Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 3 : PERJANJIAN


__ADS_3

Malam semakin larut, ketika beberapa pelayan menaruh makanan di atas meja. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Waktunya makan malam untuk seluruh anggota keluarga. Semuanya bersiap untuk menyantap makanan yang sudah di sajikan. Ayah, ibu, nenek dan seorang laki-laki sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ayah dengan sosok wibawanya masih memperhatikan ipad di tangannya, ia sedang membaca Koran digital. Ibu juga ia masih sibuk memilih barang-barang kesukaan di toko online. Ia memang shopaholic. Sedangkan nenek dan laki-laki memperhatikan para pelayan yang masih sibuk menaruh beberapa makanan di atas meja. Mereka sejak tadi memang berbincang-bincang seru mengenai seorang gadis yang sudah lama tak ia temui. Laki-laki itu satu-satunya cucu kesayangan di keluarga ini.


"kau harus bertemu dengannya. Nenek sudah menceritakan semuanya padamu. Bahwa gadis itu sangatlah cantik dan berbakat..." ucap nenek Hae rim terus memberitahu semua yang ia ketahui. Ia terus menyanjung gadis itu. Berharap cucu laki-lakinya menyukainya.


"kau harus mengikuti permintaan nenek, Joon Young..." suara ibu terdengar menggurui, ia sedang mencoba membujuk laki-laki yang bernama cha Joon Young itu menuruti kemauan neneknya. Nenek Hae rim mengangguk mendengar saran dari ibu Joon Young, Sun mi. Terkadang ibunya lah yang bisa di andalkan.


Nenek hae rim memang tidak mengetahui gadis itu. Ia baru pertama kali bertemu dengannya di sebuah toko kue dulu sekali. Tahun 2000, seorang gadis berumur 12 tahun sedang membantu ayahnya membuat adonan kue. Nenek Hae rim sangat terkesan dengan mereka. Ia menjadi salah satu pelanggan mereka. Sampai sekarang nenek hae rim selalu rindu dengan kue buatan mereka.


"nenek ingin kau bertemu dengannya. Ajak dia dan buat kue di tempat ini..."pinta nenek, ia memegang tangan Joon Young berharap bisa di terima olehnya. Namun ia menolaknya.


"aku bisa buat kue, buat apa bertemu dengannya..." ucap Joon Young memamerkan kemampuannya. Ia memang jago membuat kue, setiap kompetisi selalu urutan kedua.


"nenek ingin menjodohkanmu dengannya, sebab ayahnya berhutang 300 juta kepada nenek..." ungkap nenek berterus terang. Suara nenek Hae rim membuat semuanya menghentikan kegiatannya, mereka menatap hae rim dengan tak percaya. Neneknya memberi uang 300 juta kepada seseorang yang ia tak kenal.


"apa ?! Tiga ratus juta..." ayah berkomentar melihat nenek hae rim.


"ibu, kau punya uang sebanyak itu...!!" Seru ibu yang terkejut, ia tak menyangka ibunya itu menyimpan uang sebanyak itu.


"ti...ti..tiga ratus juta, wow...!! Hebat..." Joon Young menghitung dengan tangannya.


Semuanya menyerang nenek hae rim dalam tatapannya. Nenek hae rim memang salah, ia terlalu bersemangat bertemu ayah gadis itu. Namanya saja ia pun tidak tahu. Ia hanya diberi alamat rumahnya.


"kenapa ibu melakukan ini...?" Tanya ayah Jin so kemudian.


"ibu merasa kasihan dengan mereka, ayahnya sudah lama tidak bekerja. Jadi ibu ingin menghidupkan kembali toko mereka..." jawab nenek hae rim, ia mengatakannya dengan jujur.


"Joon Young, ikuti permintaan nenek. Ibu tak ingin kita rugi kehilangan uang 300 juta" ibu sun mi mendesak Joon Young untuk menurutinya. Ia takut kehilangan uang 300 juta.


"benar, Joon Young. Kau mau dijodohkan atau meminta mereka untuk membayar hutang..." ayah jin so menambahkan.


