Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 2 : KOMPETISI ARTBAKERY


__ADS_3

Eun Seung masih terdiam melihat laki-laki yang ada di hadapannya memandang dirinya. Ia merasa lemah, Ia tak sanggup mengikuti kompetisi ini jika lawannya adalah orang itu lagi. Eun Seung tak bertenaga, semangat yang telah ia bangun kini telah hilang kembali. Laki-laki itu membuat dirinya kehilangan percaya diri. Harapan mendapatkan hadiah kini musnah dalam bayangannya.


"Kang Seung Ho...!!" Panggil Soo Ra, ia tiba-tiba sudah berada di belakang Eun Seung. Sahabatnya itu menyadarkan Eun Seung yang masih diam terpaku di hadapan Seung Ho. Semuanya terkejut. Eun Seung, Soo Ra dan Seo Woon hanya diam tanpa mengatakan apapun kepadanya. Seung Ho yang merasa bingung, hanya menunduk pamit, dan berjalan pergi meninggalkan mereka semua. Seo Woon melihat Eun Seung yang masih syok, laki-laki yang menjadi lawannya itu ikut kompetisi lagi.


"Eun Seung, kau pasti bisa mengalahkan dirinya. Jangan patah semangat..." Soo Ra memberitahu. Hanya itu yang ia punya, memberi semangat lagi dan lagi kepada Eun Seung. Gadis itu melihatnya, Sebuah permintaan dari sahabatnya itu. Tatapan menghangatkan dari Soo Ra mampu membuat Eun Seung kembali semangat dan ia harus melupakan siapa saja yang ikut kompetisi. Eun Seung mengangguk. Ia berpikir bahwa perkataan Soo Ra ada benarnya. Ia tak ingin mengecewakan sahabatnya itu. Ia tak ingin gagal di depan mereka yang mendukungnya. Sudah sejauh ini, ia melangkah dan ditemani olehnya. Kalah ataupun menang, Soo Ra pun akan menjadi teman selamanya.


"tak masalah, kau pun juara dua. Aku akan selalu mendukungmu..." ucap Soo Ra membuat Eun Seung merasa tenang. Soo Ra mengajak sahabatnya itu menuju tempat pendaftaran, mereka sepakat untuk mengikuti kompetisi itu. Seo won hanya tersenyum, melihat dua orang sahabat yang selalu memberi dukungan satu samalain. Ia tak bisa berbuat banyak, karena dirinya hanyalah orang asing bagi mereka.


**


Seung Ho terdiam, saat ia memasukkan barang bawaannya ke dalam loker dan mengganti pakaian chef yang ada di tangannya. Pandangannya memang tertuju kesana, tetapi tidak dengan pikirannya, ingatannya menerawang jauh berjalan sebelum ia bertemu dengan hei ji kemarin saat di perpustakaan.


"kau tahu, si nomor tiga tadi berbicara denganku..." suara hei ji mengagetkan Seung Ho yang sedang membaca buku. Ia hanya diam, masih focus dengan buku yang dipegangnya. "...ia menanyakanku, akhir minggu ini kau di ajak untuk bekerja di tempat pamannya. Aneh. Dia mengajakmu bekerja sama. Aku curiga, dia menginginkan sesuatu darimu. Untung saja, kau sudah mempunyai kerja paruh waktu setiap minggu.." Lanjut hei ji lagi memberitahukan semuanya kepada sahabatnya itu. Ia terus bercerita tentang si nomor tiga. Tanpa henti. Sahabatnya itu memang terlihat tak menyukai Eun Seung. Karena Eun Seunglah yang menyebar gossip bahwa selama ini Seung Ho mencari keuntungan dari wajahnya saja.


"aku sudah tidak bekerja..." ungkap Seung Ho memotong pembicaraan hei ji. Ia merasa gerah, sahabatnya itu terus membicarakan Eun Seung terus menerus.


