
“Permisi…!!” Sapa Eun Seung membuka pintu toko peralatan musik. Ia mengintip dari celah pintu yang dibuka olehnya. Tak ada seorang pun disana.
“bagaimana?” Tanya Soo Ra yang tiba-tiba mencolek Eun Seung di belakangnya. Eun Seung menggeleng, memberitahukan keadaannya. Entah kenapa, Soo Ra kali ini begitu sangat takut untuk berkenalan dengan laki-laki ini. Sehingga meminta Eun Seung untuk menemani.
“kalian sedang apa?” Suara laki-laki tiba-tiba muncul dari depan pintu toko alat musik. Kedua wanita itu hanya menunduk malu dan meringis ketika tahu laki-laki itu adalah si pemilik toko. Mereka membiarkan laki-laki itu masuk terlebih dahulu.
“kami hanya ingin berkenalan…” jawab Soo Ra to the point menyampaikan maksud kedatangannya.
“maaf, bisakah kalian pergi. Aku sedang sibuk” tukas laki-laki itu tanpa basa basi.
“ayo, Eun Seung…” ucap Soo Ra yang sudah merasa dipermalukan olehnya. Tetapi Eun Seung tak juga bergerak. Pandangannya tertuju pada sudut ruangannya. Eun Seung terpaku ketika memperhatikan sebuah foto besar terpasang di dinding. Foto bersama keluarga dengan latar kompetisi ArtBakery tahun kedua. Soo Ra ikut terkejut karena melihat bahwa laki-laki itu pernah mengikuti kompetisi ArtBakery.
“maaf..” Laki-laki itu menarik tangan Eun Seung dan Soo Ra untuk keluar dari tokonya. Eun Seung melihatnya, ia tak meronta. Ia hanya mengikuti laki-laki itu. Lain lagi dengan Soo Ra yang begitu sangat kesal dengan sikap laki-laki itu. “…aku perintahkan kalian, mulai sekarang jangan datang ke toko ini lagi. Aku tidak suka bergaul dengan kalian…!!” Ungkap laki-laki dengan kesal, ia lalu masuk ke dalam toko dengan membanting pintu.
“seumur hidup, aku tak akan datang ke tempatmu lagi !!!” Soo Ra benar-benar kesal, ia melempar batu kecil ke arah pintu toko. Tercipta goresan di pintu toko tersebut, Soo Ra tak memperdulikannya. Ia pergi meninggalkan Eun Seung yang sejak tadi hanya diam saja.
‘laki-laki itu pernah ikut kompetisi ArtBakery. Apa dia tahu tentang pesan berantai itu?’ pikir Eun Seung terus memperhatikan bangunan yang ada dihadapannya itu. “…aku harus menanyakannya…” Eun Seung beranjak masuk kembali ke toko alat musik itu mencari laki-laki yang telah mengusir dirinya dan Soo Ra. ia mengintip dari pintu, memperhatikan keadaannya.
“aku ke sini untuk menemui seseorang, tenang saja. aku bisa mengatasinya…” ucap laki-laki itu dari balik pintu tengah. Eun Seung yang tahu segera menghampirinya. Ia tersenyum ketika laki-laki itu terkejut melihat Eun Seung sudah ada di dekatnya. Ia melambaikan tangan dan menunggu laki-laki itu memutuskan sambungan ponsel miliknya.
__ADS_1
“mau apa kesini ?” Tanya laki-laki itu dengan malasnya meladeni Eun Seung.
“apa kau pernah ikut kompetisi ArtBakery?” Eun Seung menunjuk foto besar yang ada di dinding. Laki-laki itu melihatnya. sebuah tatapan sedih diperlihatkan dalam wajahnya. Ia membalikkan foto itu supaya tak terlihat oleh Eun Seung. “..kau akan menemui seseorang, siapa dia? Aku ingin tahu…” sambung Eun Seung mempertegas pertanyaannya. Ia begitu sangat penasaran dengan laki-laki ini. semua petunjuk dari pesan berantai mengarah kepadanya.
‘petunjuk baru tentang laki-laki ini adalah kompetisi ArtBakery dan ia akan menemui seseorang disini. Fix, sama seperti pesan berantai yang terakhir aku dapatkan. Apa dia tak tahu bahwa yang selama ini dicarinya adalah diriku’ Eun Seung berbicara dalam hati. Ia hanya memperhatikan laki-laki itu dengan tatapan tajam.
“bukan urusanmu, kau tak perlu tahu. Apa yang aku lakukan disini. Lebih baik kau keluar, sebelum aku mengusirmu lagi…” ketus laki-laki ini yang sampai sekarang tak tahu namanya. Ia membiarkan Eun Seung sendirian di toko alat musik miliknya. Laki-laki itu berjalan menuju tangga atas tempatnya tinggal.
“Eun Seung !!” panggil Seo Woon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu toko alat musik. Ia terkejut gadis yang sejak tadi ia cari ternyata di tempat ini. “kau sedang apa?” tanyanya lagi memperhatikan setiap peralatan musik yang sudah tertata rapi di tempatnya.
“aku, tidak ada. Ayo, kita keluar. Pemiliknya sudah naik ke atas…” jawab Eun Seung mendorong Seo Woon pergi dari tempatnya itu.
“kau tahu si pemilik toko alat musik itu sangatlah kasar, daritadi aku di usir dari tempatnya…” kesal Eun Seung mengeluhkan perbuatan laki-laki itu kepadanya.
“begitukah !! padahal besok adalah acara peresmian toko musik miliknya. Jika ia seperti itu tidak akan ada yang datang…” sesal Seo Woon melihat bangunan yang siap untuk di resmikannya itu.
