Cinta Tanpa Batas Waktu

Cinta Tanpa Batas Waktu
CHAPTER 14 : SESUATU YANG MENCURIGAKAN !


__ADS_3

Pagi ini Eun Seung sudah memulai kegiatannya menata kue dan roti di etalase tokonya. Setengah jam lagi toko akan segera dibuka. Kali ini menu andalan yang dibuat Eun Seung adalah muffin, pie, dan pudding. Ia membuatnya memang sejak pagi buta. Ini demi menjemput uang untuk membayar hutang. Masih banyak yang ia harus kumpulkan. Untung saja, penggusuran itu akhirnya dibatalkan oleh Seo Woon. Ya, Seo Woon. Laki-laki itu penyelamat hidupnya kini. Laki-laki yang dulu membuatnya perasaannya kembali ada. Ia tak menduga bahwa laki-laki itu benar-benar rindu padanya. Semenjak kemarin, ia terus memikirkan laki-laki itu.


“ceklek..” Pintu dibuka olehnya, ia merasakan udara pagi ini sangatlah sejuk. Matahari belum muncul tetapi sinarnya sudah menyebar kemana-mana. Ia berdiam diri di depan pintu toko, berdoa dan memohon rezekinya kembali lancar. Ia menghirup nafas panjang merasakan udara pagi ini masuk ke dalam tubuhnya. Energi pagi ini membuatnya kembali semangat. Ia bersiap-siap membuka toko miliknya.


“pagii Eun Seung…!!” Sapa bibi nei yang muncul dari balik pintu toko bunga miliknya.


“pagii bibi nei, hari ini sangat sejuk ya…” ucap Eun Seung merenggangkan otot-otot di kedua tangannya. Ia melakukan pemanasan sebelum bertemu dengan pelanggan di toko miliknya.


“benar, cerah sekali pagi ini…” tukas bibi nei menaruh barang-barang yang ada di tangannya di dekat pintu masuk. Lalu menghampiri Eun Seung yang ada di samping toko miliknya. “…aku menemukan ini di depan tokomu, tadi malam. Entah apa itu, aku tak membukanya..” Bibi nei memberikan amplop pink kepada Eun Seung. Ia menerimanya, wajahnya sangat bingung. Baru pertama kali ini, ia mendapati sebuah pesan dari depan tokonya.


“Eun Seung, kau lihat laki-laki yang ada di samping La café” bisik bibi nei sedikit mengumpat tangannya menutupi mulutnya supaya tidak ketahuan. Ia menyuruh Eun Seung untuk memperhatikan laki-laki yang berada disana. Laki-laki itu memang sedang sibuk membereskan barang-barang.


“bangunan kosong itu akan dipakai?” Tanya Eun Seung lagi ikut berbisik dengan pelan. Bibi nei mengangguk. Wilayahnya kini kedatangan anggota baru. Seorang laki-laki muda, tinggi namun sedikit berambut panjang.


“sepertinya toko musik, banyak peralatan musik disana. Aku akan meminta Soo Ra untuk berkenalan lebih dahulu dengannya. Kau tahu, Soo Ra jagonya membuat acara penyambutan hehehe…” tukas bibi nei sambil tertawa, ia beralih untuk masuk ke dalam tokonya. Eun Seung tersenyum dan mengangguk.


“terima kasih, bibi nei” ujar Eun Seung menunjukkan amplop itu karena sudah memberikannya. Setelah ia memastikan tanda di pintu toko di buka, ia duduk di kursi dan membuka amplop itu. Sebuah tulisan tertera kembali di sana.


“aku akan menemuimu, tunggulah aku…”


Tulisan yang pernah ia lihat sebelumnya. Barisan huruf menunjuk perkalimat menjelaskan makna dari arti sesungguhnya. Orang yang menulis ini akan segera menemuinya. Siapakah dia? Pesan berantai yang sebelumnya menjelaskan hal yang sama tentang orang itu. Teka-teki yang dahulu ia renungkan juga belum ia pecahkan. Entah apa maksud dari tulisan itu. Sebuah kode yang sampai sekarang ia tak mengerti. Eun Seung memperhatikan empat pesan yang kini berada di atas meja kasir.