"bagaimana bisa aku menemukan mereka, kalau nenek saja tidak tahu nama mereka..." Joon Young kesal. Keluarganya terus menyudutkan dirinya supaya Joon Young bisa mengambil kembali uang 300 juta yang sudah dipinjamkan nenek.


"kau mau menerima perjodohan ini?" Nenek yang kini menatap mata cucunya itu namun sebuah penolakan keras terdapat disana, Joon Young menggeleng dengan tegas.


"aku tidak mau, aku akan meminta mereka mengembalikan uang nenek. Jangan harap aku akan menerima perjodohan ini, nek..." Joon Young menolak dengan tegas. Ia terbangun dari duduknya. Ia tak ingin melanjutkan makan malam yang sudah disiapkan. Semuanya melihat Joon Young yang begitu sangat marah. Joon Young terpancing emosi oleh neneknya itu. Ia tidak suka kehidupannya di atur-atur.


"kau akan menyesal, Joon Young...!!" Ucap nenek pelan. Ia tak peduli dengan Joon Young pergi meninggalkannya. Pandangan nenek kembali focus ke makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Joon Young...!!" Panggil ibu Sun Mi ketika Joon Young sudah berlalu begitu saja pergi menuju kamarnya. Ia juga ikut kesal dengan ibunya itu. Hae rim tak mengatakan apapun kepadanya terlebih dahulu. Apalagi ini masalah uang yang dipinjamkan. Nilai 300 juta sangatlah besar.


**


Eun Seung memandang langit biru yang sangat indah. Cuaca hari ini sangatlah terik, membuat dirinya bersantai memperhatikan awan yang bergerak di terpa angin. Ia memperhatikan layar ponselnya, tak seorangpun yang telepon bahkan chat dirinya. Eun Seung benar-benar kehilangan Soo Ra. Empat tahun lalu, ia hanya mengucapkan selamat tinggal melalui pesan singkat. Ia tak berani mengatakan semua rahasia yang ada padanya kepada sahabatnya itu. Ia berusaha menghindar dari panggilan Soo Ra. Berkali-kali Soo Ra menghubungi Eun Seung, tapi selalu tak menjawab. Eun Seung merasa bersalah padanya, tetapi jika tidak begitu Soo Ra akan selalu mengejarnya kemanapun berada. Ia sudah banyak merepotkan dirinya, terkadang ia selalu tak enak hati jika selalu bergantung padanya. Soo Ra, sahabat yang sangat baik. Mungkin karena Soo Ra hanya tinggal bersama neneknya. Jadi Eun Seung sudah di anggap sebagai kakak baginya.


Sudah empat tahun, Eun Seung tinggal bersama ayah dan ibunya. Kehidupannya sudah lebih stabil sekarang. Ekonominya mulai bertambah, karena Eun Seung memutuskan untuk bekerja paruh waktu di daerah ini.


"Eun Seung, ayo kemari-kemari... ayah membawakanmu daging...!!" Seru ayah yang tiba-tiba datang membawa sesuatu di tangannya mengajak Eun Seung untuk masuk ke dalam rumah. Eun Seung mengikutinya dari belakang.


"waahhh, banyaknya...!!" Seru Eun Seung yang melihat ayah membuka bungkusan daging di atas meja. Ibu yang mendengar suara ayah tiba-tiba keluar dari dapur membawa grill pan.


"malam ini kita makan daging..." teriak ayah sangat senang, Eun Seung ikut tersenyum, baru kali ini ia melihat ayahnya kembali tersenyum lagi. Sudah lama ia tak melihatnya. Ibu pun juga ikut tertawa.


"biar aku yang membeli minuman dingin..."tukas Eun Seung inisiatif untuk pergi ke minimarket. Memang tidak enak, makan daging tidak ada minuman soda. Eun Seung paham situasi itu. Ini waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarganya.


**


Lampu-lampu malam terlihat remang-remang di sekitaran jalan menuju rumah Eun Seung. Ia sudah kembali membawa beberapa minuman untuk di hidangkan di acara makan malam keluarga mereka.