"ehemmm..." suara seorang laki-laki terbatuk di sekitar Seung Ho. Laki-laki itu menyadarkan dirinya kembali saat ia sedang memakai baju chefnya. Sosok laki-laki yang tak asing, berdiri menghampiri Seung Ho. "...kenapa kau ikut kompetisi ini?" Tanyanya kemudian. Ia baru tersadar, bahwa laki-laki itu yang bersama Eun Seung tadi. Seung Ho hanya diam, ia sibuk merapikan baju yang tadi dipakainya. Tak menjawab. Ia bingung harus jawab apa. Sebuah pertanyaan bahkan pada dirinya, ia tak tahu apa yang ia lakukan disini.


Ia hanya tahu bahwa ada kompetisi di wilayah ini dari sebuah pengumuman yang tertera di tiang listrik. Ia tak sengaja melihatnya ketika berjalan ke toko roti dekat stasiun. Lembaran kertas pengumuman tertulis disana, hadiah utama lah yang menggoda Seung Ho untuk mengikuti acara ini. Impiannya memiliki sebuah toko untuk membuka toko kue sendiri. Ia ingin berusaha tanpa bantuan orang lain. Mungkin dengan cara itu, Seung Ho bisa memamerkan bakatnya kepada orang tuanya. Selama ini ayah dan ibunya melarang dirinya bekerja di dapur. Mereka hanya ingin melihat anaknya itu bekerja di perusahaan besar. Itulah sebabnya, Seung Ho pergi dari rumah dan tak ingin kembali. Kebebasan dirinya telah di ambil jika ia terus berada dalam rumah.


"...bukannya semua orang boleh mengikutinya. Kau salah jika hanya menghakimi aku saja..." senyum Seung Ho sedikit dipaksakan. Ia memberikan minuman kaleng kepada laki-laki yang bernama Seo Woon itu.


Seo Woon menerimanya, ia tertawa. Laki-laki yang menjadi lawan Eun Seung kini telah berbicara seperti itu kepadanya. Selama ini yang ia tahu bahwa Seung Ho seorang laki-laki yang dingin dan tak banyak bicara. Seo Woon tak percaya melihat Seung Ho tersenyum.


"menyerahlah..." pinta Seo Woon ketika Seung Ho berjalan menuju pintu keluar. Seung Ho terpaku, ia menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Seo Woon kepadanya. Ia memikirkan sesuatu ucapan dengan kata menyerah. Menyerah yang artinya gagal mendapatkan apa yang diinginkan. Gagal mendapatkan hadiah utama dan gagal bahwa ia bisa sukses. Seung Ho tak ingin itu terjadi. Ini kesempatan dirinya untuk mendapatkan toko itu dan memberitahukan kepada orang tuanya bahwa ia akan sukses karena bakatnya. Seung Ho mengerti, kenapa laki-laki ini meminta kepadanya. Sebab beberapa kalipun ia berkompetisi, Seung Ho tetaplah orang yang menjadi rivalnya dan tidak dapat dikalahkan dari Eun Seung.


"maaf, aku juga butuh toko itu..." ucapnya pelan lalu pergi meninggalkannya. Seung Ho terus memikirkan ucapannya. Ada perasaan dimana ia mengerti dengan kekhawatiran laki-laki itu. Ada pula sesuatu keinginan yang ia ingin capai. Keduanya menjadi pemikiran Seung Ho saat ini. Biarlah kali ini ia egois. Tetapi dalam sebuah kompetisi, tidak ada yang namanya MENYERAH.


**


Perlombaan kini sedang berlangsung untuk semua peserta kompetisi. Setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang meramu bahan-bahan, ada pula yang sedang mengocok telur dan ada yang sudah selesai membuat adonan. Lima belas orang peserta tampak bersungguh-sungguh untuk memperebutkan hadiah utama. Seo Woon dan Soo Ra hanya memandang mereka dari jauh.


