
Tepat dihari ulang tahunnya, Seung Ho memandang ibunya lirih di pinggir konter penyajian. Ia masih belum bisa memaafkan semua yang dilakukan orang tuanya. Keinginan dirinya untuk mencapai impian ditentang oleh ayahnya. Keinginan yang salah memendam seluruh perasaan Seung Ho saat itu dengan pergi dari rumah. Seung Ho menghembuskan nafas panjang. Sudah satu jam ia hanya melihat Kang Hae Joo, ibunya berdiam diri di ujung bangku café. Ia ditemani dengan secangkir teh di mejanya. Ada sesuatu yang membuat dirinya tak kunjung pergi. Ia ingin sekali berbicara dengan anaknya itu setelah sekian lama, mungkin ini waktunya yang tepat untuknya menciptakan perubahan. Seung Ho memperhatikan ibunya itu, ia memutuskan untuk mengalah dengan keadaan. Jika tidak seperti ini, ibunya tidak akan pulang sebelum bertemu dengannya.
Seung Ho memberikan secangkir Teh lagi kepada ibunya dengan tenang walau banyak beban yang ia sembunyikan. Sejujurnya, ia tak ingin bertemu dengan ibunya itu. Ia tak ingin berurusan lagi dengannya, setelah semuanya mengusir dirinya kini berbanding terbalik meminta-minta permohonan. Seung Ho duduk dihadapan ibunya. Tampak dingin dan tenang. Hening tanpa suara. Mereka saling menatap satu sama lain. Ibunya itu tersenyum senang, ketika Seung Ho menampakkan dirinya di hadapan dirinya sekarang.
“kau terlihat dewasa sekarang !!” Ucap Hae Joo pelan memperhatikan perubahan Seung Ho yang terlihat cukup tampan itu.
“mau apa ibu kesini?” Seung Ho menatap Hae Joo dingin tanpa senyuman.
“selamat ulang tahun, ibu ingin mengucapkan ini kepadamu…” jawab Hae Joo memegang tangan Seung Ho berharap ia bisa memaafkan ibunya itu.
__ADS_1
“jika sudah, lebih baik pulanglah. Aku tak ingin ayah mencari ibu hingga larut seperti ini…” Seung Ho berdiri dari bangkunya. Ia sudah selesai berbicara kepadanya. Namun tangan Seung Ho ditahan oleh Hae Joo, membuat anaknya itu melihatnya.
“pulanglah, nak…!! Kami rindu padamu…” pinta Hae Joo yang juga berdiri menahan perginya Seung Ho. Laki-laki itu menatapnya. Permohonan seorang ibu tercipta dalam matanya. Seung Ho tak kuasa melihatnya. Ia mengalihkan pandangannya kepada tangan ibunya yang masih mengenggamnya.
“tempatku disini, bu. Aku tak ingin menjadi beban keluarga ibu lagi…” Seung Ho melepaskan tangan ibunya dan pergi begitu saja meninggalkan Hae Joo yang sendirian. Ibunya itu memandang Seung Ho dengan sedih.
**
“eh !! Wanita itu !!” Ucap Eun Seung mendadak memperhatikan ibunya Seung Ho. Sekilas ia melihat bahwa Hae Joo tersenyum senang melihat Laki-laki tua itu mulai mengarahkan kayu mengenai jendela café. “kenapa dia tersenyum? Siapa mereka sebenarnya?” Pikir Eun Seung terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba Seung Ho meraih kayu yang ada di tangan ayahnya. Ia mengambilnya dan membuang menjauhi dirinya.
“akhirnya kau datang juga !!” Jae Suk sangat senang ketika melihat Seung Ho ada di hadapannya. Ia mencengkram kaos Seung Ho supaya duduk di tanah. Beberapa teman-teman Seung Ho ingin melerainya tetapi dihalau oleh ibunya.
Seung Ho pasrah dengan sikap Jae Suk. Ia tak berani melawan ayahnya selama ini ia memang menghindar darinya supaya tidak berurusan dengan ayahnya itu. Seung Ho mengikuti perintah ayahnya itu untuk bertekuk lutut di hadapannya.
“aku menyuruhmu untuk sekolah pengacara bukan untuk menjadi tukang roti. Sekarang kau berani sekali menyuruh ibumu untuk datang ke tempatmu. Kau mau sombong memamerkan keberhasilanmu kepada kami, HAH !!!” Jae Suk benar-benar marah dan kesal kepadanya. Pokok permasalahan mereka terdengar jelas di sekitarnya. Satu pukulan keras mendarat di pipi Seung Ho. Beberapa orang di sekitar Seung Ho terkejut, ayahnya itu menghajar Seung Ho di depan mereka. Woo Jae dan Jin Hyun menghampiri mereka, menjauhkan ayahnya dengan Seung Ho.
“hei lepaskan aku !! Aku belum selesai dengan anak itu !!” Teriak Jae Suk meronta-ronta minta untuk dilepaskan.
__ADS_1
Beberapa memperhatikan Seung Ho yang masih diam, mereka tak berani ikut campur masalah mereka. Seung Ho berdiri sambil memegang pipinya. Ia merasakan nyeri di tulang rahangnya. Laki-laki itu tak memperdulikan sekitar, Hyu Ri yang mulai mendekatinya tiba-tiba terhenti karena suruhan Seung Ho. Laki-laki itu butuh sendiri. Seung Ho masuk ke dalam La café. Ibunya malah mengikuti suaminya yang pergi menjauh dari Seung Ho. Ia menutup pintu café. Ia masih tenang walau kakinya sudah mulai goyah. Batinnya terluka, ia terkejut mendapatkan sebuah tamparan keras dari ayahnya. Seperti tujuh tahun lalu sebelum ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan membangun usaha La Café. Ayahnya menghajar habis-habisan kepadanya karena tak mengikuti keinginan ayahnya menjadi pengacara. Seung Ho mulai goyah, kakinya tak bisa menahan lagi. Ia sungguh gemetaran, seluruh tubuhnya merasakan kerapuhan dalam hatinya. Ia tak bisa lagi menahan amarah yang ada di dirinya.