"Eun Seung, ayo cepat...!!" Teriak ayah dari depan rumahnya yang sudah menunggu kedatangan anaknya itu. Eun Seung melihat ayah dan berlari menghampirinya. Ia dengan senang memperlihatkan bungkusan kepada ayahnya itu. Ayah mengambil bungkusan itu, masuk ke dalam rumah lebih dulu. Eun Seung menoleh ke belakang, ia sadar ada seseorang yang memperhatikan dirinya dan ayahnya itu. Sejak tadi berada di minimarket, ada yang diam-diam mengikutinya dari jauh. Hingga sampai sini, orang itu tak terlihat lagi. Mungkin sudah mengumpat. Eun Seung membiarkannya.


"ibu mau mengambil sayuran dulu..." ujar ibu meninggalkan mereka berdua.


"nih...!!" Ayah memberikan minuman kaleng kepada Eun Seung dan menaruh di pinggir kaki Eun Seung. Mereka memang sedang duduk di teras rumah. "akhirnya kita bisa makan daging lagi, Eun Seung. Kau suka?" Tanya ayah yang juga membuka minuman kaleng yang ada di tangannya.


"iya, aku suka..." jawab Eun Seung sambil memakan potongan daging di piringnya.


"ayah ingin memberikanmu ini..." ayah mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kunci kini diperlihatkan di hadapan wajah Eun Seung. Tangan ayah meraih tangan Eun Seung, memberikan dan menutup telapak tangan kanannya. Anaknya itu hanya bingung, menunggu penjelasan dari ayah.


"apa ini?" Tanya Eun Seung terus memperhatikan ayah yang ada disampingnya.


"Ayah ingin kau meneruskan cita-cita ayah untuk membuka toko kue di pusat kota..." jawab ayah, ia memandang ke langit yang gelap. Sesekali ia meneguk minumannya. "...selama ini ayah, tak bisa menjadi ayah yang baik bagimu. Tak bisa membelikanmu daging seperti ini. Tak bisa mewujudkan cita-citamu. Maafkan ayah..."lanjut ayah, matanya sedikit berkaca-kaca. Eun Seung hanya diam, ia terharu ayahnya sampai memikirkan keinginan Eun Seung sampai saat ini. Cita-citanya menjadi baker terkenal sudah ia wujudkan berkat ayahnya yang mendukung hingga saat ini. "...dengan ini, ayah bisa mengganti uang jaminanmu, bukan?" Senyum ayah yang kini melihat Eun Seung di sampingnya. Eun Seung hanya menangis, ia bahkan sudah lupa. Hadiah juara kompetisi ArtBakery memang dipakai untuk menjamin ayah keluar dari penjara. Tetapi ayahnya itu mengingatnya sampai saat ini. Eun Seung memeluk ayahnya dari samping. Ia tak menyangka bahwa selama ini banyak yang mendukung dirinya. Ia lupa alasan Eun Seung menyukai kue, ia selalu ingin bersama dengan ayahnya. Hanya itu. Kerinduan dirinya selama ini adalah bersama dengan ayahnya. Ada sesuatu dari ayahnya yang membuat dirinya selalu semangat dan senang melakukan hal itu.


"ayah, darimana mendapatkan ini semua...?" Tanya Eun Seung pelan. Ia memang mempertanyakan darimana ayahnya itu mendapatkan uang untuk membeli daging.


"ayah bekerja keras..." jawab ayah dibarengi dengan tawa. Wajahnya memang tertawa tetapi ada sesuatu yang ayah sembunyikan darinya. Sebuah rahasia yang harus ia simpan. Ia ingin bebannya itu tak lagi ke anaknya.'temui gadis itu di daerah xxx, kau akan menyukainya...' sebuah pesan singkat dari nenek hae rim tertulis di layar handphone Joon Young. Ia mendengus kesal memperhatikan pesan nenek kepadanya. Sejak pagi, ia sudah datang ke daerah xxx untuk mencari alamat tersebut. Hanya untuk meminta kembali uang 300 juta yang dipinjam nenek.

