Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 13: PRIA PERTAMA


__ADS_3

“terima kasih, datang kembali…” senyum Eun Seung memberikan uang kembalian kepada salah satu pelanggan yang telah membeli roti pada dirinya. Eun Seung memperhatikan mereka yang keluar dari toko. Ia memutuskan untuk membuka kembali toko roti miliknya, ia tak bisa menunggu lama. Waktu semakin cepat dan hutang masih belum terkumpul hingga saat ini. Eun Seung menghela nafas, ketika dipegangnya buku tabungan miliknya. Hasilnya belum mencukupi hutang Joon Young. masih dua ratus delapan puluh juta lagi yang harus ia kumpulkan. Waktu hanya sampai tiga bulan. Ia menggeleng lagi menatap lirih buku tabungan miliknya.


“criiinggg…”suara pintu toko Eun Seung berbunyi, seorang pelanggan masuk ke dalamnya. Terlihat laki-laki itu yang sering dibicarakannya tadi. Ia berdiri di dekat pintu dan memperhatikan toko kue milik Eun Seung. gadis itu tersenyum, Seo Woon tak pernah lupa pada dirinya. setelah rapat dengan jin hyun, ia kembali lagi kepada Eun Seung.


“tokomu besar juga ya !!“ seru Seo Woon memperhatikan sekitarnya lalu menatap mata besar yang sudah tersenyum menyambutnya itu. Eun Seung benar-benar merindukannya. “…aku tak percaya, kita akan bertemu disini. Selamat sudah mempunyai toko roti sendiri…” sambung Seo Woon menyerahkan tangan kanannya untuk berjabatan. Eun Seung tersenyum meraihnya.


“selamat untuk pak Seo Woon sudah menjadi kepala wilayah…” balas Eun Seung. ia benar-benar tidak menduga bahwa Seo Woon yang dikenalnya menjadi orang yang terkenal sekarang.


“Eun Seung, panggil aku seperti biasanya saja. aku tak mau kau memanggilku seperti itu…” Seo Woon tersenyum, Eun Seung mengangguk. Ia melepas tangan laki-laki itu. Seo Woon lalu kembali mengambil beberapa roti dan kue. “…rasanya ingin membeli semua kue dan roti milikmu…” lanjut Seo Woon memberikan beberapa roti dan kue untuk dibayarnya.


“kau dapat dua roti gratis dariku ya…” ucap Eun Seung memberikan roti yang ada disampingnya masuk ke dalam bungkusan.


“itu bukan roti basi kan !! hahaha…” ledek Seo Woon mencairkan suasana dalam ruangan itu.


“hahaha… bukanlah !!”


Eun Seung tertawa, sudah lama ia tak seperti ini. laki-laki itu memang membuat moodnya kembali ada. Hanya dia semuanya berubah. Hanya dia yang membuat perasaan Eun Seung kembali ada. Hanya dia dan hanya dia yang selalu Eun Seung pikirkan. Mungkin perasaan itu kembali ada.


“aku membatalkan penggusuran itu…” ucap Seo Woon memberitahu hasil dari rapat tadi dengan jin hyun.


“benarkah !!” seru Eun Seung mendengar Seo Woon berkata seperti itu.

__ADS_1


“iya, aku tak ingin merusak harapan seseorang dengan keinginanku saja. kau tahu, disini banyak sekali yang mempunyai harapan dan impian. Seperti halnya dirimu, meraih cita-cita hingga jadi seperti ini…” ucap Seo Woon. Ia mengerti betul, kebanyakan pemilik toko disini sudah berjuang telah lama. Mereka mendapati penghasilan dari tokonya sendiri. Seo Woon tak mungkin menghancurkannya begitu saja.