__ADS_1


‘…kau harus berjuang hingga juara, sebab aku akan kembali memberikanmu ini lagi. Sampai ketemu tahun depan…’ pesan yang diberikan pada kompetisi ArtBakery yang pertama. Eun Seung memisahkannya di bagian yang pertama. Ia terus mengingat-ingat apa yang terjadi pada kompetisi itu. Pesan yang diberikan kepadanya supaya bisa meraih juara pertama. Orang itu memberi semangat kepada Eun Seung supaya ia bisa mendapatkan juara. Tetapi hanya melalui tulisan yang tertera disana tanpa seorang yang mengirimnya. Tanpa petunjuk lainnya. Hanya seperti itu.


‘…Kau harus menjadi posisi pertama, aku akan menunggumu…‘ pesan kedua yang diberikan pada kompetisi ArtBakery tahun ketiga. Ia menaruhnya disamping pesan pertama. Kejadian-kejadian saat itu ia ingat kembali. Tak ada yang special hanya kemenangan yang diraihnya dalam juara ketiga. Siapa yang akan menunggu dirinya. Orang itu setia menunggu Eun Seung mendapat juara pertama. Apa yang akan ia lakukan saat Eun Seung sudah mendapat juara pertama? Lalu apa yang akan diberikan kepadanya ketika juara pertama? Dan kenapa ia terus menerus mengirimnya pesan berantai dalam kompetisi ArtBakery. Semua ia pertanyakan selama ini.


‘aku akan memberikan resep terakhir kepadamu. Resep satu-satunya yang ada di dunia. Resep yang akan mewujudkan keinginanmu. Temui aku, aku ada di sekitarmu, yrekab ruoiv eht ta..’ pesan yang ketiga yang diberikan kompetisi ArtBakery empat tahun lalu. Pesan yang sama seperti sebelumnya. Tetapi kali ini orang itu memberikan kode yang unik di tulisannya. Kode yang tidak ada petunjuk sekalipun. Bahasa yang ia tak mengerti sampai sekarang. Ia hanya tahu bahwa orang itu akan memberikan resep terakhir kepadanya. Resep terakhir yang sangat berharga baginya. Pertanyaan dalam benaknya kembali muncul. Ia baru tersadar ketika Eun Seung memegang pesan berantai ketiga.


Pesan berantai kali ini menjawab semua pertanyaan yang sudah menganggunya selama ini. Ia tahu, orang itu akan memberikan resep terakhir kepadanya ketika Eun Seung meraih juara pertama. Iya, resep terakhir adalah kunci dari semua pesan yang diberikan orang itu dan melalui pesan berantai inilah caranya ia berkomunikasi. Hanya itu. Lalu siapa yang melakukan hal ini semua? Ia menyembunyikan jati dirinya tanpa seorangpun yang tahu. Kenapa dia melakukan ini semua? Dan kenapa hanya dirinya saja yang mendapatkan pesan berantai ini. Eun Seung terus berpikir keras memecahkan misteri ini.


“aku akan menemuimu, tunggulah aku…” ucap Eun Seung membaca pesan terakhir yang ia dapat. Orang itu akan menemui dirinya. Siapakah dia?. Jantung Eun Seung berdetak cepat, ia benar-benar cemas jika orang itu benar-benar datang untuknya. Apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan orang itu. Ia harus memecahkan teka-teki ini supaya pertanyaan yang selama ini menganggunya tidak akan membebaninya lagi. Ia merapikan amplop itu memasukkan ke dalam laci kasir.


“triinggg…!!” Suara bel pintu masuk toko swetty bakery terdengar, Eun Seung melihatnya. Lima orang berseragam SMA masuk ke toko kue miliknya. Pertama kali ia kedatangan tamu anak sekolah, tak seperti biasanya. Eun Seung tersenyum simpul ketika salah satu dari mereka menghampirinya.


“noona, boleh aku minta es cappuccino tiga, es caramel fratte dua, pie apel satu, muffin blueberry tiga, pudding buah dua…” pintanya pada Eun Seung. Ia menghitung semua total pembayaran dengan computer di hadapannya.