“besok, kau akan datang !! aku sarankan. Lebih baik tak usah datang. Aku menolaknya…” ucap Eun Seung yang berjalan terlebih dahulu menuju toko miliknya.
“hahaha…” Seo Woon tertawa keras melihat wajah Eun Seung yang begitu menggemaskan. Orang-orang sekitar memperhatikan mereka. anak buah juga ikut tersenyum mendengar Seo Woon tertawa seperti itu. Eun Seung terdiam, ia mulai salah tingkah, wajahnya memerah seperti apel merah melingkar di pipinya yang putih. Ia memegang kedua pipinya menutupi dirinya dari Seo Woon. Ia berjalan cepat menuju toko miliknya. “…hei, Eun Seung. tunggu aku !!” teriak Seo Woon yang melihat Eun Seung sudah berjalan jauh di depannya.
__ADS_1
Wajahnya memanas, ia sungguh malu ditertawakan seperti itu olehnya. Eun Seung memandang wajahnya di kaca pintu toko sebelum ia masuk ke dalam.
“apa salah aku berkata seperti itu ?” ucap Eun Seung pelan, ia berbicara pada dirinya sendiri. Ia melihat bayangan Seo Woon mulai mendekati dirinya. ia membuka pintu toko miliknya dan masuk ke dalam menghindar darinya. Ia mengambil pesan berantai yang ada di laci kasirnya. “…sebenarnya siapa yang akan mencariku?” ucapnya pelan terus memandang pesan itu.
“hei, Eun Seung. maafkan aku..” suara Seo Woon yang tiba-tiba mengintip dari celah pintu toko kue Eun Seung. gadis itu melihatnya, sedikit senyum diperlihatkannya ketika Seo Woon mencoba membuatnya tertawa. “…syukurlah, kau bisa tersenyum kembali. Kau tahu, aku bisa memikirkanmu terus jika masih seperti itu…” ledek Seo Woon yang masih menggantungkan dirinya di pintu masuk. Eun Seung hanya diam namun ia bergetar kedua lututnya. lagi-lagi ucapan Seo Woon membuatnya tersipu malu. Degupan jantung Eun Seung terdengar tak beraturan. Ia serasa melayang dibuatnya. Jempol kakinya tak berhenti bergerak. Rasanya ia ingin berteriak kencang karena laki-laki ini. “…aku harus pergi, aku akan menghubungimu nanti, dah…” ujarnya menutup pintu toko dan pergi begitu saja dengan anak buahnya. Eun Seung mengangguk yang masih memegang kedua tangan di dadanya.
**
“selesai…!!” seru Eun Seung memperhatikan kue tart buatannya. Ia berencana untuk membuat kue tart cokelat. mungkin cara seperti ini ia bisa lebih dekat dengan laki-laki misterius itu. ia melakukan ini demi mendapatkan informasi tentang resep terakhir. Petunjuk resep terakhir yang ia dapatkan dari pesan berantai saat kompetisi ArtBakery itu memang mengarah kepada laki-laki misterius. laki-laki yang tidak ingin bergaul dengan siapapun, selalu kasar dan marah pada siapapun. Eun Seung yakin bahwa ada sesuatu yang membuat dirinya seperti itu. karena sikap seseorang tercipta dari lingkungan sekitar atau rasa tertekan dari suatu hal. Ia menyadari hal itu, laki-laki itu menyembunyikan dirinya sendiri dari orang lain.
Eun Seung membungkus kue tart itu ke dalam kotak, menutupnya dengan rapat dan mengikatnya dengan pita. Cantik dan sempurna. Ia tak sabar untuk memberikan kepadanya. Gadis itu melepas celemeknya dan bergegas pergi menuju toko musik yang berada dekat di hadapan tokonya. Toko musik miliknya memang berdampingan dengan La café milik Seung Ho. tak jauh darinya hanya lewat pandangan sudah terlihat toko itu. ia memperhatikan sekitar, jalanan sudah mulai gelap hanya dihiasi dengan lampu jalan. Hanya café dan minimarket saja yang masih beroperasi.
“tok…tok…” Eun Seung mengetuk pintu toko musik dengan tangan kanannya. Ia tahu bahwa laki-laki itu ada di sana sebab sejak tadi Eun Seung memperhatikan gerak gerik pemuda itu dari jendela tokonya. Laki-laki itu membuka pintu tokonya, melihat Eun Seung dengan tatapan malas.
“hai, aku bawa kue selamat datang untukmu. Aku tahu kau tak suka, tapi terimalah ini…” ucap Eun Seung memegang tangan laki-laki itu untuk menerimanya. Eun Seung hanya tersenyum dan melambaikan tangan kanannya untuk pamit. ia memang tahu laki-laki itu tidak akan berterima kasih kepadanya. bahkan jika ia terus berada disana, Eun Seung hanya mendengar ocehan kasar darinya. Ia tak mau itu terjadi.
Laki-laki itu hanya menatapnya dengan kesal, harum kue tart buatan gadis itu masih melekat di tangan kirinya. Tak berpindah sedikitpun.
“terimalah, itu hadiah selamat datang kepadamu..” ucap Seung Ho yang tiba-tiba ada di samping toko miliknya. Laki-laki itu melihatnya. “…semuanya ingin berteman denganmu, jadi terimalah kue itu…” senyum Seung Ho memberitahukan kepadanya lalu masuk ke dalam café miliknya meninggalkan laki-laki itu yang masih memandang kue itu dengan murung. Sebuah pesan sederhana yang bisa membuka hati laki-laki itu. Seung Ho menghela nafas panjang, ia begitu kagum dengan dirinya bisa mengatakan hal itu kepadanya.
__ADS_1