"waahh... kuenya sangat harum..." suara seorang anak laki-laki terdengar di sekitaran Seung Ho, laki-laki kecil itu mencium bau kue yang baru matang. Ia sangat suka, wajahnya terlihat kagum memperhatikan para peserta baker. Seung Ho tersenyum, ia teringat dimana dirinya ada di posisi anak laki-laki itu. Seung Ho kecil berdiri tegak memperhatikan seorang gadis kecil seusianya sedang membuat kue bersama seorang laki-laki tua. Ia sedang berada di toko roti, tempatnya berdiri memang dapat melihat proses pembuatan roti. Itulah daya tarik toko mereka, supaya harum kue dan roti yang baru matang bisa tercium hingga ke pelanggan. Itu sebabnya, toko roti ini sangat terkenal. Ayah dan gadis itu asyik membuat kue untuk jualan mereka. Pesona gadis kecil itu mampu membuat Seung Ho hanya diam memperhatikan mereka. Seung Ho kecil kagum dengan gadis berambut ikat kuda itu. Caranya membuat adonan, meramu bahan-bahan dan memasukkan ke dalam oven, ia kerjakan dengan sungguh-sungguh. Gadis kecil itu sudah pintar membuat kue dan membantu ayahnya yang bekerja di toko roti.


"ahhh.. Selamat datang. Aku tidak melihat kalau ada pembeli. Ayah, ada yang datang...!!" Tukas gadis kecil itu ketika melihat Seung Ho kecil berdiri di depan counter kasir. Seung Ho kecil mencium bau roti yang sedang di bawa gadis itu. Ia terus memperhatikan roti yang di pegang gadis itu.

__ADS_1


"ahh, selamat datang. Mau pilih roti apa?" Tanya ayah gadis itu ketika sudah berada di belakang gadis itu. Mereka melihat Seung Ho yang masih diam dan menunjuk roti yang baru matang. "kau memilih yang tepat, nak.." Tambah ayah kemudian dibarengin dengan tawa. Gadis itu tersenyum.


"biar aku yang membungkusnya..."sambung gadis itu memberitahu. Ia dengan cekatan memasukkan roti ke dalam kotak dan memberikannya kepada Seung Ho kecil. "...terima kasih, datang kembali ya..." senyum gadis itu kepadanya. Sebuah senyum hangat diperlihatkan olehnya. Seung Ho kecil terpana melihatnya. Wajahnya memerah, ia hanya mengangguk, mengambil dari tangan gadis itu dan menyerahkan uang kepada ayah gadis itu. Ia pergi begitu saja ketika sudah mendapatkan struk dari toko itu. Seung Ho berlari keluar toko, ia terus mencium aroma roti yang ada di tangannya. Perlahan ia mengigit roti itu. Mengunyah dan memakannya. Sebuah sentuhan lembut di mulutnya saat ini. Ia terkejut, rotinya berbeda dengan yang lain. Sangat lembut. Seung Ho menyukainya. Ia memberhentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Melihat toko roti yang berdiri tak begitu jauh darinya. Ia sungguh menyukai roti hingga saat ini.


Seung Ho memperhatikan kue yang sudah matang di Loyang miliknya. Ia sudah mengangkat kue itu dari oven. Harum kue tercium seantara ruangan. Kompetisi itu kini tersisa 5 menit lagi dan akan berakhir. Seung Ho merapikan seluruh peralatan dan memulai menghias kue itu di piring saji.


Begitupula dengan Eun Seung, Seung Ho memperhatikannya. Ia sudah selesai sejak tadi. Kini ia sudah berada di antara teman-temannya itu. Seung Ho memberikan kue yang sudah di hias itu ke para juri untuk di nilainya. Ia memang tidak mempunyai pendukung. Ia hanya seorang diri datang ke acara itu. Heiji tak diberitahu. Ia tak ingin ada yang datang menyorakkan dirinya. Apalagi ini acara umum, tak ada yang ia kenal seorangpun kecuali mereka bertiga.


**


Eun Seung memandang piala yang ada di hadapannya dengan tatapan lemas. Piala juara dua berdiri tegak di atas meja belajarnya, sengaja di lihat Eun Seung saat ini.


"setidaknya kau juara dua, Eun Seung semangatlah..." suara Soo Ra terngiang di dalam pikirannya dari tadi. Soo Ra sangat senang sebab Eun Seung naik peringkat dari yang sebelumnya menjadi juara dua. Andai saja, Seung Ho tak ada. Ia yakin bahwa Eun Seung akan menang kompetisi itu. Ah iya, Seung Ho. Eun Seung baru sadar bahwa ia telah dibohongi. "...aku tak menyangka, laki-laki itu menipuku. Kenapa dia harus ikut kompetisi...!!??" Kesal Eun Seung lagi. Ingatannya tentang Seung Ho saat bertemu di kompetisi membuatnya syok. Ia benar-benar membenci laki-laki itu.harapannya sirna karena laki-laki itu. Ia benar-benar lelah jika terus berada di samping Seung Ho untuk melawan dirinya. Ia sudah benar-benar kalah dengannya.


