
Siang ini, Cuaca begitu sangat cerah. Semilir angin terus berhembus memberikan udara sekitar terasa sejuk. Matahari juga tidak begitu menampakkan jati dirinya disana. Waktu yang pas untuk pergi kemanapun. Seperti halnya, gadis ini. ia sudah memutuskan untuk menunggu seseorang di halte bus pemberhentian di wilayahnya.
“aduuuh, kenapa malah muncul mata panda sih !!” keluh Eun Seung memperhatikan kedua lingkar matanya yang sedikit menonjol pada cermin ditangan kanannya. Ia terus mengoles cream di sekitar matanya supaya cepat menghilang. Ia akan sangat malu jika penampilannya hari ini sangat jelek. Orang-orang akan mengira jika dirinya tidak tidur semalam. Ia mengambil kacamata coklatnya dan mengenakannya. Rambutnya ia biarkan terurai di selimuti oleh scarf untuk menutupi dirinya. gadis itu celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Beberapa orang sudah ada yang naik dan turun dari bus yang datang setiap sepuluh menit sekali. Eun Seung sudah menghitung lima bus yang datang. Seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang. “…jangan-jangan, hari ini ia tidak akan pergi kesana…” Eun Seung mulai menyerah. Ia mengambil ponselnya, mencari-cari nama Kang Seung Ho di kontak ponsel. Ia menemukannya, dilihatnya nama itu dengan nomor handphone tertera di layarnya. Ia memainkan jemari kanannya untuk menekan nomor tersebut. Namun ia tak berani melakukan itu. banyak keraguan muncul dalam pikirannya. Jika ia menghubunginya, mungkin laki-laki itu tidak akan mau mengajaknya. Eun Seung mengurungkan aksinya.
“Eun Seung !!” panggil seseorang mengejutkan dirinya. Eun Seung melihatnya, seorang laki-laki tinggi berdiri tegak yang tak jauh dari hadapannya. ia terus melihat Eun Seung, ia masih ragu bahwa Eun Seung yang ia kenal tidak pernah menggunakan kacamata coklat dan menutupi kepalanya dengan scarf. Gadis itu melepas kacamatanya.
“hei, Seung Ho !!!” Eun Seung dengan cepat berdiri dan melambaikan tangan kepadanya.
“matamu!?” Tanya Seung Ho tiba-tiba menunjuk wajah Eun Seung. gadis itu lupa bahwa dirinya memang sedang krisis mata panda. Semalaman ia tidak tidur gara-gara terus memikirkan laki-laki ini. Eun Seung sungguh malu, ia kembali mengenakan kacamatanya.
__ADS_1
“jangan kau lihat aku seperti itu…!!” seru Eun Seung menunduk mengalihkan pandangannya supaya laki-laki itu tidak melihatnya. ia akan merasa malu jika Seung Ho sadar bahwa ia begitu karena dirinya.
Seung Ho menggeleng kepalanya pelan, ia hanya diam. Wajahnya memerah setiap ia mengingat itu semua. Tingkah dirinya yang sangat tidak sopan membuat semua terasa aneh. Laki-laki itu pun mengalihkan pandangannya meninggalkan Eun Seung. ia tak memperdulikannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju tempat antri.
“Seung Ho…” panggil Eun Seung membuat laki-laki itu menolehnya. “…izinkan aku ikut denganmu !!” teriaknya. Beberapa orang yang juga ikut mengantri melihat Eun Seung dengan tatapan aneh. Apalagi Seung Ho yang memperhatikan gadis itu menunduk ke arah dirinya. ia terpaku tak bisa bicara apapun. Semua orang memperhatikannya, jika ia menolaknya. Ia bisa di anggap tidak menghargai seorang wanita yang rela menunduk hormat meminta hal itu. Seung Ho menghela nafas panjang, ia tak bisa berkata tidak kepada gadis itu karena bus keberangkatan menuju wilayah SZH sudah tiba disana. “…baiklah !!” ucap Seung Ho dengan nada lemas. Eun Seung tersenyum senang mengikutinya dari belakang, menaiki bus itu dan duduk disampingnya.
“tidurlah, aku akan membangunkanmu satu jam lagi…” ucap Seung Ho yang tak ingin diganggu olehnya. Eun Seung mengangguk pelan. Sebenarnya banyak pertanyaan kepada gadis itu, tetapi ia tak berani untuk mengawalinya.
‘apa dia tahu aku tidak bisa tidur, semalam..!!’ pikir Eun Seung. mulutnya berkomat-kamit, menggerutu dalam hatinya. ‘tidak, jika aku tidur. Pasti Seung Ho bakalan tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau…’ Eun Seung kembali melirik laki-laki itu.
__ADS_1
“ada apa?” Tanya Seung Ho yang lagi-lagi tak sengaja melihat bayangan Eun Seung.
“apa sejauh itu rumahmu?” Eun Seung balik nanya kepadanya. Laki-laki itu melihat dirinya. sebuah tatapan dari dekat, membuat Eun Seung memandang wajah Seung Ho. Ada lingkar mata terlihat dikedua matanya. laki-laki itu juga tidak tidur semalaman.
“sejak kapan kau tahu, aku akan ke rumah?!” Seung Ho menatap mata Eun Seung yang berada disampingnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia tak mau suasana jadi canggung seperti kemarin. Eun Seung mencoba untuk mengontrol perasaannya.
“sejak aku melihatmu tadi di halte, aku hanya percaya bahwa kau akan memikirkan hal ini semua dan mendengar semua yang aku katakan padamu…” jawab Eun Seung pelan. Usahanya memang sudah berhasil. Ia bisa membuktikan bahwa Seung Ho jelas mendengar nasihat darinya. “…tenang, aku hanya ingin bertemu dengan ibumu. Tak ada yang lain, ada sesuatu yang ketinggalan saat ia mampir ke toko ku…”sambungnya lagi membuat Seung Ho hanya diam melihat Eun Seung yang mulai memalingkan wajahnya. Pertanyaan yang ia selalu pikirkan sejak tadi terjawab sudah. Gadis itu hanya mementingkan tujuannya bukan semata-mata karena mengikutinya.
“maaf, jika selama ini aku bersikap egois kepadamu…” suara Seung Ho mengawali pembicaraan membuat Eun Seung membuka matanya dan mendengarnya. “…benar, apa katamu. Aku terlalu sibuk untuk membuktikan kepada kedua orang tuaku bahwa aku akan sukses dengan membuka café. Ternyata aku malah menyakiti seseorang dengan cara seperti ini…” Seung Ho menghembuskan nafas panjang., menatap lurus memperhatikan pemandangan di depan dirinya. “…kedua orang tuaku, memang melarangku meraih ini semua, mereka ingin aku menjadi pengacara. Sebuah pekerjaan yang menguras banyak pikiran. Bagaimana menurutmu?” Seung Ho melirik wanita itu yang sudah tertidur pulas disampingnya. Ia hanya tersenyum simpul memperhatikan Eun Seung yang ada disampingnya.
__ADS_1