibunya dengan anaknya. Itu saja.


“cekleek…” suara pintu café dibuka pelan oleh Eun Seung.


“selamat datang di La café…!!” Sapa Woo Jae yang terkejut ada Eun Seung yang datang ke cafenya dengan seorang wanita tua. Begitupula dengan Seung Ho. Ia benar-benar terkejut melihat sosok wanita tua berdiri disana. Wanita itu tersenyum menyambut dua orang laki-laki yang berada di hadapannya.


“Seung Ho…” ucap wanita itu pelan. Eun Seung melihatnya, sebuah nama rivalnya keluar dari mulut wanita itu. Hari ini ternyata ia membantu ibu Seung Ho untuk menemui anaknya. Wanita itu berjalan menghampirinya. Ia benar-benar terkejut ibunya datang di hari ulang tahunnya. Eun Seung dan Woo Jae hanya diam memperhatikan mereka. Wanita itu memeluk anaknya dengan sangat erat. Bertahun-tahun ia takut bertemu dengan anaknya kini ia bisa memeluk anaknya seperti ini. Itu semua karena Eun Seung. Kerinduan yang mendalam darinya memuncak hari itu juga. Seung Ho menunduk lemah membiarkan wanita itu menangis di bahunya.

__ADS_1


**


__ADS_2