Drrrt... drrtt... suara handphone miliknya bergetar di meja belajar. Eun Seung melihatnya, sebuah notif tertera nama ibu di layar ponsel. Ia mengambilnya. Namun ia melihat sesuatu yang ada di baliknya. Sebuah kartu ucapan berwarna merah muda ada di atas meja. Ia baru sadar, ia tak melihat itu sejak ia pulang dari kompetisi.


"tok...tok...!!" Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Tiba-tiba handphone kembali bergetar memanggil dirinya. Ia tahu ibunya menelpon kembali. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Eun Seung bergegas pergi ke pintu depan. Ia merapikan pakaiannya dan membuka pintu. Dua orang laki-laki berpakaian polisi ada di hadapannya. Eun Seung hanya bingung melihat mereka.


"selamat pagi, nona Lee Eun Seung. Kami dari kepolisian daerah xxx ingin mengundang anda untuk datang ke tempat kami.." Ucap laki-laki tua itu dengan tegas.


"kau bisa ikut dengan kami, kami akan menjelaskan semuanya di kantor polisi..." sambung polisi yang satu lagi. Eun Seung hanya mengangguk ragu. Ia tak pernah merasa salah pada siapapun juga pada polisi. Ada sesuatu yang telah terjadi.


"halo?!!" Sapa Eun Seung menerima panggilan dari ibunya itu.


"Eun Seung, ayahmu ditangkap polisi...!!" Suara ibu terdengar gemetar, ia terisak menangis dari seberang telepon. Eun Seung hanya diam, Kali ini ia pun tahu, maksud kedatangan polisi itu menyuruhnya untuk bertemu dengan ayahnya.


**


Eun Seung berlari menuju tempat ayahnya berada. Wajahnya sangat gusar, nafasnya tersengal-sengal karena lelah berlari, kedua matanya mencari sosok yang sudah lama tak ia jumpai, sosok ayah yang selalu mendukungnya saat kompetisi, sosok ayah yang selalu memeluknya saat kalah pertandingan, sosok ayah yang selalu ceria dihadapan Eun Seung. Kini itu hanya ingatan manis Eun Seung saja, hari ini ia berbeda, tak ada ayah yang ceria. Ayah berubah menjadi sosok laki-laki tua yang tidak ada pengharapan dalam hidupnya. Luntang lantung di jalanan,  hingga terlihat dari tubuhnya tak terawat. Pandangan Eun Seung tak lepas dari seorang laki-laki tua yang sudah beruban, menunduk lemah di hadapan polisi.


"ayah...!!" Panggil Eun Seung pelan. Beberapa orang disana menoleh melihat Eun Seung. Ayahnya hanya menunduk lemah walaupun telah dipanggil oleh anaknya itu. Ia malu. Eun Seung menghampirinya.


"kau yang bernama Lee Eun Seung?" Tanya seorang polisi yang sejak tadi mengintrogasi ayahnya itu. Eun Seung mengangguk pelan. Ia bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. "... ayahmu mencuri makanan di toko swalayan..." lanjut polisi itu memberitahu. Eun Seung melihat ayah yang ada disampingnya. Berharap bisa menjelaskan kepadanya. Ayah tak menjawab. Ia semakin menunduk lemah, memalingkan pandangannya kea rah lain.


Eun Seung menghela nafas panjang. Ia benar-benar kesal dengan ayahnya yang seperti itu.

__ADS_1


"ayah !! Kenapa melakukan ini padaku...???" Teriak Eun Seung mengagetkan semua orang yang ada di sekitarnya. Ayah juga terkejut, anaknya itu meneriaki dirinya. Ia sungguh malu. Banyak pertanyaan ditujukan kepada ayahnya itu.


Tiba-tiba ponsel Eun Seung berdering. Ibunya kembali menelpon. Eun Seung menerima panggilannya dengan kesal.


