
"aku beli ini dan ini..." tukas Eun Seung mengambil sawi dan wortel dari box penjual. Hari ini ia ingin sekali bikin kimchi. Makanan kesukaan Eun Seung selama ia tinggal dirumah orang tuanya. Ibunya yang mengajari membuat itu. "...terima kasih..!!" Sambung Eun Seung memberikan beberapa lembar uang won kepada penjualnya. Ia sudah selesai untuk hari ini. Semua bahan sudah lengkap di tas belanjanya. Ia berjalan menelusuri para pedagang yang memamerkan dagangannya. Baru kali ini, ia datang ke tempat ini dan dirinya merasa belum terbiasa dengan orang-orang di sekitar sini. Ia terdiam di salah satu kios yang menjual makanan cemilan. Salah seorang pembeli yang lain memperhatikan Eun Seung dari atas sampai bawah. Seorang laki-laki yang menyeramkan. Eun Seung merasa tak nyaman. Ia baru teringat, bahwa dirinya pernah di culik oleh seseorang. Eun Seung tambah cemas, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Berjalan menuju pintu keluar pasar. Ia memperhatikan orang-orang itu, mereka tak mengejarnya. Ia mengontrol nafasnya dan membuat dirinya tenang.
"Eun Seung, kau sudah ?!" Tanya Woo Jae yang tiba-tiba muncul dari belakang dirinya. Laki-laki itu memang ikut dengannya, ia ingin membeli keperluan untuk café. Seung Ho memintanya karena hari ini menu andalan kekurangan bahan.
"iya, kau sendiri?" Jawab Eun Seung menunjuk dirinya. Woo Jae mengangguk.
"sudah, mari kita pulang.." Ajak Woo Jae berjalan menuju parkiran. Mereka memang datang berdua ke pasar ini. Kalau bukan Seung Ho yang memberi aba-aba mungkin Eun Seung sendirian di tempat yang belum terbiasa ini. "...Eun Seung, jadi kau sudah lama kenal mereka ya?" Lanjutnya bertanya pada Eun Seung. Ia memang sedang mencari topik untuk berbicara pada gadis itu. Rasanya tidak nyaman jika seseorang yang baru kenal pergi bersama. Woo Jae merasakan itu. Ia juga ingin terbuka pada teman barunya itu.
Eun Seung melihatnya. Ia bingung dengan pertanyaan mereka yang disebutkan Woo Jae. Ketika sadar, ternyata Soo Ra dan Seung Ho yang ada dipikirannya.
"iya, kami satu kampus. Kau sendiri sudah berapa lama kerja di tempat Seung Ho? Kau nyaman dengannya?"
Kali ini Woo Jae yang melihatnya. Pertanyaan aneh dari gadis ini. 'KAU NYAMAN DENGANNYA?' ucapan Eun Seung terngiang di pikirannya saat ini. Apakah ini jebakan atau hanya sekedar menanyakan keadaan dirinya saat bekerja di café Seung Ho. Ia tak mengerti.
__ADS_1
"maksudku, kau kan tahu sendiri kalau Seung Ho itu sangat pendiam dan dingin. Kau bisa bekerja sama dengannya?" Balas Eun Seung merubah ucapannya. Ia memang kenal Seung Ho selalu seperti itu. Ia tak tahu dalamnya seperti apa.
"iya, selama 2 tahun ini aku selalu mengikuti alurnya dia. Selalu menuruti dia, walaupun memang sikapnya seperti itu terkadang ia bisa berbicara juga jika ada sesuatu yang salah. Aku banyak belajar darinya. Aku bekerja di tempat Seung Ho banyak ilmu yang aku dapat. Banyak pelanggan berbicara kepada kita kalau café itu milik kita bersama..." cerita Woo Jae dengan pengalamannya selama dua tahun bekerja di café Seung Ho. "...ada sesuatu yang aku ingat, jika suatu hari nanti aku bisa seperti dirinya yang berjuang keras mendapatkan impiannya. Aku salut sama Seung Ho seperti itu. Dengar-dengar kalau kau itu rivalnya ya saat kompetisi yang di adakan di kampus kalian?" Tanya Woo Jae yang kini menanyakan dirinya. Eun Seung tersenyum. Ternyata semuanya tahu kalau dirinya memang rival. Sampai sekarang mungkin itu masih. Eun Seung belum bisa mengalahkan Seung Ho.
