
Pagi hari ini sangatlah sejuk. Udara yang tidak begitu dingin membuat semua orang mulai beraktifitas. Begitupula dengan Eun Seung, ia sudah memutuskan dirinya untuk kembali ke pusat kota. Meraih impiannya membuka toko kue disana. Keinginan ayah yang sudah lama didambakannya. Kini penerus toko kue ayah sudah diturunkan kepada putrinya itu. Dulu memang keluarga mereka mempunyai toko kue kecil. Kehidupan mereka sangatlah indah. Rumah kecil bersama ayah yang bisa membuat kue dan ibu yang pintar mengelola tokonya. Toko yang dulu terkenal sudah tidak ada lagi. Banyak yang tidak suka dengan kue buatan ayah. Ada rumor yang mengatakan bahwa ayah menggunakan bahan pengawet dalam kuenya. Padahal tidak ada satupun roti dan kue yang dijualnya memakai bahan itu. Ada seseorang yang ingin menjatuhkan toko kue milik ayah. Itu sebabnya ayah sudah berhenti membuat kue karena sudah tidak dipercayai lagi oleh masyarakat sekitar. Eun Seung tak mengerti. Ia masih terlalu dini untuk mengetahui hal itu.
Eun Seung mengangkat koper besar dan bersiap untuk turun dari bus di halte tujuannya. Ia memang sudah pergi dari rumah ibunya, keinginan dirinya untuk berkarir tanpa membebani keluarganya. Ia sudah cukup selama empat tahun tinggal bersama kedua orang tuanya. Kali ini ia harus berjuang sendiri dan mengurusi dirinya sendiri. Hadiah ayah memang sangat berguna baginya. Ini kado terindah yang ia dapatkan. Walaupun bukan dari kompetisi tapi ini dukungan ayahnya untuk dirinya terus berusaha dan menjadi baker terkenal. Suatu hari nanti, ia ingin membuat nama baik ayahnya kembali bersinar dengan cara menjadi baker terkenal.
Eun Seung berjalan menelusuri jalan setapak menuju alamat toko yang diberikan ayahnya. Ia masih menyeret koper besar dengan hati-hati. Roda-roda koper memutar berbenturan dengan tanah. Suaranya terdengar di telinga Eun Seung memekakan beberapa orang yang ada di sekitar merasa terganggu. Eun Seung menghiraukan mereka, ia focus dengan handphonenya yang terus mencari alamat toko.
"aww..." rintih Eun Seung sesuatu mengenai dirinya. Ia menahan sakit. "...klontang...!!" Suara kaleng terjatuh tepat berada di samping Eun Seung. Seseorang telah menendangnya. Eun Seung terdiam, ia menahan amarahnya. Walaupun wajahnya masih kesal. Ia dengan cepat menolehnya. Seorang laki-laki tinggi, hanya diam melihat Eun Seung yang tak jauh darinya. Ia tak menunjukkan perubahan, tak ada niat baik darinya. Ia merasa tak bersalah sekalipun. Eun Seung mengambil koper yang dipegangnya lalu mengambil kaleng kosong itu memberikan pada laki-laki itu.
"aku ingatkan kepadamu jika ingin membuang sampah. Buanglah sampah pada tempatnya...!!" Kesal Eun Seung memberikan nasihat kepadanya. Ia menghadapkan kaleng itu di wajah laki-laki yang berdiri dihadapannya.
"heiii awas...!!" Teriak seorang wanita dari atas balkon rumah toko. Eun Seung melihatnya tetesan air akan jatuh di wajahnya kini. Sangat banyak. Namun tiba-tiba sebuah payung terbuka di atas Eun Seung. Ada seseorang yang menyelamatkan dirinya. Eun Seung melihat orang itu. Wajah yang sudah lama tak ia lihat. Wajah yang sedikit berubah karena usia. Wajah serius yang selalu ditunjukkannya. Wajah yang selalu dibencinya ketika kompetisi. Wajah laki-laki tinggi dengan tatapan dingin hanya diam melihat Eun Seung. Gadis itu masih terkejut. Sebuah pandangan yang tak tergerak sekalipun ia mengedip. Eun Seung masih terpaku dengan laki-laki itu. Ia masih memegang payung menyelamatkannya dari jatuhan air.