__ADS_1


Joon Young terus berjalan melihat-lihat papan nama yang diselipkan di setiap rumah. Biasanya orang-orang menulis alamat di papan nama, supaya tukang pos bisa mengetahuinya jika mengirim barang tanpa harus memanggil si pemilik rumah. Joon Young mengikuti caranya, ia terus menyelisir setiap rumah. Sesekali ia melihat pesan yang dikirimkan oleh neneknya itu. Jika bukan karena uang, ia tak ingin melakukan hal ini.


"ahh... disini rupanya...!!" Seru Joon Young sudah melihat rumah yang kini ada di hadapannya. Rumah putih yang kecil tetapi nyaman ini mempunyai hutang yang sangat besar kepada keluarganya.


"ceklek..." Suara pintu rumah tiba-tiba di buka oleh si pemilik rumah. Dengan cepat Joon Young mengumpat ke ujung gang, menjauhi rumah itu. Ia belum berani untuk bertemu dengan mereka semua. Ia bingung, bagaimana caranya supaya bisa bertemu salah satu anggota mereka. Ya, gadis itu. Hanya dengan gadis itu, ia harus bertemu dengannya. Joon Young mengintip dari balik dinding. Salah seorang wanita berkuncir kuda sedang keluar dengan sepeda di tuntunnya. Wanita itu gadis yang dibicarakan neneknya. Gadis cantik dan berbakat yang selalu disanjung-sanjungkan oleh neneknya. Kue buatannya lebih enak dari buatan cucunya sendiri. Joon Young kalah dari gadis itu. Siapa dia?. Ia tak bisa melihat wanita itu, hanya punggung yang terus membelakangi dan terus menjauhinya.


**


Joon Young terus menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya yang sejak tadi selalu ada. Ia memang terus memikirkan rencananya bertemu dengan gadis itu. Malam ini keputusan yang tepat sebelum ia kembali ke rumahnya. Ia sudah berjanji untuk membawa uang 300 juta kepada orang tuanya itu.


"akhhhhh... aku harus berani... aku harus berani...!!" Teriak Joon Young yang terus bolak-balik menuju tempat gadis itu. Sudah 3 kali ia memutari komplek perumahannya. Tapi tak sekalipun bertemu dengan gadis itu. "... ini lebih menegangkan dari kompetisi..." ucap Joon Young menelan ludah. Ia memperhatikan sekitarnya. Malam semakin gelap, jalanan sudah mulai sepi. Joon Young terus berjaga-jaga dan memperhatikan rumah kecil dari dari jauh. "...hai, aku Joon Young. Keluargamu meminjam uang kepadaku tiga ratus juta. Aku harap kau bisa mengembalikannya dua minggu lagi ya...huffht..!!" Joon Young menghembuskan nafas. Ia sedang mengontrol emosinya supaya percaya diri. "oke...oke, aku bisa. Tenang, Joon Young. Demi uang tiga ratus juta..." ucap Joon Young pelan. Ia terus berkomat-kamit dengan pelan. Ia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya. Ia pun kembali memperhatikan jalanan menuju rumah itu. Matanya tertuju pada gadis yang berjalan pelan membawa bungkusan. Pakaiannya masih sama dengan yang dikenakan tadi pagi. Tidak salah lagi, gadis yang diharapkan kini muncul di dekatnya. Tanpa pikir panjang, Joon Young mengendap-endap di belakangnya. Mendekatinya dan menarik lengan kanan gadis itu untuk berhenti. Gadis itu melihatnya karena tubuhnya dipaksa untuk berada di hadapan Joon Young. Sebuah tatapan mendarat di mata Joon Young. Tatapan ketakutan ada di wajah gadis cantik itu. Gadis itu tak mengenal Joon Young, laki-laki itu sengaja menyamarkan wajahnya dengan masker supaya tak dikenali.