“Memang semuanya menggantungkan hidup disini. Wilayah ini juga sudah banyak dikenal orang. terima kasih telah berpikir itu kepada kami..” Eun Seung menundukkan diri memberi hormat. Namun membuat Seo Woon merasa kesal, ia mendekati Eun Seung dan menariknya. Eun Seung terkejut bukan kepalang, kepalanya menyentuh dada laki-laki itu, ia memeluknya dengan sangat erat. Terdengar kata-kata dalam bisikannya. “aku merindukanmu…”


**


Pukul delapan tepat di jam tangan milik Eun Seung. pagi ini ia memang sudah beraktifitas, sejak dua jam lalu ia memang pergi ke pasar membeli bahan-bahan kue. Eun Seung membawa dua buah kantong besar di tangan kanan dan kirinya. Langkahnya sudah semakin dekat dengan tokonya. Namun tiba-tiba ia terhenti ketika pandangannya tertuju kepada sebuah alat berat excavator yang sedang diturunkan dari truk besar. Seorang pria tua yang dulu sempat membuat keributan di wilayah ini, datang kembali memberi aba-aba menurunkan excavator tersebut. Eun Seung berlari menjatuhkan semuanya. Ia menghampiri pria tua itu dan merentangkan kedua tangannya mencegah pria tua itu melakukan aksinya. Ia tahu excavator itu digunakan untuk menghancurkan bangunan-bangunan di wilayah ini. Eun Seung tak mau itu terjadi.


“hentikan semua ini !!” teriak Eun Seung mengagetkan seluruh orang yang ada di sekitarnya, kini semua memperhatikan dirinya. “…aku tak ingin kalian melakukan hal ini kepada kami. Kami semua butuh makan seperti kalian semua…” ungkap Eun Seung dengan berani. Tatapannya tajam melihat semua orang yang akan mengusir dirinya. Ia tak takut melawan mereka. ia percaya banyak dukungan yang akan diberikan kepadanya. apalagi semua pemilik toko sudah mempercayakan beban ini kepada Eun Seung karena dirinyalah yang dekat dengan Seo Woon, si kepala wilayah. Kali ini ia hanya ingin mengusir semuanya yang akan menghancurkan mimpi setiap orang.


“Kau tahu aku sudah mempertaruhkan semuanya untuk mendapatkan semua ini. jadi jangan halangi kami melakukannya…” kata pria tua itu berkacak pinggang. Semuanya hanya melihat aksi mereka berdua.


“KAU BERBOHONG !! mereka sudah membatalkan surat penggusuran itu…” teriak Eun Seung lagi memberitahukan pernyataan kepala wilayah itu kepada dirinya.


“pasti si kepala wilayah keparat itu !! kau tahu, ia yang berbohong kepadamu. Semuanya sudah disetujui olehnya…” ungkap pria tua itu berbicara di wajah Eun Seung. “… JADI, KAU PERGI DARISINI…!!” ia menunjuk telunjuknya di depan wajah Eun Seung. ia menahan amarahnya dengan menekankan ucapannya. Eun Seung masih tak takut.


“TAK AKAN AKU BIARKAN !!” Eun Seung menahan pijakan dari kakinya. Ia terus menatap pria tua itu dengan tajam. Matanya melotot melawan pria tua itu. Dahinya mengeryit tak takut dengannya.


“kau membuatku kesal…!!!” seru pria tua itu mendorong Eun Seung ke belakang. Ia terjatuh ke tanah.


“heii !!!” seru beberapa orang yang ada di sekitarnya menyerukan perbuatan pria tua itu. panggilan Eun Seung juga terdengar di sekitar mereka.

__ADS_1


“aku sudah muak denganmu…!!” Seung Ho berteriak dengan keras memberikan satu kepalan kepada pria tua itu. mereka berkelahi. Soo Ra menggotong Eun Seung yang terjatuh menjauh dari sana. Semua laki-laki di wilayah itu mulai maju menghampiri Seung Ho menghajar anak buah mereka. Seung Ho yang memimpin perkelahian. pria tua itu hanya kabur ketika Seung Ho kembali melayangkan pukulannya. Anak buah mereka menyerang Seung Ho kembali dan membuatnya terjatuh. Pukulan yang sangat keras mendarat di wajah Seung Ho yang memar. hidungnya mengeluarkan darah. Seung Ho merasakan nyeri di wajahnya.