"kalian tak apa-apa?" Tanya seorang wanita yang sudah ada di dekat mereka. Suara yang tak asing lagi menyadarkan Eun Seung dari laki-laki yang menyelamatkannya itu.
"Soo Ra..." panggil Eun Seung yang masih tercengang. Banyak kejutan di hari ini.
"Eun Seung.. Apa itu kau? Benar, kau Eun Seung..." ucap Soo Ra yang kini mendekatinya. Ia kembali memastikan dengan kacamatanya. Eun Seung mengangguk pelan. Soo Ra tersenyum lega, ia memeluk Eun Seung dengan erat. Sahabatnya itu kini telah kembali.
"Lain kali hati-hati...!!" Seru laki-laki itu menutup payungnya. Soo Ra melepasnya.
"maaf Seung Ho, aku tidak melihat...!!" Ucap Soo Ra kemudian melihat Seung Ho yang sudah berlalu begitu saja di antara mereka. Eun Seung hanya diam memperhatikan Seung Ho.
'kenapa harus bertemu lagi dengan laki-laki ini?' batinnya.
**
"kau sudah mempunyai toko buku, hebat...!!" Kagum Eun Seung memperhatikan ruangan yang tidak terlalu besar tertata beberapa buku bacaan untuk di sewa dan di jual. Kebanyakan buku buku komik yang sudah lama ia punya.
"ini milik usaha keluargaku. Setelah lulus kuliah aku kembali ke tempat nenek, ternyata selama ini ayah mempunyai toko sepatu dipusat kota. Karena selama dua tahun, tidak ada pemasukan dari toko sepatu. Aku menyulapnya menjadi taa...raa seperti ini..."tukas Soo Ra menceritakan perjalanannya selama ini. Benar, selama empat tahun sudah berlalu. Berlika-liku kehidupan yang dijalani. Sama seperti Eun Seung yang terus berjuang untuk bertahan hidup. "...bagaimana denganmu, aku mencarimu kemana-mana. Tapi tak ada satupun yang tahu keberadaanmu. Kenapa kau menghilang begitu saja, Eun Seung. Aku mencemaskanmu setelah kau kirim pesan seperti itu..." Soo Ra benar-benar meluapkan emosinya kepada sahabat satu-satu yang dimilikinya itu. Eun Seung meringis. Benar, selama ini ia memang salah. Melupakan dirinya dan hidup bersama keluarganya. Itu sesuatu keputusan yang salah.
"maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ayahku memintaku untuk tinggal bersama ibu di daerah. Kehidupan kami sangat sulit. Aku tak bisa mengatakan hal ini kepadamu. Kau sudah banyak membantuku. Makanya aku pergi tanpa berpamitan padamu. Maafkan aku..." Eun Seung meraih tangan Soo Ra memukul pelan punggung tangan kanan milik Soo Ra.
"tidak apa, aku memaafkanmu kali ini. Aku senang sudah bertemu denganmu seperti ini..." Soo Ra memberikan minuman kepada Eun Seung yang sudah duduk di sofa bacaan. "...kau mau kemana, membawa koper besar seperti itu...?!" Sambung Soo Ra lagi yang kini duduk di samping Eun Seung. Gadis itu tersenyum.
"pencapaianku terwujud, aku akan membuka toko kue di sekitar sini. Walaupun memang dari ayah, tapi ia ingin aku meneruskannya..." Eun Seung penuh dengan senyum mengambil gelas dan meminumnya.
"hebat !! Kau sudah berhasil membuka usaha sendiri, Eun Seung..." Soo Ra terpukau mendengar hal itu dari Eun Seung.
"aku akan pindah ke tempat itu dan tinggal disana..."
"apa mungkin toko yang sudah lama tak dihuni itu. Berikan alamatnya. Aku akan membantumu mencarinya..."