'Eun Seung...!!' gumam Joon Young dalam hati. Gadis itu ternyata yang selama ini ia kenal. Ia menghilang setelah sekian lama, dan kini ada di hadapannya. Ia tak melanjutkan kuliah dan pergi ke daerah ini. Gadis cantik keinginan neneknya itu yang akan dijodohkan dengan dirinya. Gadis berbakat kebanggaan neneknya itu ternyata si nomor tiga. Gadis yang selalu dipuji oleh neneknya karena kue buatannya lebih enak dari Joon Young. Semuanya tertuju pada gadis yang bernama Eun Seung. Joon Young melepas tangan Eun Seung saat gadis itu mendaratkan satu kepalan di dagunya. Joon Young memegang dagunya, menahan sakit. Dilihatnya Eun Seung sudah berlari menjauh dari dirinya.


"Jika dia tahu, aku Joon Young. Dia tidak akan meninjuku seperti itu. Aw... sakit..." Joon Young berbalik arah, ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


**


"braaak...!!!" Pintu rumah Eun Seung ditutup dengan keras olehnya. Ia sangat ketakutan. Nafasnya tersengal-sengal. Berlari menghindar dari laki-laki tinggi bermasker hitam itu.


"Eun Seung, ada apa?" Tanya ibu saat mendengar suara pintu rumah ditutup dengan paksa oleh anaknya itu.


"tidak bu, angin menutup pintunya dengan keras tadi. Aku lupa menutupnya..."Eun Seung tak ingin membuat ibunya itu khawatir. Bahwa hari ini ada yang akan menculik dirinya. Eun Seung berbohong.


"istirahatlah. Malam ini, Ayah tidak akan pulang..."tukas ibunya yang kembali masuk ke dalam ruang tengah. Eun Seung melihatnya dan hanya mengangguk menjawab ibunya itu. Ketika ibunya sudah masuk, ia mulai membuka perlahan pintu rumahnya. Ia menoleh kiri dan kanan, memperhatikan sekitar halaman rumah. Ia mencari-cari sosok laki-laki yang tadi mau menculiknya. Tangannya masih berkeringat. Ia ketakutan. Laki-laki tinggi yang tak ia kenal, mencoba menarik tangannya.


"apa aku memukul terlalu keras ya? Tanganku memar..." ucap Eun Seung memperhatikan tangannya. Tercipta memar biru ada di punggung tangan kanan dirinya. Ia merasakan sakit saat ditekan olehnya. "...aku harus mengobatinya..." ia pun masuk ke dalam rumah, setelah mengunci pintu, ia melewati ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya mencari p3k untuk mengobati lukanya.


Namun tiba-tiba selembar kartu ucapan terjatuh di antara box p3k. Kartu ucapan berwarna pink yang belum sempat ia buka saat menang kompetisi. Kartu ucapan yang menuliskan tentang pesan singkat kompetisi ArtBakery. Waktu dirinya meraih juara dua, ia mendapatkannya lagi dari kompetisi itu. Eun Seung mengambilnya dan membukanya. Sebuah tulisan berderet rapi sama seperti pesan yang sebelumnya. Orang yang sama yang menulis kartu itu.


'aku akan memberikan resep terakhir kepadamu. Resep terakhir satu-satunya yang ada di dunia. Resep yang bisa mewujudkan keinginanmu. Temui aku, aku ada di sekitarmu, yrekab ruoiv eht ta..'


Eun Seung menggeleng kepala, ia tertuju pada satu kalimat yang tak dimengerti.


"yrekab ruoiv eht ta? Bahasa apa ini?" Eun Seung membalik-balikan kartu ucapan, tak ada satupun yang menjelaskan petunjuk dari bahasa itu. Ia kembali memperhatikan pesan di dalam kartu ucapan. "...lalu resep terakhir? Dia akan memberikan resep terakhir kepadaku?" Eun Seung menyandarkan dirinya di kursi belajar. Ia terus memikirkan tulisan itu. Resep terakhir milik seseorang yang sangat berharga. Resep yang dapat mewujudkan keinginan. Sebuah teka-teki yang harus ia pecahkan. Ada sebuah rahasia dalam kompetisi itu."...aku akan mencari orang itu untuk memperbaiki nama baik ayah, tetapi siapakah orang itu?"


*

__ADS_1



Kim Myung So / L \= Joon Young


__ADS_2