"halo !!! Ayah sudah ada disini, bu. Aku akan menjaminnya keluar dari sini. Ibu tenang saja..."suara Eun Seung penuh penekanan. Ia mematikan sambungan teleponnya dengan kesal. Ia tak memperdulikan ayahnya lagi. Hanya berbicara pada polisi untuk mengajukan kebebasan untuk ayahnya.


**


"kau menang kompetisi lagi, Eun Seung...!!" Suara ayah terdengar senang ketika ia melihat-lihat beberapa foto Eun Seung menang membawa piala kompetisi. Anaknya itu memang menaruh beberapanya di dekat pintu depan. Eun Seung hanya mengangguk, ia berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sana. Ayah mengikutinya.


"iya, aku berjuang keras mendapatkan itu..." ucap Eun Seung ketika ayahnya sudah ada di hadapannya. Ia memang sengaja mengajak ayahnya itu pulang ke rumah Eun Seung. Ia ingin sekali mendengar tujuan ayahnya melakukan itu. Selama ini ia kenal ayahnya tak pernah mencuri apapun, baru kali ini ia melakukannya jika tidak terdesak. Ada sesuatu dari ayahnya melakukan hal itu, kehidupan keuangan mereka mungkin sudah berkurang. Selama ini Eun Seung memang tak meminta dari mereka, kebutuhan Eun Seung hanya dari hadiah kompetisi saja. Ia sisihkan untuk dirinya sendiri. Uang sekolahnya pun ia cari dari hasil kerja paruh waktu. Ia tak mengerti jika ayah dan ibunya kini berkehidupan pas-pasan."...aku hanya punya ini, makanlah dulu..." Eun Seung memberikan mie cup instan kepada ayahnya. Ia tahu ayahnya belum makan.


"Eun Seung, maafkan ayah..." suara ayah sedikit parau, ia mengakui kesalahannya. "...ayah tak memberimu uang untuk membeli makanan enak. Ayah dan ibu sudah tidak mempunyai uang lagi, nak..." keluh ayah. Ternyata benar, ayah melakukan itu untuk menutupi perutnya yang lapar. Ia pergi dari rumah untuk mencari pekerjaan tapi nyatanya tak ada satu pun yang menerimanya. Ayah memang sudah tua, tapi keahlian membuat kue sangatlah hebat. Pengalaman dirinya bertahun-tahun telah membuat kemampuannya menurun ke anak satu-satunya itu. "...ayah, tak ingin jadi beban buatmu. Ayah akan mencari pekerjaan dimanapun berada. Jadi kau pulanglah, jaga ibumu yang membutuhkanmu..." ayah menatapnya dengan sangat lekat. Permintaan ayahnya itu membuat Eun Seung hanya diam. Ia bingung memikirkan permintaan ayah yang mengubah dirinya. Ibunya membutuhkan dirinya saat ini, ekonomi keluarganya sedang terpuruk. Hanya dirinyalah yang mampu membantunya.


**


Pagi ini suasana hati Seung Ho sangatlah senang. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota. Impiannya sudah menjadi kenyataan. Sebuah hadiah toko untuk dirinya membuka usaha. Ia ingin sekali menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya mampu berjuang sampai saat ini. Ia berharap orang tuanya dapat melihat kerja kerasnya mendapatkan hal itu semua. Ia ingin orang tuanya menyetujui dan menerima dirinya melakukan itu. Kini tinggallah sebuah pengharapan baik untuk memperbaiki semuanya. Itu yang diinginkan Seung Ho saat ini.


Seung Ho berjalan-jalan mencari alamat toko yang diberikan oleh panitia ArtBakery. Ia sudah mendapatkan kuncinya. Kunci yang diinginkan semua orang. Hanya Seung Ho yang bisa memenangkan kompetisi itu dan memberikan hadiah bangunan kosong untuknya. Panitia ArtBakery memang memilih bangunan kosong itu di pusat kota. Disana memang lengkap, terkenal dan ramai. Wisatawan maupun warga local juga sering belanja disana. Setiap tempat, banyak toko yang berderet memanjang menjajakan usahanya. Seung Ho tersenyum melihat sebuah bangunan kosong tepat berada di depan mata. Alamat toko yang sama dengan kertas yang dipegangnya saat ini. Impiannya sudah menjadi kenyataan. Hadiah dari kompetisi ArtBakery mewujudkan keinginan untuk membuka toko usaha di pusat kota. Ia sangat semangat melakukan itu. Pencariannya sudah ia temukan. Ia pun pergi dari tempat itu, berjalan-jalan di sekitaran toko.