"benarkah, kau memang sahabatku paling the best..." Eun Seung menunjukkan dua jempol kepadanya.
"kau tahu, Eun Seung. Semua berubah ketika kau pergi. Semuanya menghilang. Aku tidak pernah bertemu dengan Seo Woon lagi setelah itu. Beberapa kali ia memang menanyakan kabarmu, tapi setelah itu aku tak melihatnya, begitu juga dengan kompetisi di universitas, mereka selalu mengangkat Cha Joon Young saja menjadi juara pertama, sepi jika tidak ada dirimu..."
"lalu Seung Ho? Aku terkejut bertemu dengannya tadi..."
"Seung Ho melepas kuliahnya untuk focus membuka usaha miliknya. Kau ingat dia yang mendapat hadiah ruko kompetisi ArtBakery..."
"iya, mungkin aku juga akan seperti itu jika jadi dirinya..."
"aku juga tidak menyangka kalau toko Seung Ho dua blok dari toko ayah. Aku bosan setiap hari selalu bertemu..." keluh Soo Ra.
"benarkah !!" Eun Seung menatap Soo Ra yang ada dihadapannya. Pikirannya mulai bergerak menuju hal yang tak ingin ia dengar. Soo Ra juga menatap Eun Seung, ia tahu Eun Seung mulai khawatir.
__ADS_1
"aku mengerti maksudmu. Jika benar toko yang kau cari di sekitar sini, berarti kau akan menjadi lawan Seung Ho kembali, Eun Seung..." ungkap Soo Ra menekankan ucapannya. Eun Seung hanya menelan ludah, masih menatap Soo Ra berharap toko milik ayahnya tak ada di sekitar Seung Ho.
**
Eun Seung berdiri tegak memperhatikan satu ruangan yang tidak begitu besar berada di hadapannya. Bayangannya mulai berpetualang menjadi sebuah toko kue yang harum, banyak kue di etalase dan orang-orang mengantri membeli kue buatannya. Eun Seung berkacak pinggang, ia tersenyum puas. Imajinasi dirinya mulai menghilang ketika Eun Seung membereskan barang-barang dan merapikan tempat itu.
Apa yang dipikirkan Soo Ra dan Eun Seung memang benar adanya, toko tak berpenghuni itu tepat di depan toko Seung Ho. Kali ini benar-benar membuat dirinya, bingung.
"kenapa harus melawan laki-laki itu lagi?" Eun Seung menyipitkan matanya memandang sinis toko Seung Ho yang ada tepat di pandangannya. Toko miliknya berhadapan dengan toko Seung Ho. Eun Seung tak bisa mengalihkan pandangannya, karena setiap ia buka pintu toko. Selalu saja ada toko miliknya. Terkadang aktifitas Seung Ho bisa dilihat oleh Eun Seung. Itu yang membuat Eun Seung selalu memandang dengan tatapan kesal.
La café, usaha milik Seung Ho memang sebuah café. Bukan toko kue, entah kenapa. Padahal ia pandai membuat kue tapi ia mengambil itu untuk usahanya. Ada alasan lagi dari dirinya memutuskan mengambil café sebagai usahanya. Eun Seung hanya memperhatikan dari layar kaca yang belum tertutup gordyn.
"kali ini aku tidak akan kalah, Seung Ho. Aku akan berjuang menjadi nomor satu dan terkenal di seluruh pusat kota..." teriak Eun Seung dengan penuh percaya diri. Ia mulai bersemangat kembali.
**
Hari peresmian pun tiba. Eun Seung sudah mulai bersiap sejak tadi pagi. Ia sudah membuat kue kering dan roti untuk dijual. Banyak sekali yang ia pamerkan di etalase miliknya. Semua mempunyai 10 macam kue dan roti. Kue tart, roti gandum, roti croissant, bagel, baguette, roti tawar, donat, roti korean garlic. Eun Seung memang mengambil menu perancis dan korea sebagai ciri khas tokonya tersebut. Ia memang paling bisa membuat itu semua.