"ya begitulah, kau tahu banyak ya tentang kita. Pasti ada yang memberitahukanmu, bukan?" Eun Seung menyudutkan Woo Jae sekarang. Benar, pasti ada salah satu dari bertiga yang suka membocorkan semua rahasia dirinya. Ia tahu bukanlah Seung Ho. Tentunya si Soo Ra.
"hahaha... aku hanya mendengar saja di acara malam-malam. Kami sering kumpul setiap malam di minimarket. Kapan –kapan kau juga gabung bersama kami ya!!?" Ucap Woo Jae mengajak Eun Seung untuk bergabung melepas penat di malam hari. Eun Seung tahu kegiatan itu. Soo Ra juga sering mengajaknya. Tetapi selalu tidak bisa, setiap malam Eun Seung selalu membuat adonan kue yang akan dijualnya di pagi hari. Eun Seung memberi tanda kepadanya.
"okee, aku akan ikut denganmu...!!" Seru Eun Seung yang sudah berada di depan mobil milik Woo Jae, ia membuka pintu mobil dan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.
**
Joon Young tersentak saat ia sedang melahap makanan yang ada di hadapannya, ia hanya diam tak bicara apapun. Bagaimana tidak, seorang gadis yang dibanggakan oleh neneknya itu adalah rivalnya sendiri. Si nomor tiga di kampusnya. Eun Seung. Joon Young kalah dari wanita itu dimata keluarganya. Kue buatan Eun Seung lebih enak dari kue buatannya. Ia sudah kehilangan jati dirinya di mata neneknya.
__ADS_1
"dengar-dengar, kau habis kena pukul oleh wanita itu Joon Young...?!" Tanya ayah Jin So memperhatikan Joon Young yang masih terdiam. Ia tahu maksud ayahnya seperti itu, ia ingin membuat neneknya itu bersalah membiarkan cucu kesayangannya terluka. Ibu sun mi mengangguk, memberi perhatian kepadanya. Ia mengelus pundak Joon Young.
"apakah itu benar, Joon Young?" Tanya nenek mempertegas penglihatannya ke arah cucunya itu.
"ibu, bisakah kita membatalkan perjodohan ini !! Joon Young terluka karena ibu menyuruh bertemu dengan gadis itu. Aku tak ingin anakku satu-satunya ini terluka..." ucap ibu Sun Mi terus membujuk ibunya itu untuk bisa mengabaikan niat dirinya menjodohkan cucu laki-lakinya itu.
"anak laki-laki harus seperti itu.. !!" Nenek Joon Young tak memperdulikan permintaan Sun Mi. Ia masih dengan pendiriannya. Joon Young mendengus kesal, seharusnya ia tahu bahwa neneknya itu keras kepala.
"tenang saja ibu, aku baik-baik saja. Aku akan menagih Eun Seung untuk membayar tiga ratus juta kepada kita..." jawab Joon Young berusaha membuat ibunya tenang.
"Eun Seung ?!!" Ucap neneknya itu mengulang apa yang Joon Young bicarakan. Semua anggota keluarga melihat Joon Young dengan tajam. "...kau mengenal gadis itu, Joon Young?" Tanya neneknya lagi menghentikan kegiatannya dan menatap Joon Young dalam-dalam. Iya, semua orang mendengarnya. Joon Young membuat semua anggota keluarga tahu tentang gadis itu. Ia kelepasan mengucapkan nama yang selama ini di bencinya. Gadis itu memang sudah menjadi bagian Joon Young selama di kampus. Kompetisi baker yang membuat mereka saling mengenal sebagai rival. Joon Young memang tidak dekat dengannya, tetapi ia tahu tentang gadis ini. Gadis yang selalu dibicarakan di kampusnya dengan sebutan si nomor tiga ini ternyata yang selama ini nenek puji kemampuannya.
"aku sudah selesai makan..."ucap Joon Young menghindar dari pertanyaan mereka tentang Eun Seung. Ia tak ingin semuanya tahu jika gadis itu rivalnya selama kompetisi. Musuh berbuyutan. Ini akan semakin gawat jika mereka tahu dan nenek terus menerus menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
**