
Eun Seung memperhatikan setiap jalan menuju rumah Joon Young, laki-laki
itu memang menjemputnya tadi. Hari ini akan di adakan kompetisi kecil
di rumahnya. Neneknya yang mengundang Eun Seung untuk datang. Mereka
sudah memasuki gerbang rumah Joon Young. gadis itu sangat kagum
dengan rumah Joon Young yang begitu sangat besar.
“sudah sampai…!!” tukas Joon Young membukakan pintu mobil kepadanya.
“rumahmu sangat besar…” ucap Eun Seung yang sedikit gugup bertemu dengan
semua keluarga laki-laki itu. Joon Young hanya tersenyum.
“ayo, masuklah. Semua sudah menunggumu…” ujar Joon Young, ia begitu
sangat senang. Baru kali ini, ia mengajak seorang gadis ke rumahnya.
Apalagi semua keluarganya sudah tahu tentangnya. Tidak ada lagi
kecemasan terhadapnya.
“Joon Young, apa aku berantakan ?” tanya Eun Seung menahan tangan
laki-laki itu supaya tidak melanjutkan langkahnya. Joon Young
melihatnya, ia mengamati dari ujung kepala sampai kaki.
“tidak…” jawab Joon Young singkat, ia memalingkan pandangannya lurus ke
depan.”…kau sangat cantik !!” lanjutnya dengan pelan. Eun Seung
melepas lengannya, melihat punggung Joon Young yang tegak. Laki-laki
itu melanjutkan langkahnya menuju pintu utama. Eun Seung mengikutinya
hingga pintu terbuka, mengarahkan dirinya menuju ruang keluarga.
“aku pulang…!!” teriak Joon Young memberitahukan semuanya. Eun Seung
berjalan mengikutinya hingga ia melihat seorang nenek yang sudah
berdiri menyambutnya. Eun Seung tersenyum, menunduk memberi hormat.
Lalu dilihatnya seorang pria dan wanita di samping nenek itu.
“wanita itu !!” batin Eun Seung yang tahu siapa wanita itu. wanita yang
datang membeli semua roti miliknya tempo lalu.
“hai, Eun Seung…” ucap wanita itu.
“selamat datang, Eun Seung…” ujar pria itu juga.
“baiklah, itu nenekku. Nenek Cha Hae Rim, ini ayahku, Cha Jin So dan ibuku Cha
Sun Mi…”Joon Young mengenalkan seluruh keluarga kepadanya.
“salam kenal, saya Lee Eun Seung…” tukas Eun Seung menunduk memberi
hormat kepada semuanya. Joon Young benar-benar terkejut melihat gadis
itu mengenalkan dirinya sendiri. Terlihat dari wajah nenek, ayah dan
__ADS_1
ibu menyukai sikap gadis itu. Joon Young tersenyum melihatnya.
“kau sama seperti ayahmu, Eun Seung…” nenek Hae Rim mendekati Eun
Seung dan memeluknya. Ia begitu sangat senang, ternyata baker terbaik
akhirnya ada di rumahnya.
**
Kompetisi kecil yang dibuat oleh keluarga Joon Young sudah terpenuhi di meja
penyajian. Dapur kotor yang mereka pakai memang sangatlah besar.
Cukup untuk dua orang itu berkompetisi merebut hati nenek Hae Rim.
Keduanya mulai mempersiapkan bahan-bahan ketika neneknya sudah
memberinya waktu membuat roti.
“jika kau menang, aku akan memperpanjang batas waktu membayar hutang
ayahmu…” suara nenek Hae Rim terus membuat Eun Seung semangat
melakukannya. Ia tahu selama ini nenek Hae Rim tidak memandang
cucunya sebagai pembuat roti yang enak kepadanya. walaupun laki-laki
itu diam, tetapi ia tahu bahwa Joon Young sudah muak diperlakukan
seperti itu. Eun Seung memperhatikan laki-laki itu yang tak jauh
darinya. Ia tampak serius menguleni adonan di tangannya. Eun Seung
tersenyum mulai semangat membuat adonan yang ada di hadapannya. semua
harus aku lakukan…” batin Eun Seung.
Satu jam berlalu, harum roti yang sudah matang tercium seisi ruangan. Roti
milik Joon Young sudah diangkat dari oven pangangan. Beberapa pelayan
berdecak kagum dengan kemampuan Joon Young, seakan aura bakatnya
tersampaikan kepada orang yang melihatnya. Eun Seung juga
mengangkatnya dari oven. Roti miliknya juga sudah matang, ia
mempersiapkannya di piring saji.
“ini untuk nenek, ini untuk ayah ibu…” tukas Joon Young memberikan dua
piring saji kepadanya. Eun Seung melihatnya, wajah mereka sangat
menikmati saat roti buatan Joon Young sudah ada dimulutnya.
“ayah tak sangka, kau sangat jago membuat roti…”
“benar, roti buatanmu enak sekali…” sambung ibu memberitahu.
“iya, aku akui baru kali ini kau membuat roti seperti ini…” lanjut
nenek Hae Rim memberi pendapatnya. Joon Young tersenyum bangga. Eun
Seung berjalan mendekati juri-juri ketika ayah Joon Young memberi
__ADS_1
isyarat kepadanya. semuanya mencoba roti buatan gadis itu.
“sedikit asin, kau menambahi garam?” tanya Jin So yang menaruh kembali roti
itu.
“benar, sungguh asin…” ujar Sun Mi.
“ada apa denganmu, Eun Seung ?!” tanya nenek Hae Rim yang juga memakan
roti itu. Joon Young melihatnya.
“benarkah !! maafkan aku, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin…”
jawab Eun Seung menunduk lemah.
“baiklah, keputusan akhir. Joon Young pemenangnya…” ujar Jin So merangkul
anaknya itu. “…kau setuju, ibu ?”
Nenek Hae Rim mengangguk menyetujui keputusannya. Joon Young tersenyum
senang, akhirnya ia di akui oleh seluruh keluarganya. Eun Seung ikut
tersenyum menepuk tangannya mendukung laki-laki itu.
**
“maafkan aku…”ucap Sun Mi ketika mereka bersantai di teras halaman rumah
Joon Young. Eun Seung melihatnya, menunduk memberi hormat kepadanya.
ia memperhatikan Sun Mi yang masih mau melanjutkan ucapannya.”…aku
tak menyangka ternyata ibuku malah mengundangmu datang ke rumah ini…”
tukasnya lagi.
“suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian semua, maafkan ayahku yang
sudah merepotkan kalian…”
“aku senang kau mempunyai mimpi untuk merubah segalanya…”
“keinginanku hanya itu saja, Nyonya. Menjadi baker terkenal untuk memperbaiki nama
baik ayahku…”
“kau bersedia menikah dengan Joon Young…?” tanya Sun Mi yang kini
memperhatikan wajah Eun Seung. gadis itu terdiam lalu memperhatikan
Sun Mi. ia mengangguk dengan yakin. Mungkin ini memang jalan Eun
Seung, menikah dengan Joon Young untuk memperbaiki nama baik ayahnya.
Ia tahu Joon Young mempunyai relasi yang sangat luas dan terkenal.
Itu yang membuat dirinya memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan
itu semua. Gadis itu tahu jika perbuatan dirinya memang salah. namun
ini bisa menaikkan popularitas dirinya menjadi terkenal dengan cara
cepat. Eun Seung menginginkan hal itu.
__ADS_1
***