Eun Seung memperhatikan jam yang menunjukkan angka sepuluh di dinding tokonya. Papan penanda buka juga sudah berganti di pintu masuk. Ia tinggal menunggu orang-orang yang mampir ke toko miliknya. Setengah jam berlalu tak ada seorang pun yang datang. Ia masih berdiam di dalam tokonya. Terkadang ia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dari dalam jendela tokonya. Kebanyakan mereka hanya terkejut ada sebuah toko yang sudah berdiri di wilayah tersebut dan tak masuk ke dalam.
Eun Seung mulai gelisah, ia terus bolak-balik memperhatikan orang-orang dari dalam tokonya. Ia mengintip dari balik jendela. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Belum ada satupun yang datang. Ia mulai sedih, kuenya tak ada yang beli. Harapannya kini kandas begitu saja. Perjuangannya selama ini tak ada hasilnya. Keinginan ayahnya tak bisa ia wujudkan. Toko kue di wilayah ini memang tidak benar. Saingannya begitu banyak. Apalagi dengan café Seung Ho yang begitu ramai. Eun Seung menutup wajahnya, mulai menangis. Ia lelah.
"tringgg..." suara bel berbunyi tanda seseorang telah masuk ke dalam tokonya. Eun Seung melihatnya, seorang pria dan wanita sedang berdiri di pintu masuk. Eun Seung mengenal mereka. Si wanita berkacak pinggang memamerkan giginya yang putih sedangkan si pria hanya bersedekap atau menyilangkan kedua tangannya di dada. Tak senyum hanya memandang dingin Eun Seung. Ia tahu bahwa si pria itu hanya mengikuti ajakannya saja.
"kau sedang apa ?" Tanya Soo Ra, si wanita yang disebutkan. Eun Seung menggeleng tersenyum kepada semuanya. Kedua temannya itu tahu keadaan Eun Seung saat ini. Toko kuenya sepi dari pengunjung.
"permisi, apa aku bisa masuk?" Tanya seseorang dari balik pintu masuk toko, Eun Seung menjawabnya dengan anggukan.
"silahkan masuk...!!" Seru Soo Ra membuka lebar toko kue milik Eun Seung.
"hei, Soo Ra. Aku sudah membawa pakaian badut..." tukas seorang laki-laki yang kini sudah berdiri di depan pintu toko.
"kalau begitu, kau pakailah dan berdiri didepan toko sampai aku memanggilmu kembali..." Soo Ra mendorong laki-laki muda itu keluar dari toko.
"Seung Ho, aku akan menyebar brosur ini di perempatan jalan.." Ucap seorang laki-laki yang seusia dengannya menunjuk brosur yang ada di genggamannya. Seung Ho hanya mengangguk dan berjalan menuju pintu depan toko. Ia terus berbicara dengan laki-laki itu. Eun Seung memperhatikan mereka. Tiba-tiba dua orang wanita datang ke tempat Eun Seung. Mereka membawa flower standing di tangan wanita yang muda.
"halooo, Eun Seung..." sapa wanita berusia lima puluh tahunan tetapi wajahnya masih terlihat muda itu. "... kami tetanggamu, kau pasti tahu toko mayumi florist. Tepat di sebelahmu. Itu toko bunga kami..." ucap wanita tua itu menjelaskan.
"sudahlah bu, Eun Seung juga sudah tahu. Selamat pembukaan toko kue. Aku akan menaruh flower standing di depan tokomu..." ujar wanita yang muda, ia sangat cantik dengan tatanan rambut ikal panjang itu.
"tapi aku tidak memesannya..."
"tidak apa-apa. Ini hadiah perkenalan dari kami. Aku kim Hyu Ri dan ini ibuku kim jung sim.." Ucap Hyu Ri mengenalkan keluarga mereka. Wanita itu berjalan menuju pintu keluar, menaruh flower standing di dekat pintu masuk.
"panggil saja, aku bibi nei. Semua di wilayah ini hanya tahu namaku bibi nei saja..." bisik jung sim yang tak mau dipanggil seperti itu. Eun Seung mengangguk tersenyum senang kepada mereka.