“semuanya tiga ribu lima ratus…” Eun Seung menagih pembayarannya. Anak sekolah itu mengambil uang di dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar kepada Eun Seung. “…aku akan mengantarnya sebentar lagi, terima kasih…” ucap Eun Seung setelah menerima uang dari anak sekolah tersebut.


“oke, noona…” jawab anak perempuan itu lalu beralih ke tempat dimana teman-temannya berkumpul.


Eun Seung mempersiapkan semua yang dipesan dan mengantarkan ke meja mereka. Ramai sekali semuanya bercengkrama satu sama lain. Berselfie ria dan menunjukkan foto ke teman-teman mereka.


“permisi, pesanan telah datang…” tukas Eun Seung menaruh pesanan di atas meja mereka.

__ADS_1


“noona, aku bisa minta tolong…?” Tanya salah satu anak sekolah itu. Eun Seung terkejut namanya dipanggil oleh mereka. “… noona, kenal dengan Seung Ho, oppa?” Anak sekolah berambut panjang, sangat cantik itu menyebut Seung Ho dalam ucapannya. Eun Seung mengangguk ragu. “…tolong bantu aku mendapatkan nomor handphonenya, bisakah noona…? Please…!!” Anak sekolah itu meminta kepadanya. Sebuah permohonan dari pelanggan yang tak bisa ia hiraukan. Ia mempunyai prinsip bahwa yang terpenting adalah keinginan pelanggan. Itu bisa meningkatkan reputasi dan popularitas toko. Tetapi jika menyangkut dengan Seung Ho, ia tak bisa melakukannya. Seung Ho sangat dingin jika dimintai tolong. Apalagi dengan nomor handphone, ia sudah tahu jawabannya. Pasti tidak akan diberikan.


“noona, Seo rie ini selebgram Utube, ia juga popular di sekolahnya. Oppa Seung Ho tak akan menyesal jika mendapatkan nomor handphone Seo rie…” ujar salah satu teman rambut pendek itu.


“benar-benar, cuman noona yang diharapkan saat ini. Aku malu jika bertanya kepada temannya itu, siapa namanya?”


“oppa Woo Jae, ia sama kerennya dengan oppa Seung Ho…”


“noona, please. Aku mohon. Sebagai gantinya, aku akan memberitahukan semua subscribe Utubeku bahwa ada roti dan kue enak di wilayah ini…”


Eun Seung masih tampak diam. Ia tertegun hanya meringis permintaan anak sekolah yang bernama Seo Rie itu.


“Seo ri, gimana kalau sekarang saja. Kau memberitahukan melalui channelmu bahwa ada toko kue dan enak disini. Supaya noona percaya padamu…”


“baiklah, supaya noona percaya. Aku akan membuktikannya…” Seo rie mengambil ponselnya dan memulai vlog di toko kue itu.


“aku akan membantumu jika channelmu menembus 100 views…” ucap Eun Seung memberi tantangan kepadanya. Seo rie mengangguk menyetujuinya. Eun Seung menunggunya di belakang kasir, memperhatikan anak sekolah itu memulai aksinya.


“haalooo, come to back channel me, Iam Seo Rie. Hari ini, aku sudah berada di Swetty Bakery di wilayah xxx. Kau bisa kesini jika libur sekolah, tempatnya nyaman dan lihat aku akan mereview pudding buah dan pie apel. Enak sekali. Kalian bisa datang ke tempat ini…!!” Seo rie penuh semangat memberikan ulasan tentang toko swetty bakery milik Eun Seung. Ia berjalan-jalan menunjukkan roti dan kue yang dipajang di etalase. Ia juga memamerkan halaman depan toko sweety bakery. Cukup hanya lima menit, ia memposting di Utube dan takepicture miliknya. Eun Seung kagum dengan kemampuan dirinya yang sudah biasa bergaya dan mempertunjukkan dirinya di depan kamera. Eun Seung memang tak jago mempromosikan toko kue dan roti miliknya. Ia tak pernah punya aplikasi yang ada di handphonenya. Sehingga tak banyak yang tahu ada toko roti dan kue di wilayah ini. Eun Seung menghela nafas, pikirannya saat ini adalah Bagaimana caranya mendapatkan nomor handphone rivalnya itu.


**

__ADS_1


__ADS_2