“aku harap semuanya berhenti !!!” seseorang berteriak dari arah sebaliknya. Seo Woon datang dengan anak buahnya menyuruh seluruh orang yang berkelahi memberhentikan aksinya. Semua orang kini memperhatikan si kepala wilayah.“… Kim tae yang, hari ini aku membatalkan surat penggusuran ini !!” ujar Seo Woon memperlihatkan lembaran kertas lalu merobeknya di hadapan semua orang. Pria tua yang bernama Kim Tae Yang itu pun pergi dengan ekspresi marah. Semua anak buahnya pun mengikutinya.


“kau baik-baik saja ?” Tanya Woo Jae memberikan tangannya kepada Seung Ho yang masih duduk di tanah. Laki-laki itu hanya mengangguk, lalu meraih tangan Woo Jae untuk bangun.


Eun Seung merasa menyesal melihat Seung Ho yang seperti itu. Kesalahan dirinya membuat semuanya luka-luka akibat aksinya melawan pria tua itu. ia tak menyangka dirinya bisa senekat itu menghadapi orang-orang yang ingin menggusur bangunan di wilayah ini. ia berinisiatif mengambil alat p3k dari dalam rumah, dan pergi menuju café milik Seung Ho. semuanya memang sudah berkumpul disana. Semua yang luka-luka pun dirawat oleh gadis-gadis disana. Seung Ho menatap Eun Seung ketika gadis itu sudah ada dihadapannya membawa alat p3k untuknya.


“maafkan aku, kau jadi seperti ini…” ucap Eun Seung pelan, ia menghampiri Seung Ho dan membersihkan memar yang ada di wajahnya. Tapi ia menghindar dari tangan Eun Seung.


“aku bisa sendiri…” kata Seung Ho mengambil lap yang ada ditangan Eun Seung.


“aku tak mungkin membiarkanmu terluka, ini semua karena aku…” ucap Eun Seung tegas, ia mengambil kembali lap yang ada ditangan Seung Ho. Eun Seung tak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar membersihkan luka Seung Ho dan memberinya salep dan plester. Seung Ho hanya memperhatikan Eun Seung dengan sangat malu. Tingkahnya dilihat oleh seluruh pemilik toko wilayah ini. memang Eun Seung yang bertanggung jawab atas luka-luka mereka karena dirinyalah yang maju pertama kali menghadang mereka. Seung Ho tersenyum, ia salut dengan keberanian Eun Seung yang seperti itu. karena aksinya, penggusuran pun kini dibatalkan.


“terima kasih…”ucapnya pelan ketika Eun Seung memberikan plester kepada dirinya. Eun Seung tersenyum dan mengangguk. Ia beralih ke Woo Jae yang juga terkena pukulan di wajahnya.


“Woo Jae, maafkan aku…” tukas Eun Seung yang sudah ada dihadapan laki-laki itu. Seung Ho hanya tersenyum memperhatikannya.


Ada seseorang yang memperhatikan Eun Seung dan Seung Ho dari kejauhan. Entah kenapa, ia merasa kesal melihat keakraban mereka. selama ini ia tak pernah begini, karena ia tahu bahwa dirinya memang tidak menyukai Seung Ho. sudah empat tahun, ternyata baru hari ini Hyu Ri cemburu melihat mereka berdua dekat. Ia menghindar dari kerumunan orang-orang dan berjalan menuju toko bunga miliknya. Perasaannya benar-benar sesak.


“aku tak mungkin menyukainya…!!” suara Hyu Ri terdengar ditelinganya. Ia sedang bicara pada dirinya sendiri. Memikirkan kejadian itu yang terus menganggu hatinya. Sudah empat tahun, sejak perkenalan itu. membuat dirinya selalu bertanya-tanya padanya, ia tahu kalau Seung Ho menyukainya. Tapi terkadang ia lelah. Laki-laki itu tak juga mengutarakan perasaannya. Sehingga dirinya hanya menganggap Seung Ho sebagai temannya saja.

__ADS_1


**


__ADS_2