"terima kasih banyak..."Eun Seung menunduk kepala memberi hormat kepada mereka.
"sudah-sudah. Aku boleh melihat kue dan rotimu..." ucap bibi nei memeluk Eun Seung dari samping.
"iya, silahkan...!!" Seru Eun Seung menunjukan etalase kue dan roti kepada bibi nei.
"permisi, apa aku bisa bayar ini?" Tanya seorang pelanggan lain memberikan baguette dan roti gandum kepada Eun Seung.
"tentu, akan aku hitungkan..." jawab Eun Seung penuh semangat, ia beralih menuju kasir. Menghitung seluruh barang belanja pembeli itu.
__ADS_1
Hari semakin siang, alunan musik semangat menggema di depan pintu masuk toko. Banyak orang yang tertarik untuk masuk ke dalam toko. Boneka badut juga menghibur di depan toko. Entah itu siapa, Soo Ra yang memanggilnya. Semua tetangga membantu dirinya saat ini. Mereka sangat kekeluargaan, Eun Seung merasakannya. Mereka menghargai Eun Seung yang tengah bekerja keras selama ini. Kini semuanya juga membantu dirinya membuka toko. Eun Seung benar-benar terharu melihat mereka juga ikut membantu dirinya.
**
"terima kasih banyak sudah membantuku..." ucap Eun Seung memberikan kue tart dan beberapa roti kepada semua tetangganya itu. Ia menunduk memberi hormat kepada semuanya. Ada Sembilan orang yang bersama Eun Seung saat ini. Semuanya adalah tetangganya yang mempunyai toko di wilayah itu. Soo Ra yang mengundang mereka semua untuk menyambut kedatangan anggota baru di wilayah mereka. Soo Ra ingin sekali Eun Seung berada di lingkungan mereka. Sahabatnya itu yang membuat acara penyambutan kecil-kecilan di minimarket milik tetangganya itu. Minimarket yang sudah di booking buat mereka, walaupun ada beberapa yang berkunjung tapi tidak mematahkan semangat Soo Ra membuat acara tersebut. Soo Ra memilih malam larut supaya tidak ada lagi yang berkunjung di minimarket tetangganya itu. Semua toko disini juga sudah mulai tutup sejak tadi sore.
"heii, selamat yaa toko kuemu sudah dibuka. Maaf aku tak bisa membantumu. Butik baju milikku tidak ada yang jaga. Tapi aku sudah meminjamkan pakaian badutku kepada myung dae. Dia sangat konyol, bukan !! Aku terus tertawa melihat dia yang selalu joget-joget di depan tokomu..." ucap wanita muda berusia kira-kira tiga puluhan yang ada di samping Eun Seung.
"benar-benar hahaha..." tawa seorang laki-laki menyahut dari ujung tempat duduknya.
"...aku juga melihatnya tadi saat keluar dari minimarket, kau sangat bodoh hahaha !!" Laki-laki yang lain memukul pundak laki-laki yang disampingnya. Eun Seung tersenyum melihatnya. Laki-laki yang bernama myung dae itu hanya menahan malu.
"aku tidak tahu kalau Soo Ra mengerjaiku. Aku disuruh meminjam pakaian badut ke kyung mi noona. Tapi malah aku yang memakainya. Ucapkan terima kasih kepada ku Soo Ra..." myung dae merasa kesal.
"iya iya, terima kasih, myung dae..." suara Soo Ra terdengar di belakang Eun Seung. Ia sedang membawakan sepuluh gelas minuman ke atas meja. "...Baiklah, sebelum itu aku akan mengenalkan pada kalian. Ini adalah lee Eun Seung. Sahabatku. Kami sejak kuliah sudah berjuang keras untuk mencapai impian. Hingga akhirnya, dia berhasil mencapai impiannya membuka toko kue di wilayah kita. Kita sambut Lee Eun Seung..." Soo Ra berteriak mempersilahkan Eun Seung untuk berbicara kepada semuanya. Banyak yang memperhatikan dirinya. Sungguh ini penyambutan yang sangat besar.