Seung Ho terkejut saat ia mengingat tempat yang ia lalui. Daerah dimana masa kecilnya bertumbuh. Dulu ia tinggal tak jauh dari pusat kota. Ia memperhatikan sekitar. Jalanan yang sudah Nampak ramai, tepi jalan yang tak berubah dan beberapa toko yang masih berdiri kokoh tanpa perubahan. Tanpa pikir panjang, ia mencari sebuah toko kue yang menjadi langganannya dulu. Namun apa yang dilihatnya kini, toko kue itu sudah berubah tempat menjadi toko bunga. Mayumi florist, tertera di atas pintu toko itu. "ceklek..." suara pintu sedang dibuka oleh pemiliknya. Seorang gadis cantik keluar dari pintu toko itu melihat Seung Ho yang hanya berdiam diri di hadapannya. Wajahnya yang manis tak sedikitpun tersenyum menyapa laki-laki itu. Gadis itu memang tak kenal dengannya, hanya Seung Ho yang tahu gadis itu.


Gadis yang menjadi cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya menyukai kue. Gadis yang selama ini terus dirindukannya. Gadis yang membuat dirinya berjuang hingga ia berdiri sampai saat ini. Sungguh ia menyukainya.


Semilir angin berhembus di antara mereka. Bunga-bunga berjatuhan karena tak tahan melihat mereka yang saling beradu pandang. Lama sekali. Seung Ho tak bisa berbuat apapun. Jantungnya terus berpacu dengan hebat. Ia sungguh tak dapat berbicara. Gadis itu memalingkan pandangannya dan melanjutkan mengikat rambutnya yang panjang. Seung Ho juga menoleh ke arah lain. Ia hanya memperhatikan toko itu yang sudah berubah jauh. Tiba-tiba gadis itu menghampirinya.


"maaf, jam buka toko masih satu jam lagi.." Ucap gadis itu menunjukkan telunjuk kepadanya. Seung Ho hanya mengangguk, tersenyum kepadanya. Gadis itu lalu pergi membawa tumpukan box ke arah yang berlawanan dari Seung Ho. Laki-laki itu hanya memperhatikannya.


**


"Soo Ra, aku akan berhenti kuliah...!!" Suara Eun Seung saat mengetik barisan huruf di layar handphone. Ia melihat lagi dan lagi. Pesan singkat itu belum ia kirimkan. Ia masih bingung memikirkan. Apa keputusannya tepat untuk berhenti kuliah sekarang. Tapi orang tuanya juga butuh dirinya. Ia menjatuhkan dirinya ke kasur. Menutup wajahnya dengan bantal. Sungguh bingung. Keputusannya itu akan membuat dirinya berhenti meraih cita-citanya. Tujuan terakhir yang ingin capai adalah menang kompetisi. Ia ingin sekali menang melawan Seung Ho. Tapi apa daya ia tak bisa melanjutkan ini semuanya.


"ayo...!!" Tukas ayah mengajak Eun Seung untuk bersiap-siap ke rumah ibunya. Sejak tadi pagi, ia memang memikirkan hal itu. Ayahnya masih ada di rumahnya untuk terus mengajak dirinya ke rumah ibu. Mungkin memang ini saatnya untuk melupakan semuanya dan mulai kehidupan yang baru. Ia bisa berkompetisi tanpa adanya Seung Ho.


"baiklah, aku akan pergi..." Eun Seung menghembuskan nafas panjang dengan keputusan yang dibuatnya. Ia membereskan barang keperluan dan memutuskan untuk ikut ayahnya.

__ADS_1


Perjalanan Eun Seung telah sampai disini. Cita-cita Eun Seung kembali dari awal kembali. Harapan dan keinginan masih dalam benaknya saat ini. Mungkin di lain kesempatan ia harus berkompetisi lagi memperebutkan semuanya yang telah terbuang.


**


__ADS_2