"halo semuanya. Aku lee Eun Seung. Aku sudah lama memimpikan mempunyai toko kue sendiri. Jika kalian merasa ingin kue dan roti, datanglah berkunjung. Aku akan membuat kue dan roti yang sangat banyak untuk kalian semua. Aku juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua sudah membantuku. Jujur, aku takut sekali tidak ada yang datang ke toko padahal aku sudah menyiapkan semuanya. Tetapi aku terharu melihat kalian semua ikut membantuku. Terima kasih..." Eun Seung memberi hormat kepada semuanya.
"selamat datang, Lee Eun Seung. Kami sangat senang mempunyai anggota baru di wilayah ini..." ucap myung dae menuangkan minuman bersoda di gelas milik Eun Seung. Eun Seung mengambilnya.
"benar, aku juga senang setiap hari selalu mencium bau harum kue dari kamarku..." sahut Hyu Ri mengambil gelas dan meminta minuman bersoda untuk dituangkan ke dalam gelasnya.
"terima kasih..." jawab Eun Seung tersenyum kepada mereka semua.
"baiklah, ayo kita bersulang untuk impian kita, harapan kita dan acara penyambutan ini..." Soo Ra memberi aba-aba supaya semuanya bersiap untuk meneguk minuman yang ada di genggamannya. Setelah siap, Soo Ra memulai untuk meminumnya terlebih dulu dan diikuti yang lainnya juga.
"ayooo, kita bakar dagingnya...!!" Semangat Myung Dae mengawali. Ia mulai menyalakan kompor yang ada di hadapannya. Beberapa yang di dekat myung dae juga iku membantu.
"Eun Seung, aku akan mengenalkanmu pada semuanya..." ujar Soo Ra. Eun Seung mengangguk memperhatikan setiap orang yang ditunjuk oleh sahabatnya itu. "...dari sini, ada kyung mi eonni. Dia mempunyai butik baju tepat di samping toko bukuku. Jika kau ingin membeli baju. Pasti ada diskon darinya..." tunjuk Soo Ra pada wanita yang sudah berusia empat puluh itu.
"tenang saja. Aku akan memberikanmu diskon 50 %" ucapnya kemudian.
"hei, Kyung Mi. Waktu aku belanja di tempatmu. Kau hanya memberiku 15% saja. Kau ini curang...!!" Seru bibi nei menimpali.
"itukan baju yang beda, bibi nei..." jawab kyung mi sesal sudah bicara begitu pada Eun Seung.
"oke, samping eonni. Ada Woo Jae, dia asisten Seung Ho. Pekerjaannya sebagai barista di café milik Seung Ho..." Soo Ra menunjuk laki-laki yang tersenyum kepada Eun Seung. Ia melambaikan tangan kepada Eun Seung. Tak bicara apapun.
"terus, yang itu Seung Ho dan itu oppa jin hyun. Oppa ini pemilik minimarket dan food court. Ia sangat baik makanya tempat ini kita bajak buat penyambutanmu.." Soo Ra memberitahu.
"hai, Eun Seung..." sapa oppa ini dengan ramah.
"haii.." Senyum Eun Seung mengembang. Laki-laki itu memang ramah.
"ahh, itu bibi nei, Hyu Ri, dan Myung Dae. Dia kerja di tempat oppa jin hyun. Shiftnya selalu malam..." tambah Soo Ra menjelaskan semua yang berperan penting di wilayah ini.
"apa-apaan kau Soo Ra, Kau mengenalkan hanya sebatas itu. Kau kan bisa bilang aku masih single !!" Kesal myung dae. Dia memang selalu meledek Soo Ra. Semuanya tertawa. Ketika myung dae merangkul Soo Ra dari samping.
"hati-hati kau Eun Seung, Myung Dae mulai nakal...!!" Teriak Kyung Mi memberitahu. Semuanya pun tertawa. Eun Seung ikut tertawa dengan mereka.
**
Bae Suzy \= Lee Eun Seung
__ADS_1